
"Ada apa mah?pah?" tanyaku lembut duduk di ujung ranjang.
"Kamu sudah sehat sayang?"
"Alhamdulillah sudah mah"
"Mas Irul sudah tahu kalau kamu sakit?" aku terdiam bingung harus menjawab apa sedangkan pak Zan dimana, aku aja nggak tahu bahkan aku seharian males pegang hp.
Dengan sedikit keberanian aku menggeleng.
"Naiklah nak..." papah menyuruhku naik ke atas kasur duduk bersila menghadap mereka.
"Tsania?"
"Iya mah..." aku terbangun dari lamunanku. Air mata ku menetes yang sedari tadi aku tahan.
"Ada apa? ceritalah mamah papah siap mendengarkan kok"
Aku semakin tersedu dan mamah menghampiriku memelukku mengelus punggungku.
"Ada mamah sekarang jangan sedih ya?"
Ku tarik nafas dalam dan ku keluarkan perlahan.
"Sudah ya?" mamah menatapku dan kedua tangannya di kepalaku menenangkan ku seperti dulu ibu menenangkan ku di waktu kecil.
"Sebenarnya ada apa?"
"Kak Irul mah, dia sudah berubah..."
"Berubah kenapa?"
Ku ceritakan semua keganjalan pak Zan pada mamah papah. Pak Zan yang cuek,kasar, dan tak ada belas kasihan. Semua unek-unek dalam hati ku ceritakan dengan lancar pada mereka tanpa terkecuali.
Dan perlahan rasanya lega dan plong...
"Apa Laili hamil karena mas Irul?"
"Hah...?mamah kok bisa berfikir sejauh itu?" sedikit kaget dengan ucapan mamah, sedangkan aku saja tak pernah berfikir sejauh itu.
"Mamah kenal mas Irul, dia itu lelaki bertanggung jawab jika dia melakukan kesalahan sekecil apapun dia akan selalu bertanggung jawab sampai masalah itu terselesaikan"
"Jadi menurut mamah kak Irul yang sudah menghamili Laili?"
"Mamah nggak yakin sih"
"Nggak mungkin kalau soal itu" papah menyahut yang sedari tadi diam memperhatikan.
"Mamah ingat kan kejadian Manohara yang menggodanya dan hamil karena temannya?"
"Iya pah "
"Jadi papah rasa bukan Irul pelaku nya. Hanya Laili yang tahu siapa yang menghamilinya"
"Tapi pah, Laili bilang dia juga gak tahu katanya dia ingat malam itu dia berasa di setubuhi saat di rumah Arnold"
"Tapi sepertinya kalau nak Arnold nggak mungkin ,karena papah juga kenal sama nak Arnold iya kan mah?"
__ADS_1
Mamah terdiam tampak berfikir keras.
"Gimana kalau besuk kita ketemuan sama nak Arnold?"
"Ok ,besuk jadwal papah kosong"
"Assalamualaikum....!!!" menoleh pada sumber suara.
Aku sedikit terkejut. Pak Zan yang lusuh dan pucat seperti kelelahan. Tapi wajahnya sedikit tidak ramah seperti menahan amarahnya.
Dengan takzim bersalaman dengan mamah papah terakhir padaku. Pak Zan duduk di sebelah ku sedikit canggung dan berdebar sama persis saat pertama kali jadi istrinya.
"Kata mamah Tsania sakit?kenapa sekarang dia tampak baik-baik saja?mamah bohong sama Irul?"
"Nggak tuh,tadi pagi dia beneran sakit. Dia drop asam lambungnya naik. Dan juga kata dokter dia nggak bisa kena air hujan lama-lama karena kesehatan nya bisa drop lagi. Jadi...." ada penekanan di akhir kata mamah.
"Jangan sampai hujan-hujanan, karena ibu hamil itu sensitif...!!!dan kondisi ibu hamil itu beda-beda. Bukanya kamu tahu tentang itu mas Irul?" pak Zan terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut mamah.
"Untung ada Tafi, coba kalau nggak ada Tafi pasti....ya,papah udah nggak bisa bayangkan lagi. Sebenarnya papah kepingin marah dan pukul kamu habis-habisan tapi buat apa?karena dari kecil kamu adalah anak kebanggaan papah tak pernah sedikitpun kamu melanggar peraturan"
"Huh....apa faktor kamu sampai tega tidak memperhatikan lagi istrimu?apa kamu tidak mencintainya? apa dulu kamu benar-benar terpaksa menikahinya? apa yang kurang dari nya? bahkan dia juga mau melayani mu, memberikan kamu keturunan. Apa hebatnya Laili hah?!" semua terdiam mendengar papah memarahi pak Zan.
Ku lirik pak Zan menunduk tangannya gemetaran terlihat tangannya basah terkena tetesan air matanya. Ingin rasanya aku memeluk nya memberikan ketenangan tapi hatiku masih sakit jika menatap wajahnya.
"Maaf pah mah, Irul salah..."
"Bukan sama papah atau mamah kamu bersalah tapi pada istrimu...!!! tatap wajah istri mu ,apa kau sudah tak ada rasa iba?dia mengandung anakmu ...apa Laili itu sebenarnya pacar kamu yang dulu?yang sempat kamu mau kenalkan ke papah mamah?"
"Yang tenang pah,sabar ya..." mamah mengelus dada papah takut jantungnya kumat.
"Lantas apa maksud kamu menterlantarkan istrimu?!"
"Maaf pah,Irul punya alasan kok"
"Sekarang jelaskan semua awal kronologi sampai kamu sangat peduli dengan Laili"
Terdiam cukup lama dan melirik ku sebentar.
"Sebelumnya kakak minta maaf ya sayang?jika ini nanti bakalan menyakiti hatimu" pak Zan meremas tanganku lembut.
"Dan papah mamah pastinya bakalan kecewa mendengar kabar ini"
"Berat sebenarnya tapi ini terpaksa Irul lakukan demi semuanya, kapan hari pas saya tahu kalau Laili hamil Irul berusaha mencari tahu siapa yang menghamilinya karena dulu saya sempat curiga dengan Laili karena sebelum dia bilang ke semuanya saya pernah memergoki dirinya keluar dari hotel bersama pacarnya pas saya ada seminar di hotel itu"
"Terus apa hubungannya sama kamu?"
"Laili kapan hari mau mencoba bunuh diri pah, dia frustasi...Irul mencoba menenangkan hatinya dan pelan-pelan bertanya tentang ayah kandung dari anaknya. Dia sempat bilang Arnold tapi sudah saya selidiki bukan Arnold dan akhirnya dia mengaku Irul lah yang menghamilinya"
"Hah?" semua menoleh pada pak Zan.
Aku masih bingung dan takut, berharap apa yang ku dengar ini hanyalah mimpi.
"Jadi kamu yang menghamilinya?"
"Nggak tahu mah,Irul rasa nggak pernah menyentuh Laili apalagi menyetubuhi"
"Terus?"
__ADS_1
"Laili punya bukti pah kalau Irul lah yang menghamilinya,belum sempat Irul membuktikan Laili sudah mengancam ingin membunuh bayi dalam kandungan nya jika Irul nggak mau bertanggung jawab"
"Kan bisa di tes DNA ?"
"Sudah mah,Irul sudah pernah membawa Laili ke sana tapi kondisi Laili tidak memungkinkan jadi terpaksa harus menunggu bayi itu lahir"
"Maaf..." pak Zan menatap ku dengan tatapan penuh penyesalan.
"Iya kak,nggak apa-apa. Maaf atas perilaku Laili yang membuat repot kakak" sedikit lega meski masih banyak pertanyaan yang harus ku tanyakan pada pak Zan.
Aku mohon ijin ke mamah papah untuk kembali ke kamar.
Aku ingin menyelesaikan masalah ini sendiri dengan pak Zan tanpa ada campur tangan orang tua.
Sampai di kamar pak Zan langsung mandi dan aku menunggu nya menyusun kata untuk ku pertanyakan ke pak Zan nanti.
Deringan ponsel pak Zan membuat ku terbangun dari lamunan.
Ku lihat ponselnya di atas nakas . Panggilan dari Laili. Tak lama dia chat. Tanpa ku sentuh terlihat jelas chat itu.
📩"Sayang?kapan kamu kesini?ini adek udah nendang-nendang terus kangen kamu"
Deg....
Sayang? panggilan apa itu?
Pak Zan keluar kamar mandi dan aku langsung duduk berfikir keras tentang hubungan mereka?serius kah? atau hanya menenangkan Laili.
"Siapa yang telpon sayang?"
"Laili"
Pak Zan mengambil ponsel nya dan duduk membalas chat Laili.
"Kakak dari mana tadi kok baru pulang?"
"Kak?" tanpa menjawab pak Zan masih fokus dengan ponsel nya. Senyum-senyum sendiri tanpa menoleh ku atau memperhatikan ku.
Ku lirik ponselnya melihat pak Zan membalas chat Laili dengan mesra tak kalah mesra denganku.
"Sekarang Laili di mana?"
"Kak?"
"Eh iya sayang kenapa?"
"Aku capek kak harus sabar terus , sekarang jawab jujur ada hubungan apa kakak sama Laili?"
"Kan kakak sudah bilang tadi kakak sementara ini bertanggung jawab sampai Laili melahirkan"
"Maksud nya?"
"Ya kakak nikahi Laili secara agama, tenang aja kok ini hanya sampai Laili melahirkan dan terbukti itu bukan anak kakak"
Air mataku sudah tak bisa ku bendung lagi hatiku hancur berkeping-keping. Ini sudah seperti hujan badai di siang bolong.
"Kalau ternyata terbukti anak itu anak kakak gimana?"
__ADS_1