
Entah pulang jam berapa tadi malam pak Zan aku sudah terlelap dan saat ku bangun di pagi ini dia juga sudah tak ada di sampingku. Ya, mungkin sholat subuh di masjid pikirku.
Aku segera bangun dan membersihkan diri, berwudhu sholat subuh. Setelah itu segera keluar kamar mencari pak Zan dari sudut tidak ku temukan pula. Rumah keadaan masih sepi hanya ada mbak Ning yang sudah sibuk di dapur.
"Mbak? tahu kak Irul? "
"Tadi sih Ning lihat keluar sudah rapi dengan sarung dan baju koko nya mbak, mungkin sholat jamaah di masjid mbak? "
"Oh ok makasih mbak... "
"Iya mbak"
Aku berlalu meninggalkan mbak Ning di dapur yang sudah fokus dengan masakannya.
"Kamu kok gak pulang-pulang sih kak? padahal udah jam setengah enam loh" bisik ku.
Dengan masih memakai piyama panjang warna dusty dan jilbab instan berwarna ungu muda segera keluar rumah. Untuk menunggu pak Zan pulang aku menyapu halaman dan menyirami bunga-bunga.
Rasanya capek sekali meski hanya menyapu badanku rasanya pegal-pegal. Aku duduk di kursi ayunan menenangkan hati. Tak lama turun mondar-mandir tak jelas bingung harus apa.Dan kembali duduk di kursi taman depan rumah.
"Hiks... hiks... ibu, aku ingin pulang... " isak tangis ku.
Aku menunduk menutupi semua air mata yang mengalir.
"Sayang? "
"Kakak...? " ku dongak kan kepalaku melihat pak Zan yang sudah duduk di samping ku. Yang masih rapi memakai koko putih sarung coklat dan sajadah coklat di pundaknya.
"Kakak dari mana aja Tsania cari-cari gak ketemu" rengek ku. Dan pak Zan segera memelukku.
"Maafin kakak ya? " pak Zan mengusap air mataku dan mengecup keningku.
"Yuk masuk dulu" pak Zan mengajakku masuk kedalam kamar lagi.
"Maaf ya sayang semalam kakak kemalaman pulangnya soalnya mamah ketemu sama temen-temen nya kakak mau ajak pulang kakak gak enak. Dan pagi tadi kakak sholat jamaah di masjid sekalian ketemuan rutin anak-anak remaja kampung sini membahas menyambut bulan Ramadhan nanti"
"Kenapa kakak gak bangunin aku? kan bisa ke masjid bareng"
"Kamu bubug nya nyenyak banget sayang kakak gak enak mau bangunin"
"Di sana ada banyak cewek pasti iya kan? pasti pada centil sama kakak" omel ku.
"Hist...tadi cuma cowok-cowok kok sayang gak ada yang cewek" pak Zan mengelus puncak kepalaku berusaha menenangkan.
"Ya udah sebagai gantinya nanti kakak ajak jalan-jalan ke pasar dekat sini ya? "
"Ok deh... "
Tok... tok...
"Tan, Rul sarapan dulu ya? "
"Iya eyang...!!! "
"Yuk sarapan dulu "
Pak Zan segera mengganti baju koko nya dengan kaos oblong.
__ADS_1
Aku segera duduk di ruang makan dan tak lama mamah papah menyusul duduk di sana. Tak lupa si kembar.
"Pagi Tan, gimana bisa tidur kan semalam? "
"Bisa alhamdulillah pah"
Makanan sudah siap tergelar di atas meja ada ayam goreng kesukaan si kembar, telur dadar, tempe goreng, oseng bakso dan kacang panjang, sambal terasi tak pernah absen.
"Sayang ini kan kesukaan kamu bakso" pak Zan mengambilkan oseng bakso kacang di atas piringku. Tapi melihat bulatan bakso tiba-tiba perutku mual.
Karena merasa tak enak aku segera berlari menuju kamar mandi dekat dapur yang lebih cepat di jangkau. Perutku rasanya mual sekali semua isi perut keluar semua.Hinga terasa perut kosong aku baru keluar dengan badan yang lemas.
"Kamu kenapa sayang? " pak Zan merangkul ku dan mengelus perutku.
"Nggak tahu sayang mual banget rasanya. Masuk angin paling kamu sayang. Ya udah kamu istirahat aja ya? "
Pak Zan mengajakku ke kamar lagi dan melaburi minyak angin di perutku. Aku hanya bisa terbaring di atas kasur pasrah.
"Semalam kamu tidur jam berapa? "
"Jam 23.00 kayaknya sayang"
"Maafin kakak ya sayang? gara-gara kakak kamu jadi gak bisa tidur ya semalam? "
"It's okay nggak apa-apa kok"
Pak Zan dengan telaten membuka jilbab yang ku kenakan dan memijit kepalaku.
"Kamu sarapan bubur mau? "
"Terserah kakak aja deh" entah rasanya untuk makan pun jadi malas, perutku sangat mual sekali apalagi kalau teringat bakso yang bulat-bulat itu benar-benar rasanya udah gak tahan lagi.
"Iya kak... "
Sementara itu di meja makan.
"Ada apa mas Irul? " tanya papah.
"Tsania masuk angin kecapean paling dia pah"
"Orang gak ngapa-ngapain kok kecapean sih " sahut mamah.
"Kan kemarin habis dari Jogja terus acara resepsi malam itu jadi dia baru numpuk sekarang capeknya mah"
Mamah terdiam.
"Kamu nggak boleh gitu sama Tsania mah, jangan buat di tertekan di sini, kasian dia" tambah papah.
"Kamu itu ya... " sahut mamah.
"Sudah.... jangan berantem di sini. Ini tempat untuk makan bukan untuk berantem " sahut eyang berusaha merelai.
Suasana sesaat jadi hening dan mamah pergi di susul papah. Tak lupa Kafi yang super cuek itu ikut pergi juga usai makanan di piringnya habis.
"Tafi, kakak minta tolong ya? beliin bubur buat Tsania "
"Iya kak"
__ADS_1
Tafi dengan cekatan pergi untuk segera membelikan bubur buat kakaknya tercinta dengan semangat.
"Uangnya Taf "
"Nggak usah kak, pakai uangku aja"
"Tumben... "
Tafi berlalu dengan meninggalkan senyum gesrek nya.
"Sabar ya Rul, yuk kita tengok Tsania lagi"
"Iya eyang" eyang menggandeng tangan cucu kesayangan nya itu.
Kembali ke kamar Tsania.
"Sayang? " lirih pak Zan memanggilku.
"Iya? "
Pak Zan mendekati ku dan memijit kakiku.
"Kamu di rumah sama eyang gak apa kan? kakak lupa hari ini harus berangkat ke sekolah ada pendaftaran ulang" jelasnya.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Mana mungkin aku merengek minta di jagain sama pak Zan terus sedangkan di sini ada eyang.
"Kalau ada apa-apa bisa panggil eyang aja ya nak? jangan sungkan yah? " bujuk eyang.
"Iya eyang"
"Kakak siap-siap dulu ya? "
Setelah beberapa menit pak Zan berganti pakaian dengan baju atasan batik dan celana kain hitam lalu menggendong tas ranselnya. Karena tadi habis subuh pak Zan sudah mandi jadi dia tidak mandi lagi. Sudah kebiasaan sebelum subuh pak Zan dan aku selalu mandi dulu meski tidak sedang habis berhubungan.
"Kakak berangkat dulu yah?" pak Zan mencium kening, kedua pipi dan bibirku. Aku bersalaman dengan takdzim mencium punggung tangannya.
"Nanti kalau Tafi sudah pulang jangan lupa langsung di makan buburnya yah? "
Aku mengangguk.
"Eyang, Irul berangkat dulu yah? titip jagain Tsania ya?" pak Zan mengecup punggung tangan eyang.
"Iya jangan khawatir "
"Ya udah berangkat dulu assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam... "
Pak Zan keluar dari kamar rasanya hatiku sakit dan perih. Kepingin sekali dia ada di sini. Mengelus perutku yang mual dan badanku yang lelah ini. Ingin rasanya di manja dulu merasakan seperti yang lain masih bermesraan layaknya pengantin baru. Ya meski sudah menginjak dua bulan pernikahan tapi selama ini kan banyak masalah terlewati hingga belum terlalu banyak ada quality time.
Air mataku menetes sudah tak bisa ku bendung lagi meski ada eyang yang memerhatikan ku.
"Sabar ya sayang? eyang tahu perasaan kamu"
Aku duduk dan memeluk eyang.
"Terima kasih ya eyang? "
__ADS_1
"Iya sayang " eyang mengelus-ngelus punggung ku. Sedikit membuatku nyaman dan tenang.