My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
58. Menemui Luna


__ADS_3

"Zanna, ada yang baru datang?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Zanna mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah. Ia melihat pak Ardi yang sudah kembali dengan membawa satu kantong pasti makanan di tangannya,


Bukanya langsung menjawab pertanyaan sang suami, Zanna memilih mengedarkan pandangannya,


"Zanna nggak dengan suara motor bapak?"


"Hmmm?" pak Ardi malah mendekatkan telinganya ke arah Zanna, memastikan sesuatu membuat Zanna sedikit mencondongkan tubuhnya ke belakang.


"Maksud Zanna, Zanna nggak dengar suara motor mas Ardi." segera Zanna meralat ucapanya setelah menyadari sesuatu.


"Ban motornya bocor kena paku, jadi mas jalan kaki."


"Ohhh," segera Zanna mengangukkan kepalanya mengerti.


"Ada yang baru datang?" tanya pak Ardi lagi membuat Zanna ingat dengan kedatangan Maya.


"Masuk dulu mas, kita bicara di dalam." ucap Zanna dan pak Ardi pun mengangukkan kepalanya.


Baru beberapa langkah hendak masuk, tiba-tiba Ardi menahan tubuh Zanna,


"Tunggu biar mas bantu," dengan cepat Ardi meletakkan kantong plastiknya dan meraih pinggang Zanna membantunya berjalan masuk ke dalam,


"Masih sakit banget ya?" tanyanya setelah membantu Zanna duduk di sofa.


"Sedikit mas, bentar lagi juga baikan."


"Bentar ya, mas ambil dulu makanannya." ucap Ardi dan segera berlalu meninggalkan Zanna,


Zanna kembali menatap secarik kertas di tangannya.


"Apa ini salahku?" gumamnya pelan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Luna menyalahkannya dengan keadaannya saat ini. Luna adalah anak yang pintar, ia juga berprestasi dalam berbagai bidang, jika benar karena pernikahannya membuat Luna depresi, Zanna akan merasa sangat bersalah.


Tidak berapa lama Ardi kembali dan mengambil dua piring untuk mereka berdua, dia bungkus nasi pecel sudah berpindah ke dalam piring.


"Mau mas suapi?"


"Enggak ah, Zanna makan sendiri aja." ucapnya sambil mulai menyantap nasi pecelnya.


"Berdoa dulu sayang," Ardi segera memperingatkan istri kecilnya itu.

__ADS_1


"Sudah tadi,"


"Kapan?"


"Dalam hati,"


Ardi segera mencubit pipi Zanna gemas,


"Baiklah ams percaya," ucapnya sambil mulai memakan miliknya sendiri.


Sesekali mereka saling bercanda hingga makanan mereka habis,


"Biar mas buang dulu ya bungkusnya sekalian bawa piring kotornya ke dapur."


"Biar Zanna aja," ucap Zanna sambil menahan piringnya.


Tapi Ardi segera memiringkan kepalanya sambil tersenyum menggoda,


"Yakin bisa jalan dengan mudah?"


Zanna menelan Salivanya dengan susah payah saat membayangkan betapa nyerinya ketika berjalan,


"Baiklah, biar besok Zanna ya mas, sekarang mas dulu nggak pa pa deh."


"Apaan sih, mas! Awas ya kalau besok gini lagi." ancam Zanna, "Ehhh tapi bagus juga sih, jadi bolos tiap hari."


"Bisa aja," ucap Ardi sambil mengusap puncak kepala Zanna kemudian mengambil piring kotornya.


***


"Mas," panggil Zanna dengan tahu saat suaminya itu tengah mengganti pakaiannya. Meskipun berpakaian rapi tapi Zanna tahu suaminya itu tidak akan pergi ke sekolah karena ia sudah mengundurkan diri kemarin.


"Iya?" tanya Ardi sambil kembali menoleh ke arah Zanna yang tengah duduk di tepi tempat tidur.


"Sibuk ya?"


"Nggak juga, ada apa?"


"Bisa nggak kalau kita ke alamat ini?" tanya Zanna sambil menyodorkan secarik kertas yang berisi alamat itu.


"Ini alamat siapa?"

__ADS_1


Kalau aku bilang jujur, kira-kira mas Ardi mau nganter nggak ya? Atau mending nggak usah aja ya. Batin Zanna sambil menggelengkan kepalanya,


"Nanti aja Zanna kasih tahu mas. Mau ya? Tapi kalau mas Ardi nggak sibuk sih."


"Enggak kok, pekerjaan hari ini bisa di lakukan besok. Suamimu ini akan mengantarmu kemanapun kamu mau, mengerti sayang!?" ucap Ardi sambil mencolek dagu Zanna lembut.


"Ya sudah, mas akan siapkan mobil. Kamu siap-siap ya."


"Iya mas, terimakasih ya."


"Terimakasih nya nanti malam aja ya," ucap Ardi ambil berlalu meninggalkan sang istri, seketika pipi Zanna memerah membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam. Bayangan apa yang mereka lakukan tadi malam tiba-tiba bermunculan membuat Zanna menggelengkan kepalanya sil menutup wajahnya malu.


"Ihhhh, jangan ngeres Zanna. Siapa tahu pak Ardi ngaji maksud kayak gitu," gumam zanna sambil menakup kedua pipinya yang terasa panas.


***


"Ini benar rumahnya pak?" tanya Zanna saat mobil sudah berhenti di depan sebuah rumah yang tidak lebih besar dari rumah yang ia tinggali saat ini bersama Ardi.


Jadi papa Luna benar-benar bangkit ya, kasihan sekali dia, pasti dia sangat menderita ..., batin Zanna merasa iba. Masih teringat dengan jelas di benaknya jika Luna begitu loyal, ia terlihat paling kaya di kelasnya dengan semua barang-barang yang ia kenakan adalah barang-barang mahal.


"Iya kalau berdasarkan alamat yang kamu tunjukin. Sebenarnya ini rumah siapa sih?"


Zanna pun menoleh pada sang suami,


"Luna,"


Seketika ekspresi wajah Ardi berubah, yang awalnya begitu hangat tiba-tiba menjadi begitu dingin dan memilih mengalihkan tatapannya dari Zanna.


"Maaf ya mas, Zanna nggak maksud bohong. Kalau Zanna katakan satu awal, Zanna khawatir mas Ardi ngaji akan mau antar Zanna."


"Kamu sudah tahu jawabannya, Zanna."


"Tapi mas, Luna teman Zanna. Kata mbak Maya, Luna sedang depresi. Kalau terjadi apa-apa sama Luna, Zanna tidak bisa jika tidak menyalahkan diri sendiri. Zanna harap mas Ardi bisa mengerti posisi Zanna,"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2