My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
PILIH KASIH


__ADS_3

"Siapa nak yang menghamili mu?" tanya ibu lembut.


"Kak Arnold bu...."


"Jawab sejujurnya Lel, nggak apa-apa kok kita akan terima kejujuran kamu..."


"Laili jujur kok mbak,emang kak Arnold yang sudah menghamili Laili..."


"Nggak mungkin..."


"Laili yang melakukan...dan Laili juga yang lebih kenal kak Arnold ketimbang mbak...jadi Laili tahu betul siapa ayah dalam kandungan Laili mbak" jawab nya tegas.


"Laili....!!! mbak lebih kenal Arnold ketimbang kamu... seorang Arnold tak akan mungkin melakukan hal sekeji itu kepada wanita. Dia lelaki baik tak mungin berani merusak martabat wanita... menyentuh mbak saja dia nggak berani...!!!" ucapku dengan lantang.


Aku kecewa atas pernyataan Laili karena aku merasa lebih mengenal Arnold ketimbang Laili. Semua memandang ke arahku terlebih Toni yang langsung keluar dari kamarnya karena mendengar aku teriak, dia tak pernah melihatku semarah ini.


"Mbak Tan... !!! jangan mentang-mentang kamu sudah jadi istri kak Irul, ljadi mbak menjadi sok kuasa ...!!! menjadi lebih kenal dengan semua murid kak Irul gitu?jangan sok kamu mbak...." jawab Laili dengan emosi.


Aku masih diam tapi hatiku lagi-lagi menjerit...


"Asal kamu tahu ya? Arnold adalah mantan pacar mbak .Mbak dan Arnold pacaran selama dua tahun jadi mbak lebih tahu Arnold ketimbang kamu...!!!"


Air mataku menetes hatiku semakin sakit saat melihat raut wajah ibu yang mengetahui rahasia yang selama ini aku sembunyikan.


Toni yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamarnya semakin syok dengan pernyataan ku.


Pak Zan memelukku, mengelus kepalaku lembut.


"Sudah sayang..."


"Mbak tahu kamu selama ini pacaran tapi mbak sengaja membiarkan kamu dengan tujuan sebagai acuan semangat belajar kamu"


"Kamu cerdas,baik ,sopan kehidupan kamu juga enak...segala kebutuhan kamu selalu di penuhi ibu...atas dasar apa kamu bisa melakukan itu...?!" semua sudah tak bisa ku tahan lagi atas perkataan Laili. Aku memang sudah punya suami dan Arnold hanyalah masa lalu tapi rasanya masih sakit jika ada yang menjelek-jelekkan Arnold.


Semua masih syok Laili ,Toni dan ibu terutama mungkin rasanya seperti petir di siang bolong mendengar tentang ini.


"Apa yang kamu bilang itu benar nduk?" tanya ibu berdiri mendekatiku.


Aku tak bisa menjawab hanya isakkan tangis yang keluar dari mulut ku.


"Iya bu,memang begitu. Arnold itu murid terbaik saya dan sekaligus pacar Tsania dulu, mereka putus karena Tsania memilih perjodohan ini" jelas pak Zan .


Ku dengar kan detak jantung nya yang masih normal tanpa ada getaran yang lebih kencang.


Meski hatiku merasa takut jika pak Zan marah dan kecewa karena aku masih membela Arnold mantan pacarku itu.


"Jadi ibu juga nggak percaya dengan kejujuran Laili?" Laili berdiri dengan raut wajah yang penuh kecewa.

__ADS_1


"Ibu emang selalu pilih kasih. Dari dulu sampai sekarang pun, ibu nggak pernah berubah selalu saja mbak Tsania yang ibu sayang,yang selalu ibu perhatikan...ibu jahat ...ibu emang gak sayang Laili..." Laili berlari meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar nya tapi belum juga sampai di kamar Laili pingsan.


Pak Zan berlari menolongnya membopong nya masuk ke dalam kamar Laili. Aku kecewa dan sangat cemburu melihat pemandangan itu, pak Zan yang sedari tadi memeluk ku dengan teganya meninggalkan kan ku demi Laili.


Aku biarkan rasa egoku menjalar di hati karena aku sudah muak dengan semua ini,aku lelah harus mengalah lagi....


Mengalah yang katanya akan membuat bahagia tapi bagiku tidak, aku mengalah demi ibu untuk meninggalkan Arnold tapi pada akhirnya aku harus menderita menyaksikan Arnold meminang sahabat ku sendiri.


Dan kini saat aku sudah pada pilihan yang tepat mengapa aku harus menyaksikan hal yang menyakitkan lagi?mengapa pasangan yang aku pilih harus lebih peduli dengan adikku???


Iya dia memang adikku tapi aku cemburu jika dia diperhatikan melebihi dari aku...


Aku egois...iya memang aku egois....karena aku punya rasa cinta yang besar untuk pak Zan... setelah semua cintaku pergi aku tak mau lagi kehilangan untuk yang ke tiga kalinya.


Setelah ibu dan Toni ikut panik menemani Laili masuk kamar aku memilih masuk kamarku sendiri. Meski terlihat jelas pak Zan sangat panik menelpon dokter Dion aku tak peduli lagi.


Rasa cemburuku sekarang lebih besar...karena rasa cinta ku juga semakin besar....meski seharusnya aku sudah tahu dan tidak kaget lagi dengan sifat pak Zan yang selalu perhatian dan care pada siapapun itu terlebih pada keluarga dan sahabat.


Saat dulu aku masih bisa menoleransi tapi sekarang sepertinya hatiku tidak bisa menoleransi untuk itu...


Selama ini aku sudah banyak mengalah,banyak menerima apapun itu yang terjadi padaku tanpa bisa banyak memilih....


Tapi pada akhirnya aku harus merasa kesedihan lagi karena merasa di acuhkan...


Aku benci.....hiks...hiks....


Bersujud lah masih ada Allah SWT yang akan memberikan semuanya padamu...Dia tak akan mengecewakan mu....mengadulah padaNya....Dia akan membantumu, menyembuhkan lukamu karena Dia yang Maha Pengasih dan Penyayang....


"Ayah...." aku beranjak dari tidurku merasakan kehadiran ayah di sisiku....


Tes....


Butiran bening menetes ke pipiku....


Aku segera mengambil air wudhu mengadu semua tentang semua yang ku rasa, tentang ketidakadilan pada hidupku....


Semoga Allah memberikan jawaban atas semua ini...


*


Di tempat lain Arnold yang semalam sengaja menginap di rumah eyang nya karena menunggu kak Angga.


Semalaman ia menunggu tapi kak Angga tak kunjung pulang juga dan akhirnya pagi ini di meja makan ia berjumpa dengan kak Angga.


Setelah sedikit basa-basi Arnold langsung bertanya pada pokok intinya.


"Kamu ingat Laili kak?cewek berkerudung yang pernah aku ajak kesini?"

__ADS_1


"Iya aku ingat emang kenapa?pacar kamu itu kan?atau pelarian kamu ?"


Arnold sedikit curiga dengan jawaban Angga yang sedikit nyolot.


"Bukan kak,dia ..."


"Alah kamu ma jangan sok mentang-mentang ganteng terus memanfaatkan anak kecil"


"Maksud kakak apa?"


"Laili adik Tsania kan?dia udah cerita semua ke kakak katanya dia hamil anak kamu.Kakak kecewa sama kamu Yan"


Arnold mengernyitkan dahinya dia semakin terpojok semua rencana yang ia susun untuk mengintrogasi kak Angga berubah total kini dia yang seakan menjadi tersangka nya.


"Kakak kok bisa tahu kalau Laili hamil?"


"Emm....kakak kan juga sering komunikasi sama dia"


"Kakak kenal?"


"Ya itu ....emm....dulu pernah kenalan pas di sini..ya kakak sebenarnya tertarik pada Laili "


"Bukannya kakak sudah punya pacar?"


"Sudah putus kok..."


"Emmm....ok-ok..." Arnold memangku dagunya dengan kedua tangannya.


"Kamu harus tanggung jawab Yan"


"Emang Laili bilang ya kak kalau aku yang mengahamili?"


"Emmm....iya dia bilang gitu...."


"Ok gue bakalan tanggung jawab tapi setelah anak itu lahir. Tentang biaya kelahiran nanti biar semua gue yang nanggung. Jika nanti hasil tes DNA anak itu beneran anak gue ,gue bakalan nikahin dia. Tapi jika anak itu bukan anak gue, gue bakalan cari itu laki sampai ke ujung dunia pun gue bakalan kejar sampai dia mau bertanggung jawab"


"Ok..."


"Kalau begitu ikut gue..."


"Kemana?"


"Ke rumah Laili...."


"Ngapain?


"Anter gue ketemu sama Laili"

__ADS_1


Kak Angga langsung bersemangat mengantar pak Zan bertemu dengan Laili.


__ADS_2