
...Apa pernikahan memang sebuah kesepakatan bersama, apa perasaan yang katanya di sebut cinta itu tidak begitu penting? Tolong beritahu aku apa jawabnya?...
...🌺🌺🌺...
Haruskan aku ikut duduk dan ikut berbicara dengan mereka.
Ya sudahlah, aku rasa tidak ada salahnya ikut duduk. Aku pun memutuskan untuk duduk di samping ibu.
"Ada apa?" tanya ibu dengan tanpa basa-basi.
"Sebenarnya saya hanya ingin melanjutkan pembicaraan kita beberapa waktu lalu, Bu."
"Tentang?"
"Tentang lamaran saya pada putri Bu Vina sesuai dengan permintaan pak Bara. Jika Bu Vina setuju maka Minggu ini juga bisa kita langsungkan pernikahan."
Hahhhh ...., ini maksudnya apaan. Pernikahan apa? Pak Ardi serius? Trus ayah mana? Kenapa nggak bicara sama Zanna dulu? Tanya apa aku setuju atau tidak....
"Pak, pak Ardi ngomong apa sih?" tanyaku kesal.
"Saya cuma ingin melanjutkan amanah dari pak. Bara!"
"Memang ayah kemana? Kenapa nggak bicara langsung sama saya?" tanyaku kesal.
"Zanna!" ucap ibu dengan nada tinggi membuatku terdiam.
Ibu sampai membentakku? Aku cukup terkejut dengan hal itu. Meskipun begitu, aku lihat raut wajah menyesal dari ibu, meskipun ibu sering berteriak-teriak saat memerintahku, tapi ibu terbilang jarang membentakku.
"Saya setuju,"
Ucap ibu dan aku lebih terkejut lagi, bisa-bisanya ibu dengan mudah setuju tanpa bertanya dulu padaku. Di sini memang siapa yang akan menikah?
Siapa pak Ardi ini?
"Ibu nggak sedang dalam tekanan kan?" tanyaku memastikan.
__ADS_1
"Zanna, bersiap-siaplah! Kamu harus sekolah kan!" ucap ibu, sepertinya sengaja ingin aku meninggalkan obrolan mereka.
"Baik Bu!"
Bahkan tanpa perlawanan, aku segera meninggalkan mereka, aku memang harus memastikan Rara dan Riri sudah siap apa belum mereka juga harus sekolah kan.
"Kak, di depan itu siapa?" tanya Rara sambil memakai seragamnya dan seperti biasa Riri no coment.
"Bukan siapa-siapa!" jawabku santai seolah tidak terjadi apa-apa meskipun sebenarnya hatiku tengah bergemuruh.
"Kakak akan ambilkan sarapan."
Aku pun kembali meninggalkan adik dan pergi ke dapur, aku menyiapkan sarapan untuk dua adik kembarku. Seperti biasa, makanan favorit mereka dua buah telur ceplok menghiasi piring mereka.
"Sarapannya aku taruh di meja." teriakku.
"Iya kak!"
Aku tidak sempat mandi kali ini, aku pun hanya sempat cuci muka. Dan itu bukan masalah bagiku, aku sering berada dalam keadaan seperti ini.
Setelah mengganti bajuku dengan seragam, ku hampiri ke depan. Berharap bisa mengetahui apa yang tengah mereka bicarakan. Tapi ternyata di rumah tinggal ibu saja.
Aku sudah tidak menemukan pak Ardi bersama ibuku.
"Dia sudah pulang, katanya takut terlambat!"
Aku hampir lupa kalau dia adalah seorang guru di tempatku sekolah.
Seperti biasa, tapi hari ini sepertinya akan terlambat lagi. Sudah sangat siang, dan butuh waktu setengah jam untuk sampai di sekolah. ini sudah jam tujuh kurang seperempat.
Beruntung Rara dan Riri mau berangkat sendiri bersama teman-temannya jalan kaki.
Aku berencana memotong jalan, tapi pasti lewat depan rumah baru pak Ardi.
Nggak pa pa lah, mungkin pak Ardi juga sudah berangkat.
__ADS_1
Ku kayuh sepedaku dengan lebih cepat, tapi saat sampai di depan rumah pak Ardi aku sedikit melambat dan terlihat pintu rumah itu masih terbuka. Itu tandanya pemiliknya masih di rumah, motor itu juga masih terparkir di depan, mesinnya sudah di hidupkan, sepertinya pak Ardi juga akan segera berangkat.
Ohhh yang ampun, aku sudah hampir terlambat ...
Aku kembali mempercepat Kayuhan sepedaku berharap bisa sampai di sekolah tepat waktu.
Tin tin tin
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di samping sepedaku membuatku menarik rem agar berhenti.
"Pak Ardi,"
Secepat ini dia menyusulku. Atau aku yang lupa kalau dia memakai motor.
"Ayo ikut denganku!"
Masih teringat bagaimana tadi pagi pak Ardi tiba-tiba melamar kamu,
"Tidak usah pak, saya bisa berangkat sendiri!" tolak ku dengan cepat biar dia juga tahu jika aku tidak setuju dengan ide gilanya untuk menikahi ku.
"Ini sudah siang, naiklah dan tinggalkan sepedah mu di sini!"
Aku melihat sekeliling, enak sekali dia bilang untuk meninggalkan saja sepeda di sini. Sepeda ini ayah beli dengan uang hasil berdagangnya selama satu bulan.
"Aku hari ini tidak akan mengampuni kamu jika sampai terlambat lagi, aku akan memberitahukannya pada ibumu!"
Kenapa dia jadi mengancam ku?
Sial sekali jika harus selalu berhadapan dengan guru BK. Lain kali aku akan memilih menghindar saja deh.
...Bersambung...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...