
Tok... tok...
"Mbak Tan? ini buburnya"
"Bawa masuk aja nak " jawab eyang.
Tafi masuk ke kamar dengan membawa baki yang di atasnya sudah ada dua mangkok berisi bubur dan kerupuknya.
"Ini mbak... "
Aku segera mengambil bubur dari tangan Tafi. Dan Tafi duduk di kursi.
"Di makan ya nduk? " bujuk eyang
"Iya eyang"
"Kamu nggak usah pikirin mamah yah? nanti kalau kamu sudah enakan bisa di bahas lagi dengan Irul"
"Iya eyang terima kasih"
Aku segera melahap bubur ayam itu setelah aku aduk meski hanya sedikit yang masuk di perut tak apalah yang penting perutku ada isinya.
"Taf, eyang pagi ini ada acara dengan teman-teman eyang di rumah teman eyang jadi tolong jagain mbak mu ini kalau ada apa-apa ya? "
"Iya eyang"
Eyang berlalu keluar dari kamar.
"Mbak? boleh Tafi tanya? "
"Boleh kok" jawabku yang sudah fokus dengan ponselku.
"Mbak ada masalah apa dengan mamah? kenapa mamah sekarang berubah? "
Aku menghentikan aktivitas ku dengan ponsel ku.
"Aku pastinya belum jelas juga Taf, kak Irul belum mau cerita ke aku. Tapi aku merasa gara-gara aku tidak mau mengambil kuliah AKBID mamah jadi kecewa. Mungkin kak Irul sudah cerita ke mamah dan mamah menjadi kecewa dan marah padaku. Itu hanya perkiraan ku saja sih Taf, yang jelasnya aku belum tahu kak Irul gak bilang Apa-apa " beber ku.
"Taf, Tan eyang berangkat dulu yah? " pamit eyang yang tiba-tiba masuk ke kamar dan sudah rapi memakai gamis panjang berwarna coklat tua dan setelan jilbabnya.
Aku dan Tafi bergantian untuk bersalaman dengan eyang.
"Tan, buburnya di habisin yah? biar cepat enakan badannya" eyang mengusap lembut kepalaku.
"Iya eyang makasih"
Belum ada lima menit eyang keluar dari kamarku, aku langsung lari ke kamar mandi. Memuntahkan semua isi perut meski tadi hanya terisi beberapa sendok bubur saja.
Setelah terasa enakan aku segera keluar dari kamar mandi tapi Tafi sudah tidak ada di kamarku lagi. Padahal aku ingin minta tolong untuk membuatkan ku teh anget.
Aku duduk di atas kasur dengan sempoyongan. Aroma parfum eyang membuat perutku mual entah sejak kapan aku jadi benci aroma-aroma yang sedikit menyengat.
Aku duduk bersandar di sandaran kasur. Memejamkan mata. Ada perasaan sedih dalam hatiku. Ingin rasanya saat seperti ini pak Zan memanjakan ku, mengelus lembut perutku ini.
__ADS_1
"Mbak? " Tafi masuk ke kamar lagi dengan membawa satu gelas teh hangat.
"Di minum yah mbak? ini spesial buatan Tafi sendiri. Soalnya Tafi panggil-panggil mbak Ning nggak ada mungkin lagi ke pasar"
"Iya Taf, makasih ya? "
Kenapa sih kamu selalu tahu apa yang aku inginkan. Kenapa kamu lebih peka di bandingkan kakakmu itu. Batinku.
Ku teguk dikit demi sedikit teh hangat itu yang terasa nyaman di perutku. Rasa manis yang pas membuatku semakin sumringah dengan usaha Tafi.
"Kamu kok pinter sekali buat teh Taf? "
"Halah mbak Tan itu berlebihan" pungkasnya.
Aku kembali meletakkan gelas di atas meja nakas. Teh hangat masih separuh.
"Mbak Tan udah enakan? mau duduk-duduk di taman belakang rumah? atau di balkon? "
"Nggak usah Taf, aku ingin tiduran aja perutku nggak enak rasanya"
"Ya udah aku duduk di luar ya mbak? kalau ada apa-apa panggil aja aku duduk di depan tv"
"Iya Taf"
Setelah beberapa menit aku tertidur tiba-tiba aku terbangun karena merasakan perutku yang sangat sakit sekali.
"Tafi...!!! Taf...!!! "
"Kenapa mbak? "
"Perut mbak sakit banget"
Tafi mendekati ku dengan ragu. Antara iya dan tidak. Hatinya di hantui rasa takut.
"Sakit Taf... panggil kan mamah atau papah aja Taf biar di periksa" lirih ku.
"Anu itu mbak.. papah mamah sudah berangkat kerja" jelas Tafi yang masih kebingungan.
Perlahan dia duduk di sampingku. Dan aku masih meringkuk di atas kasur.
"Maaf ya mbak? " Tafi mengelus perutku dengan perlahan. Sesaat rasa sakit itu reda.
"Di makan lagi ya mbak buburnya? " Tafi mengambil bubur di atas meja.
"Aku suapin mau mbak? "
"Nggak lah Taf, malu"
"Ngapain malu mbak orang gak ada siapa-siapa Tafi juga pergi entah kemana"
"Nggak ah aku makan sendiri aja"
Aku segera menyuap bubur itu ke mulutku. Dan Tafi dengan telaten masih mengelus perutku.
__ADS_1
"Makasih ya Taf kamu sudah baik banget sama mbak. Mbak jadi kangen sama Toni adik mbak"
Tafi hanya membalas dengan senyuman.
"Maaf ya mbak? " Tafi mengusap sisa bubur di ujung bibirku.
"Ah kamu itu Taf jadi baper kan mbak" godaku untuk menghilangkan rasa grogi ku.
Tiba-tiba Tafi mengelus rambutku dan wajahnya semakin mendekat dengan wajahku, hembusan nafasnya yang wangi mint sudah tidak berjarak lagi. Saat ia hendak mencium bibirku aku tersentak.
"Tafi...!!! " mangkok yang ada di tanganku tumpah di atas pangkuan ku.
"Astagfirullah... maaf... maaf mbak... " Tafi berlari dari kamarku dan aku masih bingung dengan tingkah Tafi.
Aku segera ke kamar mandi membersihkan tumpahan bubur itu.
"Apa yang akan Tafi lakukan coba? aneh-aneh aja" oceh ku.
Setelah berganti dengan daster panjang aku segera keluar dari kamar membawa mangkok dan gelas tadi.
Aku meletakkan mangkok dan gelas ku di dapur dan sekalian mencuci nya karena kesempatan ku mumpung mbak Ning gak ada kalau ada kan aku gak boleh nyuci piring.
"Mbak Tsania? " mbak Ning tiba dengan membawa satu tas sayuran dan lain-lain nya.
Aku tersenyum.
"Kenapa di cuci sendiri sih mbak mangkoknya? "
"Nggak apa mbak sekalian aja. Eh mbak ini kok sepi pada kemana yah? biasanya kalau pagi gini bapak ibuk berangkat kerja. Kalau mas Kafi udah fokus di kamar main game kalau mas Tafi sering ikut kalau nggak bapak ya ibu tapi pagi ini entah kemana kurang tahu mbak"
"Oh iya mbak makasih ya? "
"Iya mbak sama-sama"
Aku kembali ke taman belakang hingga bosen tak ada yang di lakukan kembali ke kamar lagi.
Sore hari.
Hingga sore hari suasana rumah masih sepi aku masih di kamar hanya sesekali melihat keadaan rumah dan kembali lagi ke kamar. Pak Zan entah kemana nggak ada kabar sama sekali aku chat juga gak di balas.
Tafi sejak kejadian tadi pagi menghilang entah kemana.
Tok... Tok...
"Masuk nggak di kunci"
Duh baru aja aku mau telpon udah datang aja kamu kak. Batinku.
"Tan? " mamah masuk dengan wajah senyum berseri-seri. Dan aku hanya bisa melongo dengan tatapan heran.Apa yang sedang terjadi? entahlah...
Mamah duduk di sebelah ku. Memelukku dengan erat, mengusap pipiku dengan lembut.
"Maafin mamah ya? " air mata mama menetes hingga membuatku ikutan menetes.
__ADS_1