
Disya melotot begitu Sky langsung menyatukan dirinya, gadis itu berkedip lembut, berusaha memisahkan diri dengan memukul kecil dada suaminya. Namun, Sky tetap melancarkan aksinya. mengabaikan istrinya yang sedikit berontak. Ia malah menarik tengkuk Disya, membuat pergulatan lidah mereka semakin dalam.
Disya hanya kesal, Sky tiba-tiba menciumnya di saat hatinya sedang tidak baik-baik saja, tapi akhirnya perempuan itupun menurut, ikut menikmati permainan mereka.
Ke duanya saling terengah dengan napas yang memburu, kontras dengan muka Disya yang memerah merona, antara malu, sedikit kesal dan canggung. Sky mengelap bibir istrinya yang basah sisa saliva dengan jari jempolnya. Mata mereka masih beradu, membuat ruangan mobil yang ber-Ac pun terasa panas.
"Maaf, tadi tuh nggak ada maksud buat kamu tersinggung, aku bakalan jelasin kalau kamu istri aku, Mona itu temen deket aku waktu kita sekolah dulu, kita juga sama-sama study di London," jelas Sky lirih, punggung jari tangannya mengelus wajah Disya.
"Nggak mau tahu, nggak nanya, udah lewat juga," jawab Disya kembali mrengut sengaja membuang muka ke arah samping jendela kaca mobil.
Walaupun Disya terlihat kesal dan cuek, tetap saja pria itu perlu meluruskan agar tidak terjadi kesalah pahaman yang berarti. Apalagi Sky baru saja memupuk rasa percaya pada istrinya untuk berusaha menerimanya, tentu saja Sky tidak ingin rumah tangganya semakin runyam dengan datangnya orang yang sama sekali tidak terduga.
"Jangan ngambek lagi, kalau kamu nggemesin kaya gini, nanti beneran deh, aku nggak bisa tahan, mungkin bukan hanya ciuman tapi aku minta yang lain," jelas pria itu menatap Disya yang masih setia membuang muka.
Disya bergeming, rasanya canggung, kesal dan sebal. Berciuman dengan Sky sudah sering ia lakukan, bahkan melakukan hubungan suami istri pun sudah pernah, kenapa hanya dengan berciuman saja kali ini terasa beda, ada gejolak amarah di hati yang siap meluncurkan, seakan kesal tapi detik berikutnya terasa memberi kehangatan dan kesejukan hatinya. Cuma Disya bingung sendiri menyikapi hal seperti itu.
Apa benar aku cemburu? Kenapa aku kesal saat melihat suamiku di dekati perempuan lain. Masa iya aku cemburu? Ah, hati, nggak jelas banget kamu? Tanggung jawab dong... kalau beneran cemburu?
Tanpa terasa gadis itu membuat senyuman simpul. Sky yang memergoki pun tersenyum dalam hati, pria itu mengacak puncak kepala Disya dengan sayang, merasa gemas dengan tingkah istrinya yang malu-malu tapi mau.
Berberapa menit berlalu, Sky akhirnya melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan pulang, tangan kiri pria itu menggenggam tangan Disya, sesekali membawa jari-jemari mereka yang saling bertautan untuk di ciumi. Sky melirik Disya dengan hati yang berseri-seri, sepertinya gayung telah bersambut. Walaupun si ratu masih terlalu gengsi untuk menyahut.
Kali ini pria itu menuju apartemennya. Membuat Disya yang mengetahui jalanan yang ia lewati pun bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kok pulang ke sini? Kenapa nggak pulang ke rumah Bunda saja?" tanya Disya merasa aneh.
"Lagi pingin berdua, lagian kan besok hari libur jadi kita bisa menikmati waktu bersama lebih lama," ujar pria itu tersenyum.
Disya terdiam, dalam hati ia pun mengiyakan. Sering kali merasa canggung jika berada di rumah mertua dan bangun terlambat. Padahal mertuanya itu sangat sayang dan pengertian tapi tetep saja, Disya merasa canggung dan tidak enak.
Sesampainya di apartemen, mereka langsung masuk ke kamar guna membersihkan diri. Seharian beraktivitas membuat tubuhnya membutuhkan sentuhan manja, dan kedamaian. Disya pun memutuskan untuk berendam, merilekskan otot-otot ketegangan di tubuhnya.
Sky baru menyadari, ternyata ia sudah menunggu istrinya terlalu lama. Pria itupun mendekati pintu kamar mandi dan menekan handle pintu, tak terduga pintu tersebut sama sekali tidak terkunci, ia juga tidak mendengar gemercik air, Sky mengintip, pria itu menemukan istrinya yang sedang berendam di bathtub dengan mata terpejam. Pergerakan pria itu memasuki kamar mandi pun sama sekali tidak terbaca oleh Disya.
Kepala pria itu mendadak di penuhi lampu pijar buatan Thomas Alva Edison. Tentu saja ia mempunyai ide yang cukup cemerlang, hatinya langsung berbunga-bunga melihat istrinya di dalam air dalam posisi berendam.
Pria itu langsung membuka pakaiannya dan ikut masuk ke dalam bathtub, menyusul istrinya yang tengah menikmati hangatnya air dan harumnya sabun menerapi tubuhnya.
"Mas! Ngapain ke sini? Bukannya tadi aku kunci?" kaget Disya merasa ketenangannya terusik.
"Nggak di kunci kok, aku juga pingin berendam lah, ngapain lagi emang..." jawab Sky datar.
Pria itu tersenyum melihat wajah istrinya yang penuh kewaspadaan, seakan dirinya pria asing yang tidak boleh saling berdekatan dan saling bersentuhan. Tentu saja Sky semakin gencar menggoda, mendekatkan tubuh mereka agar tidak berjarak.
"Mas, bisa gantian saja nggak? Aku udah mau selesai kok, mau bilas dulu, kamu keluar sebentar ya?" pinta Disya malu.
Istrinya ingin mengakhiri acara berendamnya dan membilas tubuhnya, tapi ia merasa malu, jika berdiri dari sana, jelas sudah tubuh polosnya terekspos nyata, dan itu sungguh membuat gadis itu bingung.
__ADS_1
"Bentar Sya, boleh minta tolong nggak?" ujarnya dengan hati-hati.
"Tolong gosokkan punggungku pakai sabun sayang, bisa kan?" sambung pria itu memohon.
"Hah! Eh, bisa," jawab Disya salah tingkah.
Disya mengiyakan, setidaknya gadis itu tidak harus saling bertatap muka yang membuat Disya segan dan sedikit canggung, dengan Sky memunggunginya wanita itu sedikit merasa lebih baik dan lega.
Perlahan Disya mulai menggosok punggung suaminya. Ada rasa yang berdesir hebat di relung hatinya, pergerakan tangannya pun berhenti, sengaja menghalau pikiran-pikiran yang mulai berimajinasi, seakan menjadi provokator handal untut berfantasi ke dalam imajinasi yang berbeda.
Gadis itu melotot, tegang, semakin merasa gugup, saat suaminya menangkap tangan Disya yang sedang menggosok pinggangnya, tiba-tiba pria itu arahkan untuk menyentuh miliknya.
"Sayang... sama yang ini, dia butuh sentuhan kasih sayang," ujar pria itu lirih, tersenyum dalam hatinya.
Pria itu bahkan menarik tangan Disya, hingga dada gadis itu menempel ketat di punggungnya. Kontras membuat milik pria itu berdiri tegak, keras dalam genggaman istrinya.
Ya ampun... apa yang harus aku lakukan? gumam Disya sangat gugup.
"Sayang... di pijit perlahan, ini akan membuat aku nikmat," ucap suaminya yang merasa semakin tegang.
Disya bingung sendiri, ia pun menuruti kemauan suaminya, tak dinyana pria itu semakin merespon gila. Ia menyampingkan badannya agar bisa memainkan jelmaan squisy istrinya. Wanitanya menggelinjang tak karuan, di bawah hangatnya air.
Suara desa*han itu meluncur bebas dari mulutnya, Sky langsung menyumpal mulut istrinya dengan bibirnya. Melu*mat habis tak tersisa. Mengabsen setiap inci kelembutan pada bibir ranum itu.
__ADS_1
Pria itu membuka lubang pembuangan airnya, membuat tubuh ke duanya terpampang nyata. Kali ini pria itu bermain dengan mulutnya, memainkan nipel nya dengan lidahnya. Sensasi yang membuat gadis itu menggila, tubuhnya seakan merespon hal yang lebih, ke duanya sama-sama panas. Pergulatan di kamar mandi pun tidak bisa di hindari. Mereka melakukan dengan gaya yang berbeda. Lama, nikmat dan mantap.