My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
41. Luna yang tidak masuk


__ADS_3

...Semua orang berhak untuk bahagia, tergantung bagaimana kita menyikapi hidup. Kalau kita memutuskan untuk bahagia, maka tidak perlu mewah, hal yang sederhana pun akan membuat kita bahagia...


...🌺🌺🌺...


"Boleh tanya nggak?" Zanna sudah berdiri di samping bangku Aksa yang tengah duduk di tepi lapangan yang kebetulan hari ini pelajaran olah raga.


Aska bukan pendiam tapi saat bersama Zanna, frekuensi bicaranya jadi berkurang. Hal itu membuat Zanna sedikit bingung saat hendak bicara padanya.


Atau mungkin ini ada hubungannya dengan sikap pak Ardi beberapa hari lalu? Walaupun Zanna tidak melihatnya langsung, ia cukup bisa melihat perubahan sikap yang di berikan oleh pak Ardi saat bicara dengan Aska.


Aska mendongakkan kepalanya, sepertinya ia tidak menyadari kehadiran Zanna, ia sedari tadi fokus dengan anak-anak yang tengah bermain basket.


"Zanna, duduklah." Aska menggeser duduknya dan memberi tempat untuk Zanna. Tentu ini menentang peraturan dari pak Ardi,


"Nggak usah, aku berdiri aja. Nggak pa pa."


"Kalau kamu berdiri, aku juga ikut berdiri loh."


Karena Aska memaksa, Zanna pun terpaksa duduk, tapi ia memberi jarak setengah meter dari Aska, ia tidak bisa lebih dari itu karena saat ini ia sudah berada di ujung.


"Mau tanya apa?" tanya Aska begitu zanna duduk.


"Beberapa hari ini Luna nggak masuk ya? hari ini juga?"


Aska menoleh pada Zanna dan mengerutkan keningnya,


"Kamu dekat ya sama dia?" tanya Aska heran, pasalnya selama ini ia tidak pernah terlihat obrolan selain saat mengerjakan tugas kelompok dengan Luna.


Apalagi jelas terlihat, Zanna dan Luna sangatlah berbeda, Luna adalah ketua gank dengan penampilan yang sempurna sedangkan Zanna, bahkan dandan saat ke sekolah saja Tidka pernah selain bedak tipis yang menghiasi wajahnya.


Dengan cepat Zanna menggelengkan kepalanya, Zanna memang tidak dekat, hanya saja beberapa hari terakhir Luna kerap mengajaknya bicara karena pak Ardi tentunya,


"Enggak, cuma aneh aja, Luna nggak masuk beberapa hari, sudah hampir satu Minggu kan!"


"Kamu nggak tahu ya kalau papa Luna kena kasus?"


Papa Luna yang baik itu kena kasus? Kasus apa? Batin Zanna, walaupun tidak pernah mengobrol langsung ia cukup bisa melihat dari sikap papanya terhadap Luna saat menjemput Luna.


Zanna sampai hampir tersedak, dengan cepat Aska mengambil botol minumnya dan membukakannya untuk Zanna.

__ADS_1


Zanna pun dengan cepat meneguk hingga hampir setengah. Dan hal itu ternyata dilihat oleh pak Ardi yang baru saja keluar dari kelasnya, kebetulan kelas Zanna tengah pelajaran olah raga. Tapi pak Ardi memilih berlalu dan masuk ke dalam ruangannya meskipun saat ini hatinya tengah terbakar.


"Jadi kamu benar-benar tidak tahu?" tanya Aska lagi dan Zanna segera menggelengkan kepala.


"Papa Luna itu salah satu pejabat yang kemarin tersandung kasus korupsi atas dugaan menerima suap terkait alih fungsi hutan lindung menjadi Pelabuhan!"


Hahhhh, aku bahkan baru tahu kalau orang tua Luna sekeren ini, Luna anak seorang pejabat ya walaupun korup sih ujungnya,


Lalu jika bapaknya yang kena kasus, kenapa Luna yang tidak masuk sekolah? Memang kalau bapaknya masuk penjara, anaknya juga ikut masuk? Kadang-kadang pemikiran orang kenapa nggak masuk di akal aku sih. Batin Zanna lagi yang masih bingung mencerna apa yang terjadi.


"Bianca juga masuk penjara?"


Mendengarkan pertanyaan dari Zanna, Aska malah tertawa. Zanna kira tidak ada yang salah dengan pertanyaannya, itu sudah sesuai dengan yang ia pikirkan.


"Ya nggak lah Na, dia mungkin malu sama teman-teman gara-gara kasus papanya! Kalau itu terjadi padaku, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama!"


"Jadi kamu juga anak pejabat?" Zanna kembali dibuat syok.


"Bukan!"


"Jadi nggak mungkin korupsi kan?"


"Aku anak pak lurah!"


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Zanna seperti punya kebiasaan baru, menunggu pak Ardi untuk pulang. Bukan karena Zanna tidak mau pulang sendiri tapi pak Ardi akan marah jika ia pulang sendiri.


Depan pos satpam menjadi tempat favorit Zanna untuk menunggu, selain tidak terlalu mencolok Zanna juga bisa berteduh di tengah teriknya matahari.


Tin tin


Suara klakson itu sudah sangat Zanna hafal, dengan cepat Zanna berdiri dari duduknya yang hanya beralaskan sebuah beton yang biasa di gunakan untuk tempat bendera di pinggir jalan.


Bibir Zanna langsung melengkung sempurna, "Pak Ardi!"


Pak Ardi membuka kaca helmnya,


"Ayo naik!" ucapnya sambil menyerahkan helm yang biasa Zanna gunakan.

__ADS_1


Dengan cepat Zanna mengambil helm itu dari tangan pak Ardi dan memakainya, tangan pak Ardi sudah siap untuk membantu Zanna mengaitkan tali helm.


Tin tin tin


Sebuah motor lain tiba-tiba berhenti di samping motor pak Ardi membuat pak Ardi mengurungkan niatnya untuk mengaitkan tali helm Zanna dan menoleh pada pemilik motor,


"Hai Na, pak Ardi!" sapanya. Tapi seketika wajah pak Ardi berubah masam.


"Kamu anak yang kemarin kan?" tanya pak Ardi.


"Iya pak, saya Aska! Teman satu kelas Zanna!"


"Ohhh," pak Ardi sepertinya sengaja tidak mau melanjutkan obrolan mereka hingga Aska kembali bicara.


"Zanna mau bareng pak Ardi ya?" tanyanya pada Zanna dan Zanna terlihat menoleh ke arah pak Ardi kemudian menganggukkan kepalanya.


 "Kenapa nggak bareng aku aja? Aku juga kosong kok." ucap Aska sambil menepuk jok belakangnya yang memang kosong, "Itu kalau pak Ardi nggak keberatan sih," lanjutnya lagi sepertinya menyadari mimik wajah pak Ardi yang tidak suka.


"Kalau saya keberatan bagaimana?" tanya pak Ardi dan Zanna hanya bisa memilih ujung dasinya.


"Zanna teman saya satu kelas, jadi pak Ardi nggak perlu repot-repot untuk memberi tumpangan pada Zanna! Biar saya saja pak!"


"Kamu nggak tahu ya siapa saya?"Β 


Kali ini nada suara pak Ardi terdengar sedikit meninggi, membuat Zanna semakin cemas, jangan sampai pak Ardi marah dan keceplosan.


"Maaf Aska, saya sama pak Ardi saja, rumah kami satu arah soalnya, lain kali saja ya! Terimakasih loh atas tawarannya!" ucap Zanna dengan cepat sebelum pak Ardi mengungkap semuanya.


"Ayo pak!" Zanna segera naik ke atas motor pak Ardi dan segera menjalankan motornya meninggalkan Aska yang masih terdiam di tempatnya.


Sepanjang jalan mereka kembali tidak saling bicara, Zanna pikir hanya karena kejadian di depan gerbang tadi hingga membuat pak Ardi begitu marah.


Zanna pun tidak berani bertanya sesuatu hingga mereka sampai juga di depan rumah. Dan pak Ardi masih mendiamkan Zanna, ia bahkan masuk lebih dulu meninggalkan Zanna di belakang, tidak seperti biasa yang selalu menunggu Zanna masuk lebih dulu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°...


__ADS_2