My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
UJIAN PAK ZAN


__ADS_3

Hari ini jadwalku kontrol ke rumah sakit sekalian USG di semester akhir. Genap tujuh bulan kehamilan ku dan aku berencana untuk memilih USG 3dimensi agar terlihat jelas wajah anakku.


Tapi sebelum berangkat ke rumah sakit pak Zan terlihat murung entah apa yang di pikirkan aku sedikit tidak peduli. Tapi semakin lama semakin iba melihat hal itu.


Ku dekati dia duduk termenung di ruang tamu.


"Kak?"


"Eh ,iya udah siap?yuk berangkat"


"Kakak kenapa?" ku tahan tangannya yang ingin beranjak dari kursi sofa.


"Eh, nggak apa sayang" pak Zan tersenyum dengan pucat pasi.


"Aku tahu sifat kakak seperti apa. Sudah lama kita saling kenal kak,jadi Tsania tahu tentang kakak. Jadi ceritalah Tsania mau kok dengerin"


Pak Zan terlihat ragu dan gengsi untuk bercerita. Tapi setelah beberapa menit diam berpikir keras akhirnya dia membuka suara nya.


"Tsania maafin kakak ya? kakak nggak bisa bawa kamu ke tempat USG yang bagus untuk bisa lihat yang 3 dimensi. Kakak sudah nggak ada uang. Tabungan kakak habis buat pengobatan dan persalinan Laili kemarin. Maaf...."


"Iya kak nggak apa,makasih ya udah berkorban demi Laili. Soal uang kakak nggak usah khawatir . Tsania kan juga bekerja, jadi Tsania masih punya tabungan. Alhamdulillah penjualan di toko laris kok"


"Tapi kan uangnya masih di bagi dua sama Fulan belum juga sama karyawan"


" Alhamdulillah udah beres semua kak, uang yang masuk tabungan Tsania udah hasil bersih buat Tsania"


"Tapi Tsan, jangan di gunain dulu deh uang itu. Kamu kan masih punya suami ,semua kebutuhan kamu masih tanggung jawab kakak. Jadi kakak akan berusaha buat memenuhi semuanya"


"Iya kak" tanpa berpikir yang lain aku hanya mengiyakan. Lagian juga ini masih tanggung jawab dia. Masak iya Laili di tanggung semuanya sedang kan aku nggak. Bukannya iri sih tapi hanya sedikit kecewa aja kalau pak Zan beneran nggak bisa membiayai semua nya.


Di dalam mobil perjalanan ke rumah sakit pak Zan hanya terdiam tanpa sepatah katapun ia keluar kan. Pandangan nya fokus ke depan. Terlihat jelas ia


sedang banyak yang di pikirkan.


Saat periksa pun tadi juga hanya diam tak bergeming aku yang antusias bertanya dengan kak Dion dia hanya diam melamun.


Padahal sudah lama tak bertemu dengan kak Dion, pak Zan tetap diam tak mengekspresikan kerinduan nya dengan sahabat nya.


Entah apalagi yang dia pikirkan, hingga tadi saat usai pemeriksaan aku di suruh keluar duluan dan pak Zan masih ngobrol serius dengan kak Dion.


Pak Zan sekarang penuh teka-teki dan misterius. Aku kadang susah untuk menebaknya.


Sampai di rumah pun pak Zan masih terdiam, sering melamun tak jelas. Ada rasa iba tapi masih ragu untuk menanyakannya.

__ADS_1


Tanpa ku pikirkan aku pamit untuk berangkat ke toko. Dan pak Zan hanya mengiyakan tanpa bertanya apapun itu.


Dengan hati-hati ku kendarai sendiri mobilku. Tapi belum juga ku nyalakan pak Zan mengetuk kaca mobil.


Tok...tok...


"Apa kak?"


"Boleh kakak pinjem mobil kamu?"


"Boleh kok, tumben kakak mau naik mobil .Emang motor kakak kemana?"


"Di bengkel"


Aku segera bergeser ke kursi sebelah dan pak Zan naik ke dalam mobil.


"Kakak mau ke sekolah?katanya nggak ada jadwal ngajar?"


"Iya lupa Tsan"


"Tapi kok cuma pake kaos?nggak pake baju kemeja?"


"Eh iya itu mau les kok bukan mau ngajar di sekolah"


"Oh ok deh"


Tanpa berpikir yang macam-macam. Pak Zan mengantarkan ku ke toko baju. Dan pak Zan berlalu menaiki mobil meninggalkan ku.


Fauzan POV.


Pak Zan menaiki mobil Tsania dengan hati-hati. Ia pergi ke sebuah cafe dekat rumah sakit untuk menemui Dion sahabatnya yang tadi sudah janjian usai dari rumah sakit.


Beberapa menit sampailah di cafe tempat mereka janjian.


Pak Zan mencari ke sembarang arah, memperhatikan satu persatu pengunjung di sana. Dan akhirnya menemukan apa yang dia cari.


"Hay bro ..." pak Zan menjumpai dokter Dion.


"Hei, datang juga lo"


"Iya maaf...nih..." pak Zan mengeluarkan surat-surat dari dalam tas ranselnya.


"Lo serius ini? bukannya ini kesayangan Lo banget yah?" Dion mengamati surat-surat itu dengan seksama.

__ADS_1


"Iya, gimana lagi Yon, karena gue lebih sayang Tsania dan anak gue"


"Kenapa Lo gak cerita aja sih sama Tsania?"


"Nggak ah, gue nggak mau membebani dia. Kasian dia udah sering menderita"


"Ok,deh ini gue beli tapi kalau suatu saat nanti Lo udah ada uang Lo bisa kok membelinya lagi"


"Thanks ya bro..."


Pak Zan terlihat terharu, matanya pun berkaca-kaca.


"Iya tenang aja,inilah gunanya sahabat"


"Mungkin ini adalah karma buat gue"


"Hust....udah nggak usah bilang gitu. Ini udah takdir dari Sang Kuasa. Sabar aja Allah pasti akan mengganti semuanya"


"Iya Yon, makasih ya?"


"Yoi...eh di rumah sakit lagi buka lowongan buat cleaning servis mau?.Buat sementara lah..." Dion menyakinkan karena terlihat pak Zan ragu.


"Iya nanti gue pikirin lagi"


"Cepet, keburu di ambil orang"


"Iya-iya..."


Pak Zan terlihat menahan air matanya. Ia terlihat lelah ingin rasanya menangisi nasibnya tapi dia sangat gengsi untuk mengeluarkan air matanya.


Dia ingin terlihat kuat di depan siapapun meski kenyataan nya dia sangat lemah.


Seminggu yang lalu dia di berhentikan dari sekolahan ,dia tidak di perbolehkan mengajar di sana lagi karena terbukti telah memalsukan data-data Laili yang telah berhenti dari sekolahan.


Pak Zan memalsukan data Laili untuk pindah sekolah ke luar daerah tapi kenyataannya Laili tidak pindah sekolah bahkan pihak sekolah sudah mengetahui kabar tentang Laili yang hamil di luar nikah.


Belum sempat ia jelaskan bahkan nama baiknya tercoreng kalau pak Zan di gosip kan selingkuh dan menghamili gadis di bawah umur.


Banyak foto pak Zan berduaan tersebar ke kalangan sekolah. Entah tangan jail siapa yang bikin ulah.


Pak Zan terpaksa harus keluar dari sekolahan dengan tak terhormat.


Harga dirinya sedang di injak-injak. Tapi dia hanya bisa diam karena menjelaskan pun tak akan ada yang percaya.

__ADS_1


Kejadian ini masih ia rahasiakan dari orang tua dan Tsania istrinya. Hanya Dion dan Mano yang tahu saat ini. Karena Mano berada di tempat sekolah yang sama jadi tahu tentang berita ini.


Dia ingin membela sahabatnya Fauzan, tapi ia tak cukup bukti. Dia hanya bisa diam dan memberikan dukungan untuk pak Zan agar tidak down.


__ADS_2