
"Kamu ke kamar dulu aja, biar aku yang kunci pintunya." ucap pak Ardi begitu sampai di dalam rumah.
"Baiklah pak, aku juga ngantuk. Kayaknya tadi kekenyangan makanya ngantuk." ucap Zanna sambil beberapa kali menguap.
Sesampai di kamar, Zanna segera Menganti bajunya Dnegan kaos oblong kebanggaannya lengkap dengan celana sebatas lutut berbahan kaos yang menurutnya saat nyaman saat di pakai untuk tidur.
Ceklek
Zanna yang hampir saja merebahkan tubuhnya dibuat terkejut karena tiba-tiba pak Ardi membuka pintu kamarnya,
"Pak Ardi, ada apa?"
"Kok ada apa." keluh pak Ardi sambil berjalan mendekat ke arah Zanna, ia melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku, kemudian melepas dua kancing kemeja paling atas dan duduk di atas tempat tidur.
Zanna pun mengurungkan niatnya untuk tidur, ia memilih ikut duduk,
"Apa pak Ardi butuh sesuatu?"
"Masih panggil pak aja." keluh pak Ardi lagi.
"Ya mau bagaimana lagi, Pak Ardi itu guru Zanna."
"Sekarang sudah enggak lagi kan!?"
"Iya sih, tapi usia pak Ardi jauh lebih tua dari Zanna, jadi_,"
"Jadi hanya pantas di panggil pak?" tanya pak Ardi sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Zanna hingga membuat tubuh Zanna condong ke belakang.
"Ya bukan seperti itu, tapi kan Zanna harus memikirkan panggilan yang pantas buat pak Ardi."
Srekkk
Sekali lagi pak Ardi mencondongkan tubuhnya, menepis jarak diantara mereka,
"Bagaimana kalau aku bantu?"
"Apa?" tanya Zanna dengan suara yang sudah tertahan di tenggorokan karena kini wajah pak Ardi hanya berjarak sekitar dua atau tiga centi dari wajahnya membuat jantungnya seperti mau copot.
"Sayang."
"Hahhh?"
"My hubby, mu husband, honey, atau_,"
"Mas, ya mas!" dengan cepat Zanna menyahutnya sebelum pak Ardi memberi pilihan yang tidak masuk akan lagi.
__ADS_1
"Bagus," ucap pak Ardi sambil menjauhkan tubuhnya dari Zanna dengan tangan yang mengusap puncak kepala zanna dengan lembut membuat Zanna bisa bernafas lega, dengan cepat ia menarik nafas sebanyak-banyaknya agar asupan oksigen di tubuhnya Kembali normal.
"Pak, sepertinya aku harus ke kamar mandi, iya ke kamar mandi." ucap Zanna dengan panik dan bergegas turun dari atas tempat tidur kemudian segera berlari ke kamar mandi.
Ia menutup lagi pintu kamar mandi dan berdiri di balik pintu itu sambil memegangi letak jantungnya
Hehhhh .....
Berkali-kali Zanna menatik nafas dan mengeluarkannya kembali.
"Bagaimana ini?" gumamnya, ia merasa belum siap untuk bertemu pak Ardi lagi.
Zanna segera berdiri di depan wastafel, menyalakan kran dan membasuh wajahnya dengan air agar lebih segar hingga beberapa kali,
Ia pun menatap wajahnya di dalam cermin,
"Kalau lama-lama kayak gini bisa-bisa beneran jantungan aku!"
Kembali ia teringat dengan semua perlakukan sang suami hari ini membuat pipinya kembali terasa panas,
"Ahhhh, kenapa begini sih."
Tok tok tok
Sebuah ketukan di pintu mengagetkannya, bukannya menjawab Zanna malah menutup mulutnya rapat.
Mata Zanna membulat sempurna, ia tidak sadar jika ia sudah setengah jam berada di dalam kamar mandi.
"Iya pak_, maksudnya mas. Zanna hanya kebelet." teriak Zanna kemudian.
Mau tidak mau ia harus mengakhiri di dalam kamar mandi.
Ceklek
Ternyata pak Ardi masih berada di depan pintu membuat Zanna benar-benar terkejut di buatnya hingga ia berteriak.
"Aaaaaa," Zanna berteriak tapi dengan cepat pak Ardi membekap mulutnya,
"Kenapa teriak?"
Zanna pun menyingkirkan tangan pak Ardi yang ada dimulutnya,
"Pak Ardi kenapa nggak pakek baju seperti itu?" tanya Zanna saat pak Ardi bertelanjang dada,
"Oh ini, aku gerah Zanna. Aku mau mandi, tadi kan kita belum sempat sholat isya'."
__ADS_1
"Trus apa hubungannya dengan nggak pakek baju?"
"Aku mau mandi, tapi kamu lama sekali di kamar mandi. Kamu kan tahu sudah dua hari ini kran di kamar mandi luar rusak."
Ahh iya, kenapa bisa lupa sih....
Zanna pun memberi jalan pada pak Ardi untuk masuk ke dalam kamar mandi.
🌺🌺🌺
 Malam ini terasa sangat berbeda, Zanna dan pak Ardi sudah memutuskan untuk tidur satu ranjang, meskipun bukan yang pertama kali tapi mereka merasa hari ini berbeda.
Setelah sholat isya' berjamaah, pak Ardi pun berpamitan untuk mengambil selimut miliknya yang ada di ruang kerja.
Mata Zanna terus menatap ke arah pintu, berharap pak Ardi tidak segera masuk ke dalam kamar agar ia punya waktu yang lebih banyak untuk mengatur detak jantungnya.
Tapi nyatanya jantung Zanna malah semakin berdetak kencang saja membayangkan apa yang akan terjadi malam ini setelah pengakuan cinta mereka berdua.
Benarkah aku sudah siap untuk melakukannya?
Zanna terus memilin ujung selimut bermotif Doraemon berwarna biru muda itu,
Sesekali Zanna menatap jarum jam, sudah sepuluh menit seharusnya untuk mengambil selimut saja tidak butuh waktu sebanyak itu.
Rupanya di ruang kerja, pak Ardi tengah melakukan peregangan, ia melompat-lompat , berlari-lari kecil, olah nafas dan apapun yang bisa ia lakukan untuk menormalkan detak jantungnya. Tapi nyatanya itu sia-sia.
Lima menit ....
Sudah berlalu lima menit lagi, sepertinya kemampuan telinganya Zanna semakin tajam saat ini hingga ia bisa mendengar suara langkah kaki dari luar kamar membuat Zanna menggigit bibir bawahnya.
Ceklek
Pintu kamar pun perlahan terbuka dan Zanna bisa melihat pak Ardi tersenyum di depan pintu.
Meskipun saat ini ia tengah menahan detak jantungnya yang semakin menjadi, tapi Zanna bisa mengabaikan senyum pak Ardi, ia pun membalas senyum itu.
Wajah tampan pak Ardi rupanya mampu mengalihkan dunia Zanna, dia terlalu tampan dan semakin tampan saja setiap harinya.
Zanna sepertinya mulai terbiasa dengan pria dewasa itu, sungguh anak kecil yang tidak tahu malu, bisa-bisanya mencintai gurunya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰