My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
KEJUJURAN


__ADS_3

Malam ini aku dan ibu masih menunggu pak Zan di depan TV sembari mengobrol banyak tentang keganjalan yang tadi siang aku rasakan.


"Assalamu'alaikum... "


"Waalaikumsalam... "


Pak Zan langsung terkulai dalam pangkuanku.


" Lo kakak kenapa? " terlihat pak Zan lemas dan pucat dan yang membuatku panik lagi di baju bagian lengan pak Zan ada bekas darah.


Ku buka lengan bajunya.


"Astagfirullah.... tangan kakak luka..!" aku terkejut tangan pak Zan tergores.


"Kakak kenapa? "


"Hemmm, kakak gak kenapa-kenapa kok... kakak capek mau mandi bisa rebusin air dulu? "


"Iya kak, kakak tunggu di sini dulu ya? "


Aku dengan pelan mau menggeser kepala pak Zan tapi ibu mengisyaratkan untuk tetap diam di tempat. Ibu pergi ke dapur merebus airnya.


Ku belai rambutnya dengan lembut sembari membuka kancing baju kemejanya.


"Mau Tsania obati dulu lukanya kak? "


"Nggak usah nanti aja, kakak mandi aja dulu ya?" pak Zan bangkit dan ku tuntun dia menuju kamar mandi setelah ibu selesai mempersiapkan air hangat nya.


"Makasih ya bu" ucap pak Zan sebelum masuk kamar mandi.


Aku duduk di ruang makan dan di ikuti ibu.


"Habis kecelakaan paling nduk nak Irul"


"Iya paling buk, sepertinya kakak lagi banyak pikiran bu. Tsania kok jadi merasa bersalah ya bu sudah berpikiran negatif sama kakak"


"Iya nduk nanti kamu tanyakan baik-baik ya sama dia"


"Iya buk"


Setelah beberapa menit pak Zan keluar dengan memakai handuk sepinggang. Ibu melirik ku dan aku langsung menuntun pak Zan masuk kamar tidur tapi pak Zan melarang ku untuk menyentuhnya dengan alasan sudah berwudlu.


Aku mengambilkan sarung dan baju koko pak Zan menunaikan sholat isyak dan aku duduk di kasur menunggunya.


Usai sholat pak Zan menyusul ku tiduran di atas kasur memelukku dengan erat.


"Aku rindu kamu sayang" sembari mencium kening ku.


"Iya kak, perasaan baru nggak ketemu beberapa jam deh udah kangen aja"

__ADS_1


Pak Zan terdiam.


"Oh ya sini aku obati dulu yuk lukanya" ku alihkan rasa penasaran ku yang ingin menghujani nya beribu pertanyaan.


Pak Zan duduk dan aku segera mengambil kotak p3k di laci.Ku tetesi obat merah pelan dengan kapas.


"Sakit ya kak? " ku tatap wajahnya yang diam tak bergeming.


"Nggak kok "


"Maafin kakak ya? "


"Maaf apa? "


"Udah buat kamu khawatir dan cemas"


"Iya kak nggak apa kok"


"Sayang, maafin ayah ya nak udah buat ibumu bersedih" pak Zan mengelus perutku dengan lembut.


Aku tersenyum bangga dengan perlakuan pak Zan yang lemah lembut itu meski tadi aku rasanya ingin marah dengan perlakuan nya terhadap Laili.


"Sayang? kita ke kamar ibu yuk? "


"Ada apa? "


"Kan kakak udah janji mau cerita semuanya masalah Laili"


Tok... tok...


"Bu? udah tidur? "


"Belum nak masuk aja"


Aku dan pak Zan masuk kamar ibu.


"Assalamu'alaikum bu..." aku dan ibu duduk di kasur sebelah ibu.


"Waalaikumsalam... " ibu menaruh Al-Quran yang ia baca di atas meja.


"Kamu sudah baikan nak? "


"Alhamdulillah sudah bu, sudah di obati sama istriku yang paling cantik nih" pak Zan merangkul ku pipiku merona saking bahagia nya.


"Gimana apa ada masalah? nak? "


"Bu, Tan sebelum nya saya minta maaf tidak ngomong dari awal tentang ini tapi saya harap setelah saya ngomong semuanya ibu dan Tsania tidak marah ataupun merasa bersalah ya? "


"Apa sih kak? bikin penasaran aja"

__ADS_1


"Gini sebenarnya kan tadi habis ketemu sama Arnold dan sebelum ketemu Arnold, kakak kecelakaan "


"Astagfirullah..... "


"Mungkin ini teguran buat kakak yang udah buat kamu kecewa dan cemburu" pak Zan menatapku dengan mata berkaca-kaca.


"Bu, Tan janji ya jangan marah ataupun menyalahkan Laili"


Aku dan ibu mengangguk.


"Sebenarnya Laili lagi.... hamil... "


"Astagfirullahaladzim....apa ini sungguhan? "


"Iya bu Laili sendiri yang bilang dan tadi siang Laili juga sudah saya bawa ke rumah sakit kata Dion dokter yang menanganinya tadi bayinya sedikit masalah. Karena Laili terlalu banyak tekanan dan stres membuat bayi dalam kandungan ada sedikit masalah"


"Dia sedikit frustasi, terasa terabaikan. Makanya sekarang kakak jadi sering perhatian sama dia. Maaf ya sayang? bukan maksud hati membuat kamu cemburu"


"Hik.... hik.... iya kak" aku dan ibu tak bisa lagi menahan tangis ku.


"Oh ya nak Irul apa Laili juga cerita siapa ayah dalam kandungannya? "


"Dia bilang sih Arnold"


"Apa???!!! kurang ajar banget dia bisa-bisanya... "


"Hust... jangan emosi dulu...kita belum tahu betul siapa ayah kandung bayi dalam kandungan Laili karena tadi Arnold bilang tak pernah melakukan itu bahkan dia juga sudah bersumpah tidak melakukan itu"


"Hiks... hiks... terus siapa yang menghamili Laili nak Irul? " ibu semakin terisak setelah dari tadi sedikit menahan tangis nya.


"Besuk saya coba cari tahu lagi buk, karena sampai saat ini saya masih bingung mana yang jujur dan mana yang berbohong semua nya tampak sama bu"


"Apa mantan pacarnya ya kak? "


"Entah dek, besuk kakak mohon ijin lagi ya buat pergi sama Laili lagi"


"Iya kak"


"Ya udah bu, ibu nggak usah banyak pikiran semua biar Irul yang urus soal sekolah dan ayah kandungnya besuk kita bahas lagi bu. Sekarang ibu istirahat ya? "


"Iya nak Irul, terima kasih ya? "


"Iya bu, saya dan Tsania pamit istirahat duluan ya? "


"Iya nak"


"Ibu istirahat ya? jangan banyak pikiran soal Laili biar Tsania sama kakak yang urus"


"Iya Tsan, jaga baik-baik ya kandungan kamu, kamu juga jangan banyak pikiran"

__ADS_1


"Iya bu" ibu memelukku dan mengelus perutku.


(Maaf ya up nya lama-lama soalnya author gak bisa masuk ke noveltoon pakai akun author bisanya buka pakai handphone suami dan suami kerja jadi pulangnya seminggu sekali kadang lebih... maaf sekali ya udah buat kecewa....)


__ADS_2