
Setelah sekian purnama aku tak berjumpa dengan wanita yang melahirkan ku ke dunia ini aku pun akhirnya bisa dengan lega memeluknya kali ini. Usai pulang dari Jogja aku sengaja lebih memilih pulang ke rumah ibu karena sementara itu pak Zan mengurus bu Mano dulu.
"Ibu....!!!" ku peluk dengan erat saat pertama jumpa dengannya yang sedang duduk santai di depan teras rumah memangku keponakan tercinta.
"Tsania?.... " semua mata melihatku dengan mata pricing nya. Merasa ada yang kurang dengan kedatangan ku.
Aku terdiam melangkah kan kakiku ke depan rumah. Ada bik Fatimah, ibu dan Laili. Satu-persatu aku menyalami mereka meski mereka masih terdiam dalam angan mereka.
"Baby Al adikku yang emes.... " ku cium pipi embem bayi umur 1 bulan itu.
"Al? kafi kak namanya" sahut Laili.
"Aku panggil Al aja kalau aku panggil Kafi nanti sama dengan adik kak Irul kan jadi bingung" jelas ku.
"Lho adik yang kembar itu ya mbak Tan? "
"Iya bik si Kafi sama Tafi entah nama panjang mereka siapa aku lupa. Sampai saat ini pun aku juga belum hafal untuk membedakan mana yang Kafi dan mana yang Tafi" beber ku.
"Kita masuk dulu yuk" ibu mengajak kita semua masuk ke dalam rumah.
Aku meletakkan tas ranselku di lantai sembarangan dan melepaskan tas ransel mini dari punggungku di sebelah nya. Aku duduk gabung bersama yang lainnya di depan TV setelah membasuh muka dan cuci tangan.
"Toni mana bu? "
"Di ajak paman ngaji di masjid komplek sebelah"
"Ouh ok..."
"Nduk? "
"Apa buk? "
"Kamu baik-baik saja kan? "
"Maksud ibu? "
"Kamu nggak berantem kan sama nak Irul? "
__ADS_1
aku mengernyit kan dahi ku bingung atas pertanyaan ibu. Lama aku menjawab pertanyaan ibu setelah aku melihat tas ranselku aku baru menyadari apa yang di khawatir kan ibu. Aku tergelak tawa dan semua mata memandangku dengan tatapan aneh.
"Bu? maafin Tsania ya? Tsania lupa gak ngasih kabar kemarin selama 5 hari ada liburan pesta kelulusan bu di Jogja"
"Owalah nduk-nduk ibu sampai mikir yang aneh-aneh" ibu memelukku mengusap lembut kepalaku. Aku tahu apa yang ada di pikiran ibu. Ibu pasti cemas dengan keadaan ku. Meski aku tak akan berani bercerita atas semua yang ku lalui di akhir-akhir ini. Masalah yang berliku tak berkesudahan aku harus bisa menyakinkan ibu bahwa aku baik-baik saja.
Ku buka tas ranselku mengambil oleh-oleh bakpia patok. Ya hanya itu oleh-oleh yang ku bawakan karena aku hanya bisa menikmati Jogja sehari saja .
"Kenapa kamu kesini nduk? nak Irul mana? "
"Dia masih di sekolahan mengurus sebentar urusannya bu sebelum libur panjang. Nanti juga menyusul ke sini bu".
Aku teringat sekali pesan pak Zan tadi sebelum berpisah denganku. Dia akan kembali setelah semua masalah beres. Dia tak mengizinkan ku untuk pulang ke rumah mamah papah sebelum masalah ini selesai. Aku membereskan tasku ke dalam kamar ku kamar yang lama aku tinggalkan sejak menikah. Mengistirahatkan badan yang lelah di siang ini.
Flashback On.
"Lan? "
"Apa? "
"Aku hanya ngomong jujur ke mereka"
"Maksudnya? "
"Ya aku jelaskan pada mereka kalau kamu beneran sudah menikah. Kamu lupa ya? kan pak Zan dulu pas acara wisuda sudah mengumumkan kalau kalian sudah menikah. Ya intinya aku jelaskan ke mereka kalau kalian sudah menikah secara resmi agama dan negara bukan karena hamil duluan tapi karena dijodohkan oleh orang tua"
"Mereka percaya? "
"Buktinya mereka sekarang baik kan sama kamu"
"Iya sih... "
"Terus mereka tanya gak tentang pak Zan sama bu Mano? "
"Pasti kalau itu, sejak awal berangkat kemarin mereka mengira pak Zan berselingkuh dengan bu Mano. Ya untuk ini aku berbohong maaf sebelumnya. Aku bilang ke mereka sebenarnya bu Mano adalah sepupu pak Zan. Bu Mano depresi baru saja suaminya meninggal padahal baru hamil"
"Hah??? gila kamu itu. Suami bu Mano itu masih hidup"
__ADS_1
"Hust.... " Fulan membungkam mulut ku takut ada yang mendengar. Ya meski semua sudah terlelap dalam buaian masing-masing. Karena sudah lelah setelah dari Candi Prambanan tadi.
"Kamu sih aneh-aneh "
"Demi kebaikan Tan, kamu tahu tidak tadi pak Zan di panggil kepala sekolah"
"Terus? "
"Ya bapak kepala sekolah menegur pak Zan dan bu Mano. Atas perbuatan tidak senonoh yang tak pantas di lakukan oleh seorang guru. Aku mendengar jika bu Mano menjelaskan kalau dia baru saja di tinggal oleh suaminya. Pak Zan pun juga menambahkan jika bu Mano masih sepupunya"
"Pak kepsek percaya? "
"Tadi di akhir percakapan setelah bu Mano sudah keluar dari warung itu aku mendengar kalau pak Zan bilang ke pak kepsek kalau bu Mano masih depresi dia mengira pak Zan adalah suaminya. Meminta izin sama pak kepsek untuk tidak memperpanjang masalah ini sampai bu Mano sembuh"
"Pak Zan itu paling pinter berakting ya? " jawabku dengan menggelengkan kepalaku. Entah aku jadi takut sendiri jika selama ini ada kebohongan di antara kita.
"Kenapa kamu bisa di sana? " tanyaku lagi.
"Tadi pak Zan menyuruhku menyamar untuk mengikutinya sebagai bukti dan penjelasan jika anak-anak bertanya-tanya lagi tentang hubungan mereka"
"Huft... " nafasku terasa berat. Ku sandarkan kepalaku di bahu Fulan.
Aku lelah dengan semua ini. Ternyata kehidupan rumah tangga tak semanis apa yang ku bayangkan. Aku pikir setelah sekali bisa menyelesaikan masalah tak ada lagi masalah-masalah rumit yang akan mewarnai di kehidupan rumah tangga.
Aku salah... rumah tangga. Ya seperti nama itu kehidupan yang penuh dengan lika-liku ada naik turun ada bahagia dan sedih. Itu sudah jadi makanan sehari-hari. Semakin kuat semakin bisa menyelesaikan masalah akan semakin berat juga masalah ke depannya yang akan kita hadapi.
Rumah tangga...Ya, kehidupan yang harus di pegang teguh atas dasar cinta, komitmen, kesetiaan, kejujuran dan saling percaya. Dengan itu kehidupan kedepannya akan lebih indah dan utuh meski badai menghadang.
Harapanku adalah bisa bahagia selalu dengan pak Zan. Pernikahan sampai maut memisahkan. Hanya satu kali tak ada yang lain. Semoga Allah selalu menguatkan apapun itu masalah nya. Dan saling percaya.
Doaku semoga pernikahan ini bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawwadah dan warrahmah. Aamiin...
Saat raga dan batinku terasa lelah aku hanya bisa pasrah.Meski mulut ku berkata tidak. Ya perjalanan ku masih panjang pernikahan ini masih seumur jagung. Badai-badai yang lain akan siap menerpa kapanpun itu. Aku harus kuat.
"Kamu harus kuat ya Tan, kamu berhak bahagia" bisik Fulan. Mengelus pundak ku saat aku masih bersandar di bahunya.
Dalam perjalanan bus pariwisata ini untuk yang terakhir kalinya aku berkumpul dengan sahabat, teman-teman dan guru-guru. Semoga ke depannya akan ada pertemuan-pertemuan indah yang lainnya.
__ADS_1