
"Zanna!"
Di tengah asiknya makan, aku di kejutkan dengan seseorang yang memanggil namaku. Sejak kapan aku terkenal hingga di mana pun aku berada ada yang mengenalku.
Aku tidak tahu, ada anak laki-laki yang menghampiri kami, dia berjalan dari arah belakang pak Ardi.
"Aska!" dia teman sekelasku, jelas mengenalku.
Pak Ardi pun segera menoleh ke sumber suara, dan tampak anak laki-laki itu terkejut, karena posisi pak Ardi membelakangi arah datangnya Aska.
"Pak Ardi?"
Aska berhenti tepat di samping ku dan pak Ardi, lebih tepatnya di antara kami,
"Pak Ardi dan Zanna kok bisa barengan sih?"
"Kamu anak bukti Nusa ya?" tanya pak Ardi dengan cepat. Sepetinya wajah Aska Sudja terekam di benak pak Ardi.
"Iya pak, kebetulan saya satu kelas dengan Zanna pak!"
Pak Ardi menatapku dengan penuh tanya melihat aku hanya terdiam, aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal,
"Iya pak, dia Aska."
"Duduklah!" perintah pak Ardi, "Gabung sama kita."
Hampir saja ia menyetujuinya, beberapa anak di belakang mereka tengah memanggilnya,
"Ka, ayo!"
Aska pun mengurungkan niat ya untuk duduk,
"Maaf pak, saya di tunggu teman-teman!" ucapnya sambil menunjuk beberapa anak yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk.
"Iya nggak pa pa!"
Pak ardi malah tampak senang karena Aska tidak ikut duduk.
Aska beralih menatapku, aku sampai menggigit sendokku yang sudah kosong, cukup khawatir kalau dia sampai menanyakan hal yang sama seperti yang di tanyakan oleh Luna waktu itu.
"Sampai jumpa di sekolah besok ya!"
Aku hanya bisa tersenyum saat Aska melambaikan tangannya,
"hmm!"
__ADS_1
Pak Ardi tiba-tiba berdehem membuatku tersadar jika masih ada pak Ardi di depanku, aku pun kembali beralih dari aska dan menatap ke arah pak Ardi.
"Ada apa pak?"
"Kamu suka dia?"
"Hahhh?" cukup terkejut dengan pertanyaan pak Ardi, apa iya pak Ardi cemburu sama Aska?
"Lupakan!" pak Ardi memilih kembali menyantap makanannya.
Belum sampai aku ikut menyantap kembali makananku, pak Ardi tiba-tiba menghentikan kembali makannya.
"Kalian dekat ya?"
Pertanyaan pak Ardi kembali membuat keningku berkerut, atau jangan-jangan apa yang aku pikirkan benar.
"Kamu kenal dekat sama dia?"
Pertanyaan yang lagi-lagi menyadarkanku, dengan cepat aku menggelengkan kepalaku sebelum pak Ardi bertanya lagi.
"Kenapa?"
Hahhh, kenapa? Ada yang aneh ya dengan jawabanku. Kalau aku tidak dekat, berarti memang kami tidak punya topik yang harus di bicarakan.
"Kok kenapa sih pak?"
Hehhhh, lagi-lagi aku menghela nafas. Bukan karena perkataan pak Ardi salah tapi masalahnya mungkin pemikiranku dengan pak Ardi selama ini berbeda, mana berani aku dekat dengan anak sekelas Aska yang jelas-jelas dia ketua OSIS, pintar, populer lagi. Kayaknya aku yang salah kelas karena nyasar di kelasnya para siswa populer.
"Aku nggak biasa ngobrol sama mereka!"
"Iya, kenapa?"
Aku tidak mungkin kan memberi alasan sama pak Ardi apa alasannya.
"Ya nggak suka aja pak!"
"Ya udah nggak usah di bahas lagi, kita bahas lain waktu saja!"
Pak Ardi mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya yang sedari tadi dia bawa. Aku tidak tahu apa isinya, tapi mungkin benda penting jadi aku tidak protes. Ia mengeluarkan sekotak besar dan menyodorkan ke meja depanku,
"Itu untukmu!"
"Ini apa pak?"
"Buka saja sendiri!"
__ADS_1
Untuk pertama kalinya aku mendapat kado tapi ini bukan hari ulang tahunku,
Sebuah mukena ....
Entah kenapa rasanya bergetar, ku elus bagian tas mukena itu. Seperti sebuah kode alam, mukena yang cantik.
"Maaf ya aku beliin kamu mukena nggak bilang dulu, aku lihat mukena kamu di rumah sudah sobek, jadi aku berinisiatif membelikannya untukmu, aku nggak tahu yang seperti apa yang kamu suka _,"
"Aku suka kok pak!" ucapku dengan cepat menyambar ucapan pak Ardi, menurutku ini hadiah terindah.
"Serius kamu suka?"
"Iya pak! Serius!"
"Di belakangnya masih ada lagi, kamu juga bisa melihatnya!"
"Apa?"
"Lihat sendiri ya!"
Aku segera mengeluarkan mukena yang masih berada di dalam plastik pembungkus ya. Pak Ardi dengan sigap menyingkirkan piring kotor dan pelayan menghampiri kami dan mengambil semua piring kotor yang memang sudah habis isinya.
Ku letakkan mukena itu di atas meja yang sudah kosong, kembali ku lihat ke arah kotak itu dan beberapa buah jilbab dan dari sekian banyak jilbab itu ada jilbab sekolah.
"Bapak kapan belinya?"
"Kemarin! Kamu suka?"
"Suka! Tapi maaf ya pak aku belum siap pakainya! Aku pengen pakek hijab bukan karena bapak atau siapapun, nanti saya Zanna sudah benar-benar siap untuk memakainya, pak Ardi orang pertama yang bakal Zanna kasih tahu."
"Nggak pa pa, nanti kamu juga siap sendiri!"
Benar-benar perhatian, aku tahu dia sebenarnya ingin memintaku untuk pakek hijab tapi bukan dengan kata perintah yang mungkin orang tidak akan suka. Caranya itu yang membuat aku nyaman dengan keberadaan pak Ardi.
"Kenapa pak Ardi melakukan ini?"
"Karena aku punya kewajiban untuk membimbing kamu sebagai seorang suami!"
Benar-benar kata yang indah, sederhana tapi ngena di hati. Aku sebagai seorang wanita merasa di lindungi, di perhatikan dan di istimewakan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani 5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...