My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
Sepatu baru


__ADS_3

...Kamu adalah bagian dari hidupku, jadi biarkan milikmu menjadi milikku juga...


...🌺🌺🌺...


Beberapa hari menjadi istri pak Ardi membuat beberapa hal dalam tatanan hidupku berubah.


Apalagi kemarin sore, ketika aku datang ke rumah ibu, tiba-tiba di rumah ibu ada bi Nonik, dia janda satu anak yang tinggal tidak jauh dari rumah kami, maksudku rumah ibu. Dan kata ibu, pak Ardi sudah membayar bi Nonik untuk membantu pekerjaan ibu, menggantikan aku.


Hahhhh, itu tandanya mungkin aku tidak akan dapat cepetan lagi.


Eh, tunggu. Pak Ardi hanya guru honorer. Sedikit banyak aku tahu berapa gaji guru honorer, bisa-bisanya pak Ardi membayar bi Nonik, memang dia akan bisa menggajinya tiap bulan?


Ahhh entahlah, biarkan saja itu menjadi urusan pak Ardi.


"Kenapa malah melamun? Ada masalah?"


Pertanyaan itu segera menyadarkanku. Ahhh, ternyata aku tengah melamun di depan pintu.


"Enggak pak, ini mau berangkat." ucapku dan dengan cepat keluar rumah. Sepedaku sudah aku ambil kemarin, itu artinya aku tidak akan numpak pak Ardi lagi. Begitulah pikirku.


Kami pun sama-sama keluar rumah, pak Ardi mengambil sepatunya yang ada di tempat sepatu. Mataku masih terus melihat sekeliling membuat pak Ardi mendongak kepadaku.


"Ada apa?"


"Pak Ardi lihat sepatuku nggak?"


Aku tidak menemukan sepatu butut milikku dimana pun, memang kemarin aku sengaja tidak meletakkannya di rak sepatu di samping sepatu pak Ardi yang mengkilat. Takut saja merusak pemandangan, aku meletakkan ya di bawah pot bunga besar.


Atau mungkin karena semalam hujan jadi ikut terbawa air, tapi tidak mungkin. Dari teras sampai di pagar depan di pasang atap transparan, kalaupun kena hujan pasti tidak sampai hanyut, mungkin hanya basah. Kalau itu sudah biasa, bukan hal yang aneh sih datang ke sekolah dengan sepatu basah dan kotor karena aku tidak punya pilihan lain selain membiarkan sepatuku kotor. Bukannya nggak mau mencucinya, tapi aku takut saja kalau di cuci sepatunya malah semakin parah rusaknya.


"Oh itu, iya maaf ya aku lupa!" ucap pak Ardi, ia pun mengambil sebuah bok sepatu di samping sepatunya tadi, aku sudah melihatnya sedari kemarin tapi aku tidak berniat memeriksanya.


"Ini sepatu kamu!"


Pak Ardi menyerahkan bok sepatu itu padaku, dari boknya saja sudah terlihat, cantik. Masih baru lagi.


"Ini sepatu siapa pak?" tanyaku sambil mengambil sepatu itu, ku perhatikan sepatunya dengan teliti. Masih baru, terlihat dari nomor sepatu yang belum di lepas.


"Itu sepatu buat kamu! Yang kemarin maaf ya tanpa ijin aku menggantinya, tapi jangan khawatir aku tidak membuangnya, aku hanya menyuruh seseorang untuk mencuci sama menjahitnya, jadi nanti kalau kamu masih tetap ingin pakek sepatu lama, nggak pa pa! Tapi sekarang pakek itu aja ya!"

__ADS_1


What's ....., kelihatan sekali aku joroknya.


Kejutan macam apa yang ingin pak Ardi tunjukkan lagi setelah ini, rasanya ini seperti buka kehidupanku. Aku seperti sedang meminjam kehidupan orang lain.


Magic .....


Dalam semalam hidupku berubah seratus delapan puluh derajat. 


Pak Ardi ...


Dia ini siapa? Seperti malaikat penolong dalam hidup Zanna yang penuh dengan kekacauan. Ini semua impian Zanna, sekolah tanpa di Bebani pekerjaan rumah, seragam baru, sepatu baru, tas baru, hp baru dan semuanya seperti teman-teman ku. Tidak harus menunggu tabungan cukup untuk mendapatkan yang aku inginkan, bisa belajar tanpa harus memikirkan pekerjaan, atau cara untuk mendapatkan uang untuj membayar SPP.


Hehhh ...., rasanya masih tidak percaya.


Tapi rasa bersalah kembali muncul ketika aku harus mengingat ayah, dimana ayah? Apa aku telah mengandaikan ayah demi mendapatkan kebahagiaanku?


"Pak ini_, apa ini_?"


Belum sampai aku selesai bicara, Pak Ardi sudah berdiri dan menarik tubuhku agar duduk di tempat yang tadi ia duduki,


"Duduk dan pakailah sepatumu, aku akan menyiapkan motornya!"


"Hmm!" aku seperti terkena hipnotis oleh tatapannya, setiap kali menatap wajahnya rasanya begitu nyesss.


Tin tin


Aku sampai tidak sadar kalau pak Ardi sudah selesai. Aku segera mengambil tasku yang sedari tadi aku letakkan di atas meja.


"Tapi hari ini aku mau naik sepeda saja, pak."


"Sepuluh menit lagi bel berbunyi, jadi kamu yakin mau terlambat lagi?"


Ahhh, benar juga. Aku kenapa semakin lemot begini sih? Akhirnya aku tidak punya pilihan lain selain ikut pak Ardi, dari pada terlambat lagi.


"Pakai helmnya ya!" ucap pak Ardi sambil menyerahkan sebuah helm.


"Kenapa pakek helm pak?"


"Nanti ikut aku ya!"

__ADS_1


"Tapi aku harus cari penghasilan sampingan, pak!" ucapku beralasan. Memang benar, aku harus cari uang untuk uang sakuku sendiri.


"Bagaimana kalau aku bilang begini, segala kehidupanmu aku yang tanggung karena kamu istriku. Apa kamu setuju?"


Pak Ardi benar-benar memberikan pertanyaan yang jelas-jelas aku pasti suka, tapi kira-kira enak nggak ya?


"Menurut bapak, apa aku pantas?"


"Kamu istriku, akan sangat pantas jika aku memberikan nafkahku untukmu tapi sebaliknya akan sangat tidak pantas jika aku membiarkanmu mencari uang untuk kebutuhanmu sedangkan aku suamimu saja sanggup untuk menafkahiku!"


Suami ....


Kenapa kata-kata itu sekarang menjadi terdengar sangat manis, beda sekali dengan beberapa hari lalu.


Aku harus bagaimana sekarang?


"Ada beberapa aturan dalam pernikahan yang harus kamu patuhi salah satunya apapun yang kamu lakukan atas ijin suami, tapi aku juga tidak akan seketat itu padamu karena sekarang masih saatnya kamu menikmati masa-masa sekolah bukan menjadi seorang istri!"


Ihhhhh ...., Pak Ardi perhatian banget sihhhhh ....


Rasanya pengen langsung peluk dan cium aja nih orang.


"Berarti aku bebas menolak dong pak untuk hari ini?"


"Hemm! Tapi pikirkan lagi saja, nanti siang setelah sholat Jum'at tunggu aku di depan masjid yang ada di samping sekolah!"


Cukup demokratis ....


"Baik pak!"


"Ayo naiklah!"


Ini kali kedua aku di bonceng pak Ardi, dan rasanya tidak secanggung sebelumnya.


Maksudnya menyandang status sebagai istri seorang guru BP. Benar-benar tidak pernah terbesit sebelumnya akan mengalami fase yang seperti ini. 


Miracle, boleh nggak aku menyebutnya sebuah keajaiban dalam satu malam. Aku seorang Zanna. yang bukan siapa-siapa tiba-tiba menyandang status sebagai istri seseorang dan mengubah tatanan hidupku yang sangat berantakan.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya Follow akun Ig aku ya


IG @ tri.ani5249


__ADS_2