My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
TENTANG MANOHARA


__ADS_3

Di keheningan malam yang sunyi Dion Saputra memeluk erat sang istri Manohara. Wanita yang ia nikahi saat masih kuliah di semester awal. Umur yang masih labil dan masih terbilang muda nekat dan harus bertanggung jawab menikahi wanita pujaan hatinya atas dasar karena ia menghamilinya.


Kala itu ia sangat khilaf atas perbuatan nya. Akibat sama-sama mabuk ia dan gadis pujaan hatinya hilang kendali ia tidak sadar akan perbuatan itu. Ia menghamili wanita pujaan hatinya. Meski saat itu Mano sangat membenci dan frustasi atas kehamilannya dengan lelaki yang tak ia sukai. Beriringan berjalannya waktu cinta itu muncul dengan sendirinya.


Kasih sayang dan ketulusan dari Dion mampu membuatnya bertekuk lutut. Dia yang haus kasih sayang karena korban broken home mampu mendapatkan kembali kasih sayang. Dari kecil ia tinggal dengan kakek neneknya. Ayah ibunya bercerai dan sudah memiliki keluarga masing-masing. Sejak saat itu dia jadi kesepian ia merasa hidupnya hancur.


Sejak bertemunya dengan Fauzan waktu pertama kalinya masuk sekolah berseragam putih abu-abu itu hidupnya kembali ceria. Dan pada akhirnya ia menyalahkan arti persahabatan itu dengan Fauzan. Dia menyatakan cintanya ke sahabat nya alih-alih takut kehilangan.Pernyataan itu di tolak dengan halus oleh sang sahabat.Hatinya sakit dan hancur saat itu.Dan itu kedua kalinya ia frustasi setelah kabar perceraian dari orang tuanya.


Hingga malam itu saat dia menginjak di bangku kuliah ia berbuat nekat di luar batas yang mengharuskan ia segera menikah. Pernikahan yang terbilang dini dan mendadak membuatnya frustasi. Dengan dukungan dari orang tua Dion, Mano kembali merasakan apa itu kasih sayang yang tulus. Ya orang tua Dion sangat tulus mencintai dan menerima Manohara. Karena Dion adalah anak semata wayang. Dan sudah lama merindukan anak perempuan di keluarga mereka.


Sejak Galang Pratama anak mereka lahir ke dunia ini cinta Mano tumbuh atas dasar karena terbiasa di perlakuan dengan baik dan layaknya sang putri di rumah yang mewah itu.


Rumah tangga yang harmonis dan bahagia sudah bertahun-tahun ia rasakan. Tapi tidak di dua tahun terakhir ini sejak ia melihat sang suami selingkuh ia mencari cara untuk melampiaskan rasa kesal, kecewa dan sakit hatinya. Dengan mencari perhatian dari sahabat nya itu. Rasa sayang yang dulu telah menghilang kembali ke permukaan hatinya.Rencana-rencana jahat muncul dengan seketika.


Kini semua itu hanya menjadi penyesalan belaka setelah usai menghadiri pengajian di rumah seorang wanita yang membuatnya cemburu berat. Fakta yang mengejutkan dan membuatnya menyesal. Malam yang sunyi ini ia memeluk erat suaminya. Rasa bersalah ia tuangkan dalam tangisannya. Di dada bidang sang suami ia tenggelam dalam kesalahan dan kekhilafan.


"Maafin aku pah, mamah gak tahu" isak tangis Mano.


"Sudah, aku yang salah kok. Maafin aku ya? " Dion melepaskan pelukannya. Menangkup lembut kedua pipi istrinya. Mengusap sisa air mata dan mengecup lembut bibir sang istri.


"Besuk kita ketemu Fauzan sama Tsania kita harus segera minta maaf sebelum masalah ini berlanjut panjang. Kasian mereka, karena masalah kita mereka jadi terkena imbasnya. Mereka berhak bahagia" Dion memeluk erat istrinya.


"Sudah lama aku tak tersentuh oleh mu bolehkah aku memintanya? " bisik Dion. Mano mendongakkan kepalanya. Dia mengerti maksud dari perkataan suaminya. Akhir-akhir ini ia tak bertemu dan membuatnya haus belaian lembut.


"Aku rindu kamu sayang" bisik Dion lagi.


Mano tersenyum. Merasa di manja dan di sayangi lagi. Tak perlu ia mengemis pada Fauzan lagi. Cinta dan ketulusan sudah ia dapatkan kembali dari sang suami. Kesalahan pahaman, rasa tidak percaya dan membiarkan masalah berlarut adalah suatu bom dalam rumah tangga. Sewaktu-waktu bisa meletus menghancurkan rumah tangga itu sendiri.


"Terima kasih sayang atas segala cinta dan kasihmu yang tulus. Dan maaf kan aku yang sempat menduakan mu " ucap lirih Mano.


"It's ok sayang. Kita mulai lagi dari awal. Membina rumah tangga ini dengan baik. Demi cinta kita dan buah hati kita Galang Pratama. Kasian selama ini dia jadi terabaikan untung ada mami papi. Dan sebentar lagi dia juga akan punya adik. Aku nggak ingin dia merasa tersisih kan"


"Iya sayang"


Malam yang larut dan hening. Terasa lega di hati. Membuat mereka menyatukan cinta lagi di atas ranjang yang panas.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ditempat lain Tsania termenung.


Malam kian larut Tsania menunggu kepulangan Fauzan. Sudah dua hari terakhir ini selalu pulang malam entah apa yang sedang di kerjakan sedangkan sekolah sudah libur panjang. Kabar tentang bu Mano pun belum aku dengar. Dia selalu jawab sabar jika di tanya soal itu.


Bahkan Fulan juga tak ada kabar sama sekali, di hubungi susah. Harap-harap cemas menanti kepastian dari pak Zan. Tentang masalah yang rumit itu. Dia juga selalu pergi tanpaku. Aku pun juga tak di ijinkan pulang ke rumah mamah papah.


Terkadang pikiran kotor datang menghampiri menghasut kegundahan. Meski terkadang aku masih bisa percaya dan berpikir positif tentang pak Zan. Tapi apa yang dia lakukan sampai selarut ini. Dia selalu pulang dengan wajah lesu dan capek. Apa yang dia kerjakan di luar sana?.


Angin sepoi di malam yang dingin menembus pori-pori kulitku. Menghirup udara malam yang menyejukkan membuatku sedikit tenang. Menatap sang bulan yang tersenyum simpul.


"Sayang? belum tidur? " pak Zan membuka pintu kamar mengagetkan ku.


Aku hanya meliriknya. Kembali pada aktivitas ku memandangi bulan di balik jendela.


"Sudah malam nanti masuk angin" pak Zan memelukku dari belakang. Melingkarkan kedua tangannya ke pinggangku. Aku segera menutup jendela.


"Sudah sholat? " tanyaku saat aku melepaskan pelukannya dan duduk di kursi meja riasku.Ya sehabis ashar tadi dia pergi tanpa memberitahukan akan kemana hingga selarut ini.


"Sudah... kamu sudah makan? kakak bawakan nasi goreng babat kesukaanmu"


"Aku sudah kenyang. Kalau kakak lapar aku akan siapkan"


"Ok... "


"Kamu nggak makan? "


"Nggak"


Aku masih terdiam membisu segera pamit dari hadapan pak Zan dengan beralasan sudah mengantuk.Aku segera membaringkan tubuhku di atas ranjang memasang headset. Mendengarkan lagu dari ponsel ku. Republik Sandiwara Cinta.


Aku tahu ini semua tak adil


Aku tahu ini sudah terjadi


Mau bilang apa aku pun tak sanggup


Air matamu tak lagi mau menetes


Alasannya sering kali kudengar


Alasannya sering kali kau ucap


Kau dengannya seakan 'ku tak tahu


Sandiwara apa yang telah kau lakukan

__ADS_1


Kepadaku


Jujurlah sayang aku tak mengapa


Biar semua jelas tak berbeda


Jika nanti aku yang harus pergi


Kuterima walau sakit hati


Mungkin ini jalan yang engkau mau


Mungkin ini jalan yang kau inginkan


Kau dengannya seakan 'ku tak tahu


Sandiwara apa?


Ceritanya apa?


Aku tahu ...


Jujurlah sayang aku tak mengapa


Biar semua jelas tak berbeda


Jika nanti aku yang harus pergi


Ku terima walau sakit hati


Jujurlah sayang aku tak mengapa


Biar semua jelas tak berbeda


Jika nanti aku yang harus pergi


Kuterima walau sakit hati


Ku pejamkan mata ini meresapi setiap lirik dari lagu itu. Tak terasa air mataku menetes mewakili hati yang kecewa.


Aku takut kak, takut dengan semua prasangka ini. Pikiran yang tidak pasti menghantui hatiku. Aku mohon jangan biarkan aku berlarut dalam ketidakpastian ini. Aku lelah kak...


Sementara itu pak Zan di meja makan tersenyum bangga.


"Tahan sebentar lagi Tan, sampai waktu yang tepat kebahagiaan itu akan ku persembahkan untukmu".

__ADS_1


__ADS_2