
Seperti sebelumnya, pak Ardi pun mengandeng tangan Zanna untuk mengurusi lorong rumah sakit yang sama hingga langkah mereka terhenti di depan sebuah kamar VIP.
"Ini kamar siapa pak?" tanya Zanna lagi.
"Bentar ya." ucap pak Ardi sambil mengetuk pintu dan ada sahutan dari dalam, Zanna yakin itu suara Luna.
"Luna sakit?" Zanna masih penasaran dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin, atau mungkin rumor yang beredar selama ini tentang papa Luna yang tertangkap KPK adalah salah dan kenyataanya memang Luna tengah sakit, jika benar begitu berarti pak Ardi pun hanya mempercayai rumor yang beredar.
Dan lagi, yang masih melayang-layang dibenaknya saat ini adalah apa Luna benar-benar sakit parah hingga hampir dua Minggu dia tidak masuk sekolah?
Tapi terjawab sudah pertanyaan Zanna saat pak Ardi mulai membuka pintu, di atas tempat tidur pasien itu ada Luna yang tengah terduduk dengan wajah pucat nya lengkap dengan slang infus yang terhubung ke tangannya.
"Pak Ardi, bagaimana pak Ardi tahu kalau aku di sini?" tanya Luna saat pak Ardi berjalan mendekatinya, tapi wajahnya berubah pias saat Zanna muncul dari balik punggung pak Ardi,
"Kamu juga?" sejak awal Luna sudah curiga jika PK Ardi dan Zanna mungkin punya hubungan khusus, mungkin Zanna juga menyukai pak Ardi.
"Hai Luna," sapa Zanna sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Tidak lama hingga Luna kembali menatap pada pak Ardi, dalam hatinya begitu senang saat pak Ardi datang karena ia menaruh hati pada pria dewasa itu,
"Pak Ardi tahu dari mana aku di sini?" tanya Luna antusias, jika bisa ingin sekali ia memeluk pria itu.
"Itu tidak penting," ucap pak Ardi dingin, ia sengaja tidak begitu merespon sapaan dari Luna untuk menghargai perasaan Zanna, "sebenarnya saya ke sini hanya mengantar Zanna. Ia ingin menjenguk mu."
"Zanna," ucapnya malas, padahal saat ini ia tengah berharap jika tidak usah ada Zanna agar ia bisa berduaan saja dengan Zanna,
"Sebenarnya aku butuh pak ardi, bisa nggak kamu keluar dulu. Kamu tahu kan aku saat ini benar-benar butuh seseorang yang bisa menenangkan hati aku."
"Oh, begitu," Zanna cukup kecewa, ia menatap ke arah sang suami,
"Baiklah, aku akan_," ucapnya hampir berbalik tapi dengan cepat pak Ardi menahan tangannya,
"Jika kamu ke luar, maka aku juga keluar."
Seketika wajah Luna berubah kesal tapi dengan cepat ia membingkai senyum agar pak Ardi tidak menyadarinya,
"Enggak kok aku hanya becanda." ucapnya dengan di sertai tawa kecil,
"Duduklah, bukankah kita sudah lama tidak bertemu," ucap Luna kemudian sambil menepuk bagian ranjang yang kosong di sampingnya.
Zanna kembali menoleh pada pak Ardi, meminta persetujuan nya dan pak Ardi pun mengangukkan kepalanya sambil melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
Perlahan Zanna duduk di depan Luna,
"Luna, bagaimana kabar kamu?"
"Apa aku masih pantas untuk mengatakan kalau aku baik-baik saja," ucap Luna lagi dengan di sertai gelak tawa ringan tapi menyimpan luka yang teramat dalam.
"Maaf ya," ucap Zanna merasa bersalah karena bertanya sesuatu yang tidak tepat.
"Tidak masalah," ucap Luna kemudian ia menatao lekat pada Zanna, "Apa satu kelas tahu tentang keadaanku?"
Zanna yang setelah melamun pun sedikit tersentak dengan pertanyaan dari Luna, ia tidak faham dengan yang di tanyakan oleh temannya itu,
"Hahhh?"
"Apa mereka tahu kalau aku mencoba mengakhiri hidupku?" tanya Luna kali ini dengan memperjelas pertanyaannya.
"Astaghfirullah hal azim, Luna." entah sejak kapan kalimat istigfar itu menjadi begitu melekat dalam kehidupan Zanna. Seingatnya satu tahun yang lalu ia bahkan terbiasa mengumpat saat mendengar sesuatu yang membuat hatinya kesal atau gundah.
Sekarang Zanna tahu apa penyebab Luna berada di rumah sakit itu tanpa harus bertanya langsung pada Luna.
"Jadi kamu tidak tahu? Yang lain juga tidak tahu?" melihat ekspresi Zanna yang begitu terkejut, Luna langsung bisa menebak apa jawabannya.
"Baguslah," ucap Luna dengan suara rendah di sertai senyum tipis.
Ceklek
Tiba-tiba seseorang keluar dari kamar mandi membuat Zanna dan pak Ardi menoleh ke arah pintu kamar mandi. Zanna begitu terkejut saat menyadari siapa yang baru saja keluar itu.
"Siapa dek yang datang? Mama sudah datang?" tanya wanita yang masih sibuk memperbaiki posisi bajunya yang sedikit berantakan.
Karena tidak segera mendapat jawaban dari sang adik, wanita itu pun mendongakkan kepalanya, dan raut wajahnya berubah kesal di sertai kebencian.
"Kalian?"
Dengan langkah cepat ia menghampiri Zanna dan pak Ardi, tapi dengan cepat pak Ardi mendekat ke arah Zanna.
"Kenapa kalian ke sini?" tanyanya saat sudah berdiri tepat di depan pak Ardi dengan hanya berjarak tidak lebih dari setengah meter.
Melihat sikap sang kakak, Luna pun ikut penasaran,
"Kakak kenal Zanna dan pak Ardi?" tanyanya.
__ADS_1
"Dia mantan tunangan kakak yang membatalkan secara sepihak," ucapnya dengan penuh amarah dengan jari telunjuk tang tepat berada di depan wajah pak Ardi, kemudian ia memutar pandanganya ke arah Zanna, "Gara-gara menikahi gadis ingusan tidak tahu diri itu."
Mendengar hal itu, Luna sampai menutup mulutnya yang membulat sempurna dengan kedua telapak tangannya, seolah tidak peduli dengan rasa nyeri akibat jarum infus yang masih melekat di punggung tangannya.
"Jadi maksud kakak?"
"Iya dek, dia yang kakak ceritakan selama ini." ucap wanita itu dengan penuh kemarahan, wanita itu adalah Maya.
"Zanna, jelaskan! Apa benar yang di katakan oleh kak Maya?" Luna masih ingin mencari kebenarannya dari Zanna langsung. Pasalnya selama ini ia mengenal Zanna merupakan sosok anak yang polos, bahkan tidak pernah dekat dengan anak laki-laki, bagaimana bisa menikah dengan guru BP nya.
Srekkk
Melihat raut wajah Zanna yang tertekan itu, Pak Ardi pun segera menggenggam tangan Zanna,
"Ya, kami memang sudah menikah." ucapnya dengan pasti.
"Aku nggak percaya, kalian bohong kan?" Luna benar-benar tidak ingin mempercayainya hingga ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Maaf Luna, tapi apa yang kamu dengan dari kakak kamu itu benar. Kami harus pergi sekarang, assalamualaikum."
Pak Ardi pun menarik genggaman tangan Zanna dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Selama menyusuri lorong rumah sakit bahkan Zanna masih tidak bisa berkata-kata hingga mereka sampai di tempat parkir,
"Pak,"
"Iya?"
"Bagaimana selanjutnya?"
"Biarlah Allah yang akan menentukannya nanti. Jangan di pikirkan ya, kita pulang sekarang."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1