
Rumah tangga itu tak luput dari sebuah masalah, jika satu masalah selesai satu masalah lainnya akan muncul lagi dan masalah itu akan lebih sulit lagi dari masalah yang sebelumnya. Jika kita mampu menghadapi semuanya level kita akan naik.
Tak mudah memang dalam menghadapi semua masalah ,kuncinya harus bekerjasama saling bergandengan menghadapi semua masalah dengan sabar dan ikhlas. Insya Allah semua masalah terasa ringan dalam menghadapinya.
Hari ini aku bersama Arnold, Fulan dan anggota lainnya di ajak pak Zan dalam kunjungan ke panti jompo yang untuk pertama kalinya datang ke sana.
Biasanya acara selalu saja berbagi pada masyarakat yang kurang mampu dan selalu begitu di setiap bulan nya. Sejak pak Zan selalu absen Arnold lah yang selalu mengurus rumah ini.
Dan entah ada angin apa hari ini pertemuan rutin di isi dengan ceramah pak Zan yang berisi tentang berbakti kepada orang tua terutama sama ibu. Mungkin dia sedang merindukan orang tua kandungnya hingga ada kunjungan ke panti jompo usai ceramah nanti.
Perjuangan dan kasih sayangnya yang tak pernah bisa di balas oleh anak-anak nya. Terutama seorang ibu, beliau sangat luar biasa mencintai kita tanpa batas waktu. Tanpa kenal lelah, sedangkan kita sampai sebesar ini pun belum bisa memberikan kebahagiaan.
Air mata menetes tatkala mengingat itu semua, tutur kata pak Zan yang lembut mengingatkan diriku saat awal jumpa dulu. Saat pertama kali aku jatuh cinta padanya. Lembut dan menyejukkan apalagi saat membacakan ayat suci Al-Qur'an begitu indah di dengar.
Usai ceramah langsung menuju ke pantai jompo dengan membawa satu bis kecil berisi 30 orang dan satu mobil berisi empat orang.
Hari ini sengaja Arnold tidak membawa mobil karena pak Zan ingin mengajak berangkat bareng.
Satu jam perjalanan menuju panti jompo itu, yang terbilang sedikit jauh dari perkotaan.
Raut wajah sumringah menyambut kita semua. Senyum terukir di ujung bibir mereka yang kusut. Harapan dan semangat saat mobil dan bis tiba di halaman panti.
Mungkin anak-anak mereka berkunjung untuk melepas rindu dan berharap mengambil mereka dari sana. Miris melihat mereka yang merindukan anak cucu tak kunjung datang. Para relawan dan perawat lah penghibur mereka tatkala mereka merindu.
Kecewa dan sedih saat mereka menyadari kita bukanlah anak cucu mereka, tapi mereka begitu antusias dan tersenyum kembali saat kita mengajak mengobrol dan bercanda dengan mereka.
Semua teman-teman menemani para lansia setelah berjumpa dengan pemimpin dan petugas di sana. Pemandangan yang menyejukkan saat para lansia menceritakan kisah-kisah masa lalunya, senyum seutas membuat batin menangis.
Inikah pembalasan dari seorang anak yang selama ini mereka rawat?kecil mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan saat orang tua sudah tua mereka menitipkan kepada orang lain.
Teman-teman sebagian menitihkan air mata teringat orang tua mereka di rumah, dan ada juga yang sudah tiada.
Fulan dan Arnold sudah berbincang dengan seorang ibu yang menitihkan air mata merindukan suami tercinta.
__ADS_1
Sang perawat bilang kalau ibu itu baru saja di tinggal sang suami tercinta. Ibu itu jatuh sakit karena merindukan sang suami dan hingga akhirnya di titipkan di panti ini karena anak-anak nya sibuk bekerja tidak bisa merawatnya.
Sedih rasanya, itulah cinta sejati di bawa sampai mati. Begitu mencintai pasangannya sampai tua dan akhir hayatnya.
Aku dan pak Zan di ajak sang pemimpin panti ini keliling melihat ruangan demi ruangan.
Semua terbilang mewah peralatan di sana, dan bangunan yang besar serta halaman yang luas, banyak pepohonan yang rindang tumbuh di halaman untuk menyejukkan para penghuni.
Pemilik panti ini sengaja membangun panti untuk mengobati rasa rindunya pada orang tuanya yang sudah lama meninggal karena kecelakaan dan baiknya beliau ini karena semua penghuni panti ini tidak di ijinkan membayar alias gratis.
Usai melihat semua ruangan sampailah di halaman belakang rumah yang menghadap ke pemandangan pegunungan yang asri. Di sana ada sepasang lansia yang sedang bercengkrama. Sang nenek duduk di kursi roda dan sang kakek duduk di kursi biasa sembari mendengarkan sang nenek bercerita.
Senyum dan tawa mengiringi mereka berdua. Cinta dan kasih sayang mereka seperti tatkala pertama kali jumpa. Sang perawat yang menjaganya bercerita kalau mereka hidup di panti sudah lama sekali. Awal mula mereka bisa di sini di antar oleh tetangga mereka karena mereka sudah sangat sepuh untuk tinggal merawat diri.
Saudara-saudara mereka sudah meninggal dan keponakan mereka jauh-jauh tapi sebulan sekali menjenguk mereka. Untuk anak, mereka tidak dikaruniai anak.
Meski tanpa di karuniai anak tapi mereka tetap saling cinta tidak ada saling meninggalkan atau memudarkan rasa cinta mereka.
Sepanjang sang nenek bercerita tak lepas kakek menggenggam tangan sang nenek dan indahnya lagi sang nenek selalu memanggil nya dengan sebutan sayang. Aku bahkan iri mendengar nya.
"Assalamualaikum, selamat siang kek, nek..." ku salami mereka dan ku cium tangan mereka.
"Waalaikumsalam... nak" senyum mereka menyambut ku dan pak Zan.
Mereka memang sudah sepuh tapi ingatan mereka masih kuat. Tidak terlihat pikun.
"Perkenalkan kek, nek saya Tsania Marwa dan ini suami saya Qairul Fauzan" sapa ku kepada mereka.
Kakek nenek itu tersenyum hangat.
"Pasangan serasi seperti kita ya kek?" jawab nenek.
"Apa kalian sudah di karuniai anak?"
__ADS_1
"Belum kek, tapi istri saya sudah hamil enam bulan" pak Zan mengelus perutku yang duduk di sebelahnya. Tidak terlihat karena aku memakai gamis yang longgar agar perutku merasa nyaman.
"Syukurlah, harus di jaga dengan baik ya nak? jaga istri mu, bantulah dia kalau dia membutuhkan bantuan dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Ajaklah jalan-jalan untuk menghilangkan kebosanan nya"
"Menjadi seorang istri memang tidak semudah yang kita bayangkan, dia mengurus semua keperluan rumah , mengurus kita, mengurus anak-anak"
"Perhatikan selalu ya nak itu semua tidak mudah dia menjalani sendiri,kamu memang lelaki yang bekerja di luar dan sangat capek tapi istri mu juga lebih capek seharian mengurus rumah"
"Jika kalian ingin langgeng dalam berumahtangga kuncinya satu, saling berkomunikasi, dengarkan pasangan kita bercerita"
"Iya kek terima kasih nasehatnya. Sebenarnya saya beruntung kek punya istri secantik dan sebaik dia. Dasarnya saya yang bodoh kek, saya pernah berselingkuh di belakang nya kek. Saya malu terkadang untuk menatap wajah cantiknya itu" ujar pak Zan sembari melirikku. Aku hanya membalas meliriknya.
Kakek tersenyum memandang ku, dan tak luput dari mengelus tangan nenek.
"Itulah kelemahan lelaki, serakah. Mudah tergoda dengan wanita di luar sana bahkan jika semua wanita di dunia ini sudah di miliki nya pun keserakahan itu masih melekat di dirinya. Melihat anjing betina pun baginya sangat cantik sekali"
"Tundukkan pandangan mu nak, pandanglah istrimu seorang. Jangan yang lain, cukup istri mu seorang. Jangan kau lukai lagi. Ingat jika hatinya sudah tergores dan pintu maaf tertutup darinya maka sejak itu kamu akan sangat sulit menemukan bidadari surga yang sepertinya lagi"
"Tapi bagaimana saya bisa di maafkan kek, sedangkan kesalahan ini sangat fatal sekali"
"Perbaiki semua dari sekarang,jangan pernah ada kata berpisah. Bukan demi anak melainkan demi cinta kalian. Peluk dengan hangat dan tulus istrimu. Perlakuan dia bagaikan putri raja. Sebagaimana orang tuanya memperlakukan nya"
" Iya kek terima kasih"
Air mataku menetes dan segera ku hapus. Aku tahu pak Zan selalu berusaha mencari maaf ku, tapi rasanya masih sakit mengingat semua kesalahannya.
Aku dan pak Zan berpamitan untuk segera pulang, setelah mengucapkan banyak terima kasih pada mereka.
Nasehat dari kakek dan cinta yang tulus dari mereka membuat teguran untukku dan pak Zan.
"Nak Tsan?" nenek menarik tanganku saat ingin berlalu dari nya.
"Nak, tidak mudah memang memilih sabar saat melihat kekurangan suami dan tidak mudah memang memilih melembutkan suara saat suami angkat suara. Sulit nak, tapi jika kamu bisa melakukan nya jaminan nya surga"
__ADS_1
"Iya nek, terima kasih banyak"
Hatiku bergetar mendengar ucapan itu dari nenek. Rasa sakit ku sedikit memudar meski masih tergores di sana.