
Pulang?bukankah semua makhluk di dunia ini bakalan pulang ?. Iya pulang ke pangkuan Illahi. Bukan tak percaya tapi masih belum percaya dan ikhlas jika seseorang yang di sayang harus pulang duluan meninggalkan kita.
Aku hanya bisa merenung mendengar penjelasan dari Laili, terngiang-ngiang di pikiranku. Bayangan Tafi melintas dan pak Zan silih terus berganti.
Teruntuk pak Zan, apa yang di bicarakan dulu masih menjadi bayangan buatku. Bukankah dia beralasan jika dia sudah mencintai Laili karena terbiasa selama ini?kenapa Lali menjelaskan hal yang beda? apa ini hanya akal-akalan Laili menutupi semuanya.
Di dalam kamar rumah ibu, ku tatap lekat sajadah merah pemberian Arnold. Dari semua lelaki yang singgah mereka tak ada yang meninggal kan kenangan pahit, selalu manis. Tapi, saat pak Zan menjadi yang satu-satunya bertahta di kehidupan ku mengapa dia yang mengukir rasa sakit?mengapa dia meninggalkan kepahitan di hidupku?.
Bukan kata-kata yang bisa membuat ku bangkit dan bertahan tapi pembuktian.
Drrtt.....
📩"Aku sudah sampai, aku pulang dulu ya?"
Satu chat dari Tafi membuat ku berpikir keras.
📨"Alhamdulillah...🤔"
📩"Jaga diri baik-baik, hapus air matamu. Terima kasih sudah menjadi wanita kuat"
📨"Apaan sih?"
📨"Kamu kapan kamu pulang lagi?"
📨"Tafi???kamu sudah sampaikan?"
📨"Tafi????kamu kemana?"
📨"Tafi???
"Haist....di tinggal kemana pula aku?"
Mungkin dia sedang sibuk sekarang. Hatiku mulai berdebar tak beraturan, ada sesuatu yang tidak baik sepertinya.
Membuka lemari ku, mencari sebuah kenangan yang indah agar rasa sakit ku tidak seberapa dengan kenangan-kenangan manis dengan pak Zan.
Ku temukan album sekolah. Berisi semua teman-teman dan pak Zan. Potret manis pak Zan dengan ku. Hal yang yang selalu di dambakan semua murid saat itu, bisa berfoto dengan pak Zan.
Guru tampan nan baik hati. Baik hati?ya dulu memang baik sih tapi sekarang? aku hampir luluh dengan penjelasan Laili tapi setelah aku teringat dengan alasan terakhir pak Zan yang mencintai Laili karena sudah terbiasa bersama hatiku mengeras lagi.
Secepat itu dia berpaling, secepat itu dia melupakan ku, dan secepat itu dia mencintai wanita.
Aku belum mendengar alasan yang kuat dari pak Zan.
Tafi, alasanku menjadi kuat. Dia yang setia menunggu ku bertahun-tahun. Tak pernah berpaling sedikit pun. Aku rasa dia yang tepat untukku. Untuk mendampingi hidupku.
__ADS_1
Tok...tok..
"Mbak?"
"Masuk Lel nggak di kunci"
Laili masuk yang sudah berganti baju daster. Semua keluarga sudah pulang. Dan rumah kembali sepi. Apalagi Arsya sudah terlelap, rumah semakin hening.
"Mbak lagi apa?"
"Ini beres-beres aja Lel"
"Mbak? bolehkan Laili tanya sama mbak?" Laili duduk di sebelah ku di atas ranjang.
"Boleh" jawabku tanpa menoleh masih fokus menatap satu persatu potret di album.
"Apa mbak beneran ada hubungan dengan Tafi?"
"Iya, emang kenapa?"
"Nggak apa sih cuma tanya aja. Kenapa mbak mudah berpaling dengan lelaki lain sih?"
Ku tutup albumku dengan kasar. Sedikit tidak suka dengan ocehan Laili.
"Bukankah yang mudah berpaling itu kak Irul?sudah jelas-jelas punya istri tapi dengan mudah nya berpaling dariku. Dengan gampang nya dia bilang sudah mencintai mu karena sudah terbiasa denganmu...!!" sedikit ku tekankan kata-kata ku. Hingga membuat raut wajah Laili sedikit ketakutan.
"Aku bukan wanita yang lemah, satu dua kali di sakiti masih diam dan terakhir aku nggak akan diam. Jika ada yang dengan gagah berani dan sudah jelas ada pembuktian bisa menghargai ku dan menyayangiku dengan tulus mengapa tidak?"
"Huft....aku tahu mbak. Semoga kedepannya kak Irul bisa belajar dari mas Tafi. Sebuah arti ketulusan dan kejujuran. Semoga kak Irul bisa belajar dari mas Tafi...hiks...hiks...." ku lihat Laili menahan tangisnya dan tiba-tiba tangisan itu pecah.
"Kamu kenapa sih?"
"Mbak yang kuat ya?"
"Apa maksud kamu?"
"Mas Tafi sudah pulang"
"Iya emang dia sudah berangkat lagi ke Jogja dia kan kuliah di sana"
"Mas Tafi kecelakaan mbak..."
"Heh....jangan asal omong ya?baru saja mbak chat kok sama dia"
Mencari ponselku dan memanggil nomor Tafi. Berdering tanpa jawaban. Hatiku mulai sesak berharap-harap cemas. Semoga apa yang di bicarakan Laili tidak benar.
__ADS_1
Ku coba berulang kali tapi tak ada jawaban sama sekali. Nafasku sudah tak karuan.
"Mbak Tsan, ayo taksinya sudah datang. Kita ke rumah mamah papah kak Irul" Toni tiba-tiba muncul di balik pintu yang terbuka. Dia terlihat tergesa-gesa dan panik. Aku langsung berlari menghampirinya. Bersama Toni, ibu dan paman menaiki taksi online.
Karena mobilku ternyata di bawa pak Zan pergi.
Di keheningan suasana tak ada satupun yang berani bersuara. Karena sudah menjadi rahasia umum hubungan ku dengan Tafi. Paman dan ibu menatap ku tanpa bersuara.
Aku harap Tafi yang kecelakaan semata, dan masih bisa kembali pulih.
Beberapa menit sampai lah di rumah mamah papah, aku tercengang sudah banyak mobil di sana suara tangisan bersautan.
Melangkah sedikit cepat dengan hati yang berharap baik-baik saja.
Ku lihat semua menangis, apa keadaan Tafi kritis?atau gimana? hatiku masih bertanya-tanya tanpa kepastian.
Ku dekati mamah menangis dalam pelukan Kafi.
"Mah?" ku tahan air mataku meski sesak di dadaku.
"Tsania...." mamah histeris memeluk ku.
"Ada apa mah?Tafi baik-baik saja kan?"
"Tafi sudah nggak ada Tsan...." rengek mamah dalam pelukan ku.
"Maksud mamah apa? dia baik-baik saja kan?dia masih bisa di selamat kan?" bantahku dalam pelukan mamah meski dalam hati terasa panas menahan air mata.
Mamah melepaskan pelukan ku. Dia terisak tanpa bisa menjelaskan lagi. Kafi memeluk mamah dan mengelus pundak nya.
"Polisi menjelaskan Tafi menabrak pembatas jalan. Dan meninggal di tempat sekarang di bawa ke rumah sakit terdekat dan kak Irul sudah ke sana memastikan semuanya"
Gemuruh rasanya di dadaku. Sakit yang tak tertahankan lagi. Lebih sakit saat pak Zan menyakiti ku.
"Ini nggak bener kan?ini cuma mimpi kan?" aku berusaha menyakinkan bahwa ini hanyalah mimpi semata bukan nyata.
"Dia baik-baik saja kan?" Kafi hanya menggeleng.
Seketika badanku lemas tak berdaya. Ibu memelukku dari belakang.
Aku baru menyadari arti kamu tentang pulang.
Ternyata kamu pulang ke pangkuan Illahi. Kenapa kamu tega?katanya kamu sayang?kamu jahat banget sih Fi.....jangan kau berikan cinta lalu kau pergi tanpa berpamitan denganku....
Gelap tak bercahaya, aku tak berdaya lagi tanpamu.
__ADS_1
Nailul Muktafi.....