
Aku masih tidak percaya atas pengakuan pak Zan yang menurutku sangat berubah total. Meski pak Zan tak menjawab aku langsung berfikir kalau anak Laili pasti anak pak Zan.
Hatiku hancur kenyamanan dan kasih sayang yang harusnya utuh ku dapatkan kini harus terbagi dua, bukan karena suamiku di rebut pelakor yang mencari keuntungan dari suamiku tapi aku harus rela berbagi kasih sayang suami dengan adik ku sendiri adik kandung ku yang selalu aku sayangi dan banggakan.
Aku pamit dengan papah mamah untuk pulang ke rumah sendiri. Dengan menaiki taxi online. Pak Zan diam tak bergeming mengikuti dari belakang dengan menaiki motornya.
Aku sudah nggak bisa berfikir lagi harus bagaimana dengan pernikahan ini. Baru saja ku nikmati madu kini harus menikmati pahit empedu lagi.
Ya Allah..... berikan kekuatan untuk hambaMu ini...hamba lemah ya Allah....
Sampai aku di rumah aku langsung masuk kamar dan pak Zan menyusul ku memelukku dari belakang.
"Maaf ya?" ku dorong pak Zan.
"Dengan mudahnya kakak bilang maaf?hanya maaf???"
"Atas dasar apa kakak bisa dengan tega menduakan ku?bukan hanya kekasih tapi kakak punya istri lagi tanpa sepengetahuan ku. Apa aku sudah tidak ada harga nya di hadapan kakak?apa aku sudah begitu membosankan nya sehingga kakak dengan sengaja menikah lagi di belakang ku?" isakan tangis tak terbendung lagi.
"Maafin kakak Tsan..." pak Zan bersujud di kakiku.
"Kakak nggak ada niatan buat duain kamu ,kakak cuma bingung nggak tega lihat Laili seperti itu"
"Tapi bukan kayak gitu kak caranya, kakak tega demi kebahagiaan Laili kakak mengorbankan ku?"
"Maaf Tsan...."
"Bukan hanya maaf yang ku ingin kak... sekarang terserah kakak , mau melanjutkan pernikahan kita atau memilih bersama Laili... ini bukan pilihan yang sulit, Tsania harap kakak bisa memutuskan nya"
"Ku mohon jangan pernah sentuh aku sebelum kakak bisa membuktikan kalau Laili tidak mengandung anak kakak" aku pergi meninggalkan pak Zan dan memilih naik ke kamar atas.
"Tsania...!!!" pak Zan menarik kakiku.
"Aku mohon dengarkan kakak dulu, kakak bisa jelasin semuanya"
"Sekali lagi jangan sentuh aku, aku jijik dengan perilaku kakak" tanpa pikir panjang aku mengibaskan kakiku guna pak Zan melepaskan genggamannya.
Aku sudah muak,ingin rasanya menampar dan *******-***** Laili dari hadapanku.
Dasar wanita ******....awas kalau ketemu.... bisa-bisanya kamu merebut suami mbak...
.
__ADS_1
.
.
Pagi ini aku pergi setelah menyelesaikan tugasku sebagai seorang ibu rumah tangga. Pak Zan, entah aku tak tahu dia sudah bangun atau belum aku rasa harus menyelesaikan masalah ini sendiri dengan segera.
Pertama aku langsung pergi ke toko dan sudah janjian dengan Fulan dan Arnold. Sekalian mengecek keadaan toko.
"Gimana Lan keadaan toko? " tanyaku saat Fulan dan Arnold duduk di depanku dengan wajah yang tegang.
"Alhamdulillah hari pertama kemarin buka,sudah banyak pesanan buat seragam ibu-ibu"
"Alhamdulillah, maaf ya aku belum bisa aktif bantu-bantu di toko"
"Iya nggak apa kok, yang terpenting kesehatan kamu dulu. Lagian hari ini gue sama Arnold sudah bawa karyawan baru dua orang. Maaf ya nggak bilang kamu dulu soalnya ini mendadak banget pas kebetulan ada saudara yang baru lulus sekolah juga ya jadi langsung aku masukin jadi karyawan soalnya kewalahan kemarin. Untung ada Arnold tapi kan dia sementara aja di sini mulai minggu depan udah fokus di bengkel "
"Iya Lan nggak apa, aku yang minta maaf. Insya Allah besuk udah mulai aktif di toko kok" ku raih tangannya dan ku remas dengan halus.
"Tsan?"
"Hemm...." ingin menuangkan air mataku tapi aku malu ada Arnold di hadapan ku.
Nafasku rasanya berat sekali sesak seperti banyak yang mengganjal di dalam nya.
Fulan menghampiriku duduk di samping ku memelukku dengan erat. Disusul Arnold duduk di sebelah Fulan.
"Jangan sembunyikan rasa sakit mu hanya karena ingin terlihat kuat, menangis lah ada kita disini. Jangan pernah malu denganku jika kamu ingin menangis anggap saja aku dan Fulan adalah saudara mu, bukannya bunda juga menganggap mu sebagai anak kan?"
Pecah tangis ku di pelukan Fulan, entah ada angin apa hingga membuat bendungan ini tumpah tanpa bisa di bendung lagi.
Merasa tenang dan nyaman dalam pelukan Fulan dan motivasi dari Arnold. Rasanya seperti mendapatkan asupan baru.
"Aku percaya karena kamu juga percaya kalau Arnold bukan yang menghamili Laili" bisik Fulan.
"Soal ayah kandung Laili sepertinya aku sudah menemukan siapa ayahnya" ku lepas pelukan Fulan.
"Siapa?" Arnold dan Fulan menatap ku dengan penuh harap.
Ku tarik nafas dan ku keluarkan dengan perlahan, air mataku pun menjadi saksi rasa sakit dan kecewa atas perlakuan pak Zan. Seakan memori ku masih teringat detik-detik pengakuan pak Zan kemarin.
Sakit, kecewa dan amarah menguasai hati dan pikiranku saat ini.
__ADS_1
"Pak Fauzan...." lirihku.
"Hah?"
"Nggak mungkin aku kenal pak Zan,dia nggak mungkin seperti itu" sahut Fulan.
Ku ceritakan semua perilaku pak Zan yang berubah dan tentang pernikahannya dengan Laili. Arnold dan Fulan diam menahan amarahnya.
"Gue nggak mimpi kan Tsan?"
Aku menggeleng.
Arnold diam tampak memikirkan sesuatu.
"Sabar ya Tsan..."
"Gue minta tolong sama kalian, bantu gue cari ayah kandung dari anak dalam kandungan Laili. Jika nanti terbukti pak Zan ayahnya gue bakalan gugat dia setelah anak ini lahir"
Arnold dan Laili memandang dengan rasa cemas dan takut.
"Jangan pernah memutuskan sebuah masalah di saat emosi kamu sedang tinggi-tingginya. Kamu yang tenang baca istighfar ,ini ujian dari Allah kamu harus kuat ,kamu pasti bisa melewati semuanya" tutur Arnold membangkitkan semangat ku.
Aku menunduk.
"Lantas apa yang harus aku lakukan?harus rela berbagi suami dengan adikku sendiri?mana sanggup aku? aku bukan istri nabi atau kyai aku hanya wanita biasa yang belajar menjadi wanita sholehah. Aku belum bisa untuk melakukan itu. Aku belum bisa membagi cahaya rembulan ku menjadi dua, aku belum sanggup...hiks...hiks..." sakit dan kecewa.
Fulan memelukku dengan erat mengelus punggungku. Dan Arnold mengusap air mata di pipiku dengan tisu. Aku tahu dari tatapan nya ia sangat iba dan ingin sekali memelukku tapi apa daya kita harus bisa menjaga diri karena sekarang ada tembok besar yang menghalanginya.
"Ini memang sangat mengejutkan bagai petir di siang bolong,tapi sudah lama aku punya rencana untuk menyelesaikan masalah ini. Kita langsung ke rumah eyang ku aku ada bukti dari rekaman CCTV siapa tahu bisa menjadi petunjuk"
"Ke rumah eyang?" ku lepaskan pelukanku sedikit tersentak dengan ucapan Arnold.
"Aku masih mencurigai kak Angga yang melakukan itu"
"Ok,ayo kita segera usut sampai tuntas masalah ini"
Aku dan yang lainnya segera meluncur ke rumah Arnold menumpangi mobil Arnold. Dan toko di buka agak siang menunggu selesai dari rumah Arnold.
Tian,Widia dan Sania karyawan toko sudah masuk mereka di tugaskan Fulan untuk mem packing pesanan-pesanan yang sudah masuk.
Bismillah....lancar semoga ada titik terang dan segera usai masalah ini. Aamiin...
__ADS_1