
Setelah memastikan Tsania pulang ke rumah, pak Zan langsung kembali ke rumah ibu. Ada rasa kecewa dan bersalah setelah melihat Tsania yang begitu dekat lagi dengan sang adik.
Bara api kecemburuan menyelimuti hatinya. Hatinya berkabung meratapi kekesalannya terhadap dirinya sendiri yang tidak berdaya dalam bersikap. Dia seakan lemah dalam memutuskan segala hal masalah.
Dia menyesal selama ini, kebaikan hatinya di salah artikan oleh sang adik ipar. Pikirnya dia sudah menganggap sang adik ipar seperti adik kandung sendiri tapi apalah daya saat kebaikan itu ia berikan dengan tulus malahan di salah artikan oleh Laili, dengan dalih rasa nyaman apalagi dia sangat haus kasih sayang.
Dua-duanya juga salah karena pak Zan tidak bisa tegas terhadap Laili dan Laili memanfaatkan keadaan yang menyudutkan kesalahan pak Zan.
Apalagi saat dia terpuruk dengan kehamilan nya yang tidak dia ketahui asal muasalnya . Dan yang membuatnya dia semakin terpuruk lagi karena dia terus-menerus merasakan kesakitan yang luar biasa dan ia anggap karena kecapekan semata.
Drrrt...
📩" Kak besuk jadwal Laili kemoterapi , tolong di antar ya?🙏"
Satu pesan dari Tsania yang membuatnya sedikit mengiris hatinya.
📨"Iya Tsan makasih ya udah ngingetin?"
"Saat semua kebahagiaan yang sudah di renggut oleh adikmu kini kamu masih saja perhatian Tsan, sungguh kamu wanita yang luar biasa" lirih pak Zan.
Suram bagi pak Zan , ia baru merasa menyesal setelah semua yang dia lakukan ke Tsania. Ingin rasanya ia jelaskan ke Tsania soal hati dan pikirannya saat menduakan nya. Tak ada niatan sedikit pun ia mau menikah lagi hanya saja Laili yang terus-menerus mendesak.
"Kak Irul?kenapa ngalamun?"
"Nggak ini Tsania ngasih tahu kalau besuk adalah jadwal kamu kemo"
"Oh, jam berapa kak?"
"Jam 09.00 pagi"
"Oh iya deh" Laili menyandarkan kepalanya di pundak pak Zan.
"Seharusnya pundak ini adalah sandaran Tsania di saat dia terpuruk"
"Apa maksud kakak?" Laili bangun dari sandaran nya dan merasa sedikit emosi.
__ADS_1
"Kamu tahu kan kakak sangat mencintai kakakmu , kamu juga tahu ada anak kakak di dalam kandungan kakakmu Tsania? kamu tahu kan kakak ini lemah tidak berdaya jika kamu memaksakan kehendak kamu. Apalagi kamu lagi hamil dan sekarang lagi sakit"
"Apa salahku kak?aku hanya ingin meminta kasih sayang dari kakak itu aja"
"Jelas salah Lel, kakak ini milik Tsania kakak kandung kamu. Kakak adalah suami kakak kandung kamu. Sayang kakak ke kamu itu seperti Tsania menyayangi kamu itu Lel. Kamu tahu kan, ada benih cinta kakak dan Tsania di dalam perutnya. Kita saling cinta jangan kau pisahkan itu jangan kau hancurkan kebahagiaan itu hanya demi keegoisan kamu. Kalau kamu butuh kasih sayang kakak sama Tsania akan dengan tulus mencintai kamu. Kamu jangan khawatir kakak juga akan menyayangi anak kamu seperti anak kakak sendiri"
Laili tertunduk meneteskan air matanya.
"Tapi hanya sebentar saja kak, cuma sampai anak ini lahir saja kak. Laili kepingin saat lahiran di dampingi suami. Meski kakak bukan ayah kandung dari bayi ini"
"Kalau sampai kamu lahiran ternyata Tsania menggugat kakak gimana?"
"Ya kakak akan jadi suami Laili seutuhnya"
"Kamu gila ya? kakak sangat mencintai Tsania jangan kau pisahkan itu. Lebih baik kakak nggak usah menikah seumur hidup jika kakak harus kehilangan Tsania"
"Demi menolong kamu, demi membela kamu hidup kakak hancur. Rumah tangga kakak berantakan. Dan kakak sudah kehabisan kata untuk menjelaskan ke Tsania agar dia percaya lagi sama kakak"
Laili terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut kakak iparnya dan sekaligus suaminya.
Dia sadar selama ini kakak iparnya itu selalu diam dan menuruti permintaan nya. Selalu membela kesalahan nya saat di hadapan ibu maupun keluarga lainnya.
"Di pikir baik-baik Lel, kamu mau melepaskan kakak sekarang atau nanti pas melahirkan?. Kalau sekarang kakak masih bisa menemanimu sampai kamu melahirkan dan kakak bisa merawat anak kamu. Dan kamu masih bisa melanjutkan sekolah kamu "
"Kalau nanti kakak hanya bisa menemanimu melahirkan tapi tidak bisa merawat anak kamu, kamu urus sendiri anak kamu"
"Maafin kakak yang egois ini. Tapi kakak sudah melakukan kesalahan besar hanya demi mengikuti kemauan kamu. Kakak menjadi mengorbankan Tsania istri kakak sendiri dan darah daging kakak sendiri. Mereka terlantar hanya karena aku yang bodoh dan lemah ini terhadap wanita terutama kamu"
"Pikirkan baik-baik itu...!"
Pak Zan melangkah pergi dari kamar Laili.
"Dan kenapa baru sekarang kakak ngomong gitu? kemarin-kemarin kakak kemana?hah?" pak Zan menghentikan langkahnya saat Laili mulai bersuara.
"Aku lemah Lel, aku akui aku lemah terhadap wanita yang membutuhkan pertolongan. Aku yang bodoh ini . Karena aku sayang kamu ,karena kamu sudah seperti adik kandung ku sendiri"
__ADS_1
"Kamu tahu kan?alasan kakak mau menikahi kamu karena kakak ingin menolong kamu. Dan kamu bakalan menjelaskan semuanya ke Tsania. Tapi nyatanya kamu malah seolah-olah sudah berhasil merebut ku dari kakakmu"
"Kamu masih muda Lel, masa depan kamu masih panjang. Kalau kamu melepaskan kakak kamu masih bisa mengejar cita-cita kamu menjadi dokter. Soal anak, kamu bisa serahkan ke kakak. Kakak akan rawat dia, akan kakak angkat jadi anak kakak dan Tsania"
"Kamu jahat kak...." isak Laili dan dengan tubuhnya yang lemah ia tak sadarkan diri.
"Haist.....itulah alasannya kakak sulit menolak permintaan kamu" omel pak Zan yang merasa iba.
Pak Zan membopong Laili yang pingsan di kursi sofa dan di angkat ke atas ranjang. Dia beri minyak angin agar sadar.
Laili yang jika banyak pikiran akan selalu tak sadarkan diri dan menjadi drop kesehatan nya.
"Aku harus apa Lel?kakak bingung ,kakak kasian sama kamu tapi kakak juga sangat mencintai Tsania" lirih pak Zan yang berputus asa memandangi wajah sayu Laili belum sadarkan diri.
"Nak Irul?"
"Eh ibu..." pak Zan menoleh dan langsung mengusap air matanya saat tiba-tiba ibu masuk kamar Laili.
Ibu memeluk erat pak Zan.
"Maafin ibu ya nak? gara-gara anak ibu yang bandel ini rumah tangga kamu jadi berantakan"
"Apa maksudnya bu? rumah tangga Irul baik-baik saja kok bu" jawab pak Zan berbohong dan menyembunyikan rasa sedihnya.
"Jangan kau sembunyikan kesedihan mu, ibu sudah tahu semuanya. Maaf ibu dari tadi menguping pembicaraan kamu sama Laili" ibu mengelus punggung pak Zan.
Pak Zan terdiam mengusap air matanya yang masih di pelupuk mata,ia takut jika sang ibu mertua tahu dia cengeng dan meneteskan air mata.
"Kamu yang sabar ya?nanti kita bicarakan semuanya sama Tsania. Ibu akan bantu" ibu melepaskan pelukannya dan mengelus tangan pak Zan.
Senyumnya yang teduh membuat pak Zan terharu.
"Terima kasih ya nak, kamu sudah menjaga putri-putri ibu dengan baik. Dan maaf jika selama ini ibu sudah salah paham dan berpikir yang macam-macam terhadap mu"
"Ibu nggak salah bu, Irul yang salah. Karena Irul bodoh, Irul lemah....hiks...hiks...maafin Irul bu, belum bisa menjaga Tsania dengan baik maafin Irul ya bu, sudah melukai dan menterlantarkan putri ibu" air mata yang sedari tadi ia tahan kini tumpah ruah di hadapan ibu. Sesak di jiwa mengingat semua kenangan bersama Tsania. Dia benar-benar takut jika harus kehilangan Tsania wanita yang sudah menjadi mentari di hidupnya.
__ADS_1
"Belum terlambat nak,masih bisa di perbaiki. Sekarang jemput Tsania bawa dia kesini, ibu akan bicara padanya. Katakan padanya ibu merindukan nya jika ia menolak ajakan kamu"
"Iya bu" lirih pak Zan mengusap air matanya.