
Setelah pergi ke klinik mamah, aku dan pak Zan pamit untuk pulang. Kini mulai fokus menata toko baju busana yang bakalan aku rintis dengan sahabat tercintaku Fulan. Oh iya sejak pesta pernikahanku yang itu kok aku jarang sekali ya menghubungi Fulan apa kabarnya dia?.
Sudah hampir satu bulan aku tak bertukar kabar padanya bahkan kehamilanku ini pun dia juga belum tahu. Dia bahkan juga sudah nggak aktif di group maupun di sosial media.
"Kak? "
"Iya"
"Boleh kita ke rumah Fulan? "
"Boleh dong, oh iya sudah lama sekali kakak nggak dengar kabar dia. Katanya dia mau buka usaha sama kamu? "
"Iya makanya yuk kita ke sana.Ini kalau ke rumah nya cuma lima menit kak"
"Ok meluncur"
Dengan perlahan pak Zan mengendarai motor nya dengan hati-hati. Perjalanan yang melewati gang-gang sempit membuat pak Zan sangat ekstra hati-hati.
Sampailah di sebuah rumah yang tidak asing bagiku karena rumah ini adalah rumah keduaku saat aku sedih di sinilah dulu aku menenangkan diri.Ada mamahnya Fulan yang bijaksana dan baik hati.Fulan sahabat sejati ku yang selalu ada untuk ku. Kini aku sudah bahagia aku hampir lupa dengannya.
"Assalamualaikum... "
Tak ada sahutan dari dalam rumah. Rumah nya sepi seperti tak berpenghuni.
"Coba lagi sayang"
"Assalamualaikum... "
"Waalaikumsalam... Eh dek Tsania ayo masuk" mbak Felicia kakaknya Fulan yang sudah bersuami dan beranak dua. Dia turun dari mobilnya yang di kendarai oleh suaminya.
"Sendiri mbak Feli?"
"Sama mas Danang dek, anak-anak di rumah di titipin ke eyangnya. Repot soalnya nanti kalau di bawa semua kasian mamah nanti"
"Kok di luar aja ayo masuk " ajak mas Danang yang mungkin seumuran dengan pak Zan.
Kita semua masuk ke dalam rumah setelah mbak Feli membuka kan pintu rumah nya.
"Silakan duduk, mbak ambilkan minum dulu ya? "
"Eh nggak usah repot-repot mbak" sahut pak Zan.
"Nggak kok eh manggilnya apa ni enaknya? " mbak Feli merasa sungkan karena dia tahu pak Zan adalah guru adik nya yang dulu hampir di jodohkan pada diri nya.
"Pak aja ya? " jawabnya lagi.
"Terserah mbak aja"
Selang beberapa menit mbak Feli keluar membawa minuman dan makanan ringan. Mas Danang pun juga keluar setelah tadi ijin mandi.
"Silakan di minum"
"Iya terima kasih mbak"
__ADS_1
"Oh iya mbak kok sepi ya? Fulan mana ya?nomernya nggak aktif pula"
Mbak Feli dan mas Danang saling bertatap muka setelah itu terdiam menatapku.
"Mbak pikir kamu sudah tahu kabar ini"
"Kabar apa mbak? " tanya ku penasaran karena mbak Feli terlihat menahan air matanya. Mas Danang pun mengelus pundaknya.
"Fulan sebenarnya punya penyakit miom. Setelah malam itu di resepsi pernikahan kamu paginya dia operasi.Tapi seminggu kemudian dia diam-diam mengikuti pertandingan pencak silat padahal belum kering juga jahitannya. Naas perutnya kena tendangan dan perutnya bermasalah dia di larikan ke rumah sakit sampai sekarang masih koma"
"Innalillahi wainna illaihi rojiun" aku dan pak Zan memekik bersama.
"Alhamdulillahnya sejak ada pacarnya dia sedikit ada perubahan"
"Pacar?"
"Iya pacar"
"Fulan nggak pernah pacaran kok mbak"
"Loh, tapi dia sering datang jenguk sama orang tuanya.Namanya Tian sudah seminggu ini dia nggak pernah absen"
"Ini jadwal dia nunggu di sana karena sebentar lagi mamah papah pulang istirahat nanti malam gantian mbak sama mas Danang"
"Di rawat di mana Fulan mbak? "
"Rumah sakit Sehat Sejahtera"
"Iya dek"
"Yang sabar ya mbak? semoga Fulan cepat pulih kembali"
"Aamiin makasih ya dek"
"Iya sama-sama mbak" mbak Feli mencium pipi kanan dan kiri ku.
"Ya udah pamit ya mbak assalamualaikum"
"Waalaikumsalam... "
Kabar yang sangat mengejutkan, dalam perjalanan hatiku benar-benar resah memikirkan keadaan Fulan. Selama ini dia yang selalu ada di saat aku terpuruk tapi kenapa sekarang saat aku bahagia dia terpuruk aku lupa pada nya? sahabat macam apa aku ini.
Buliran lembut turun dari mataku. Sesak di hati tertuang bersama air mataku. Tapi ucapan mbak Feli mengingatkanku pada sosok pacarnya yang bersama Tian.
Siapa dia? kenapa selama ini Fulan selalu diam dan terkesan menyembunyikan pacarnya? pandai sekali sahabat ku satu ini menyimpan rahasia.Tentang penyakitnya, apalagi ini soal pacar.
Selang satu jam sampailah di rumah sakit Sehat Sejahtera. Pak Zan memarkirkan motornya khusus di parkiran motor. Dan segera mencari ruang UGD.
"Kok kosong?" ucap pak Zan yang mengintip dari pintu kaca.
"Iya ik apa sudah pindah ruangan ya? coba tanya suster kak"
"Sus mau tanya pasien yang bernama Fulan Sari yang ada di ruang UGD ini kemana ya sus?" tanya pak Zan pada suster yang lewat.
__ADS_1
"Oh mbak Fulan?dia sudah di pindahkan tadi pagi ke ruang rawat pak. Kamar Melati 08 lurus aja terus belok kanan " jelas suster
"Ok makasih sus"
"Iya sama-sama pak"
Aku dan pak Zan sedikit berlari mencari kamar itu berharap ada kabar baik dari sana. Karena mendengar dia sudah di pindahkan di ruang rawat saja hatiku sudah sedikit lega.
Sampailah di depan pintu dan sebelum membuka pak Zan mengintip dari pintu yang ada kacanya. Pak Zan terdiam wajah nya pucat aku penasaran dan ikut mengintip.
Aku tercengang merasa tidak percaya dengan apa yang ada di hadapanku. Mulutku aku tutup dengan kedua tanganku badanku terasa lemas dan pak Zan menuntunku di kursi tunggu depan kamar.
Pak Zan memelukku dan mengusap lembut punggungku.
"Sayang? yang ikhlas ya?"
"Maafin aku kak, maafin Tsania karena masih menangisi dia. Maaf kak "
"Sudah-sudah kamu nggak salah ini wajar kok. Sekarang kamu nggak boleh egois beri kesempatan mereka. Mereka berhak bahagia kamu harus ikhlas ya? kamu sayang mereka kan? "
Aku mengangguk.
"Sekarang tarik nafas buang pelan-pelan.Hapus air matanya ya? jelek kalau nangis " pak Zan mengusap air mataku.
"Kamu bawa make up nggak? "
"Bawa "
"Mana? ".
" Buat apa? "
"Sudah bawa sini"
Ku berikan bedak padat ku padanya. Dan aku semakin heran pak Zan yang membuka cermin di bedak ku. Di ambilnya spons dan di sapu kan lembut di wajahku.
"Biar lebih Fresh dan cantik ya? mana lipstick kamu? " ku sodorkan padanya. Dan pak Zan mengoleskan lipstick lembut di bibirku.
"Jangan nangis lagi ya?"
Aku mengangguk.
"Kamu sudah siap?"
"Iya"
"Sekarang kita masuk ya?bismillah... "
Pak Zan mengajakku masuk ke dalam kamar ruangan inap Fulan. Dengan perlahan pak Zan membuka handle pintu kamar itu.
"Assalamualaikum... "
"Waalaikumsalam... pak Fauzan, Tsania? "
__ADS_1