
...Aku mencintaimu dengan sederhana, bukan karena kamu sudah menjadi orang baik dan sempurna, tapi aku mencintaimu agar kita bisa melangkah bersama, menjadikan aku istimewa dengan segala urusanmu...
...🌺Selamat Membaca🌺...
Kami sudah duduk di atas motor, tidak tahu pak Ardi akan membawaku ke mana kali ini. Dia orang yang banyak kejutan.
Aku memakai rok sepan selututku, pak Ardi memintaku untuk duduk menyamping saja. Ya aku memang juga akan nyaman dengan posisi ini.
Tanganku tidak berani berpegangan pada pinggang pak Ardi, hanya jaket warna biru tua yang sedikit longgar milik pak Ardi yang aku pegang dengan kuat,
"Kalau kamu takut bisa pegangan, Na! Kita sudah sah loh jadi suami istri, bukan hal dosa jika kamu memegang aku." ucap pak Ardi terdengar jelas karena pak Ardi tidak pernah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Sepertinya pak Ardi menyadari kalau aku cukup ketakutan, pengen rasanya duduk menghadap depan saja dari pada begini, tapi rok ku jelas tidak memungkinkan.
"Nggak pa pa pak, ini juga sudah cukup!"
"Aku suamimu jadi tidak masalah kalau kamu mau memegangku! kalau pria lain, jangan!" pak Ardi seperti sengaja mempertegas ucapannya.
Apa iya, aku tidak tahu kalau seorang wanita ada larangan memegang pria yang bukan suaminya. Seingatku hanya pas setelah wudhu saja kalau mau sholat, begini banget aku. Agamaku benar-benar nol deh kayaknya.
Hehh, selama ini kemana aja aku .....
Sebenarnya aku sih nggak masalah kalau pegang tangan pria, karena selama ini menurutku wajah saja. Aku juga sering berpegangan tangan atau saling canda dengan teman sekelas, walaupun memang sangat langka. Tahu sendiri kan, aku tidak punya waktu senggang untuk sekedar bercanda atau hang out dengan teman-teman.
"Memang kenapa pak kalau aku pegang pria lain? Ayah dan kakak aku juga nggak boleh?"
"Boleh!"
Jadi aku boleh dong pagan pria lain selain suamiku, pak Ardi ini ada-ada saja.
"Tapi hanya mereka dan aku saja, lainnya tidak boleh!"
"Kenapa?"
"Bukan muhrim!"
Bukan muhrim?
Apalagi itu, kalau kayak gini rasanya aku yang terlalu bodoh. Atau memang kata-kata itu memang tidak di gunakan dalam kehidupan sehari-hari?
Tanpa terasa motor kami berhenti, aku sampai tidak menyadari kalau sudah sampai di lampu merah. Masih ada 57 detik lagi untuk berubah menjadi hijau. Kami tidak melanjutkan pembicaraan kami, kalaupun di lanjutkan aku akan semakin tidak mengerti. Lagi pula pelajaran sudah berakhir dua jam lalu, aku dan pak Ardi bukan lagi guru dan murid kalau di luar sekolah, itu kata pak Reihan.
Ku edarkan pandanganku ke beberapa motor yang ada di samping kanan dan kiri kami. Ada yang juga memakai seragam sepertiku, ada juga yang memakai baju Koko dan sarung. Sepertinya baru selesai sholat Jum'at seperti pak Ardi tentunya. Bermacam-macam orang dengan jenis pekerjaan dan aktifitas yang berbeda, rasanya sudah begitu lama aku tidak jalan-jalan. Biasanya saat ayah pulang dari luar kota, ayah akan mengajak kami semua. Maksudku aku, ibu, Rara dan Riri, kami menghabiskan waktu akhir pekan di taman sambil menikmati semangkuk mie ayam. Dan aku akan sangat senang saat Rara dan Riri tidak memakan sayurnya, aku akan memakan sayur mereka.
Ahhhh, jadi merindukan moment itu ....
Hingga akhirnya aku terpaku saat melihat sebuah mobil yang posisinya tepat di samping kanan motor pak Ardi, aku pernah melihat mobil itu. Kaca mobil itu perlahan bergerak turun dan memperlihatkan siapa yang sedang duduk di dalam mobil itu.
Mila ....
Ekspresi yang sama ditunjukkan dari Mila, sepertinya dia juga terkejut melihat aku bersama pak Ardi. Dengan cepat aku memalingkan wajahku agar Mila tidak semakin mengenaliku. Untung dudukku membelakangi mobil Mila.
"Ada apa Na?"
Pak Ardi sepertinya juga menyadari jika aku sedang berusaha untuk menyembunyikan diri dengan menundukkan kepalaku.
"Pak ada Mila di mobil itu!" bisikku dan pak Ardi menoleh pada mobil yang berada di sampingnya dan benar itu Mila.
"Pak Ardi! Zanna!"
Itu suara Mila memanggil kami, dia benar-benar mengenali kami, dan aku tidak bisa menyembunyikan diriku lagi. Ku tegakkan kepalaku kembali dan menoleh pada Mila. Seperti biasa hanya senyum yang dapat mewakili jawabanku.
Hijau
Akhirnya yang aku tunggu benar-benar datang tepat waktu. Pak Ardi mulai melajukan motornya meninggalkan mobil papa Mila yang masih terdiam di tempatnya karena menunggu mobil di depannya berjalan.
Hehhh,
Setidaknya kali ini aku ingin bernafas lega dulu, untuk alasannya di pikirkan besok saja saat bertemu dengannya.
__ADS_1
"Maaf ya Na, tadi aku tidak tahu kalau ada Mila!"
Hahhhh Pak Ardi meminta maaf padaku?, bukan salah pak Ardi juga sih. Tapi seandainya pak Ardi tidak mengajakku pergi, kami tidak akan bertemu Mila dua kali.
"Iya pak!"
Tiba-tiba pak Ardi membelokkan motornya saat sampai di depan sebuah masjid yang cukup besar yang ada di pusat kota.
Kenapa ke sini?
Pak Ardi memarkirkan motornya di parkiran masjid yang terlihat sepi. Hanya beberapa orang saja yang sepertinya sedang beristirahat di teras masjid sebelum melanjutkan pekerjaannya kembali.
Aku pun turun dari motor tanpa menunggu aba-aba dari pak Ardi dan melepaskan helm yang melekat di kepalaku, sedikit susah atau mungkin karena aku tidak terbiasa memakai helm.
"Bisa?" tanya pak Ardi yang menyadari jika aku kesulitan untuk membukanya.
Karena tidak mendapatkan jawaban dariku, pak Ardi pun segera melepas helm miliknya dan mendekat padaku, dia segera melepas pengait helmku dengan begitu lembut.
Deg
Jantungku merinding disko saat mata kami saling bertemu, matanya itu begitu bening dan segar. Ahhh dimana lagi aku bisa melihat mata hazel seperti milik pak Ardi.
"Sudah!" ucapnya saat berhasil melepaskan pengaitnya, aku tersadar ternyata sedari tadi aku sudah terpukau dengan mata indah pak Ardi.
Aku segera menggeser tubuhku agar pak Ardi tidak menyadari kalau aku sedang terpukau dan ku lepas sendiri helm itu dari kepalaku.
"Aku tunggu di sini ya!" ucap pak Ardi lagi membuatku dengan cepat berbalik dan menatapnya,
Maksudnya apa?
"Kamu masuk sendiri berani kan?" tanya pak Ardi lagi, mungkin karena melihat wajah terkejutku.
"Aku ngapain masuk pak? Pak Ardi mau menitipkan Zanna di masjid? Zanna bukan anak ilang pak." protesku.
Dan pak Ardi malah tertawa, tapi dengan cepat ia menutup mulutnya saat menyadari mulutnya terbuka.
"Maksud bapak?"
"Bukankah kamu belum sholat dhuhur?"
Ahhhh, astaga .....
Aku lupa kalau kali ini ada yang selalu ngingetin aku buat sholat, bahkan aku jadwal sholat saja tidak tahu.
"Pak Ardi nggak sholat dhuhur juga?" tanyaku untuk mengobati rasa maluku.
Bukannya menjawab, pak Ardi malah kembali tersenyum dan mengusap kepalaku.
"Aku salah ya pak bertanyanya?"
"Bukan salah, mungkin belum tahu saja!"
"Apa?"
"Bagi laki-laki, sholat Jum'at sudah bisa menggantikan sholat dhuhur di hari Jum'at! Jadi nggak perlu sholat dhuhur lagi!"
"Ohh!"
Mulutku membulat sempurna, ahhh bodoh sekali aku, hal seperti itu saja aku tidak tahu.
"Baiklah, aku masuk dulu ya pak!"
Walaupun aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan nanti, setidaknya menyetujui perintah pak Ardi lebih baik dari pada mendebatnya.
Setelah melepas sepatuku, aku segera berjalan ke sebelah kiri masjid mencari tempat wudhu. Mengambil wudhu dan lanjut masuk ke dalam mengambil mukena yang di sediakan oleh masjid.
Ahhh, aku lupa lagi ....
Sedikit ragu memakai mukenaku, aku sedang memutar memoriku tentang pelajaran agama. Aku lupa jumlah rakaat yang pada sholat dhuhur.
__ADS_1
Beberapa kali ku pukul kepalaku, ada orang sebenarnya di dalam masjid, wanita itu sedang bermain ponsel tapi nggak mungkin kan aku bertanya padanya, kelihatan banget bengalnya aku.
Dua, tiga dan empat seingatku jumlah rakaat dalam sholat, nah masalahnya dhuhur itu bagian yang mana. Ku lihat dari kaca yang transparan, pak Ardi sedang sibuk berbicara di telpon.
Hehhh,
Aku benar-benar putus asa, hampir saja kembali ku lepas mukena yang sudah 75% selesai, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah gambar yang terpajang di dinding ruangan sebelah masjid. Di sana hanya bersekat dinding kaca yang transparan di satu sisinya. Di ruangan itu ada beberapa meja kecil dan juga papan tulis di ujung ruangan dengan begitu banyak buku tertumpuk di salah satu meja. Sepertinya itu ruangan yang biasa di gunakan oleh anak-anak untuk mengaji.
Di gambar itu, itu adalah gambar tata cara sholat di bagian pojok kanan gambar itu ada tulisan jumlah rakaat dalam sholat dan dhuhur berada di urutan ke dua dengan jumlah 4 rakaat.
Hahhh dia penyelamatku ....
Bibir ini tiba-tiba terulum senyum, seakan mendapat pencerahan di tengah gelapnya malam. Segera ku selesaikan memakai mukena dan ku laksanakan sholat dhuhur.
Aku hanya bisa membaca surat alfatihah, Karena memang itu yang paling aku hafal selebihnya hanya Allah yang tahu apa yang aku baca.
Ku selesaikan sholatku, aku merasakan hal yang berbeda dari dalam hati, sesuatu yang tenang menjalar di sana. Ketenangan yang tidak pernah aku dapatkan.
Apa ini yang di katakan keampuhan sholat ...?
Rasanya sejuk sekali berada di dalam masjid, aku seperti melupakan sejenak segala masalahku.
Setelah ku lipat kembali mukena yang aku pakai, aku pun memutuskan untuk keluar tapi langkahku terhenti saat melihat pak Ardi sedang duduk di teras, dia langsung tersenyum padaku saat melihatku.
"Lama ya pak?"
"Enggak, aku sengaja saja nunggu kamu di sini, lebih nyaman!"
Sebenarnya aku heran dengan pria di depanku ini, banyak sekali pilihan selain menikah denganku, tapi dia memilih untuk menikah denganku. Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku? Aku bukan wanita cantik, aku juga tidak pintar, kaya juga tidak. Sedangkan dia punya segalanya yang di inginkan oleh banyak wanita.
Aku pun ikut duduk di depan pak Ardi dengan melipat kakiku, sedikit ribet dengan rok yang aku pakai, rok ini sebenarnya sedikit sempit dan kependekan. Tepatnya memang sengaja aku buat pendek biar enak kalah sedang mengayuh sepeda.
Sepertinya pak Ardi menyadarinya dan dia pun mengambil jaket yang ia letakkan di sampingnya dan menutup rokku dengan jaketnya hingga menutupi seluruh kakiku.
"Begini lebih baik." ucapnya sambil tersenyum. Ahhh jadi malu, gara-gara rok kependekan ini aku sering mendapat peringatan dari sekolah.
"Terimakasih ya pak!"
"Akan lebih baik jika rok yang kamu kenakan sedikit lebih panjang!"
Inginnya juga seperti itu, tapi panjang dari mana. Untuk membeli seragam baru saja aku tidak punya uang. Kan memang dulunya terlanjur beli yang pendek.
Aku memilih untuk tidak menanggapi ucapan pak Ardi, aku diam dan ingin mengutarakan pertanyaanku pada pak Ardi tentang sesuatu yang sangat penting.
"Pak Ardi, aku tidak tahu apa alasan bapak menikah denganku, tapi bisakah bapak memberiku satu alasan agar aku percaya sama bapak?"
Pak Ardi tersenyum dan menatapku, "Bukan hanya satu tapi dua alasan! Bukan aku tapi Allah!"
"Maksudnya?"
"Allah itu mempertemukan kita bukan tanpa sebab, yang pertama aku di hadirkan Allah dalam hidup kamu, mungkin bisa jadi aku sebab hidayah untukmu, yang ke dua Allah memintaku untuk bersabar agar aku punya tiket surgaNya bersamamu!"
Ihhhh, dari semua ucapan pak Ardi, aku jadi merasa sangat bengal dan nggak tahu aturan saja.
Walaupun ingin protes, tapi ada yang lebih penting dari protesku ini.
Ayah ....
"Lagi pak. Bukankah kemarin pak Ardi berjanji akan memberitahukan Zanna tentang ayah Zanna? Sekarang beritahu Zanna dimana ayah?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1