
Malam usai melihat Arnold tertidur bunda mengajak ayah ngobrol di kamarnya. Karena Arnold sudah di temani Angga dan Yanto.Bunda bercerita panjang lebar tentang sebuah fakta yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelum nya. Usai bercerita sepertinya ayah terlihat emosi. Darahnya naik berdesir menguasai hatinya. Dia tak habis pikir kenapa bisa seperti ini.
"Bunda yakin? "
"Iya yah"
"Bunda tahu dari mana? "
"Kemarin pas ayah masuk ke ruang ICU melihat keadaan Tian, bunda nyari Tsania eh ternyata lagi di kantin sama nak Fauzan dan Fulan. Gak sengaja dengar percakapan mereka"
"Tega sekali mereka. Kalau seperti ini ayah gak bisa tinggal diam" ayah naik pitam dan mengepalkan tangannya di pukul kan di atas kasur.
"Bun...secepatnya kita harus bisa berusaha membuat Tian sadar. Ayah gak mau terlibat jauh dengan gadis itu"
"Ayah? Tsania itu gak salah kok. Nak Fauzan juga gak tahu. Mereka dijodohkan mereka sama-sama menjadi korban. Bahkan Tsania itu sangat mencintai Tian yah. Dan nak Fauzan juga sangat menyayangi Tian. Dia tidak berkhianat"
"Bunda tahu dari mana? "
"Fulan yang bercerita yah, kemarin sebelum Fulan pulang bunda sempat minta nomer telponnya ingin mencari tahu tentang maksud percakapan mereka"
Bunda mengelus dada ayah. Meredamkan emosi ayah yang sempat meluap itu. Setelah mengetahui banyak hal tentang percintaan anaknya yang mengalami hal kebuntuan. Bunda dan ayah berencana bercerita panjang lebar tentang fakta yang sudah terjadi. Dan sudah berkonsultasi dengan dokter jika Arnold mengalami reaksi yang hebat maka akan di operasi lagi demi memperbaiki sel-sel pada otaknya yang mengalami kerusakan kecil.
Ada dua kemungkinan setelah mengetahui fakta yang ada. Pertama Arnold akan mengalami reaksi hebat dan akan memperparah kondisi nya dan yang kedua dia akan bisa pulih kembali tapi dengan berhalusinasi sesuai keinginan nya sebelum dia amnesia tapi hanya sementara.
Pagi itu bunda dan ayah memulai rencananya dengan menyusun strategi.
"Tsania? " sapa bunda saat Tsania usai mandi. Bunda hanya menampilkan kepala nya saat membuka pintu kamar Tsania yang berada di sebelah kamar Arnold. Dia lupa gak mengetuk pintu dulu membuat sang empu kaget.
"Eh... iya bun" Tsania gelagapan lupa mengunci pintu. Karena dia masih memakai handuk setengah dada.
"Maaf bun habis mandi"
"It's ok Tan" bunda tersenyum dan langsung masuk menutup rapat-rapat pintunya kembali.
"Bentar ya bun mau pakai baju dulu" Tsania pamit ke kamar mandi selang 5 menit keluar dengan memakai rok plisket panjang warna abu dan tunik kotak-kotak warna senada dengan roknya. Tanpa riasan dan tanpa jilbab. Dan masih terlihat cantik.
"Ada apa bun? " Tsania duduk sejajar di samping bunda di pinggir kasur.
Bunda tersenyum dan merangkul punggungnya.
"Tsania kamu cantik ya?" Tsania tersipu malu dengan pujian bunda.
__ADS_1
"Bunda mau minta tolong untuk yang terakhir kalinya gak apa-apa kan? " lanjut bunda.
"Jangan ngomong gitu ah bun, seterusnya Tsania mau kok bantu bunda terus kan bunda sudah seperti ibu Tsania sendiri" jelas Tsania.
"Iya Tan, makasih ya? "
"Kata dokter Arnold dalam dekat ini dia bisa kembali mengingat meski lukanya belum sembuh. Tapi, dengan syarat biarkan dia berhalusinasi sesuai keinginan nya sebelum dia amnesia"
"Terus? "
"Ya bunda minta tolong jika nanti Arnold nanti memperlakukan mu melebihi batas wajar tolong biarkan dia seperti itu ya? kamu jangan nolak"
"Maksud bunda? "
"Misal ya, dia memperlakukan mu seperti kamu sebagai istri nya.Tapi tenang aja itu akan bersifat sementara asalkan kamu bisa mengikuti apa yang ada di pikiran nya. Bunda mohon kali ini saja ya? " bunda memelas dan memegang kedua tangan Tsania.
"Iya bun, Tsania siap kok" Tsania sumringah berusaha menyakinkan bunda demi kesembuhan Arnold.
Setelah urusan pertama selesai bunda mengatur rencana bercerita dengan Arnold malam nanti setelah semua orang tertidur lelap.
.
.
.
Malam itu Yanto dan Angga sengaja tak di suruh menjaga karena bunda dan ayah beralasan ingin menemani tidur malam di kamar Arnold meski Arnold menolaknya tapi alasan bunda yang ingin quality time membuat Arnold luluh.
"Bun?Tian kok belum bisa tidur ya? " tanya Arnold yang merasa bingung karena biasanya jam 9 dia sudah merasa ngantuk berat dan ini sudah jam 10 lebih tak ada tanda-tandanya dia mengantuk.
"Iya nanti juga bisa tidur sendiri sayang" bunda mengelus-ngelus tangan Arnold yang sedari tadi ikut duduk bersandar dengan Arnold di atas kasur.
Sedangkan Ayah duduk di ujung kasur menunggu bunda bercerita.
"Tian sayang? "
"Iya bun? " Arnold menoleh pada bunda nya yang sudah tidak berjarak itu.
"Kemarin itu sebelum kecelakaan kamu lagi mau kemana sih? ingat nggak? "
"Emmm.... kemana ya bun lupa ik" Arnold menyentuh pelipisnya terasa sedikit nyeri.
__ADS_1
"Sudah nggak usah dipaksakan" bunda tersenyum.
Selama ini bunda mengambil memori card dari ponsel Arnold karena penuh dengan foto-foto Tsania dan Arnold. Dan malam ini tanpa sepengetahuan Arnold, bunda kembali memasang nya tapi bukan di ponsel Arnold melainkan di ponsel bunda sendiri.
"Sayang coba deh kamu ingat ini siapa? " bunda menunjukkan foto Tsania dan Arnold tersenyum mesra di sebuah taman.
"Ini kan foto Tsania dan Tian bun.Ini kalau gak salah merayakan anniversary ke 1 tahun deh bun di taman saat itu"
Bagus pikir bunda. Setelah itu bunda menunjukkan semua foto-foto teman-temannya dan dari semua foto itu Arnold masih mengingat dan hafal kejadian nya di mana dan sedang apa. Dan untuk foto yang terakhir kalinya bunda hara-harap cemas sebelum di tunjukkan pada Arnold, bunda melirik ayah yang tak kalah tegang dengan bunda. Ayah mengangguk mengiyakan agar bunda yakin.
Bunda terdiam sejenak seperti belum siap dengan apa yang akan terjadi. Dia menarik panjang nafasnya dan mengeluarkan dengan kasar.
"Ada apa bun? " Arnold melirik pada bunda nya yang terlihat cemas. Karena dari tadi Arnold fokus dengan game di ponsel nya.
"Kamu ingat gak ini siapa aja? " bunda menunjukkan foto terakhirnya. Yang terlihat ada Fauzan dan Tsania tersenyum bahagia memakai gaun pengantin dan di samping mereka ada Arnold dan Laili tersenyum juga di depan kamera.
"Itu kan Tian, Laili eh Laili? apa kabar ya dia? lama gak jumpa" Arnold yang sedari tadi hanya melirik foto yang di tunjukkan pada bunda nya dia masih asyik dengan gamenya.
"Dia tak kalah baik bun, sama persis kayak Tsania. Cantik, baik lemah lembut pengertian" Arnold menghentikan gamenya dan menatap kosong di depan ingatannya jauh melayang mengingat tentang Tsania.
"Emang ini kamu sama Laili lagi di pernikahan siapa sih? " bunda ikut larut dalam suasana berpura-pura kenal dan akrab dengan Laili. Meski air mata sudah hampir tak sanggup lagi ia bendung.
Arnold meraih ponsel bunda nya dan memperhatikan dengan seksama foto itu.
"Ini tu pernikahan.... " Arnold terjeda kembali mengumpulkan memori di ingatannya.
Ayah mendekati bunda dan memeluknya menenangkan bunda yang hampir saja menangis.
Arnold mulai memegang kepalanya. Terasa sedikit nyeri ketika ingin mengingat nya.
"Ini siapa sih bun? " tanya Arnold yang masih fokus dengan foto itu.
"Coba di ingat lagi"
"Ini pak Irul kan? oh iya ini kan di pernikahan nya pak Qairul Fauzan guru Arnold dan ini istri cantiknya itu. Eh.... " Arnold terdiam mengamati lagi foto itu.
"Bukannya ini Tsania ya bun? oh iya Tsania calon istri Tian bun, hahahah sampai lupa Tian bun. Saking cantiknya ya bun? " Arnold tergelak. Dia belum menyadari apa yang dia saksikan.
"Tapi.... kenapa Tsania bisa sama pak Irul ya? "
Bunda tak sanggup lagi menahan tangisnya dia terisak dalam pelukan ayah.
__ADS_1