My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
ACUH


__ADS_3

Seharian ini aku lebih memilih diam tak ada keinginan untuk pergi ataupun ngrobol sama siapapun. Ibu yang melihatku hanya bisa diam karena ibu juga masih sedih dan syok sendiri.


Toni berangkat sekolah aku jadi kesepian karena pak Zan juga sibuk dengan laptopnya di kamar.


Bahkan aku masuk kamar cuma sekali mengambil ponsel karena aku lebih memilih istirahat di kamar Toni.


"Sayang?kamu kenapa? seharian kata ibu kamu belum makan?" pak Zan menyusul ku masuk kamar Toni.


Ku hiraukan pak Zan yang memeluk ku dari belakang . Aku lebih memilih memainkan ponselku. Pak Zan memandangku.


"Kamu kenapa?marah sama kakak?dalam hal apa? seharusnya kan kakak yang marah sama kamu"


"Kakak nggak salah ngomong gitu?sudah mikir belum sebelum ngomong?"


"Lantas apa salah kakak coba? seharusnya kakak yang kecewa dan cemburu pada kamu, demi membela Arnold kamu bertengkar dengan adikmu sendiri" hatiku muak ,sakit ingin sekali berteriak menjelaskan semua pada pak Zan tapi apa daya mulutku rasanya terkunci. Aku takut jika aku menjelaskan dalam keadaan marah perkataan ku bisa membuat pak Zan sakit hati.


"Kamu jangan egois yang hanya memikirkan keinginan kamu sendiri...!!!"


Aku nggak sanggup ya Allah,sakit rasanya tapi aku bingung harus menjelaskan semuanya dari mana?pak Zan yang tak peka dan cuek ini.


"Sudahlah kalau kamu nggak mau jawab, urusan kakak tu banyak nggak cuma ngurus kamu yang suka dikit-dikit ngambek nggak jelas" pak Zan lantas pergi meninggalkan ku di kamar Toni sendiri.


Cuma kamu air mata, yang selalu mengerti tentang diriku.


ceklek....


"Mbak?" Toni masuk kamar dengan sedikit kaget.


"Mbak Tsania kenapa?" ku peluk Toni yang duduk di depanku.


Ku tuangkan rasa kecewa dan sakit ku dalam pelukan Toni hingga benar-benar puas.


Drrrt....


📩" Hei...dasar bocah...!!! udah pikun ya? enak-enakan di rumah nggak bantuin gue..." satu pesan dari Fulan membuatku membuyarkan pelukanku.


"Astagfirullah..."


"Kenapa kak?"


"Harusnya hari ini mbak ada janji sama Fulan buat persiapan besok launching Toko baju kita,tapi mbak malahan lupa.Duh mana udah mau sore gini pula gimana nih..."


"Mau Toni antar?"


"Bentar aku pamit kak Irul dulu ya?kamu siap-siap aja dulu ya?"


"Iya mbak..." aku segera keluar dari kamar Toni dan masuk ke kamarku.


Pelan aku membuka nya tapi tak ada tanda-tanda pak Zan ada di kamar.

__ADS_1


Aku segera mandi, sholat ashar dengan Toni dan berganti pakaian dengan rok plisket warna abu-abu ,tunik kotak-kotak warna senada dan jilbab pashmina.Tak lupa sling bag berisi berbagai. kebutuhan ku


Aku mencari pak Zan ke setiap sudut tapi tak menemukannya.


"Buk?lihat kak Irul nggak?"


"Loh,emang gak pamit kamu?"


"Nggak bu,lupa paling. Emang kemana?"


"Tadi Laili ngidam kepingin makan nasi gandul tapi ibu nggak tahu di mana belinya terus ibu nyuruh Irul buat beli tapi Laili kepingin makan di tempat ya udah deh berangkat mereka"


Deg....


Setega itu kamu ya kak?apa aku sudah tidak ada artinya lagi di hadapan mu?semarah apapun dirimu setidaknya aku berhak tahu setiap langkah kakimu.


Ku tarik nafas panjang dan ku lepas dengan pelan.


"Ya udah bu, aku pikir kemana. Padahal Tsania juga mau pergi"


"Mau kemana nduk?"


"Tsania lupa bu padahal hari mau persiapan buat buka toko baju sama Fulan"


"Alhamdulillah kamu sudah punya toko baju sendiri?"


"Baru mau merintis bu sama Fulan"


"Iya bu"


"Jangan capek-capek jaga kesehatan mu ingat sekarang ada tanggung jawab yang besar ada calon bayi di kandungan mu"


"Jangan khawatir bu,ada Toni yang akan siap menjaga mbak Tsania dan si jagoan" sahut Toni langsung merangkul ibu.


Ibu tersenyum sumringah,hatiku rasanya lega sekali dari kemarin ibu hanya diam dan menangis. Cukup dengan masalah Laili ibu bersedih aku nggak mau menambahkan beban lagi. Biar kan ku bawa sendiri masalah rumah tanggaku ibu dan keluarga tak perlu tahu.


Aku dan Toni berpamitan pada ibu saat taxi online yang ku pesan sudah datang.


Ku tatap layar ponsel tak lupa mengirim pesan pada pak Zan.


📨"Aku pergi dulu mengurus toko sama Fulan" setelah itu aku menggenggam tangan dengan Toni lalu ku potret ku masukkan dalam story WA.


Bahagia bersama . Tulis ku dalam story.


Tak berapa lama pak Zan mengomentari story ku.


📩"Apa itu patut di contoh?tanpa seijin ku kamu keluar rumah berdua-duaan dengan lelaki lain"


✉️"Aku tak sehina apa yang kamu pikirkan dan aku tak setega yang kamu lakukan.Aku masih punya otak untuk berpikir dan aku masih punya hati untuk merasakan"

__ADS_1


Setelah itu ponsel sengaja aku hening kan dan langsung ku masukkan ke dalam tas.


Aku memilih bersandar pada bahu Toni dan menikmati jalanan yang mulai padat lewat dalam kaca.


"Menikah muda ya mbak, mas?" tanya pak sopir yang tersenyum melihatku dan Toni bermesraan.


Aku dan Toni saling pandang.


"Apa saya kelihatan sudah tua ya pak?"


"Nggak sih mas,mas terlihat masih umur 20 tahun".


Aku terpingkal-pingkal mendengar pernyataan pak sopir.


"Mbak sih gara-gara nya ,makanya kalau di umum kayak gini jangan bermesraan" Toni mulai cemberut dan melepaskan genggaman tanganku.


"Ih....lucunya kalau manyun" ku cubit hidung Toni.


"Saya doakan semoga pernikahan kalian samawa ya mas mbak,dan selalu mesra harmonis seperti ini terus. Saya senang lo mas mbak lihat kalian harmonis gini jadi kangen istri di rumah . Hehehe..."


Aku terus memegang perutku karena menahan ketawa apalagi melihat wajah Toni semakin di tekuk-tekuk.


"Pak maaf ya sebelumnya, lelaki yang ada di sebelah saya ini adalah adik kandung saya dan terlebih dia masih 15 tahun kelas 9 SMP" jelasku yang masih terpingkal.


Shittt....


"Ada apa pak?" tanya ku dengan panik pada pak sopir yang menghentikan mobilnya. Dia menoleh ke belakang. Mengamati ku dan Toni.


"Eh iya mirip,maaf ya mas mbak saya salah sangka" ujarnya.


Hey ferguso.....!!!apa aku setua itu hah...!!! Toni.


Pak sopir lalu melanjutkan lagi dalam mengemudikan mobilnya. Dan aku masih terpingkal-pingkal apalagi melihat wajah Toni yang semakin tak karuan.


"Adik saya emang bongsor pak, karena dia calon polisi katanya" tambah ku.


"Wuah cocok itu mbak , badan mas nya besar banget gagah gitu, semoga cita-cita nya menjadi polisi terwujud"


"Aamiin...makasih pak"


"Sama-sama mbak"


Hatiku sedikit lega dan tenang meski hanya sekedar hiburan kecil ini.


"Makasih Ton..." bisik ku pada Toni dan lalu ku cium pipinya.


"Mbak...Tan..???" ku hiraukan muka merahnya karena mau meledakkan bom atom... hahahaha.... langsung ku melendot di lengannya.


"Sudah....mengalah saja ini kemauan si adik..." jawabku asal sambil cekikikan.

__ADS_1


"Iya maaf ya adik...." jawab Toni lalu mengelus perutku.


Sesederhana ini bahagia itu.


__ADS_2