
Jangan pernah ada sebuah ketidakjujuran dalam sebuah hubungan karena letak rasa sakit yang paling terdalam pada sebuah hubungan itu pada kebohongan dan penghianatan.
Rasa trauma dan sakitnya sulit untuk di obati. Karena kata maaf hanya untuk menghapus jarak yang renggang tapi tidak dapat menghapus luka yang tertinggal.
Meski luka itu sudah kering tapi bekas itu akan terus masih membekas.
Aku berusaha mengobati rasa luka dan kecewaku dari pak Zan, berusaha bangkit saat aku benar-benar terpuruk demi anak dalam kandungan ku. Semua sudah menjadi bubur meski kadang masih berpikir untuk berandai-andai jika tidak menikah muda dan tidak hamil secepat ini.
Ini sudah garis Tuhan, sekuat apapun ingin berlari takdir tetap saja kan menghampiri.
Aku sudah putuskan untuk pak Zan tetap tinggal di rumah ibu dan mendampingi Laili sesuai permintaan Laili. Aku memilih tinggal di rumah sendiri.
Aku tak mengijinkan pak Zan menyentuh ku kecuali jika hanya bersalaman. Aku yang terlalu egois ini memutuskan peraturan ini dengan pak Zan. Meski cara ini sangat berdosa karena sejatinya pak Zan masih sah suamiku.
Dan jika seorang istri menolak melayani suami sungguh Allah sangat murka terhadap istri yang sedemikian rupa. Tapi keputusan ini sudah ku bicarakan baik-baik dengan pak Zan, dan pak Zan menyetujui nya.
Tinggal menunggu si jabang bayi ini lahir, semua akan di bicarakan lagi. Tentang rumah tanggaku dan status Laili.
Bahkan paman Ali tak bisa memutuskan apa-apa hanya bisa diam dan menyuruh ku dan pak Zan berbicara secara hati ke hati.
Ku jalani hari-hari ku dengan bahagia, melupakan segala rasa sakit dan kecewa. Aku terus bangkit meski tanpa pak Zan. Fulan, Arnold dan Tafi yang selalu ada untukku.
Aku tak kekurangan kasih sayang. Aku masih bisa berdiri sendiri tanpa harus mengemis kasih sayang dari pak Zan.
Demi anak dalam kandungan ku aku harus kuat dan bangkit.
"Are you happy Wa?" ucap Tafi saat mengajakku jalan-jalan ke taman bunga Celosia.
"Heemm...aku seneng Fi" Tafi menggenggam tanganku dan berkeliling melihat-lihat bunga-bunga yang bermekaran. Dia juga menyiapkan kamera untuk memotret ku bersama bunga-bunga yang indah.
Meski aku pergi berdua saja dengan Tafi tapi aku tak lupa untuk ijin dengan pak Zan lewat chat. Setelah ijin ku kantongi aku segera meluncur dengan Tafi mengendarai mobil baruku yang katanya dari mamah dan papah tapi aku masih curiga siapa sang pemberi sebenarnya.
"Wa?kamu diam di sini ya?" Tafi menyuruhku berdiri di antara bunga-bunga mawar yang berwarna-warni dan Tafi meminta salah satu pengunjung untuk memotretkan.
"Kamu mau apa?"
"Udah nurut aja"
Tafi jongkok di bawah sembari seakan memegang perutku. Aku berekspresi tersenyum memegang kedua pipiku.
Cekrak cekrek... jepretan beberapa kali di ambil oleh seorang lelaki yang juga menggandeng seorang wanita di samping nya.
__ADS_1
"Makasih ya mas mbak" ucap Tafi dengan sopan.
Tampak sang wanita merengek-rengek pada sang pria. Dan pada akhirnya sang pria bersuara.
"Maaf mas mbak, istri saya mau minta ijin mau mengelus perutnya mbak nya. Boleh?"
"Oh ya silakan mbak gak apa " seorang wanita yang berumur sekitar 25 tahunan dan seperti nya tak jauh berbeda dengan sang suami.
Dengan senyum yang sumringah wanita itu mengelus perutku dan terus berkomat-kamit mulutnya mungkin sedang membaca sholawat.
"Maklum mas mbak, istri saya kepingin sekali cepat punya anak soalnya sudah 5 tahun belum di beri keturunan" ucap sang suami merasa iba melihat sang istri.
Aku dan Tafi tersenyum.
"Sudah berapa lama usia pernikahan kalian mas mbak?" aku dan Tafi saling tukar pandang.
"Alhamdulillah satu tahun mas mbak" ceplos Tafi asal di akhiri senyum puasnya.
"Oh, alhamdulilah langsung di beri keturunan ya?"
"Iya alhamdulillah mas mbak" Tafi menjawab dengan lancar nya seakan dia suami sungguhan ku.
"Dek,sudah dong kasihan mbak nya itu"
"Kalian serasi, wajah kalian mirip sekali. Pasti nanti anak kalian tampan dan cantik"
"Iya mbak makasih ya?" ucap Tafi dengan cengir-cengir karena salting.
"Semoga mbak nya cepat di beri keturunan" doaku dengan sungguh.
"Aamiin, makasih ya mbak"
"Iya mbak sama-sama"
Sepasang suami istri itu pergi dengan perasaan lega dan puas.
"Wa?"
"Hemmm"
"Coba kamu duduk di ayunan itu?"
__ADS_1
Aku duduk di sebuah ayunan dan di kelilingi bunga-bunga indah.
"Wa, senyum...." Tafi memotret ku dengan bangganya.
Bagaikan model sungguhan aku bergonta-ganti pose.
"Keren Wa,cantik banget kamu"
"Idih, modus kamu ma,emang dari dulu juga aku udah cantik"
"Gaya lo Wa,sok jadi model papan atas"
"Biarin yang penting kan aku cantik"
"Ih.... gemesnya" Tafi memencet hidungku dengan keras hingga memerah.
"Aduh, sakit tau awas kamu" Tafi berlari saat aku mulai mengejarnya.
"Aduh..." ku elus perutku.
"Kenapa Wa?" dengan panik Tafi mendekati ku.
"Tapi boong...." ku gelitiki perutnya sampai aku puas.
"Ih , curang ya kamu....."
Begini saja aku udah seneng Wa,tanpa harus memiliki mu. Aku ikhlas asal aku selalu bisa membuat mu tersenyum. Karena sekarang kau bagaikan bintang di langit yang bisa selalu ku pandangi tapi tak bisa ku dapatkan. Sampai kapan pun aku akan selalu menjagamu Wa,karena bagiku kamu sangat berarti.
Bagiku bahagia itu sederhana, meski dalam hatiku masih saja remuk jika melihat sepasang suami istri yang bermesraan. Ingin sekali aku menangis tapi aku malu pada ibu. Ibu yang selalu tegar dalam menghadapi segala masalah tak pernah menangis di hadapan orang lain.
"Kamu kenapa Wa?" tanya Tafi saat melihat ku terdiam menghentikan aksiku menggelitiknya. as
"Nggak apa-apa Fi" ku usap air mata ku yang masih di pelupuk mata yang hampir saja terjatuh.
"Menangis lah jika kamu ingin menangis,karena sejatinya menangis itu bukan karena cengeng melainkan melepaskan beban yang ada dalam hatimu"
"Idih sok bijak,siapa juga yang mau menangis" aku langsung berjalan lagi melihat bunga-bunga yang lainnya.
Epilog.
Tampak dari jauh seseorang selalu memperhatikan gerak gerik Tsania dan Tafi. Karena merasakan ada getaran cemburu.
__ADS_1
"Maafkan kakak Tsan,belum bisa membahagiakan kamu. Tapi kenapa bersama Tafi kamu nampak begitu bahagia sekali. Apa sudah terkikis rasa cintamu untuk kakak?"
Terus melangkah mengikuti gerak gerik Tsania dan Tafi, karena takut jika sang wanitanya di rebut dari pelukan nya.