
...Semua orang punya jalan hidupnya masing-masing, tapi pernah nggak kita bertanya pada diri sendiri, mau di bawa ke mana hidup kita ini? Sudahkan sesuai dengan yang kita inginkan? Atau malah kita berjalan di jalan yang berlawanan dengan tujuan kita?...
...🌺Selamat membaca🌺...
Di tengah gelapnya pagi ini, aku berjalan bukan lagi mengayuh sepeda. Kali ini pak Ardi berjalan bersamaku, rasanya aneh sekali berjalan dengan seseorang yang sebelumnya bukan siapa-siapaku dan kini menjadi suamiku.
"Pak, aku mampir ke rumah ibu dulu ya." ucapku membuat langkah pak Ardi terhenti.
Kami memang berjalan bersama, ke tempat yang sama, tapi tujuan kita berbeda.
"Bisakah kita punya tujuan yang sama?"
Pertanyaan pak Ardi menyadarkanku, dia seperti mengerti dengan jalan pikiranku saja. Segera ku menoleh sedikit mendongak, jelas pak Reihan lebih tinggi dariku. Aku bukan pendek, mungkin memang aku masih dalam masa pertumbuhan.
Hahhhh, masa pertumbuhan yang sudah punya suami .....
Miris sekali nasibku kali ini, menyedihkan. Kenapa bisa terjebak di situasai seperti ini? Ingin rasanya aku pergi saja dan melupakan semua, Aku ingin bebas seperti teman-teman yang lainnya.
Teman?
Sejak kapan aku punya teman, bahkan anak-anak yang satu kelas dengan tidak ada yang mau berteman denganku.
"Maksud bapak apa? Aku kan hanya ingin ke rumah ibu." protesku, walaupun aku tahu maksudnya.
"Bisa tidak mulai sekarang kita berada di tujuan yang sama?"
Lagi-lagi pertanyaan yang sama dari pak Ardi, aku bukan anak yang pintar yang bisa dengan mudah menjawab pertanyaan itu.
"Ada nilai nya nggak pak pertanyaan itu?" pertanyaan pak Ardi aku jawab dengan candaan. Aku paling tidak suka di suasana seperti ini.
Pak Ardi tersenyum, di balik senyumnya itu yang aku tidak tahu.
"Tadi ibu sudah mengatakan kalau hari ini tidak masak jadi kita bisa langsung ke masjid saja."
"Trus aku ngapain dong ke masjid?"
Percakapan yang memang di mulai oleh pak Ardi juga segera di akhirnya oleh pak Ardi saat azan sudah mulai berkumandang.
"Sudah azan, kita lanjut nanti ya! Aku berharap kamu ikut denganku ke masjid!"
Lagi-lagi aku tidak bisa menjawab, aku harus menjawab apa? Aku bingung harus melakukan apa nanti di masjid? Aku biasanya pergi ke masjid hanya satu tahun sekali pas sholat idul Fitri dan selebihnya tidak. Hari ini juga tidak ada dagangan, trus ngimana?
Senjata terakhir ku hanya tersenyum, mau bantah apa? Mungkin bagi pandangan orang aku yang salah tapi mereka tidak menyalahkan orang tuaku, aku tidak tahu tentang agama juga bukan salahku kan? Mereka yang tidak memperkenalkanku tentang itu.
"Bapak duluan saja!" ucapku yang paling ampuh.
Pak Ardi bukannya berjalan dia malah menatapku lagi,
"Bagaimana kalau kegiatan solat pagi ini aku masukkan nilai? Kamu akan menadap nilai spiritual B kalau melaksanakan sholat subuh!"
Nilai?
Tanpa aku perlu bersusah-susah, hanya mengikuti mereka yang sholat subuh dan aku dapat nilai B. Itu penawaran yang menarik.
"Baiklah, aku mau! Hanya sholat kan?"
"Hmmm!"
Aku dengan cepat meninggalkan pak Ardi, berjalan masuk ke dalam masjid dan melakukan seperti yang orang lain lakukan. Berwudhu, walaupun aku tidak tahu bacaannya setidaknya aku tahu urutannya, di sekolah dulu pas SD ada pelajaran dasar gerakan berwudhu. Kalau sudah SMA begini, kata guru agama sudah tanggung jawab masing-masing, mau ikut ke surga ayok, mau ke neraka Monggo.
Aku sih tergantung enaknya bagaimana saja, asal bisa tetap menghasilkan uang buat makan, ya aku jalani.
__ADS_1
Saat orang yang tadi mengumandangkan azan sekarang berganti dengan iqomah, aku pun mempercepat langkahku mengambil mukena yang memang sudah di sediakan oleh masjid. Aku mengambil tempat paling belakang, selain karena aku takut salah juga biar nanti saat iman salam aku bisa langsung lari dan menuju ke tempat daganganku.
Seingatku saat sholat subuh ada gerakan khusus, tapi aku lupa tepatnya di mana. Dari pada malu salah gerakan mending berada di barisan paling belakang terus ngikutnya belakangan.
Kini semua sudah berdiri di barisannya masing-masing, saat semua merapat aku memilih berdiam di tempatku sampai semuanya maju baru aku ikut di barisan yang kosong.
Walaupun hanya gerakan aku mengikutinya dengan hikmat, sedikit ku ikuti bacaan yang di depan.
Alfatihah,
Hanya itu bacaan sholat yang aku ingat. Setidaknya bacaan itu memang tidak begitu asing. Walaupun aku tidak pernah sholat tapi aku tahu surat pertama yang di baca iman adalah surat Al Fatihah.
Hingga akhir aku lulus dengan baik mengikuti gerakan mereka, saat semua sedang mengikuti doa yang di pimpin iman, perlahan aku mundur dengan hormat dan melepas mukena milik masjid,
Langkah yang tadinya sedikit lambat karena tidak ingin menggangu jamaah lain, akhirnya aku percepat saat sudah berada di halaman masjid, benar saja tidak ada dagangan di depan masjid. Sepertinya ini memang ulah pak Ardi.
***
Ini hari ke dua,
Kali ini aku tidak mau kalah dengan aturan pak Ardi.
Aku juga ikut sholat jamaah tapi aku tetap berjualan. Aku ngambil masakan ibu sedari malam sebelum tidur.
Setalah selesai sholat aku segara keluar dari masjid dan mulai menata daganganku.
Tepat saat sudah siap, satu per satu jama'ah keluar dari masjid, saatnya untuk berjualan.
Beberapa ibu-ibu langsung menyerbu daganganku, beginilah enaknya kalau punya rumah dekat dengan pemukiman yang kebanyakan ibu-ibu nya pekerja, mereka pasti tidak sempat untuk masak dan lebih memilih untuk membeli sayur jadi.
Aku begitu sibuk melayani para pembeli yang berkerumun hingga aku tidak menyadari sedari tadi ada yang mengulurkan kantong plastik di sampingku.
Pak Ardi?
"Oh ini ya suaminya nak Zanna? Ganteng loh!"
Aku hanya tersenyum setiap kali ada yang memuji pak Ardi. Memang siapa yang meragukan ketampanannya tapi dia guruku.
Sebagian kecil mereka yang tahu mungkin langsung memberitahu orang di sekitarnya makanya beritanya langsung nyebar. Beruntung jarak sekolahku dengan rumah cukup jauh, jadi aku masih bisa menyembunyikan pernikahan ini.
"Ahhhhh, habis juga akhirnya!" Gumamku sambil meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku.
"Walaupun di tinggal sholat masih keburu kan? Malah daganganmu habis sebelum jam enam!"
Ucapan pak Ardi benar juga, biasanya sebelum para pembeli datang aku hanya sibuk duduk dan menghitung para jama'ah yang masuk masjid tapi hari ini aku yang melengkapi hitungannya. Bahkan aku sangat hafal, jika hari biasa atau bukan hari libur jamaah di masjid sekitar tiga puluh sembilan, tapi kalau hari libur bisa sampai lima puluh karena ada pengajian. Karena hari ini aku ikut robongan mereka mungkin jumlahnya empat puluh.
Daganganku juga habis, ini sebuah keberuntungan.
"Tapi bapak nggak lupa kan?"
"Apa?"
Sambil mengobrol aku pun merapikan meja kembali yang sudah tidak ada sayur satu bungkus pun.
"Janji bapak yang akan memberikan nilai B pada nilai spiritual ku, jadi aku akan sholat sebelum berdagang!"
Lagi-lagi pak Ardi tersenyum, dia suka sekali tersenyum. Bukan senyuman yang aku inginkan tapi jawabannya.
"Aku tidak berbohong, tapi kamu nggak rugi sholatnya tadi cuma dapat nilai B?"
"Ya kalau bapak mau ngasih nilai A aku tambah seneng!"
__ADS_1
"Cuma itu, nggak ingin yang lebih?"
Aku semakin bingung dengan pertanyaan pak Ardi, bukankah nilai tertinggi itu cuma nilai A, memang ada nilai A plus?
"Maksud bapak apa sih?"
"Allah sayang banget loh sama kamu, nggak pengen peluk Allah biar dapat surganya?"
"Pak Ardi doakan aku agar cepat mati? Agar cepat jadi duda? Kalau nggak suka sama pernikahannya ya nggak usah pakek doain yang begituan , bikin takut aja!" keluhku.
Bukannya marah pak Ardi lagi-lagi malah tersenyum.
Issttttt, benar-benar pria yang aneh. Aku kembali mendorong meja itu ke dalam dan memanggil ibu pemilik sayur. Memberikan uang hasil hari ini dan ibu itu akan memberikan upahnya untukku.
Saat aku kembali, pak Ardi masih menungguku.
"Ngapain pak Ardi masih nunggu?"
"Ya karena aku suamimu, aku yang harus memastikan kamu selamat sampai rumah!"
Aku pun berjalan mendahului pak Ardi dengan langkah kaki cepat, tapi jelas pak Ardi bisa mengimbangi langkahku karena kakinya jauh lebih panjang.
"Mau tahu nggak maksud pertanyaanku?"
"Nggak!" jawabku singkat.
"Yakin nggak penasaran?"
"Nggak!"
"Kemarin aja ngeluh sama Tuhan, minta mati saja, kenapa sekarang jawabannya berbeda? Masak cuma gara-gara nggak bisa bayar SPP aja nangis-nangis mau mati aja," ucapnya dengan nada meledek.
Aku segera menghentikan langkahku dan menoleh pada pak Ardi. Dia mendengar semua ucapan dan keluhan ku di saat aku terpuruk kemarin.
Kalau itu memang iya, ternyata ucapan sama kenyataan jelas berbeda. Di ucapkan itu mudah tapi saat membayangkan mati itu menakutkan.
"Masih takut atau berani mati sekarang?" tanya pak Ardi sambil tersenyum.
"Menurut bapak?"
"Kamu takut mati!"
Sebenarnya itu jawaban yang tepat tapi tidak mungkin aku mengakuinya.
"Jangan sembarangan deh pak!"
"Wajar kali Na takut mati, jangankan kamu, aku saja masih takut mati! Takut banget bayangin kalau pas kita mati ternyata amal kita tidak sebanyak dosa kita, bayangin aja di neraka! Gosong ...., Gosong aja deh!"
Kenapa kata-kata pak Ardi semakin membuatku takut saja. Dia benar-benar berhasil kalau mau menakut-nakutiku.
"Pak bisa nggak bicaranya jangan yang kayak gitu?"
"Ya gimana lagi, aku cuma mau kita berada di tujuan yang sama saja!"
"Di mana?"
"Di surga! Di tempatnya orang-orang yang di Sayang sama Allah!"
Memang aku pantas mendapat predikat sebagai makhluk yang sayang sama Allah, aku terlalu jauh jadi jauh juga kemungkinannya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya, Follow ig aku ya
IG @tri.ani5249