
..."Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan atasnya dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekan atas yang Engkau ciptakan." ...
...(HR Abu Dawud, Ibnu Majah)....
...🌺Selamat membaca🌺...
Kini aku sudah duduk di antara mereka, duduk di samping pak Ardi dengan mengenakan kebaya berwarna putih lengkap dengan jilbab yang menutup rambutku, make up tipis yang di oleskan ibu ke wajahku sedikit membuat wajahku lebih segar.
Aku bahkan tidak menyangka, di depanku sudah ada kakak, kak Roni. Ibu mengganti ayah dengan kak Roni, benar-benar tidak setara. Rasanya melihat wajahnya saja muak, kalau bukan karena menghargai ibu dan pak Ardi, sudah pasti pria itu sudah aku usir.
Tapi sejak kapan dia peduli padaku dan ibu juga Rara Riri?
Beberapa orang yang ada di rumah aku sudah mengenalnya, mereka adalah tetangga di rumahku, ada paman Hari dan bibi Nur juga. Pak RT dan beberapa perangkatnya. Pak Ardi juga sudah mengganti bajunya dengan kemeja berwarna putih dan celana hitam di kepalanya bertengger sebuah peci berwarna hitam. Ruang tamu yang tadi ada sofa kini berubah menjadi gelaran beberapa tikar lipat, sebuah meja kecil yang ada di depan kami.
"Sudah bisa di mulai?" tanya pak kyai yang kebetulan aku mengenalnya, aku sering melihatnya di masjid itu. Masjid tempat aku jualan.
"Iya pak!" jawab pak Ardi dengan begitu mantap.
Pak kyai segera meminta kak Roni untuk menjabat tangan pak Ardi, mungkin memang begini tuntutan acara pernikahan. Sebelumnya jika aku ke acara pernikahan, aku tidak begitu memperhatikanya. Aku memang di undang tapi bukan sebagai tamu, tapi kehadiranku jelas lebih bermanfaat. Ibu sering menjadi juru masak di tempat-tempat hajatan dan aku membantunya.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Suara yang keluar dari bibir pak Ardi membuatku tertegun, jantungku seakan sedang berdisko saat ini. ingin rasanya segera berlari ke kamar mandi, perutku rasanya seperti di remas-remas karena terlalu gugup. Padahal aku hanya diam, apa pak Ardi juga merasakan hal yang sama?
__ADS_1
Sedikit ku lirik pak Ardi, wajahnya ternyata begitu tegang. Aku tidak berani bicara padanya. Ia seperti bersiap untuk menyahut ucapan kak Roni yang di bimbing pak kyai.
“Saudara Ardiansyah Ramadan bin Herman Wardana Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adik saya Citra Laila Zanna binti Bara Saputra dengan mas kawin sebuah cincin berlian dan uang tunai sebesar seratus juta dibayar tunai.”
"Saya terima nikah dan kawinnya Citra Laila Zanna binti Bara Saputra dengan mas kawin cincin berlian dan uang seratus juta dibayar tunai." ucap pak Ardi hanya dengan sekali tarikan nafas.
Ya ampun, pak Ardi benar-benar serius dengan pernikahan ini. Kenapa aku jadi salah fokus sama mas kawinnya? Uang seratus juta? Bukankah itu terlalu banyak? Baru di pernikahanku ini, selama aku menghadiri pernikahan di tetangga-tetangga ku dan ada mas kawin sebesar ini.
Haruskan aku merasa istimewa? Rasanya mungkin tepat juga aku merasa istimewa.
"Bagaimana saksi, sah?" tanya pak kyai kembali menyadarkan otaku dari pikiran-pikiran kotor tentang keserakahan.
"Sahhhhhh ...!"
Pak kyai tampak mengangkat kedua tangannya dan mulai membaca doa, "Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin"
Dan langsung diamini oleh semua orang yang hadir.
"Bacakan doa juga untuk istrimu!" ucap pak kyai lagi meminta pada pak Ardi. Aku lihat tangannya sedikit bergetar dan ia arahkan ke atas kepalaku yang tertutup hijab, bibirnya bergerak tanpa suara. Mungkin itu yang di maksud do'a. Aku hanya bisa diam dan menerima semua yang dia lakukan pak Ardi.
Dan doa itu, rasanya kepalaku tersiram air dingin. Begitu menyejukkan dan aku menyukainya.
Rasanya berbeda ya dengan yang tadi sebelum ijab Qabul. Entah apa yang membuat berbeda, apa ini yang namanya keajaiban ijab Qabul?
__ADS_1
Cup
Sebuah kecupan di keningku menyadarkan aku dari lamunanku. Mataku mungkin sekarang sedang membulat sempurna menatap pak Ardi tapi dia malah tersenyum padaku.
"Pakaikan cincinnya!" Suara pak kyai kembali membuatku tersadar, aku menoleh pada pria yang mungkin usianya sekitar empat puluh tahunan.
Ibu segera mengeser duduknya dan mengambilkan bok kecil berwarna merah yang berisi cincin. Dan betapa aku terpukau dengan keindahan cincin itu saat ibu membuka bok itu.
Begitu indah, rasanya baru kali ini aku melihatnya.
Ibu memberikan arahan padaku untuk mengangkat tanganku, mengulurkannya di depan pak Ardi. Dengan begitu ragu ku ulurkan tanganku, dan pak Ardi segera memakaikan cincin yang indah itu ke jari manisku, pak Ardi juga mengulurkan tangannya begitu selesai dan memintaku untuk memakaikan cincin satunya yang berukuran lebih besar ke jarinya. Tapi itu seperti cincin perak.
Seorang tetanggaku sudah siap mengabadikan moment ini dengan kamera ponsel milik pak Ardi.
Aku lihat ada kue yang sudah siap di dalam tas sebagai oleh-oleh saat para tetangga pulang dan di atas tikar sudah ada beberapa piring yang berisi kue untuk menjamu para tamu juga minuman kemasan, mungkin tadi pak Ardi membelinya di toko kue saat aku tengah membantu paman Hari di kedainya.
Hanya tinggal beberapa orang setelah ijab Qabul selesai, mereka mencicipi beberapa potong kue lalu berpamitan untuk pulang. Sekarang sudah jam sebelas malam, mungkin mereka juga tidak enak jika terlalu lama mengobrol.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya ya, follow Ig aku juga ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1