My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
BAHAGIA YANG TERTUNDA


__ADS_3

Malam kian hening suasana semakin tegang saat pak ustadz mempersilahkan papahnya Fulan untuk menikahkan Fulan dengan Arnold.


"Silahkan papah nya Fulan"


"Bismillahirrahmanirrahim..saya nikahkan engkau Arnold Sebastian bin Richard Brian dengan putri saya Fulan Sari binti Safarudin dengan seperangkat alat sholat dan cincin permata di bayar tunai"


"Saya terima nikahnya Fulan Sari binti bapak Safarudin dengan seperangkat alat sholat dan emas kawin tersebut dibayar tunai... "


"Sah..."


"Saahh...... "


"Barakallahu laka wabaraka alaika wajama'a baina kumaa fi khair" doa dari pak ustadz.


"Alhamdulillah... "


Arnold menoleh ke arah Fulan yang terlihat meletakkan kepala nya di pundak mamahnya wajahnya pucat pasi mamahnya mengelus pipinya lembut.


"Fulan?...Fulan...? "


Tanpa ada sahutan mamah membaringkan tubuh Fulan dengan lembut. Dengan sedikit panik mamah menggoyangkan pipi Fulan papah Fulan, Arnold, pak Ustadz dan Orang tua Arnold mendekat.


Fulan terdiam tanpa respon sama sekali semua panik Arnold memanggil dokter dan Fulan dilarikan ke UGD keadaan nya kembali kritis.


Air mata Arnold menetes menatap Fulan dalam keadaan kritis, bunda memeluknya dan ayahnya kali ini sangat perhatian ia mengusap lembut air mata Arnold karena ia tahu betul perasaan anak semata wayangnya itu.


Fulan kembali koma tak sadarkan diri dan Arnold tetap setia menunggu dan menjaga nya lantunan doa dan harapan ia lirih kan setiap saat teruntuk sahabat mantannya yang kini sudah sah jadi istrinya meski ia masih belum bisa merasakan apa itu bahagia dalam rumah tangga.


Hingga pada akhirnya karena terlalu lama koma orang tua Fulan sedikit capek dan putus asa tapi itu tidak berlaku bagi Arnold. Semangat nya masih membara demi sang istri tercinta. Kakak tercinta Fulan mbak Feli dan suaminya mas Danang mendengar kabar tentang sakitnya Fulan. Karena pernikahan Fulan masih rahasia sang kakak pun belum di beri tahu, orang tua Fulan hanya memberitahu kalau Arnold calon suami Fulan.


Hari berganti hari penjaga Fulan juga terus berganti-ganti dari orang tua Fulan, kadang berganti mbak Feli dan suaminya dan tak lupa Arnold kadang sendiri kadang sama bundanya karena bunda sedang mengandung sekitar empat bulanan jadi jarang-jarang menemani Arnold karena kondisi bunda terkadang juga drop sendiri.


Kesetiaan, rasa sayang dan perhatian Arnold kerahkan demi kesembuhan Fulan. Lantunan ayat suci Al-Quran tak lepas ia lantunkan untuk sang istri tercinta. Meski belum terlalu lama sekali menjadi mualaf tapi Arnold sudah fasih membaca ayat suci Al-Quran.


Keluarga Fulan terenyuh dan bangga melihat kesantunan Arnold. Terutama mamah Fulan yang selalu meneteskan air mata jika mendengar Arnold membaca ayat suci Al-Quran.


"Beruntung ya pah Fulan bisa mendapatkan suami seperti dia " lirih mamah di pelukan papah.


"Iya mah" papah memeluk lembut lengan mamah.


"Kita pulang yuk mah, kita istirahat sudah ada Arnold kan yang jaga? "


"Iya pah"


"Dokter...!!!... dokter...!!! " suara teriakan Arnold dari dalam ruang ICU membuat mamah papah tak jadi melangkah pergi dari sana.

__ADS_1


Tak berapa lama dokter dan suster datang setelah Arnold memencet tombol panggilan darurat. Arnold keluar dari ruang ICU wajahnya sedikit panik matanya memerah bekas menangis.


"Ada apa nak? " tanya mamah panik.


"Tian lihat tangan Fulan menyentuh tangan Tian, dan ada linangan air mata di matanya"


"Semoga dia lekas siuman ya pah? "


"Aamiin... " serentak papah dan Arnold.


Setelah beberapa menit dokter memeriksa semua panik karena dokter tak kunjung keluar dari ruang ICU apalagi semua akses di tutup jendela kaca pun di tutup dengan gorden sama suster. Hanya bisa pasrah untuk urusan nyawa. Karena Allah punya rencana lain dan kita para hamba hanya bisa berdoa.


"Gimana dok? " dokter keluar setelah hampir setengah jam memeriksa.Semua mendekati dokter.


"Alhamdulillah saudari Fulan sudah siuman keadaan nya sudah membaik, nanti siang kalau keadaan nya semakin membaik bisa di pindahkan ke ruang rawat"


"Alhamdulillah... "


"Kalau begitu saya permisi dulu pak buk"


"Iya dok terima kasih"


Allah Maha Baik saat akal dan pikiran buntu dan hampir putus asa Allah menolong kita lewat usaha dan doa kita yang ikhlas.


"Alhamdulillah ya Allah...Fulan siuman pah" mamah terisak tangis dan papah dengan segera memeluk istri tercinta itu.


"Silahkan papah atau mamah yang duluan kalau mau jenguk Fulan"


"Mamah duluan ya pah"


Papah mengangguk.


Mamah masuk ke dalam ruang ICU. Papah dan Arnold duduk berdua di ruang tunggu.


"Terima kasih banyak ya nak Tian, Fulan beruntung punya suami seperti kamu"


"Sama-sama om, bukan Fulan om tapi saya yang beruntung"


"Kamu sudah jadi anak saya loh kok masih om terus sih" sahut papah sembari mengelus punggung Arnold.


"Hehehe.... iya pah maaf lupa" Arnold mencengir.


"Jangan sungkan lagi sama saya, saya sudah jadi papah kamu juga sekarang. Terima kasih ya nak Tian berkat kamu Fulan mampu melewati masa kritis nya"


"Sama-sama om eh pah" Arnold menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dan papah tersenyum melihat tingkah mantunya keturunan Chinese itu.

__ADS_1


Rasa syukur yang begitu mendalam ia panjatkan pada sang Maha Esa karena Fulan sudah siuman dan semakin membaik. Dan saat siang tiba dokter datang memeriksa lagi dan Fulan sudah membaik kamar VVIP 01 sudah di siapkan oleh Arnold teruntuk istri tercintanya.


Setelah di pindahkan Arnold menelpon bundanya memberi kabar gembira padanya tentang kebahagiaan ini. Dan ayah bunda segera datang ke rumah sakit.


Arnold duduk di kursi samping kiri. Fulan terbaring iya tak pernah lepas dari tangan Arnold. Fulan tersenyum merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam. Mamah papah Fulan tersenyum berdiri di samping kanan Fulan.


"Nold, makasih ya? berkat lo gue jadi bisa siuman"


"Lan, dia kan suami kamu nggak sopan kalau kamu manggil gitu" ceplos papah.


"Oh ya?"


"Kamu lupa ya sayang? sebelum kamu koma kan kamu lagi ijab qobul" jelas mamah. Dan Fulan terdiam dia mengingat semuanya.


"Oh ya aku ingat kemarin itu rasanya perutku sakit banget mual kepingin muntah tapi gak bisa muntah kepala berat pusing banget dan tiba-tiba aku lemas dan bangun-bangun merasa ada di tempat gelap banget gak ada siapa-siapa, terus kadang aku bahagia bisa denger suara orang ngaji tapi nggak tahu siapa setiap hari begitu terus. Hingga akhirnya setelah beberapa hari aku merasa putus asa dan hari ini aku tekad kan mencari sumber suara itu. Suara itu suara Arnold manggil-manggil Fulan. Fulan lari terus mengikuti suara Arnold yang lagi ngaji dan kadang manggil-manggil Fulan dan setelah ke sana kemari mencari Arnold akhirnya tadi ketemu Arnold juga dia meluk Fulan, betapa bahagia nya aku bisa keluar dari tempat gelap itu... " jelas Fulan membuat Arnold dan orang tuanya tertegun dan takjub.


"Masya Allah nak, Allah menolong kamu lewat nak Tian... "


Fulan tersenyum memandangi wajah Arnold.


"Pah mah, nanti ayah bunda mau ke sini jadi sekarang papah mamah pulang aja istirahat, pasti capek semalam sudah jagain Fulan"


"Iya pah mah, Fulan sudah baik-baik aja kok"


Mamah papah mengangguk.


"Mamah papah pulang dulu ya nak" mamah dan papah bergantian mencium kening Fulan. Dan Fulan bersalaman pada mereka tak lupa dengan takzim mencium tangan orang tuanya.


"Nak Tian titip Fulan ya? "


"Iya pah mah" Arnold bersalaman dengan mertuanya.


"Hati-hati ya mah pah" ucap Fulan.


"Iya nak cepat sembuh ya? assalamu'alaikum.. "


"Waalaikumsalam... "


Setelah orang tua Fulan pergi Arnold menatap lekat wajah istrinya yang sayu itu.


"Hey bidadari surga ku, selamat datang di dunia nyata dan selamat atas gelar istrinya" ucap Arnold menggoda sang istri dengan mencolek dagu mungil Fulan.


Fulan menatap Arnold bibirnya tersenyum tapi air matanya menetes kan air mata.


"Ini nggak mimpi kan? "

__ADS_1


"Nggak sayang ini nyata" Arnold naik di atas ranjang Fulan dan memeluknya dari samping.


__ADS_2