My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
MENUJU TITIK TERANG


__ADS_3

Jam 19.00 WIB toko sudah tutup dan semua karyawan sudah pulang tinggal aku,Fulan dan Tafi. Seharian Tafi menemani ku mengurus toko karena lumayan sibuk dan Tafi khawatir denganku.


Fulan menunggu Arnold untuk menjemput nya , setelah menunggu beberapa menit akhirnya Arnold menjemput Fulan.


Dan kini aku giliran pulang setelah memastikan semua pintu sudah terkunci rapat.


"Akhirnya kita pulang bareng ya Wa?" Tafi memasang kan seal belt untuk ku.


"Wuah modus kamu ya Fi?"


"Emang iya, gunakan kesempatan itu dengan baik meski dalam kesempitan pun" seringai nya dengan senyum yang khas.


"Wa?"


"Hemmm" aku fokus dengan ponselku mengecek tak ada tanda-tanda pak Zan menelpon ataupun chat, bahkan terakhir online jam 08.00 pagi tadi.


"Kapan kamu mau belajar mobil Wa?ini sayang loh udah di beliin mahal-mahal nggak pernah di pakai"


"Emmm, kapan ya enaknya?nunggu kak Irul gimana?"


"Kak Irul lagi kak Irul lagi..."


"Hust, gitu-gitu dia kakak mu lo ya, dan masih sah suami mbak"


"Iya, habis nya dia sekarang cuek banget sama kamu Wa. Kak Irul yang dulu berubah Wa, cuek banget nggak pernah peduliin kamu apalagi aku. Dia aja nggak pernah nanyain kabarku . Padahal dulu baru pergi sehari aja udah khawatir la sekarang?"


"Dia lagi banyak kerjaan Fi, harap maklum ya? kan yang penting aku udah tanya kabar kamu"


"Iya sih, kesempatan dalam kesempitan ini...wkwkw....."


"Kamu ma ih..."


" Laper nggak Wa?"


"Iya nih, kepingin makan yang seger-seger gitu..."


Tiba-tiba mobil berhenti.


"Ada apa?"


"Coba deh lihat aku Wa?"


"Kenapa?"


"Pasti sekarang kamu sudah kenyang"


"Kok bisa?"

__ADS_1


"Wajahku kan udah menyegarkan Wa,hihihi...."


"Tafi....!!!" ku cubit pinggang nya.


"Auuu....iya Wa sakit Wa....ampun-ampun..." Tafi tergelak tawa dan kembali melajukan mobilnya.


Gini aja udah seneng aku Wa,tanpa harus memiliki mu. Setidaknya aku sudah bisa mengukir senyum indah di hidupmu.


Perjalanan di mulai lagi, setelah mencari makan dengan capcay yang begitu pedas menyegarkan dahaga.


Lanjut mengantar ku pulang.


"Kok masih gelap Wa?apa kak Irul nggak pulang?"


"Belum, biasanya malam kok" jawabku asal.


"Beneran serius?"


"Iya Fi....ya udah gue turun ya....makasih loh ya atas hari ini"


"Siap bos ku..." aku berlari masuk sebelum di cerca pertanyaan lagi. Menyalakan lampu-lampu agar tidak gelap lagi.


"Aaaa...!!!" jeritku karena kaget seperti menginjak sesuatu. Keadaan belum terlihat jelas karena di kamar masih gelap belum aku nyalakan lampunya.


"Ada apa Wa?"


Tafi menyalakan lampunya. Dan ternyata hanya menginjak bolpoin.


"Aku tungguin ya Wa?sampai kak Irul pulang" aku terdiam tak membalas. Aku takut jika berduaan dengan Tafi akan menjadi fitnah apalagi jika pak Zan nanti tiba-tiba pulang. Tapi aku benar-benar takut jika di sini sendirian.


"Kafi juga ya?" pintaku agar hanya tidak berduaan.


Tafi keluar menghubungi pak Zan dan Kafi. Dan aku lanjut mandi dan bersih-bersih.


"Wa?"


"Hemmm" aku masih sibuk membersihkan dapur dan meja makan yang terlihat makanan yang ku masak tadi pagi di makan oleh pak Zan.


Makasih kak, setidaknya kamu masih menghargai aku.


"Wa, kak Irul nggak angkat telfon nya dan Kafi sebentar lagi kesini tapi bawa pacarnya dia mau kencan di sini katanya"


"Bilang jangan aneh-aneh di sini ya?awas kalau sampai melakukan sesuatu yang tidak di inginkan. Di sini bukan tempat mesum loh...."


"Nggak Wa,nggak usah negatif thinking gitu napa? dia cuma mau kencan biasa nanti juga di antar pulang sama dia pacarnya. Akhir-akhir ini Kafi juga sibuk kuliah dan bantu-bantu eyang jadi nggak sempet pacaran. Ini kan malam Minggu Wa?"


"Iya....iya tau"

__ADS_1


Setelah Kafi datang dengan pacarnya aku dan Tafi ikut ngobrol bersama , ya... jatuhnya seperti kencan rame-rame.


Aku pamit untuk tidur duluan karena jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB.


Badanku sedikit capek karena aktivitas seharian. Melelapkan tidurku di malam ini setelah tadi sudah sholat isyak berjamaah dengan Tafi.


.


.


.


Pagi ini cerah begitu indah usai sholat subuh berjamaah aku langsung bersih-bersih. Karena semalam ternyata Kafi dan ceweknya menginap tapi tidur di ruang terpisah. Ceweknya di kamar tamu dan Tafi Kafi tidur di depan tv beralaskan karpet saja.


Semalaman pak Zan nggak pulang aku juga masih gengsi untuk menghubungi nya. Meski selalu menunggu kabar darinya. Bahkan ponselku selalu aku kantongi.


Drrrt.....satu pesan masuk.


📩" Tsan, aku sudah dapat kabar kalau ternyata mantan pacar Laili yang menghamilinya. Mantannya meninggalkan Laili dan sudah menikah lima bulan yang lalu dengan wanita lain. Itu juga karena hamil. Itu aku kirim videonya ya?" ku tonton video sampai habis di sana terlihat jelas pengakuan sang mantan pacar Laili.


Deg.....


Hatiku seperti terleleh setelah usai menonton video ini, berarti pak Zan bukan ayah biologisnya anak dalam kandungan Laili. Dia benar-benar pure menolong Laili.


📩" Siang ini kita ketemuan dengan Laili dan pak Zan, kamu yang mengatur waktu dan tempat ya Tsan, aku tunggu"


📨" Ok , makasih Nold"


Setelah selesai beres-beres dan memasak aku ijin ke Tafi dan Kafi buat pergi dengan Arnold dan Fulan karena mereka sudah menjemput. Tafi yang masih belum full nyawanya ingin ikut tapi aku berusaha melarangnya agar dia tak tahu tentang masalah ku dengan pak Zan.


Aku sudah mengabari Toni ternyata sudah beberapa hari ini Laili sudah nggak tinggal di rumah,katanya di sewakan pak Zan kontrakan. Aku berpesan pada Toni agar tak memberitahu tentang ini ke ibu Agar ibu tidak berpikir macam-macam.


Cukup ibu sedih dengan masalah Laili , aku nggak mau menambahkan beban untuknya. Toni sudah ku ceritakan semua lewat telpon tadi pagi dari nada bicaranya dia terdengar memendam amarah tapi aku berusaha memberitahu untuk merahasiakan ini semua dari ibu atau paman.


Di sisi lain sedikit ada kelegaan setelah mengetahui fakta tentang siapa ayah dari si jabang bayi. Tapi hatiku sedikit kecewa tentang Laili yang sudah tinggal satu atap dengan pak Zan.


Pikiran ku melayang, rasanya pak Zan sudah di rebut secara fisik dan hatinya. Aku nggak rela jika mereka diam-diam sudah melakukan selayaknya hubungan suami istri meski mereka sudah sah menjadi suami istri.


Arnold melajukan mobilnya menuju alamat yang di berikan Toni. Dengan modal dua video pengakuan dari kak Angga dan mantan pacarnya itu sudah lebih dari cukup bagiku.


Hatiku harap-harap cemas membayangkan ingin sekali melabrak Laili dan memakinya habis-habisan. Aku ingin dengar alasan dia melakukan ini semua. Dengan tega merebut suami kakaknya sendiri.


Setelah hampir satu jam sampai lah di sebuah perumahan yang tak begitu mewah. Mencari nomor rumah yang di berikan Toni.


Mobil Arnold terhenti tepat di depan rumah itu. Ada motor pak Zan di depan rumah itu. Aku,Fulan dan Arnold masih belum keluar dari mobil. Dan setelah beberapa menit menunggu pintu rumah itu terbuka ada Laili dan pak Zan keluar dari rumah itu.


"Laili? " aku shock melihat pemandangan yang ada di depan ku. Ingin rasanya menangis dan menjerit. Aku langsung berlari turun menghampiri mereka.

__ADS_1


"Laili?"


"Mbak Tsania?" mulutku terasa kaku melihat pemandangan yang ada di depanku, makian yang sudah ku persiapkan terasa hilang dan tak bisa ku ungkapkan lagi hanya lelehan air mata yang bisa mengungkapkan semuanya.


__ADS_2