
Pagi yang begitu cerah tak secerah hatiku. Usai sholat aku masih berdiam diri di kamar bersujud merintih pada sang Kuasa?salahkah apa yang ku lakukan? salahkah jika aku cemburu?
Hatiku terus saja berdesir bagaikan ombak di lautan sebrang, entah akan kemana arah ini nanti.
Aku akhir-akhir ini merasa cengeng rasanya ingin sekali di perhatikan dan di manja.
Apa aku terlalu berlebihan?apa aku terlalu egois?
Tok....tok...
"Mbak?" aku tersentak dan bangun dari sujud ku.
"Iya Ton?"
"Ada tamu keluar bentar yuk?"
"Siapa?"
"Kak Arnold..."
Deg....
Untuk apa dia kesini?apa benar dia datang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya? terus gimana dengan Fulan? lantas bagaimana dengan hatiku ?jika nantinya ini benar adanya aku akan melihatnya setiap saat....aku belum sanggup untuk itu....
"Iya Ton nanti mbak keluar..."
Aku bergegas keluar mengganti mukena ku dengan jilbab instan ku.
Melangkah keluar dengan sangat ragu ada perasaan takut jika apa yang ku bela adalah sebuah kesalahan.
Di ruang tamu sudah ada pak Zan,ibu ,Toni ,kak Angga dan Arnold. Sekilas dia memandang ku dan aku sedikit meliriknya setelah itu menunduk. Aku tahu betul ada tatapan iba dalam pandangan Arnold ada guratan mata yang ingin di jelaskan jika dia tak bersalah.
Aku percaya kamu nggak salah Nold,aku mohon katakan pada mereka kamu nggak salah...
"Maaf mengganggu, kedatangan saya kemari untuk bertemu dengan Laili. Meluruskan dan membuktikan bahwa apa yang terjadi ini tidak benar"
"Apa kamu bisa buktikan kalau kamu tidak melakukan itu pada Laili?" jawab pak Zan.
"InsyaAllah bisa pak, bisa minta tolong panggilkan Laili?"
__ADS_1
Tanpa aba-aba Toni masuk kamar memanggil Laili.
Ada gerakan yang tak tenang, bingung dan salah tingkah di sana.
Laili keluar kamar dengan ceria dan sumringah meski wajahnya masih pucat pasi. Dia keluar kamar di tuntun oleh Toni. Masih memakai baju piyama dan jilbab instan nya meski tanpa riasan Laili tampak begitu cantik.
"Kak Arnold? akhirnya kamu datang juga" Arnold hanya tersenyum sekilas dengan Laili dan tanpa melihat nya lagi. Laili duduk di sebelah pak Zan dan ibu.
"Lel, cerita kan semua kejadian nya pada saat itu..." ucap pak Zan dengan tegas.
"Pada saat itu setelah pulang dari acara baksos aku di ajak jalan-jalan sama kak Arnold karena hujan dan sudah malam akhirnya aku nginap di rumah kak Arnold.Aku tidur di kamar bawah dan kak Arnold di kamar atas"
Semua terhening mendengarkan Laili bercerita.
"Pada tengah malam aku merasa haus aku ambil minum ke dapur tapi tak sengaja aku bertemu dengan kak Angga lalu kita kenalan dan kak Angga memberiku segelas air minum setelah itu aku masuk kamar dan melanjutkan tidur lagi karena masih ngantuk berat"
Pandangan Arnold fokus pada Laili tapi kedua manik matanya bermain dengan pak Zan.
"Entah setelah itu aku nggak tahu tiba-tiba aku bangun dan sudah nggak pakai baju lagi"
"Kamu ingat siapa yang telah meniduri kamu malam itu?" tanya pak Zan.
Tatapan Arnold tersirat amarah yang memuncak tapi ia berusaha sembunyikan semaksimal mungkin.
"Sudahlah kamu ngaku saja An, kalau kamu ngaku semua masalah akan deal dan selesai sekarang juga" sahut kak Angga.
"Kalau soal itu sih gampang kak. Tapi bukan itu masalah nya, saya bisa saja menikahi Laili dan merawat anak itu tapi bagaimana dengan orang yang telah kurang ajar menodai Laili?apakah di anggap wajar?saya pastikan jika orang itu tidak mau bertanggung jawab saya akan membawa masalah ini ke polisi. Saya bisa nikahi Laili dan menanggung semua biaya hidupnya dan anaknya. Tapi, saya tak akan pernah ijinkan sedetikpun ayahnya melihat atau bertemu dengannya". jelas Arnold yang pelan tapi tegas.
Arnold yang ku kenal dulu berbeda dengan sekarang,dia semakin dewasa tak ada lagi amarah yang menguasai dirinya,ia mampu meredam emosi di saat dirinya tertekan.
Semua masih terdiam tapi lagi-lagi bola mata pak Zan terus bermain dengan Arnold.
"Selama ini saya berusaha menyembunyikan kandungan saya karena saya bahagia dan seneng bisa mengandung anak kak Arnold, setidaknya saya bisa memiliki keturunan dari kak Arnold meski saya nanti nya tidak bisa memiliki kak Arnold. Saya siap kok melahirkan anak ini sendiri tanpa ayahnya jika kak Arnold tidak mau bertanggung jawab tapi setidaknya kak Arnold mengakui jika anak dalam kandungan ini adalah anak kak Arnold itu lebih dari cukup" dengan di temani air mata yang mengalir di pipinya Laili seakan memohon pengakuan pada Arnold.
"Laili? dengarkan kakak...kakak bisa kok nikahi kamu sekarang juga meski kakak nggak melakukan itu karena kamu sudah kakak anggap adik sendiri . Kamu tahu kan itu?kakak tak pernah sama sekali menyentuh mu apalagi tega meniduri mu"
Aku semakin yakin Arnold tidak bersalah aku tahu betul dia nggak bisa berbohong.Ini pasti ada orang yang bersembunyi di balik Arnold.
"Alah...!!!maling ma mana ada yang ngaku kalau iya penjara sudah penuh kali..." sahut kak Angga dengan ketus.
__ADS_1
"Sudah...sudah kalau kalian nggak ada yang mau bertanggung jawab biar ibu saja yang akan merawat dan mendidiknya sendiri, ibu masih sanggup membiayai anak-anak ibu dan cucu ibu" ibu lantas masuk ke dalam tanpa memikirkan mereka lagi. Aku tahu ibu sangat kecewa sekali dengan keadaan ini.
"Kak?kamu jahat...." lirih Laili dengan meneteskan air matanya.
"Saya akan tanggung jawab tapi tunggu sampai anak itu lahir dulu,jika terbukti anak itu anak kakak kamu akan saya nikahi..."
"Tapi saya butuh kakak di sampingku mendampingi ku menjalani masa-masa kehamilan ini" pinta Laili.
Terlihat Arnold menunduk menghela nafas nya dan membuang nya kasar.
"Ok, kamu jangan khawatir Lel setelah kakak mengurus sekolah mu kamu akan menikah dengan Arnold" jelas pak Zan.
Arnold tersentak kaget dengan keputusan pak Zan apalagi dengan diriku rasanya sangat tidak adil untuk Arnold.
"Tapi kak...." tanyaku khawatir.
Pak Zan menyuruh ku diam tak boleh ikut campur urusan ini.
Terlihat pak Zan bermain mata pada Arnold dan Arnold seperti memahami hal itu.
"Ok sekarang sudah jelas kalau begitu saya dan kak Angga mohon undur diri,salam buat ibu... assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Laili dengan sumringah mengantar Arnold ke depan rumah meski Arnold terlihat acuh dan kecewa.
"Lel,ayo masuk..." ajak pak Zan pada Laili yang masih di luar rumah menatap kepergian Arnold yang semakin menjauh.
Aku yang masih duduk di kursi dengan Toni hanya bisa mengernyitkan keningku. Aku masih bingung dengan jalan pikirnya pak Zan, bisa-bisanya dia begitu perhatian pada Laili di depan mataku.
Laili masuk ke kamar dan pak Zan mengantar dari belakang setelah memastikan Laili sudah masuk kamarnya pak Zan lalu masuk kamarku.
Aku terdiam memperhatikan itu menahan air mata di hadapan Toni. Tapi dengan sigap Toni memelukku. Mengelus pundak ku.
"Menangis lah jika mbak ingin menangis pundak Toni terbuka lebar untuk mbak..."
Dulu bahu ini masih kecil dan sang empu selalu aku gendong kini bahu itu sudah kekar dan sudah bisa menjadi sandaran ku.
Toni...kamulah yang selalu ada buat mbak...kamulah pengobat rindu di kala mbak merindukan ayah....terima kasih Ton...
__ADS_1