
Jujur saja hatiku masih ada rasa dan cinta untuk pak Zan, apalagi si jabang bayi ini minta di elus-elus oleh si bapaknya tapi, rasa kecewa dan sakit ku masih melekat di hatiku.
Rindu sekali sebetulnya dengannya, tapi aku nggak mau sebelum dia menyadari semuanya aku tak akan mengungkapkan rasa rinduku ini meski harus sakit saat memendam nya.
Aku bersiap-siap berangkat ke rumah ibu setelah memastikan pak Zan sudah pergi dari rumah, aku tahu dia sangat sakit hingga meneteskan air matanya.
Tapi rasa cemburunya itu tak seberapa dengan apa yang telah dia berikan padaku, lebih sakit dan mengecewakan.
Lagian buat apa dia cemburu sedangkan dia saja tak berusaha mempertahankan aku. Meski aku juga seneng Laili ada yang memperhatikan tapi aku terasa sakit melihat pemandangan seperti itu. Apalagi dengan orang sedarah dengan kita sakitnya akan lebih terasa.
"Kamu siap Wa?" Tafi mengendarai mobilnya dan memastikan aku baik-baik saja.
Aku tahu Tafi juga merasakan takut saat pak Zan memergoki nya mengelus perutku. Tapi dia sepertinya juga khawatir dengan keadaan ku.
Rasanya takut melangkah ke rumah ibu, takut hatiku tidak kuat dan tak akan menerima kenyataan ini. Hatiku belum mampu untuk itu.
Andaikan aku bisa berandai-andai untuk masa depanku. Mungkin aku lebih memilih kuliah dengan bekerja dan walaupun menikah muda aku pastikan menikah ku dengan Arnold.
Andaikan dulu aku lebih memperjuangkan Arnold mungkin keadaan nya tidak begini. Tapi apa yang di sesali nasi sudah menjadi bubur. Takdir sudah kita jalani dan hanya ada masa lalu yang memandang kita dari belakang dan masa depan yang kita rajut dan perbaiki.
"Maafin aku ya Wa?" Tafi mengelus tanganku lembut. Dan aku menarik tanganku.
Ku lirik wajah Tafi sedikit berubah menjadi khawatir dan takut.
Aku tahu Tafi sangat mencintai ku dengan tulus ,tapi apalah daya tak ada sedikitpun rasa cintaku yang melebihi rasa sayang kepada adik dan sahabat.
Aku takut memberikan harapan palsu padanya, aku takut dia terlanjur dalam mencintai ku. Aku takut menyakiti nya dan aku takut harus berbuat apa lagi. Hanya ada Tafi yang selalu ada untuk ku.
Apa mungkin dia bisa menjadi jodoh ku?apa mungkin nanti setelah aku lahiran dan aku bisa bercerai dengan pak Zan aku bisa hidup bahagia dengan nya?. Apa mungkin bisa, rasa itu hadir dengan beriringan nya waktu?.
Tapi aku takut tidak bisa membalas cinta itu, aku takut mengecewakan nya. Aku takut....
"Wa?...Wawa?....Wa?" Tafi memelukku.
"Kamu kenapa?" bisik nya.
Aku tersadar dari lamunanku.
"Aku takut Fi"
"Jangan takut, kita hadapi bersama apapun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu. Aku tahu aku belum punya masa depan yang cerah tapi aku berjanji akan membuat hari-hari mu menjadi indah kedepannya. Meski tanpa ku miliki dirimu"
Terdengar sesak di setiap ucapan Tafi, sakit yang mendalam jika terlalu berharap banyak. Apalagi dengan keadaan ku sedikit trauma. Aku nggak mau mengulangi jika aku di rebut juga oleh sang adik.
__ADS_1
"Aku sayang sama kamu Wa"
"Maafin aku Taf, maafin aku yang selalu mengecewakan mu...."
Tafi melepaskan pelukannya dan kembali melajukan mobilnya yang sempat berhenti mendadak karena menghawatirkan ku.
Ku genggam tangannya.
"Berikan aku waktu ya Taf?" ucapku dengan fokus menatap ke depan meski tanganku memegang erat tangan Tafi.
"Aku tahu ini berat Wa, bisa atau tidak kamu membalas cintaku tak masalah bagiku, yang terpenting aku bisa menjagamu sampai kapanpun itu"
Ku teteskan air mataku karena terharu dengan ucapan Tafi yang menggetarkan hatiku.
Ya Allah,yang Maha Pengasih dan Penyayang. Berikan hambaMu petunjuk ,hamba bingung. Hamba tidak mau menyakiti orang-orang yang telah mencintai hamba.
"Wa?"
"Iya?"
"Sudah sampai, mau di antar sampai depan rumah atau sini aja?"
"Sini aja ya? takut kak Irul makin marah"
Tafi mengangguk.
Aku berjalan menyusuri jalan di gang sempit menuju rumah ibu, hatiku terasa takut dan berdebar ada perasaan takut dan sakit jika melihat rumah ibu.
Aku tatap rumah ibu dari teras rumah, rasanya tubuh ini lemas tak berdaya. Pandangan ku hampir gelap meski kenyataan nya suasana makin menggelap.
Hap.
Satu tangkapan, Tafi memeluk ku dari belakang.
"Kenapa? bilang kalau kamu sudah nggak kuat. Aku akan antar sampai dalam" sedikit terharu ternyata dari tadi Tafi mengikutiku. Bahkan saat aku mau pingsan saja dia datang cepat waktu.
"Kamu kuat Wa,jangan biarkan mereka tahu kalau kamu lemah. Kamu pasti bisa menghadapi semuanya"
Aku berusaha mengembalikan semua energi ku, menguatkan hati dan mental ku .Memulihkan keadaan atas dukungan Tafi.
Seketika aku teringat Arnold, betapa dia hancur sehancur-hancurnya saat itu. Bagaimana dia bisa bangkit? bagaimana dia bisa melewati semuanya? pasti dengan dukungan Fulan dia bisa seperti ini.
Kalau Arnold yang begitu rapuh sekarang bisa sekuat baja kenapa aku tidak bisa?. Aku harus bisa.
__ADS_1
"Semangat ya Wa?kamu pasti bisa" bisik Tafi di telinga ku terasa membuat ku ada hembusan semangat yang membara.
Aku berdiri dengan tegak, dan segera masuk ke rumah ibu. Setelah ku toleh Tafi masih menebarkan senyum semangat nya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." semua sudah berkumpul duduk di depan tv, Laili duduk di atas karpet bawah dengan ibu ,bik Fatim dan Haikal putra bik Fatim yang entah umur berapa bulan karena aku sudah lama tak mengunjungi nya.
Toni dan pak Zan duduk di atas sofa bercengkrama, pak Zan terlihat baik-baik saja seperti tidak ada apa-apa. Semua menyambut ku dengan baik.
Setelah bersalaman dengan mereka aku duduk dip sebelah bik Fatim bercengkrama bertukar kabar masing-masing.
Ku lirik Laili yang memangku Haikal bercanda ria dengan ibu. Terlihat jelas perutnya sudah terlihat membesar.
"Sudah makan nak?"
"Belum bu"
"Ayuk kita makan dulu, ibu sudah masakin kamu rica-rica ayam" ibu menarik tanganku dan masuk ke dalam.
Aku duduk di meja makan bersama ibu. Ibu mengambil kan makan untuk ku dan tak lupa segelas air putih hangat.
"Apa kabar mu nak?"
"Baik alhamdulilah bu, ibu juga baik kan?"
"Iya nak alhamdulilah, cucu ibu juga baik kan?"
"Alhamdulillah bu"
Ibu memperhatikan ku makan, seperti nya menahan air mata di pelupuk matanya. Diam tak bergeming ,menahan setiap kata dalam hatinya.
"Nak?" ucapnya lembut meneduhkan jiwa. Aku tahu ibu sangat sedih dan sakit perasaan nya dibandingkan aku. Tapi beliau dengan sekuat tenaga menahannya.
"Iya bu ?"
"Bicaralah baik-baik dengan suamimu, dengarkan setiap kata penjelasan darinya. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia jelaskan padamu"
"Iya bu"
"Nanti habis ini, kamu langsung ke rumah paman Ali ya?kalian bicara di sana. Paman Ali juga sudah menunggu kamu dan nak Irul di sana. Soal Laili ada ibu dan bik Fatim yang akan menjelaskan padanya"
"Segera selesaikan urusan ini agar tidak berlarut-larut seperti ini. Kamu berhak bahagia nak, jangan kau biarkan hatimu terluka terus menerus. Apapun keputusan kamu ibu akan selalu dukung asal yang terbaik buat kamu. Ibu hanya bisa mendoakan semoga kamu bahagia selalu ya nak"
__ADS_1
"Aamiin bu...."
Aku dan pak Zan pergi ke rumah paman Ali lewat pintu belakang dengan sedikit di kegelapan pak Zan berusaha mengandeng tanganku meski aku sudah mengibaskan tangannya tetap saja dia semakin erat dalam menggenggam nya.