My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
MASA LALU KELUARGA PAK ZAN


__ADS_3

Ketika seorang lelaki diam bukan berarti dia tak peduli lagi denganmu, hanya saja dia tak mau wanitanya tahu kalau dia sedang tidak baik-baik saja.


Dan di sinilah sosok wanita di butuhkan dengan kesadaran dirinya menemani dan memberikan rasa nyaman untuk bercerita. Tapi terkadang wanita lebih mementingkan egonya dengan beralasan lelaki nya diam dan cuek padanya.


Di titik ini tak akan pernah bisa selalu bertemu jika diam selalu menjadi senjata ampuh saat beribu kata tersimpan di hati tanpa mau di ucapkan.


Ya, hanya satu yang bisa memperbaiki semuanya untuk mempertemukan hati yang yang semakin berjarak.


Di atas balkon suasana malam semakin ramai apalagi malam ini adalah malam minggu jadi jalanan semakin lalu lalang dengan kendaraan.


"Sayang?"


"Iya?"


"Bisakah kamu ceritakan semua tentang apa yang telah terjadi?aku ingin tahu dari kamu sendiri bukan dari orang lain. Setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang baik untuk mu" ucapku lembut pada pak Zan.


Pak Zan menggenggam tanganku.


"Sebelumnya maaf jika kakak menyimpan ini semua sendiri tanpa memberi tahu padamu"


"Iya kak, Tsania akan dengarkan kok apapun itu"


"Huft...." pak Zan menarik nafasnya dan membuangnya lembut.


"Kamu tahu kan? akhir-akhir ini kakak lagi ngurusi kepindahan Laili dan kandungan nya,maaf yah?" tatapan pak Zan yang sedari tadi menatap nan jauh pemandangan di luar sana kini berbalik memandang ku.


"Iya gak apa sayang,makasih ya?udah berkorban untuk itu . Maaf aku yang terlalu cemburu"


"Maafin kakak ya?bukan maksud hati melukai hati kamu tapi ini demi Laili . Kakak melakukan ini sampai dia melahirkan dan menemukan siapa ayah dari si jabang bayi" sedikit bingung dengan pembicaraan pak Zan seperti ada yang di sembunyikan.


"Kakak tahu siapa yang menghamili Laili?" pak Zan menggeleng.


"Arnold kah?"


"Entahlah...."


"Apa mantan pacarnya?"


"Kakak belum mencari tahu soal itu, kakak hanya fokus ke psikis Laili. Beberapa lalu dia hampir bunuh diri dia stres"


"Astagfirullahaladzim....." ku tutup mulutku ini.


"Kenapa kakak nggak bilang sih tentang ini? masalah sebesar ini,kakak hanya diam dan nggak cerita ke aku ataupun ibu?"


"Maaf...." pak Zan mendongak menatap langit dari atas balkon. Langit yang hitam tanpa bintang yang bertaburan, menahan air mata yang akan jatuh.

__ADS_1


"Laili nggak pernah mau minum obat atau vitamin kehamilan nya. Kandungan nya lemah dan psikis juga terganggu. Dia butuh dukungan ,butuh kasih sayang juga"


"Dia sudah berharap jika lelaki yang menghamilinya adalah Arnold , karena dia sangat mencintai Arnold. Andai kakak tahu ini sebelum Arnold menikahi Fulan pasti kakak sudah membujuk Arnold untuk menikahi Laili"


"Hati kakak sakit Tan, jika melihat seorang wanita menangis. Hati kakak rasanya tercabik-cabik. Waktu pembunuhan keluarga kakak, kakak melihat dengan jelas bunda kakak di perkosa bergilir oleh pembunuh bayaran itu lalu setelah mereka puas mereka membunuh bunda kakak"


Sekejam itu?sebuah fakta di masa lalu yang merusak mental pak Zan. Masa pahit yang menghantui kehidupan nya selama ini. Aku bahkan yang sudah menjadi istrinya tak mengetahui pengalaman pahit dan getir ini.


"Kakak...." ku peluk pak Zan untuk menenangkan hatinya.


"Maafin Tsania ya? Tsania belum bisa menjadi istri yang baik buat kakak"


Pak Zan mengelus puncak kepalaku.


"Maka dari itu kakak nggak bisa melihat Laili berjuang sendirian, kakak melakukan ini demi kesembuhan Laili. Dan sampai dia melahirkan..."


"Maksud kakak?"


"Kamu tahu kan?kamu juga pasti merasakan bagaimana hamil itu, pasti kadang punya rasa ngidam yang aneh-aneh. Pingin selalu di peluk atau apa aja. Hormon wanita hamil kan juga naik turun. Wanita hamil juga butuh dukungan dan kasih sayang"


"Maaf ya?kalau kakak belum bisa perhatian dan masih saja menyakitimu. InsyaAllah kakak janji akan lebih perhatian lagi" pak Zan mengelus perutku dan lalu menciumnya.


"Nak,anak ayah yang hebat...jaga bunda ya?jangan rewel. Maafin ayah yang kurang perhatian sama kamu dan bunda mu..." ku elus pipi pak Zan.


"Boleh kan?agar rinduku terobati dengan panggilan itu?"


"Boleh sayang dengan senang hati" pak Zan mengelus perutku lagi.


"Sayang?"


"Iya?"


"Selama kita menikah belum sekali pun aku di ajak ke makam orang tua kakak atau berkunjung ke keluarga kakak"


"Iya maaf yah?" pak Zan menyudahi aksinya kini ia berdiri di pinggir balkon pandangan nya nan jauh di sana.


"Pas sebelum kita akad malamnya, kakak dan keluarga sini sudah video call kok sama oma,opa ,tante Virda dan suaminya om Tora"


"Boleh, aku di kenalkan ke mereka?" aku menyusul pak Zan dan menyandarkan kepalaku ke pundak pak Zan dan pak Zan membalas merangkul pundakku.


"Boleh sayang nanti kalau anak kita sudah lahir mereka akan berkunjung ke sini kok ke rumah kita. Kakak juga sangat sudah memberi kabar mereka"


"Kok aku nggak tahu kalau kakak ngabarin mereka?"


"Maaf ya?"

__ADS_1


"Oma opa itu orang tua dari bundanya kakak, sedangkan orang tua dari ayah sudah meninggal dan makam mereka berada di luar negeri. Karena orang tua ayah asli orang Brunei. Keluarga besar ayah juga berada di sana"


"Kakak pernah ke sana?"


"Pernah, dulu sering ke sana waktu liburan sekolah"


"Wuah pantesan dulu kakak kalau pulang dari liburan sekolah selalu bawain oleh-oleh luar negeri katanya. Tsania nggak percaya lo kak, kalau kakak itu jalan-jalan ke luar negeri soalnya nggak pernah posting foto-foto di sana"


Pak Zan tersenyum kecut dan mengelus pipiku.


"Oh ya kak? kalau keluarga bunda asli mana?"


"Oma opa asli Padang tapi sekarang mereka pindah dan menetap di Malaysia"


"Wuah luar negeri semua nih, boleh dong kak, Tsania di ajak ke sana...kenalin ke mereka juga"


"Iya sabar ya?kalau sudah waktunya pasti kakak ajak. Oma opa masih takut dan trauma tinggal di Indonesia jadi mereka nggak pernah ke Indonesia palingan kakak dan keluarga sini yang ke sana tapi InsyaAllah tahun depan setelah anak kita lahir mereka janji mau datang ke Indonesia"


"Uh senengnya udah nggak sabar deh Tsania" pak Zan mengusap-usap kedua pipiku dengan agak keras mungkin dia gemes.


"Sakit tau kak..."


Pak Zan tersenyum lalu membopong ku.


"Eh, mau di bawa kemana kak?" lalu pak Zan menidurkan ku di atas ranjang dengan pelan.


Cup....


Mencium kening ku dengan lembut.


"Kangen..." pak Zan memelukku dengan hangat dan menuangkan rasa rindunya di malam ini dengan begitu mesra.


Maafin kakak ya Tsan? kakak belum bisa cerita ke kamu, kakak takut kamu marah. Kakak takut kehilangan kamu.


.


.


.


Di tempat yang berbeda Toni masih mondar-mandir di kamarnya menghawatirkan kakaknya tercinta. Takut terjadi sesuatu pada kakaknya. Chat nggak di bales telpon nggak di angkat. Pikirannya nggak tenang meski sudah larut malam.


Padahal yang dipikirkan sudah enak-enakan tidur dengan tenang nya, setelah lelah melepaskan rindu mereka di atas ranjang.


Hehehe...maaf ya Ton....

__ADS_1


__ADS_2