My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
KEJUTAN KE DUA


__ADS_3

Aku dan pak Zan berangkat untuk memeriksakan kandungan ku, kita sudah sepakat pergi ke dokter kandungan. Tapi bukan di klinik papah mamah. Karena pak Zan sengaja tak ingin memberitahu kan pada keluarga dulu sebelum semuanya jelas.


Pak Zan mengendari motor gedenya dengan sangat pelan dan hati-hati.


"Sayang? "


"Iya? "


"Tak apa ya? kita bawa motor dulu nanti kalau sudah cukup tabungan kakak kita beli mobil"


"Loh, bukanya dulu kakak punya mobil yah? "


"Iya kakak jual seminggu yang lalu"


"Kok nggak bilang sama Tsania sih"


"Iya maaf yah"


"Aku pikir lagi di bengkel"


"Hehehe, nggak kok. Sengaja nggak bilang kamu sayang"


Tanpa ku perpanjang lagi urusan mobil karena aku sangat takut jika menyinggung perasaan pak Zan. Apalagi menyangkut dengan uang yang lebih sensitif. Entah hasil jual mobil di pergunakan untuk apa aku kurang paham. Bisa jadi untuk melunasi segala macam resepsi pernikahan kemarin mungkin.


Setelah hampir setengah jam sampailah di rumah sakit besar dan sampailah di sana pak Zan langsung masuk ke ruangan dokter kandungan. Aneh pikirku kenapa pak Zan tanpa harus mengantri bisa langsung masuk padahal di luar sudah banyak yang antri.


"Hai bro" sapa pak Zan dan berpelukan dengan seorang dokter muda nan tampan. Tampaknya sekilas aku tak asing dengan wajahnya.


"Hai juga, gimana kabar lo? "


"Baik alhamdulillah, kabar Mano dan Galang gimana? "


Deg... Mano? Galang? kayak nggak asing.


"Alhamdulillah baik kok, gimana mau konsultasi nih ceritanya? "


"Iya sekalian mau ngecek kandungan nya apakah dia hamil atau nggak "


"Oh ok deh, silahkan terbaring di sini Tsan"


Aku mengikuti perintahnya. Dan dia segera memeriksa kandungan, aku berusaha membaca nama dalam jas putihnya yang sedari tadi tertutup.


"Kenapa Tsan? "


"Tsan? "


"Ada apa Yon? "


"Nggak tahu nih Tsania kenapa"


"Sayang? hay.... "


"Eh, iya kak kenapa? "

__ADS_1


"Kamu kenapa? kok bengong"


Hah? dari tadi aku diam ya? duh saking fokusnya kepingin tahu nama dokter ini aku jadi nggak denger, mau di taruh mana jal mukaku?.


"Hehehe, nggak apa-apa sayang nervous aja"


Di... on... sa.. pu.. tra. Batinku.


"Owalah kak Dion yah? pantesan gak asing... " ceplos ku mengagetkan seisi ruangan.


"Hahaha.... " pak Zan dan kak Dion terpingkal-pingkal.


"Oh dari tadi kamu diem terus lihat kakak terus itu mau baca nama kakak di sini? " kak Dion menunjuk nama di dadanya.


"Hehehe iya kak" jawabku malu.


"Habisnya kak Irul nggak ngasih tahu sih mau ke dokter mana kan aku jadi bingung sendiri, dan lagi tadi masak kakak bisa langsung masuk tanpa antri. Ternyata main sama orang dalam to"


"Hahaha.... " pak Zan dan kak Dion pun terpingkal lagi dan kini di tambah suster yang sedari tadi diam pun jadi ikut terpingkal.


"Ternyata istri kamu lucu juga yah Zan, berbanding terbalik dengan kamu yang selalu serius dan fokus"


"Bisa aja kamu sudah ah kita lanjut meriksa nya"


Dan kak Dion mulai memeriksaku sedangkan pak Zan fokus ke layar yang memperlihatkan dalam rahim ku.


"Wuah alhamdulillah selamat yah sudah enam minggu "


"Alhamdulillah... Ya Allah" lirih pak Zan meneteskan air mata. Entah sekarang pak Zan jadi sering meneteskan air mata.


."Kamu mau makan dulu sayang? " tawar pak Zan.


"Nggak ah kan baru jam 11 belum lapar juga"


"Cari cemilan dulu ya? kakak lapar"


"Ok deh"


Pak Zan mengendarai motornya menuju makanan cepat saji di sana pak Zan memesan nasi dan ayam goreng,dua burger, dua kentang goreng, spaghetti, dan dua botol air mineral. Aku melihat segitu banyak nya makanan yang di pesan hanya bisa melongo.


"Kakak ini lapar atau emang kelaparan sih? "


"Lagi kepingin makan ini semua Tsan"


"Kayak ngidam aja kamu ini kak"


"Hahaha, iya nih Tsan gak tahu kenapa tiba-tiba kepingin ini semua "


Dan aku hanya makan satu burger sisanya pak Zan yang menghabiskan.Baru kali ini pak Zan rakus seperti ini.


Setelah kenyang pak Zan segera mengajak ku ke suatu tempat yang entah di mana. Tiba-tiba dia menghentikan motornya dan menyuruhku turun. Tak lupa dia menutup mataku dengan kain panjang.


"Kakak mau apa sih? "

__ADS_1


"Ada deh ayo jalan terus"


Setelah berjalan beberapa menit pak Zan menyuruhku berhenti dan membuka mataku.


"Tara.... !!! "


Aku melihat sekelilingku sebuah rumah yang tak begitu mewah tapi terbilang bagus , rapi dan bersih.Rumah yang berwarna biru muda itu membuatku mataku berbinar. Ada tanaman dan bunga-bunganya juga lengkap dengan pot-pot yang berwarna biru muda pula.


"Yuk masuk"


Pak Zan membuka pintu rumah itu.


"Assalamu'alaikum... "


"Ini rumah siapa sih kak? "


"Ini rumah kita, Ini rumah kakak, kamu dan bayi kita nanti. Ini rumah untuk keluarga kita nanti"


"Kakak sudah lama beli rumah ini sejak 4 tahun lalu dan membeli secara menyicil dan alhamdulillah seminggu lalu kakak baru selesai merenovasi dan mengisi perabotan. Dan mobil kakak yang kemarin kakak jual buat segala keperluan ini"


Hatiku tersentuh derai air mataku mengalir begitu derasnya. Pak Zan guru yang selama ini mengajar ku guru yang menjadi semangat ku tiba-tiba datang menjadi suamiku. Dan menjadikanku istri seutuhnya dan sekarang sudah ada benih cintanya di dalam rahim ku. Dan ini dia memberikanku kejutan sebuah rumah yang akan kita tinggali untuk masa depan nanti, betapa bahagianya aku.


"Kak? ini nyata kan? hiks... hiks... "


"Iya sayang ini semua nyata"


"Kenapa kakak nggak pernah habis-habisnya memberikanku kejutan sih, hiks... hiks... makasih ya Allah" pak Zan memelukku dengan erat.


"Makasih sayang, atas semua ini atas cinta dan kasihmu, atas segala pengertian yang tulus dan segala rasa perjuangan untuk kebahagiaan ku"


"Justru kakak yang harusnya ngucapin terima kasih. Kamu sudah mau menerima kakak jadi suami kamu, meninggalkan segala kebahagiaan mu dengan kekasihmu demi hidup dengan kakak yang sudah berumur ini. Menerima segala kekurangan kakak, dengan sabar dan tulus menyayangi kakak. Dan masih setia dengan cintamu. Makasih ya sayang" pak Zan meneteskan air mata nya, sorot matanya menatapku dengan tulus dan kesungguhan.Aku mengusapnya lembut.


"Terima kasih banyak Tsan, kamu sudah hadir mewarnai hidup kakak yang pilu ini... hiks... hiks... " isak nya.


"Sama-sama kak,jadilah nahkoda yang kuat untukku dan anak-anak kita nanti yah? agar kapal kita bisa kuat dari terpaan ombak dan badai.Semoga Allah memberkahi pernikahan kita. Dan menjauhkan dari hal-hal yang tidak baik. Dan tetap kompak dan saling mengerti setiap menghadapi masalah"


"Aa... miin... hiks.... hiks... " isak pak Zan yang sesenggukan tak bisa berucap lagi.


"Kenapa kakak malahan nangis sih kan seharusnya Tsania yang nangis kak bukan kakak"


"Hiks... hiks... ka... kak... ter... haru... Tsan.... hiks.. hiks.. "


"Sudah-sudah jangan nangis nanti Tsania beliin permen yang banyak yah" godaku sembari mengelus punggung nya.


"Ih kamu itu... " pak Zan mencubit pipiku.


"Au... sakit kak"


"Hiks... hiks... eh maaf sayang sakit yah... hiks.. hiks.. ma..af" pak Zan mengelus pipiku dan menangis dengan kencangnya.


"Hahahaha.... kakak sekarang jadi lucu deh, gemesin dikit-dikit nangis"


Pak Zan semakin menangis setelah aku goda dan aku berusaha menenangkan lagi.

__ADS_1


Terima kasih ya Allah atas segala kasih sayangMu, Terima kasih atas segala nya. Tetap jadikan lah hati hamba Mu ini menjadi wanita yang taat dan bersyukur. Jadikan lah keluarga hamba ini sakinah, mawwadah, dan warrahmah. Aamiin.


Jangan lupa like, komen dan vote yah. Terima kasih banyak... 😘🤗


__ADS_2