
Setelah dua hari koma Fulan akhirnya siuman semua merasa bahagia terutama Arnold dia akan segera memenuhi janjinya.
"Alhamdulillah saudari Fulan sudah siuman, keluarganya boleh menjenguknya tapi satu-satu ya? " ujar dokter.
"Iya dok terima kasih"
"Sama-sama pak bu, saya permisi dulu"
"Iya dok"
"Om tante ijinkan sebentar saja saya menemui Fulan untuk mempertanggung jawabkan kesalahan saya om tante"
"Ok" jawab mamah Fulan.
Hari ini hari kedua Arnold menunggu Fulan tanpa bunda di samping nya. Tapi hari ini dia sudah berjanji jika Fulan sadar dia akan segera mengutarakan niatnya.
Arnold masuk di ruang ICU dengan memakai baju jenguk ia mendekati Fulan dan duduk di samping nya.
"Assalamu'alaikum Fulan? "
"Waalaikumsalam... " lirih Fulan yang terdengar samar-samar karena masih terpasang selang oksigen di hidung nya.
"Maaf ya? gara-gara gue lo jadi gini" Arnold mengelus lembut tangan Fulan.
"Kamu nggak salah Nold, karena lo gue jadi merasakan ikut turnamen pencak silat, makasih ya? " Fulan tersenyum bangga.
"Sama-sama Lan" kedua tangan Arnold menggenggam tangan Fulan.
Arnold meraih sesuatu dari dalam saku celana nya tapi masih ia genggam dalam tangannya benda itu.
"Lan? gue mau tanya nih? kalau seumpama lo di ajak nikah muda sama orang yang sayang sama lo, lo mau nggak Lan? "
"Kamu mau di ajak nikah sama pacar kamu? " jawab Fulan lembut
"Ya menurut lo kalau lo di posisi gue gimana? "
"Ya kalau lo suka gak apa-apa Nold" Fulan terlihat sedih.
"Lo mau? "
"Mau"
"Alhamdulillah"
"Eh apa dulu nih? "
Arnold mengeluarkan kotak biru dongker dan membukanya sebuah cincin silver berkilau permata indah terpancar.
"Mau kan lo jadi istri gue? gue mau nikahin lo sekarang juga"
"Ini serius? gimana dengan Tsania? "
"Fulan? Tsania adalah masa laluku dia sudah bahagia dengan kehidupan nya, dengan suaminya.Gue kepingin lo jadi pendamping hidup gue"
Fulan meneteskan air matanya ia tidak pernah menyangka seumur hidupnya belum pernah ia berpacaran ataupun menyukai lawan jenis karena sejatinya dari kecil Fulan terbilang gadis yang tomboi. Ini kali pertama nya ada yang menyatakan cinta langsung menjadi istri bukan pacar lagi.
"Gimana Lan? "
__ADS_1
Fulan mengangguk.
"Alhamdulillah... " Arnold memakaikan cincin di jari manis Fulan. Fulan mengangkat tangannya dan memerhatikan jari manisnya yang sudah ada cincin melingkar di sana.
"Ini bukan mimpi kan? " tangis haru Fulan.
"Nggak Lan " Arnold mencium tangan Fulan.
"Makasih ya? "
"Gue yang harusnya terima kasih karena lo sudah nerima gue"
Fulan memperhatikan cincinnya lagi.
"Kenapa Lan? "
"Kok bisa pas ya? "
"Kan udah gue ukur "
"Kapan? "
"Lo ingat nggak pas kapan hari latihan pencak silat gue pakein jari lo cincin plastik? "
"Iya"
"Itu sebenarnya bunda udah mesen cincin buat lo dan gue di suruh ngukur jari lo, sebenarnya cincin ini mau di kasih ke lo pas selesai acara turnamen tapi ternyata gagal"
"Nggak gagal kok Nold kan sekarang udah di jari gue"
"Ok makasih ya? oh ya nanti malam lo siap kan kalau gue bawa penghulu buat nikahin kita? "
"Gak apa-apa gue sudah janji sama diri gue sendiri dan papah lo kalau lo siuman gue mau langsung nikahin lo "
"Kamu nggak nyesel nantinya akad nikah cuma sederhana gini? "
"Gak apa Lan, kan nanti kalau lo udah sembuh bisa di rayain yang rame kita bisa undang teman kita semua"
"Syukurlah... "
"Ya udah ya gue pamit pulang dulu buat nyiapin semuanya. Nanti malam gue balik lagi kesini"
Fulan mengangguk.
"Cepat sembuh ya Lan"
"Iya makasih ya? oh ya salam buat bunda"
"Iya, assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam... "
Arnold melepas baju dari ruang ICU dan segera keluar dari sana. Di luar ruangan Arnold di buat bingung melihat mamahnya Fulan menangis tersedu.
"Tante kenapa? Fulan sudah baik-baik saja kok, tante sudah bisa jenguk dia "
Mamah Fulan memeluk Arnold dia menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Terima kasih ya nak? kamu sudah mencintai anak tante dengan tulus. Anak tante yang satu itu dari kecil tidak pernah sama sekali menunjukkan ketertarikan nya pada lawan jenis tante takut kalau dia tidak mau menikah nantinya tapi alhamdulillah kamu bisa membuka pintu hatinya"
"Iya tante sama-sama, om tante mohon restunya ijinkan saya meminang anak om dan tante nanti malam"
"Kenapa buru-buru? "
"Nggak apa om tante biar saya bisa ikut jagain dan ngerawat Fulan di sini. Agar tak ada dosa jika saya berduaan dengannya"
"Saya restu i kamu nak Tian dan bawalah orangtuamu nanti malam" ucap papah Fulan.
"Alhamdulillah terima kasih banyak om tante"
Arnold berpamitan dan segera pulang untuk mengurus semuanya nanti malam. Meski hanya akad sederhana ia ingin ini menjadi momen spesial baginya dan Fulan.
.
.
.
Malam yang telah di tunggu pun telah tiba sore tadi keadaan Fulan membaik jadi sudah di pindahkan ke ruang rawat. Atas permintaan Arnold Fulan di pindahkan ke ruang VVIP di sana ruangan sedikit di hias dan Fulan di rias dengan seadanya tanpa memakai baju yang bagus Fulan hanya memakai mukena berwarna putih yang berenda.
Dia sedari tadi duduk menunggu kedatangan Arnold sedikit cemas dan berdebar. Di ruangan sudah ada orang tuanya yang turut bahagia melihat putrinya yang tomboi akan segera melepas lajang.
"Mah? kok aku nervous ya? "
"Biasalah sayang itu hal wajar mamah dulu juga gitu" mamah duduk di atas kasur bersama Fulan dan mengelus kepala Fulan.
"Assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam... "
Arnold datang membawa seorang guru ngajinya dan ayah bunda nya.
Dengan memakai sarung hitam dan baju koko putih dan peci berwarna hitam. Arnold tampak gagah nan tampan meski hanya berpakaian seadanya. Bunda membawa parcel berisi seperangkat alat sholat dan buah-buahan.
"Fulan? "
"Bunda... "
Bunda memeluk erat calon menantu nya itu.
"Kamu cantik nak"
"Makasih bun"
"Perkenalkan saya ayahnya Arnold Sebastian atau di panggil Tian. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih sudah memperbolehkan anak saya datang kemari dan maaf sudah mengganggu ketenangan nak Fulan yang sedang sakit ini"
"Iya pak nggak masalah kok, saya justru minta maaf tidak bisa memberikan yang terbaik untuk acara ini" jawab papah Fulan.
"Nggak apa pak nanti kalau nak Fulan sembuh kita buatkan pesta syukuran yang meriah "
"Sudah bisa kita mulai? " tanya guru ngaji Arnold.
"Iya tadz"
Arnold duduk di kursi sofa bersebelahan dengan ayah bundanya dan di depannya ada pak penghulu dan papa Fulan. Di atas kasur ada Fulan di dampingi mamahnya.
__ADS_1
Seketika tampak haru dan hening pak ustadz membacakan doa sebelum ijab itu di mulai.
"Bismillahirrahmanirrahim.... "