
...Kadang aku merasa dunia ini tidak adil bagi orang miskin, tapi ternyata salah. Miskin dan kaya tidak menentukan kebahagiaan seseorang...
...🌺Selamat membaca🌺...
Keningku berkerut saat aku melihat rumahku tidak sesepi seperti biasanya. Rumahku banyak orang.
"Pak ada apa?"
Rasa khawatir tiba-tiba menyelimutimu,
"Kita masuk ya!"
Aku berjalan cepat menghampiri menghampiri ibu yang tengah berdiri di depan pintu, dan pak Ardi pun menyusulku.
"Bu ini ada apa?" tanyaku pada ibu tapi ibu tidak langsung menjawab ku, ibu malah menatap ke arah pak Ardi.
Di dalam rumah, aku lihat orang-orang itu berpakaian rapi, mereka aku kenal.
Ayah ....
Aku berharap ada ayah di antara orang-orang tetanggaku, tapi jantungku semakin deg-degan saat melirik ke dalam lagi, tidak ada sofa di dalam, hanya tikar lipat yang di gelar di seluruh ruangan.
"Sebenarnya ini ada apa pak?" tanyaku dengan sedikit berteriak. Aku sangat curiga dengan pria yang seharian ini bersamaku itu.
"Kita masuk dulu ya!" ajak ibu dan aku dengan kaki yang seolah kehilangan tenaga itu mulai mengikuti ibuku.
Hehhhhh ....
Ada perasaan lega saat tidak melihat seperti yang tengah berkecamuk di dalam pikiranku. Sejenak aku begitu takut masuk ke dalam rumah, aku sudah membayangkan ayahku terbujur kaku di atas lantai dengan seluruh tubuh tertutup dengan kain Jarit.
Hanya membayangkan saja membuatku begitu sakit, sangat sakit dan menakutkan.
Perasaan lega itu kembali hilang saat melihat seseorang yang tengah duduk di depan meja kecil, aku tahu itu meja belajar Rara dan Riri yang ditutup taplak meja berwarna putih yang duduk bersama pak kyai dekat rumah.
"Siapa dia bu?" tanyaku pada ibu dengan suara rendah. Ibuku masih diam hingga aku memanggilnya untuk kedua kalinya.
"Ibu!"
Mendengar suaraku, ibu tersenyum, seperti biasa ia pasti tidak pernah memperlihatkan kesedihannya padaku walaupun aku tahu dia tengah menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Itu pak kyai dan pak penghulu, Na!"
Deg
Penghulu, maksudnya apa? Apa ayahku akan menikah lagi? Atau ibuku?
"Bu ....! Maksud ibu apa?"
Ibu dengan tangan lembutnya segera mengusap kepalaku,
__ADS_1
"Na, kamu putri ibu! Ibu tidak mau hidup kamu akan menderita, ibu mau kamu menikah dengan pria yang tepat!"
Jadi maksudnya penghulu itu untukku? Yang benar saja?
Mungkin saat ini mataku bisa lompat saling terkejutnya. Dengan cepat aku menoleh pada pak Ardi.
"Ibu_! Maksudnya sama pak Ardi?"
"Kamu tahu pak Ardi orangnya sangat baik, dia santun, dan yang terpenting ini permintaan ayah kamu."
Aku tahu itu pasti yang pertama kali ibu katakan, walaupun aku sudah tahu tapi rasanya masih sangat terkejut dengan kenyataan yang akan terjadi pada hidupku.
Menikah muda,
Sebuah kata yang tidak pernah terkonsep dalam otakku, bahkan aku sangat menghindari pernikahan.
"Ibu tahu kan, Zanna tidak mungkin menikah!"
"Kenapa?"
"Aku masih sekolah Bu?"
"Sekarang menikah meskipun masih sekolah asal sudah cukup umur dilegalkan, Na!"
"Ya ampun Bu! Tidak pernah terpikirkan di benakku untuk menikah muda, aku belum siap dan tidak akan pernah siap! Aku mohon!"
"Na ....!" ibu menggenggam tanganku, mengusap punggung tanganku, "Tapi ini permintaan ayah kamu, Ibu tidak akan memaksamu jika ibu tidak tahu bagaimana pria yang akan menikahinya, dia memenuhi janjinya sama ayah kamu untuk menikah denganmu, permudahkan dia untuk memenuhi janjinya ya!"
Aku benar-benar kesal, aku bahkan sampai tidak bisa mengendalikan diriku, hingga aku bicara begitu keras di depan banyak orang.
"Nanti kamu juga tahu," jawab ibu membuatku kecewa.
Aku hanya bisa menghela nafas, ku lihat Rara dan Riri tengah duduk ketakutan di pojok ruangan bersama bi Nani, tetanggaku.
"Na, ibu mohon demi ibu, menikahkan dengan Ardi, atau kalau tidak demi ayahmu." ucap ibu kali ini dengan memohon membuatku terpaku.
Kali ini aku benar-benar tidak bisa mengelak, jika ibu sudah memaksa aku bisa berbuat apa.
Tapi bisakah aku meminta syarat untuk hal yang tidak aku inginkan ini. Bisakah semuanya akan tetap baik-baik saja walaupun aku tahu hidupku memang tidak pernah baik-baik saja. Aku ingin menyalahkan seseorang tapi siapa? Bahkan hidupku semuanya sebuah kesalahan.
"Bu, aku akan menikah! Tapi dengan satu syarat Bu." ucapku dengan nada rendah, sedikit ku lirik pria yang masih berdiri tidak jauh dari pintu, ia tersenyum tipis penuh kelegaan.
"Apa? Katakan!" ucap ibu sambil menghapus air matanya.
Aku hanya tidak ingin semuanya menjadi semakin kacau, apalagi saat ini ada sekitar dua puluh tetangga berkumpul di rumahku hendak menyaksikan pernikahan.
"Beri kesempatan Zanna bicara dengan pak Ardi sebelum kami menikah!"
"Ya sudah bicaralah!"
__ADS_1
Aku pun kembali menghampiri pak Ardi,
"Kita keluar dulu pak," ajakku dengan nada bicara dingin dan pak Ardi mengikuti ku keluar rumah, di dalam rumah banyak orang aku tidak mungkin bicara di dalam, dan di kamar, itu juga tidak mungkin, kami belum menikah.
Saat sudah berada di luar, ku hentikan langkahku tepat di samping toko ibu yang sudah tutup.
"Na, maaf ya atas semua kekacauan ini, tapi aku hanya ingin_,"
"Mengasihaniku?" tanyaku dengan cepat. Kalau bukan karena kasihan lalu karena apa lagi, seorang pria dewasa hendak menikahiku, seorang gadis yang bahkan tidak punya prestasi apapun.
Dia jauh lebih tinggi dari aku, untuk menggapai wajahnya aku harus mendongak.
"Bukan seperti itu Na, aku tulus ingin menikah denganmu."
"Sudah lah pak, jika memang ini ada hubungannya dengan ayah, mungkin ayah berhutang banyak pada pak Ardi, jadi aku tidak punya pilihan lagi untuk tidak menerima pernikahan ini!"
"Na, justru aku yang banyak berhutang. Tapi bukan itu intinya, meskipun mungkin aku bisa memberimu pilihan untuk tidak menikah denganku, tapi percayalah aku yang tidak mau memberi pilihan itu karena aku yakin kamu adalah jodohku. Maaf ya karena aku sudah memaksa!"
Aku tahu ini bukan salah pak Ardi, tapi entah kenapa kali ini aku kesal dengan pak Ardi. Kenapa harus pak Ardi sih yang orangnya? Dia terlalu sempurna untukku.
Pak Ardi memberi jeda pada ucapannya. Aku tahu ia. masih akan melanjutkannya untuk itu aku tidak menyelanya dengan ucapan apapun, kali ini aku hanya ingin jadi pendengar yang baik.
"Tapi Na, aku berjanji aku akan membuatmu bisa menerimaku, cepat atau lambat. Jika sampai satu tahun ke depan dan kamu belum bisa menerimaku sebagai suamimu aku ikhlas jika harus berpisah denganmu dan aku akan memberikan hak Gono gini seperti yang seharusnya."
Pak Ardi bahkan berpikir sampai sejauh itu? Bagaimana bisa? Sebelum menikah ia bahkan sudah memikirkan soal pernikahan?
Bagaimana bisa aku menikah secepat ini, rasanya masih sangat tidak percaya.
"Pak aku bukan orang yang baik! Hidupku juga tidak istimewa!"
Pak Ardi tersenyum, aku tidak tahu apa arti dari senyumnya itu, tapi siapa yang tidak suka dengan senyum sejuknya itu.
"Kamu yang membuat semuanya terasa istimewa Na, setiap orang punya keistimewaannya sendiri, begitupun dengan dirimu, kamu sangat istimewa bagiku! Allah yang menciptakan kesulitan dalam hidupnya hambaNya, tapi jangan khawatir karena Allah juga yang punya penawarnya!"
Kenapa setiap yang pak Ardi katakan seperti magnet bagiku, seperti punya daya tarik yang kuat untuk membuat hatiku tidak mampu menolaknya.
"Tapi aku punya syarat untuk pernikahan ini!" ucapku dan terlihat pak Ardi tersenyum.
"Katakan,"
"Seperti yang pak Ardi katakan di awal, tolong jangan menyentuh saya sampai saya sendiri yang rela untuk di sentuh oleh pak Ardi!"
"Baiklah, insyaallah saya akan sabar hingga waktu itu tiba!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...