My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
SEBUAH FAKTA


__ADS_3

Usai sholat dzuhur pak Zan menagih ceritaku. Dia penasaran sekali. Aku segera melepas mukena dan melipatnya lagi merapihkan pada tempat nya. Sungguh sangat teliti sekali pak Zan ini semua kebutuhan rumah ini sudah terpenuhi dan komplit. Pak Zan langsung menagih ceritaku.


"Sayang? ayo dong"


"Bentar ah...,eh sayang berarti besuk kalau masuk nempatin ini rumah harus syukuran dulu nih"


"Iya sekalian syukuran kehamilan kamu"


"Oh, gitu" jawabku mengulur waktu sembari memakai jilbab lagi di depan cermin ruang tempat ibadah.


"Sayang cepetan dong... "


"Hemm" aku benar-benar takut, kenapa mamah nggak menceritakan semuanya tentang Wawa dan Tafi. Kalau begini ceritanya kan aku jadi semakin rumit untuk menjelaskan padanya.


Aku benar-benar bingung harus dari mana dulu menceritakan sebuah fakta tentang Wawa. Takut pak Zan salah mengartikan. Sedangkan aku sendiri ingin meminta satu permintaan yang berat untuknya. Mungkin jika Wawa itu bukan aku itu bukan sebuah permintaan yang berat bagi pak Zan. Tapi ini sangat beda, kenyataan ini baru aku tahu kemarin dari mamah. Dan, aku merasa bersalah dengan Tafi.


Sahabat kecilku yang selalu aku rindukan juga. Yang selama ini juga merindukanku mengharapkan lebih dari sekedar sahabat, menanti dan mencari ku. Sekarang aku datang bukan untuknya tapi untuk menjadi kakak iparnya. Setelah kenyataan ini semua terkuak Tafi yang ku kenal jahil dan usil sekarang sedikit lesu pandangannya kosong. Meski dia selalu terlihat ceria tapi dia pandai menyembunyikan rasa kecewanya di depan semua orang.


Aku berjalan ke teras depan rumah yang sudah sedikit mereda udara panasnya karena sudah hampir sore. Kendaraan lalu lalang menambah keramaian meski bukan jalan raya tapi, jalanan depan rumah ini jalan utama menuju jalan raya.


"Sayang? ada apa sebenarnya hingga kamu terlihat berat menceritakan ini semua pada kakak. "


Aku tersenyum kecut berpikir menyiapkan kata sebaik mungkin untuk menjaga perasaan pak Zan.


"Kakak....? "


"Iya? " pak Zan duduk di sebelah ku menatapku dengan harap cemas.


"Sayang? kakak janji yah jangan marah pada siapapun. Jangan menyalahkan diri kakak sendiri juga.Kakak harus bisa tenang dan sabar menghadapi segala masalah. Ini nanti bakalan membuat kakak sedikit terkejut tapi Tsania harap kakak bisa berfikir positif dan lebih tenang"


"Bismillah, iya Tsan"


"Mungkin mamah dan Tafi tidak menceritakan semuanya ke kakak karena mereka takut melukai perasaan kamu. Mereka ingin melihat kakak bahagia " aku diam sejenak menatap wajahnya yang teduh itu. Membuat aku semakin terpana dengan ketampanan nya.Rambut-rambut halus tumbuh di dagunya membuatku gemas melihat.


"Kakak rindu Wawa nggak? "


"Ya rindu lah"


"Kalau kakak ketemu dengannya apa yang kakak lakukan? "


"Ya memeluknya setelah itu mengucapkan terima kasih. Setelah itu ya...meminta padanya untuk menemui Tafi. Kasian selama ini dia kesepian merindukan nya"


"Kak? "


"Iya sayang"


"Tsania Marwa nama pemberian almarhum ayah Tsania. Dan Tsania ini paling deket dengan ayah. Hingga ayah punya panggilan kesayangan untuk Tsania yaitu Wawa. Tapi sejak ayah meninggal Tsania tidak mau lagi di panggil Wawa. Sangat menyakitkan jika mengingat kepergian ayah" ku tatap wajah pak Zan. Wajahnya datar diam tak bergeming dikit demi sedikit mengkerut kan dahinya. Tiba-tiba air matanya menetes dan aku langsung memeluknya.


"Wawa? " bisik nya dalam pelukan ku.


"Iya kak. Ini aku Wawa"


Pak Zan melepaskan pelukan ku dan memegang pundak ku.

__ADS_1


"Kamu Wawa kecilku? "


Aku mengangguk.


"Aku baru tahu kemarin dari mamah sayang"


Pak Zan memeluk ku lagi.


"Alhamdulillah terima kasih ya Allah... " pak Zan meneteskan air matanya lagi.


"Kenapa sayang? "


"Nggak apa kakak senang aja"


"Kakak nggak marah dan kecewa kan? "


"Buat apa? "


"Karena Tafi? "


"Tidak sayang cuma, kakak sedikit merasa bersalah"


"Kakak.... Tsania tahu Tsania ini adalah istri kakak dan harus menjaga harga diri kakak. Tapi, sekali saja Tsania minta permintaan dari kakak. Cuma satu kali ini saja "


"Apa? "


"Tapi kakak jangan marah dan kecewa ya? "


"Ijinkan Tsania memeluk Tafi sekali saja untuk mengucapkan rasa terima kasih dan kata maaf. Tsania ingin Tafi tidak mengharapkan Tsania lagi kak. Dia terlalu lama menahan rindunya. Tsania tidak ingin dia terluka terlalu dalam dengan sebuah fakta ini. Kalian ini keluarga Tsania nggak ingin kalian berantem gara-gara Tsania. Tsania pingin kalian rukun damai selamanya"


"Iya sayang terima kasih atas kebaikan mu. Kamu memang wanita terbaik untuk kakak. Beruntung nya kakak memiliki kamu. Wawa ku"


"Jangan panggil aku Wawa lagi kak"


"Maaf sayang... " pak Zan mengecup ujung kepalaku dan mengelus nya.


Semua sudah di atur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Kita sebagai wayang tidak pernah menyangka jika bakalan seperti ini. Tapi Allah memberikan ini semua untuk menguatkan hati kita para hamba yang lemah. Allah mengujiNya untuk menjadikan kita pribadi yang kuat, sabar dan ikhlas.


"Tsania.... maafkan kakak... " aku mendongak kan kepala ku.


"Jangan merasa bersalah lagi,jangan cengeng dan jangan membuat keputusan di luar nalar kakak lagi. Kakak nggak salah ini semua sudah kehendak Allah. Kakak harus bisa kuat dan bangkit. Jadilah mentari yang mampu menyinari semua yang ada di sekitar kakak" pak Zan menatapku dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.


"Kakak kenapa nangis lagi? kakak kecewa? "


pak Zan menggeleng.


"La terus? sakit hati? "


"Nggak Tsan... "


"Lantas? "


"Seharusnya kakak yang menyemangati kamu bukan sebaliknya"

__ADS_1


"Ya nggak masalah kan, apa salahnya coba? "


"Kakak malu masak guru di nasehati sama muridnya" ujar pak Zan mengusap air matanya.


"What? hadeh...dasar pak guru gengsian" ujar ku melepaskan pelukannya dan aku diam-diam merekam pak Zan yang masih menangis tersedu.


Aku tahu pak Zan yang selalu menjaga image nya agar terlihat cool ,keren,tegas dan bijak di mata murid-murid nya,pasti mereka tak akan percaya dengan guru favorit mereka yang cengeng ini. Hahaha... setelah selesai merekam ku unggah video pak Zan yang menangis di grup chat kelas IS.


Tak menunggu lama komen-komen berdatangan dari teman-teman.


"Heh kau apakan guru yang tampanku ini Tsan.. "


"Wuah rekor nih pak Zan bisa nangis"


"Hah? demi apa pak Zan nangis?gue jungkir balik nih "


"Pak Zan... jangan nangis ada pundak ku siap menopang mu"


Semua chat teman-teman menyerbu yang semakin menggemaskan. Mendengar ponselnya bunyi terus pak Zan membuka ponselnya dan terkejut melihat chat di grup sudah ramai. Dia melirik ku. Tatapannya tajam tapi menggelikan bagiku.


"Apa? wek... dasar cengeng" godaku padanya.


"Owh mau main-main sama pak guru yah? belum tahu kalau pak guru marah yah? " pak Zan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dan berdiri menghampiri ku.


"Mau apa kamu kak? " tanyaku panik.


"Ini di luar loh banyak orang yang melihat"


Pak Zan dengan sigap membopong ku.


"Kakak.... mau apa kamu turunin nggak kalau nggak Tsania teriak loh... " teriak ku mencari sela.


"Terserah... "


"Kakak.... turunin...!!! "


Pak Zan membawaku ke kamar utama dan mengunci pintunya setelah itu membaringkan ku di atas ranjang agak keras.


"Aduh sakit kak... " ku meringkuh memegang perutku.


"Duh kenapa sayang? maafin kakak yah? sakit yah? " pak Zan yang terlihat garang seketika melo.


"Tapi boong. Hahaha... aku terpingkal melihat sikapnya.


" Awas kamu sudah berani nakal yah sekarang "


pak Zan menggelitik ku.


"Kakak.. udah kak geli... hahaha... "


Setelah itu ya begitulah..... 🤭 jatah siang ini.


Jangan lupa saran dan kritiknya yah? author tunggu. Like, komen & vote. Terima kasih... 🙏🙏🙏😘

__ADS_1


__ADS_2