
Sudah semenjak siang hari, Disya merengek ingin pulang ke rumah. Gadis itu merasa tidak nyaman di rumah sakit, terlebih sejak dari pagi hingga sore hari, Sky mendiamkan istrinya. Gadis itu ke kamar mandi di bantu mama Amy.
Saat di ruangan hanya berdua, Disya merasa Sky lebih banyak diam. Pria itu lebih sibuk di depan macbook. Oke, mungkin memang Sky sibuk dan harus segera merampungkan pekerjaannya, tapi Disya merasa suaminya mengacuhkan dirinya semenjak tadi pagi. Untung ada kak Flora yang datang tiba-tiba, ia berujar menemani Disya sore ini. Flora pulang kerja lebih awal dan sengaja mengunjungi adiknya yang masih butuh perawatan.
Hingga sore hari saat teman-temannya berkunjung. Disya terlihat lebih ceria, sedikit terhibur dengan terus mengembangkan senyum.
"Sore Pak Dos, kak Flo?" sapa tiga sekawan serempak.
"Sore... sini masuk," saut Flora agak menjauh dari ranjang, membiarkan para sahabat adiknya mengerubungi Disya. Sementara Flora sendiri duduk di sofa dengan Sky yang tengah sibuk sendiri.
"Ya ampun... beb, kok bisa gitu bersilaturahmi dengan aspal?" cerocos Bila, gadis itu baru datang bersama dua sahabat lainya dan langsung berhambur memeluk Disya.
"Ini masih sakit?" tunjuk Hanum pada kaki Disya.
Gadis itu mengangguk, "Masih, udah mendingan alhamdulillah... tinggal luka lecet dan lebam. Mungkin besok udah bisa pulang," ujar Disya menjelaskan.
"Sumpah, kita kaget banget denger elo kecelakaan, baru bareng-bareng becanda kan ya? Nggak nyangka banget gue? Cepet sembuh ya, Sya? Gagal deh... otw muncak," keluh Sinta.
"Gas... lah, sama Tuan batu bara, nggak usah melow," jawab Bila enteng.
"Nggak seru ah sama si om Reno, pengen liburan ala-ala gadis remaja, motoran ke puncak, seru banget pasti."
Mendengar kata Reno di sebut-sebut, membuat Flora menengok dengan mata awas.
"Ya udah berangkat aja, bisa banget lah, orang yang nggak ikut cuma gue doang," ucap Disya menyarankan.
"Nggak asyik lah, kalau personil kita nggak lengkap, tunggu lo sembuh aja?" ujarnya tersenyum.
Khem
Sky yang tengah fokus menatap layar di depannya menginterupsi, pria itu menguping dengan jelas perbincangan istri dan mahasiswanya.
Bila menoel lengan Hanum, gadis itu saling melempar lirikan, memberikan kode mata bahwa Pak Sky tengah di dalam ruangan yang sama.
"Eh, saking asyiknya ngobrol sampai lupa kalau ada dogan," bisik Hanum nyengir.
Mereka berempat saling melempar senyum, memahami keadaan yang sepertinya kurang leluasa untuk bersendau gurau.
"Sya, bunganya bagus banget dari siapa?" celetuk Bila tiba-tiba.
Disya hendak menjawab, namun sudut matanya menangkap bayangan Sky yang menatapnya dingin. Tentu Disya tidak boleh menyebut namanya.
__ADS_1
"Ada, dari orang yang jenguk tadi, btw kalau kamu suka buat kamu aja Bil, sana bawa pulang," ujar Disya pada akhirnya.
"Nggak lah, cuma seneng aja lihat mawar yang seger nan cantik kaya gini," ujar Bila sambil menghirup wangi mawar merah itu.
Di sela asyik mengobrol, tiba-tiba handphone Bila berbunyi. Bisma, Alan dan Faro tengah menyusul mereka, namun nyasar ke ruang rawat lainnya. Akhirnya menghubungi Bila.
"Siapa Bil?" tanya Hanum kepo setelah Bila menutup panggilan dari Bisma.
"Trio gabut lah... siapa lagi, nyasar doi," jelas Bila.
"Sumpah lo? Dasar pria!"
Setelah berbincang di telfon cukup lama, Bisma, Faro dan Alan tiba di ruangan Disya.
Sama halnya dengan para cewe, trio gabut pun lebih dulu menyapa kak Flora terlebih dahulu, kemudian cukup aneh menatap Pak Dosennya yang juga ada di ruangan yang sama. Bagi Alan yang sudah tahu, biasa saja, namun untuk Bisma dan Faro cukup menjadi kejutan sebab ke dua pria itu belum tahu status Disya yang sesungguhnya. Namun, ke dua cowo itu tak ingin kepo terlalu dalam, mereka hanya sekedar menyapa dan menyalami saja tanpa mau tahu lebih detailnya, terlebih dosennya itu tengah duduk di temani seorang wanita cantik, yang di ketahui merupakan kakak dari Disya.
"Sya, gimana kabar lo?" Bisma berujar khawatir, mewakili rasa ingin tahu dua cowo yang berada di sampingnya.
"Udah mendingan kok, makasih ya udah datang."
Alan menaruh parsel buah di atas nakas, tepat di sebelah buket bunga mawar. Ia memicingkan matanya, menatap sebuket mawar yang tersimpan di samping nakas. Pria itu tersenyum, mengetahui ulah siapa yang datang menjenguknya.
Tiba-tiba pria itu mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Disya. "Cie... yang dapat bunga dari mantan?" goda Alan pelan, teman yang lain sama sekali tidak bisa mendengar.
Begitu pun dengan Sky, mata elangnya bahkan menyorot Disya tajam dan dingin. Sikap Alan yang terlalu akrab, benar-benar membuat Sky muak. Ingin sekali rasanya pria itu mengusir sahabat dari istrinya itu, namun itu tentu saja tidak mungkin. Rasa kesal tadi pagi belum kelar, di tambah sikap teman-temannya cowo yang tak menjaga jarak membuat Sky semakin dongkol dan bertambah sesak.
"Apaan sih Al, pake acara berbisik segala?" protes Bisma kesal, cukup mewakili mereka semua yang ada di ruangan.
"Kepo? Rahasia ya Sya?" ujar Alan.
"Nggak ada apa-apa ding, si Alan mah suka gitu," sanggah Disya cepat, merasa sangat terancam dengan tatapan suaminya yang bertambah dingin saja.
"Awas ah jaga jarak, lo ngapain deketan Disya mulu?" protes Bisma menarik tangan Alan agar sedikit menjauh dari ranjang.
"Ish... sirik aja, cemburu ya? Pasti cemburu?" Alan emang rese'
Lagi-lagi kata-kata Alan cukup menyita perhatian Sky, pria itu sedari tadi sudah tidak bisa berkonsentrasi dan memilih mengakhiri pekerjaannya. Pria itu cukup jengah mendengar obrolan mereka yang kadang terdengar sangat menjengkelkan, Sky memilih meninggalkan ruangan begitu saja, laki-laki itu berlalu keluar tanpa mengatakan apapun.
Obrolan masih berlanjut, Disya sedikit khawatir namun gadis itu kembali mengembangkan senyum, dan bersikap sewajarnya. Sahabatnya sudah terbiasa bercanda, dan akan sedikit konyol dalam berbicara.
"Gimana ceritanya, lo bisa sampe jatuh Sya?" Faro menyumbangkan suaranya.
__ADS_1
"Namanya juga lagi apes Fa, ya tahu-tahu sudah berguling di jalanan," jawab Disya dengan kronologinya.
"Eh, itu berarti kejadinya pas hampir petang ya, sehabis pulang dari kafe?" Bisma antusias bertanya.
"Iya, bener banget. Baru jalan padahal itu, gue bonceng adek gue?" jelas Disya.
"Emang, segala sesuatu yang bakalan terjadi tidak pernah ada yang tahu, seperti hal nya saat ini kita sedang berkumpul di sini, hanya soal waktu kita semua sedang menunggu giliran," kata Bisma bijak.
"Giliran? Maksudnya?" Bila sungguh tidak 'ngeh' dengan perkataan yang di maksud sahabatnya itu.
"Giliran pulang ke rahmatullah, Bila loading... jadi, semua orang itu bakalan pulang alias koid, jadi, lo jangan banyak bertingkah dan banyak dosa, karena kita tidak pernah akan tahu, kapan naas itu akan tiba dan menuju alam yang berbeda, semoga kita selalu dalam lindunganNya, dan pulang dalam keadaan husnul khatimah," jelas Bisma religius.
"Aamiin..." koor semua orang yang berada di ruangan.
Seketika membuat Disya mendung, gadis itu teringat akan janinnya yang telah meninggalkan rahimnya. Rasa sesak dan kehilangan kembali melingkupi hatinya, namun dengan cepat Disya segera menetralkan rasa sedihnya, teman-temannya datang untuk memberikan support dan doa, tentu gadis itu harus terlihat tegar, walaupun mereka tidak tahu bahwa Disya sedang berduka juga, karena habis keguguran.
"Serem amad omongan lo, bikin gue merinding sumpah, eh bikin gue tobat, bener ya jadi takut gue," jawab Bila penuh dengan kesadaran.
"Thanks sob, sering-sering aja dapat siraman rohani, biar kita bisa sadar, siapa tahu pada insyaf," timpal Hanum.
"Cie... Pak Ustadz Bisma Maulana, ceramah Pak?"
"Aminin ah, siapa tahu beneran jadi ustadz," jawabnya santai.
"Songong lo, sok nasehatin. Ibadah lancar, maksiat jalan terus," cibir Alan.
"Ish... ish... ish..."
Asyik mengobrol tak terasa waktu semakin sore, ke enam sahabatnya itu pamit untuk pulang.
"GWS beb....!"
"Lekas sembuh Sya...!"
"Cepet pulih Sya, kita balik dulu ya?" ujar Bila memberi semangat.
"Makasih udah pada datang, gue seneng banget hari ini karena kalian ada di sini," ujar Disya terharu.
"Besok, atau kapan-kapan kita main deh ke rumah lo?" kata Bila semangat.
"Bener ya? Di tunggu?"
__ADS_1
Para cewe saling memeluk sebelum akhirnya mengurai, dan mereka semua berjalan keluar dengan meninggalkan doa kebaikan untuk kesembuhan Disya.