My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
Belum mahram


__ADS_3

...Ada hal yang tidak pernah kita sadari kapan datangnya, yaitu menjadi dewasa. ...


...Dewasa bukan tentang tumbuh dan bertambah umur, tapi tentang bagaimana kita menyikapi hidup, mendapat penyelesaian dari semua masalah yang kita hadapi....


...🌹Selamat Membaca🌹...


"Jangan deh pak, aku rencananya hari ini mau melunasi uang SPP ku, aku akan ikut ujian, jadi jangan khawatir."


"Apa itu bisa di percaya?"


Sungguh mencengangkan, bisa-bisanya pak Ardi tidak mempercayaiku. Tapi ya sih, siapa aku hingga pak Ardi percaya.


"Pak ...., plisss jangan ngomong apapun sama ibu aku ya, aku akan lakuin apapun asal jangan mengatakan apapun tentang semua pelanggaran yang aku lakukan di sekolah dan niatan ku untuk putus sekolah!"


Pak Ardi malah tersenyum, aku tidak tahu apa arti dari senyumannya itu. Aku semakin takut saja melihat senyum itu, ibu pasti sangat kecewa padaku. Ibu sering kali membanggakan aku di depan tetangga karena aku tidak suka kelayapan seperti anak-anak sebayaku.


"Baiklah, aku pegang omonganmu!" ucap pak Ardi sambil kembali melanjutkan langkahnya, langkahnya sungguh sangat lebar hingga aku harus sedikit berlari untuk bisa mensejajarkan langkahku dengannya.


"Jadi maksudnya pak Ardi tidak akan bicara apapun sama ibu termasuk rencanaku untuk putus sekolah?"


"Bicara!" ucapnya dengan santai membuat aku semakin khawatir saja, hingga sampai di depan rumah kami pak Ardi kembali berhenti dan menoleh padaku, sepertinya pak Ardi menyadari kekhawatiran ku.


"Jika kamu putus sekolah, apa yang akan kamu lakukan? Bukankah ibumu juga akan tahu karena kamu tidak berangkat ke sekolah?"


Benar juga ya, kenapa aku nggak kepikiran?


Sepertinya aku kurang memikirkannya dengan matang. Benar yang di katakan oleh pak Ardi, jika aku tidak sekolah bukankah ibu juga akan tahu.

__ADS_1


Tapi kan aku juga bisa pura-pura berangkat sekolah tapi mencari kerja di luar ....


Sepertinya aku tahu jawabannya, tapi kan aku tidak jadi putus sekolah. Uangku sudah cukup untuk bayar SPP. Atau uang itu aku gunakan untuk hal lain. Tiba-tiba ide cemerlang muncul, dan kayaknya ide terakhir paling bermutu keluar dari otakku.


"Kenapa malah tersenyum seperti itu? Apa kamu sudah memikirkannya dengan matang?" tanya pak Ardi lagi dan haruskan aku memberitahu pak Ardi.


Kayaknya nggak perlu deh ...


"Bukan apa-apa, bukan urusan bapak juga kan!?"


"Akan segera menjadi urusanku!" ucap pak Ardi sambil berdiri di depan pintu hendak mengetuk pintu, tapi segara tangannya aku tahu.


"Maksud pak Ardi apa?"


Pak Ardi kembali menoleh dan tersenyum padaku.


"Yang jelas bukan tentang pelanggaran yang kamu lakukan! Tapi ada hal yang lebih penting yang akan aku bicarakan," ucapnya sambil menghalau tanngaku agar terlepas dari lengannya,


Maksudnya belum apa?


Selagi aku masih berpikir tiba-tiba pak Ardi sudah mengetuk pintu aja dan mengucapkan salam.


Aku semakin panik saat suara ihu menyahut dari dalam.


Ceklek


Aku tidak pernah mengunci pintu lagi saat pergi berjualan karena toko ibu juga sudah buka, jam seperti ini ibu pasti sudah berkutat di dapur. Kami tidak punya uang untuk membayar asisten rumah tangga, jadi ibu dan aku harus membagi tugas mulai dari pekerjaan rumah hingga cari uang.

__ADS_1


Tentang uang ayahku, aku bahkan tidak tahu ayah kirim uang atau tidak, , aku tidak mungkin mengeluh pada ibu, kalaupun mengeluh ibu juga tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah mungkin memang ayah sedang tidak ada penghasilan di luar sana.


"Nak Ardi," ucap ibu saat melihat aku datang dengan pak Ardi, "Kalian kok bisa barengan?" tanya ibu yang jelas itu di tujukan untukku.


"Pak Ardi pindah ke sini, Bu." jawabku asal.


"Sini?" tanya ibu sambil menunjuk ke rumah kami, sepertinya ibu salah mengartikan ucapanku.


"Maksud Zanna, sini itu komplek ini Bu, bukan rumah ini."


"Ohhh," ucap ibu saat mengerti maksudku, "Masuklah nak Ardi,"


"Terimakasih Bu," ucap pak Ardi dan ia melewati ku begitu saja masuk dan duduk di sofa.


"Buatkan minum untuk nak Ardi, Na!" perintah ibu, aku tidak segera beranjak tapi aku lebih memilih melirik pada jam dinding.


Sepertinya pak Ardi juga tahu maksud lirikanku,


"Tidak perlu Bu, saya juga cuma sebentar. Nggak perlu repot-repot!"


"Baiklah," ibu pun ikut duduk sedangkan aku, aku bingung harus kemana atau melakukan apa.


...Bersambung...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2