
"Pak Ardi, kenapa menciumku."
"Itu jawaban atas pertanyaanmu."
Masih tidak percaya akhirnya pak Ardi benar-benar menciumku. Bukankah ini pelanggaran? Mana boleh guru mencium muridnya?
"Kenapa menatapku seperti itu?" pertanyaan pak Ardi menyadarkanku.
"Pak Ardi yang kenapa? Pak Ardi nggak takut cium Zanna? Pak Ardi kan guru Zanna "
Tiba-tiba cubitan kecil mendarat di hidungku yang aku rasa hidungku mungil, terasa panas.
"Pak, kenapa mencubit hidungku? Sakit tahu." keluhku lagi sambil mengusap hidungku yang terasa panas.
"Kalau di rumah kamu istriku, kalau di sekolah baru aku gurumu, jadi jangan banyak protes segeralah tidur biar besok pagi tidak keduluan mama bangunnya."
"Memang mamanya pak Ardi bangunnya pagi-pagi ya?" tiba-tiba aku merasa tidak enak, membayangkan aku bangun kesiangan dan keduluan mamanya pak Ardi pasti akan sangat malu.
"Ya begitulah, jadi berusahalah jadi menantu yang baik ya." pak Ardi lagi-lagi mengusap puncak kepalaku membuat suhu tubuhku tiba-tiba kembali naik, kalau begini terus mana bisa aku tidur. Ini benar-benar cobaan.
Srekkkk
Pak Ardi tiba-tiba bangun dari tidurnya, membuatku tertarik untuk mengikuti pergerakannya. Rupanya pak Ardi tengah mengambil tikar lipat yang berada di dalam lemari pakaian bagian bawah dan ia mulai nggelarnya di samping ranjang tidur.
"Pak Ardi mau ngapain?" tanyaku saat pak Ardi mengambil satu bantal dari sampingku.
Pak Ardi tersenyum, "Jangan salah faham, aku hanya takut tidak bisa mengendalikan diri. Tidurlah, aku juga akan tidur di bawah."
"Tapi pak_,"
"Tidak pa pa, tidurlah." meskipun merasa tidak enak, aku pun pasrah dan tidur di ranjang sendiri sedangkan pak Ardi tidur di lantai beralaskan tikar lipat tipis, aku yakin pasti dingin di bawah tapi mau bagaimana lagi, aku rasa ini juga lebih baik.
Perlahan mataku juga mulai berat, aku cukup mengantuk dan tidak perlu waktu lama, mataku sudah terpejam sempurna dan aku masuk ke alam mimpi.
***
"Sarapan Na, mama sudah masak banyak untuk kalian, ayo duduk!"
__ADS_1
Aku hanya bisa pasrah, rasanya begitu malu. Bisa-bisanya aku bangun kesiangan dan pak Ardi tidak membangunkanku. Padahal biasanya di rumah ibu aku tidak pernah bangun kesiangan, biasanya ibu yang sering membangunkanku.
"Duduklah." sekali lagi perintah dari mama pak Ardi membuatku benar-benar duduk, pak Ardi aku tidak tahu dia di mana, mungkin masih di ruang kerjanya.
Ya sudahlah, aku juga harus mulai terbiasa dengan keberadaan mamanya pak Ardi.
"Maaf ya ma, Zanna bangun kesiangan."
"Nggak pa pa nak, Ardi aja pas masih seusia kamu juga suka bangun siang, mama sampai teriak-teriak tiap pagi gara-gara dia."
"Mama ...," itu suara pak Ardi, dia mendengar apa yang di katakan oleh pak Ardi. "Jangan membicarakan keburukan Ardi di depan Zanna dong ma," protes ya
Ahhh, benar juga. Kalau gitu aku bisa protes dong kalau pak Ardi ngaturnya banyak.
"Na ..., aku tahu ya arti senyum kamu ini. Jangan berpikir macam-macam."
Ahhh pak Ardi, selalu tahu apa yang aku pikirkan.
"Sudah-sudah, kalian sarapan, sudah siang nanti terlambat loh ke sekolahnya."
"Iya ma."
"Mama juga sudah bawakan bekal buat kalian. Kata Ardi kamu paling suka sama ayam goreng, jadi mama buatkan yang spesial buat kamu." ucap mama pak Ardi dengan lembut.
"Terimakasih ma." ahhh aku benar-benar merasa di manja.
"Oh iya, mama dengar adik kamu kembar ya, jadi nggak sabar pengen ketemu mereka."
Sekali lagi aku hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan mama pak Ardi, mama pak Ardi benar-benar banyak bicara aku bingung bagaimana harus menanggapinya.
"Mama jangan keluyuran sendiri ya, nanti siang aja nunggu Ardi dan Zanna pulang baru Ardi antar ke rumah ibunya Zanna."
"Istttt, memang kamu pikir mama ini anak kecil. Nggak, mama juga pengen jalan-jalan." ternyata mama pak Ardi juga lebih keras kepala. Rasanya aneh berada di antara perdebatan ibu dan anak ini. Pak Ardi yang kaku dan dingin tiba-tiba berubah layaknya putra dari seorang ibu yang selalu di manja oleh ibunya.
***
"Aku lihat kamu sering berangkat bareng sama pak Ardi, kalian punya hubungan spesial ya?" tanya Luna dan aku yakin pasti buka hanya Luna yang penasaran dengan hubungan kami apalagi setelah beberapa waktu lalu Luna melihat aku tengah berboncengan dengan pak Ardi.
__ADS_1
"Kami tinggal bersama." ucapku keceplosan. Aku benar-benar mengutuki kebodohanku ini.
"Tinggal bersama?"
"Maksudku aku jadi asisten rumah tangga pak Ardi."
"Yakin kamu jadi pembantu?" tampak Luna tidak percaya dengan yang aku katakan, atau lebih tepatnya meremehkan.
"Memang apa salahnya dengan pekerjaan pembantu? Yang penting halal kan?" aku paling tidak suka dengan cara Luna yang memandang rendah pekerjaan sebagai pembantu.
"Ya bukan gitu maksud aku, kan ada yang lebih baik ketimbang pembantu, misalnya jadi penjaga toko, atau apa gitu."
"Itu pilihanku,"
"Iya sih, tapi baguslah. Kapan-kapan aku bisa kan main ke rumah pak Ardi?"
Seketika mataku melebar sempurna, jangan sampai Luna ke rumah pak Ardi, bisa-bisa ketahuan kalau aku istri pak Ardi.
"Pak Ardi nggak suka terima tamu."
"Ahh yang benar."
"Ya sudah kalau nggak percaya."
"Tapi kan aku ke sananya mau ketemu kamu."
Ahhh, Luna ternyata juga keras kepala. Kau harus beralasan apa lagi kalau begini.
"Tetap saja, itu kan rumah pak Ardi."
Beruntung bel masuk berbunyi hingga Luna tidak bisa mendebat lagi, ia segera kembali ke bangkunya dan aku tetap berada di bangku ku yang paling depan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...