My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
Moment yang indah


__ADS_3

... Dan kamu adalah nama yang selalu aku ucap dalam sujudku agar Allah membantuku membalikkan hati kamu...


...🌺Selamat Membaca🌺...


Akhirnya kami sampai juga di depan rumah. Aku hampir saja lupa untuk berhenti, segala hal yang baru ini sedikit membuatku bingung. 


Ahhh jadi rindu rumah ....


Walaupun setiap hari ribut dengan Rara dan Riri tapi tatapan aja rumah itu adalah rumah terbaikku untuk tumbuh.


"Na, kenapa berdiri saja di situ?, ayo masuk!"


"Ahhh, iya pak!"


Lagi-lagi aku melamun, rumah ini terlalu seksi, biasanya setiap pagi akan ada banyak teriakan dari aku, Riri, Rara dan ayah ....


Ayah ....


Kenapa aku bisa lupa, ini sudah terlalu lama dan ayah belum juga kembali. Sebenarnya ayah kemana? Mau tanya sama ibu, apa ibu akan jujur?


Jika pak Ardi menikah karena ayah, lalu apa hubungan pak Ardi dengan ayah? kami memang menikah tapi aku yakin pak Ardi sebenarnya tidak bermaksud menikahiku.


Sepertinya tidak mengurus Rara dan Riri malah membuatku lambat, sudah jam enam, biasanya aku setengah jam lagi sudah berangkat, itu pun telat. Dan sekarang bahkan lebih telat.


Pak Ardi entah sudah berada di mana, aku tidak melihatnya lagi mungkin dia sedang bersiap-siap atau sudah berangkat.


Setelah memastikan pakaianku rapi, aku pun langsung menuju ke dapur, aku masih harus masak kan. Tapi saat sampai di dapur ku lihat nasi sudah matang di magic com. Ada juga dua bekal makan siang yang ada di atas meja.


Apa mungkin pak Ardi?


Ku edarkan pandanganku ke segala penjuru, pak Ardi pasti yang menyiapkan semua ini karena kami memang hanya berdua.


Aku tidak tahu harus senang atau tidak, sebenarnya menikah dengan pak Ardi tidak ada ruginya. Malah banyak untungnya, tapi apa ini yang aku mau? Menjadi istri seseorang di usia muda.


"Na, sudah siap?"


Pertanyaan seseorang mengagetkanku, aku segera menoleh ke belakang dan pak Ardi sudah siap dengan seragam batik ala guru.


Tampan ....

__ADS_1


Buka baru kali ini aku melihat pemandangan seperti itu, tapi kali ini sedari bangun tidur sudah di suguhi pemandangan pria setampan pak Ardi, rasanya masih seperti mimpi.


"Pak Ardi juga masuk sekolah?"


"Iya! Kenapa?" tanya pak Ardi sambil mendekat ke arahku membuat tubuhku tiba-tiba tegang.


"Ya nggak pa pa!" ucapku dengan suara tertahan di tenggorokan.


Pak Ardi malah tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arahku membuat tubuhku semakin menegang, hello ini masih pagi,


"Ayo kalau sudah siap!" bisiknya


"Hahhhh?"


"Maksud saya, siap berangkat Na." ucapnya lagi sambil menjauh dariku membuat jantungku berdetak kencang.


Pak Ardi kemudian tampak sibuk memasukkan bekal ke dalam tas miliknya dan milikku, hah sejak kapan tasku di sana?, benar-benar paket lengkap deh kayaknya menikah dengan pak Ardi. Tampan, mapan, agamanya juga nggak di ragukan, perhatian, penyayang keluarga. Cari di mana coba yang seperti ini. Kesan pertama di minggu pertama benar-benar berhasil membuatku terpukau.


"Ayo naik!" ajak pak Ardi setelah kamk berada di luar rumah.


"Tapi pak, aku bawa sepeda!" tolakku, jelas jika aku berangkat dengan pak Ardi, hubungan kita akan cepat ketahuan.


"Sepedamu sudah aku bawa ke bengkel!"


"Kemarin!"


Memang aku lupa kalau sepedaku tidak ada.


"Ayo!" aku tidak punya pilihan selain mengikuti pak Ardi.


Pak Ardi memacu motornya seperti hari kemarin dan tiba-tiba berhenti di depan toko ibu,


"Loh pak, kenapa mampir ke sini?"


"Pamit dulu sama ibu sekalian jemput Rara Riri."


Ahhh iya, aku hampir lupa kalau aku punya dua adek.


Aku pun turun dan sepertinya Rara Riri sudah menunggu kami, mereka berlari menghampiri kami,

__ADS_1


"Hotel kakak datang." teriak Rara seperti biasa.


Pak Ardi mendekati Rara dan Riri, di belakang mereka juga ada ibu.


"Terimakasih sudah jemput Rara Riri ya Di."


"Iya Bu, sama-sama, kalau begitu kami berangkat dulu," ucap pak Ardi sambil meraih tangan ibu, mencium punggung tangannya, lalu kembali menghampiriku. 


"Ayo pamitan sama ibu!" pinta pak Ardi pada Rara dan Riri.


"Iya kak." jawab mereka serentak, wajahnya tampak begitu senang sambil mencium tangan ibu.


Setelah berpamitan, pak Ardi menghampiriku sedangkan kedua adikku sudah menunggu di atas sepeda motor.


"Na, ayo pamit sama ibu." pintanya membuatku tersadar.


Hahhh, aku harus nglakuin apa?


Aku hanya bisa menatap pak Ardi bingung. 


"Cium tangan ibu!"


Ya ampun ...., Gini banget hidupku! 


Aku terlalu fokus pada pak Ardi sampai salah fokus. Itu sudah biasa aku lakukan pada ibu tapi aku jadi lupa sendiri.


"Ayo ...!" lagi-lagi pak Ardi memerintahkan.


Dengan ragu ku dekati ibu, kulakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh pak Ardi.


"Zanna berangkat dulu ya Bu!"


"Iya, hati-hati ya!" ucap ibuku sambil mengusap tanganku. Seperti ia mengatakan aku suka dengan yang ini, sambil tersenyum.


bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2