
Disya terdiam, menatap kesal terhadap orang yang tengah memeluk perutnya. Pria itu menciumi perut Disya dan melingkarkan tangannya begitu erat di punggungnya.
Sky tak peduli pandangan Disya tentang dirinya, pria itu hanya ingin mencari kedamaian dalam diri Disya. Menghirup wangi tubuh Disya adalah ketenangan bagi pria itu. Menenangkan hatinya yang masih nano-nano.
Cemburu itu memang serba salah, di beritahu bikin berantem. Di pendam bikin sakit hati, kalau di tahan bikin sesak, tapi ketika di ungkapkan malah jadi salah paham dan bikin perang. Membuat pria dua puluh lima tahun itu harus menumpuk rasa sabar.
Sky terus menciumi perut Disya yang masih rata, bahkan tangannya masuk menelusup menembus kulit gadis itu. Memeluk posesif.
"Apaan sih, geli tahu?" protes Disya sebal, tapi entah mengapa ia tidak bisa menolak bahkan hatinya seketika menghangat ketika Sky terus menghujani ciuman di perutnya sambil bergumam-gumam kecil menyebut namanya.
Tangan Disya yang tadinya pingin menjambak rambut pria itupun kini tergerak mengelusnya dengan sayang. Sekilas ingatannya langsung berkepingan, kak Rayyan dulu sangat menyukai posisi ini dengan tidur di paha Disya, apalagi ketika pria itu tengah merasa lelah dan butuh ketenangan. Apakah Sky juga merasa begitu? Haruskah Disya melakukan hal yang sama? Apakah Sky juga sedang mode lelah, dan ingin di manja?
Ya ampun... ini kenapa sih otak masih mikirin dia mulu. Please Sya... buka mata lebar-lebar itu suami kamu sekarang, butuh perhatian deh kayaknya.
"Maafkan aku Mas?" lirih Disya pada akhirnya.
Sky langsung mendongakkan kepalanya dan menatap istrinya yang kini tengah menatapnya ke bawah. Pria itu tersenyum teduh, sesaat begitu tenang dengan merasakan tangan Disya yang bergerak lembut di rambutnya. Sesekali pria itu memejamkan matanya, benar-benar begitu menikmati suasana damai ini.
"Aku juga minta Maaf Sya, jangan salah paham lagi. Aku mencintaimu dan juga anak kita." Tangan pria itu terulur mengusap wajah Disya dengan jari tangannya.
Pengakuan dari mulut Sky yang pertama, perempuan itu cukup termangu di tempat, baru kemudian kembali menatap manik hitam suaminya.
"Kamu lagi nembak aku?" tanya perempuan itu datar.
"Bukan sekedar nembak, tapi lebih kepada pengakuan. Agar kamu tahu, aku mencintai ke duanya. Kamu dan anak kita." Sky kembali mencium perut Disya dengan sayang.
"Tidak masalah kalau kamu belum cinta, dalam dua minggu ini akan ku buat kamu jatuh cinta padaku, jatuh sejatuh jatuhnya hingga kamu tak bisa bangkit tanpa cintaku," sambung pria itu yakin.
Ngomong nya serem amad, berasa ada sesuatu yang tersirat dalam kata-katanya.
"Coba saja kalau bisa, aku siap memberikan seluruh hidupku untukmu. Tapi kalau gagal, jangan salahkan aku tetap bersikap demikian?"
__ADS_1
"Kalau aku gagal, aku akan terus mencoba agar hati itu terbuka. Sampai ia tersadar ada seseorang di sampingnya yang begitu peduli padanya. Sya...?"
"Hmm," Disya hanya menjawab dengan gumaman.
"Kamu udah janji lho, bakal memahami perasaan aku."
"Kamu juga udah janji, nggak bakalan terlalu posesif. Lagian aku cuma becanda, kenapa jadi terlalu marah sih?"
Kamu nggak paham Sya, karena melihat seseorang yang kita sayangi begitu dekat dengan orang lain itu, sakit rasanya.
Sky terdiam, lebih memilih diam dari pada menimbulkan percikan api lagi. Pria itu masih setia di pangkuan istrinya dengan mata terpejam, tubuhnya kembali di miringkan dan kembali memeluk Disya.
Disya mengamati wajah suaminya begitu lekat. Tidak bisa di pungkiri, pria itu mempunyai garis wajah yang begitu rupawan. Pantas saja banyak mahasiswi yang begitu mengidolakannya. Tapi kenapa untuk dirinya begitu susah berpaling dari sang mantan. Apa ini yang namanya gagal move on?
'Ya Tuhan... di dalam perut ini bahkan ada darah dagingnya, yang tanpa sengaja ia tanam, tapi kenapa hatiku masih samar. Apakah pertanda ini belum cukup jelas, bahwa kita memang di takdirkan bersama. Tuhan... tolong tumbuhkan lah rasa cinta di hatiku untuk pria ini, dan hapus lah dia dari ingatanku, agar hatiku bisa lapang dan tenang. Ikhlaskan aku atas semua yang telah terjadi, aku sungguh tersiksa dengan perasaan ini.'
Lelah bermonolog dalam hatinya, membuat perempuan itu ikut terlelap. Sky yang merasa pergerakan tangan istrinya di kepalanya berhenti pun lantas mendongak. Ternyata Disya benar-benar tertidur dengan posisi duduk.
Sky langsung bangkit dari posisi ternyaman itu. Belaian Disya begitu menenangkan, menghangatkan hatinya yang terasa dingin. Pria itu mengubah posisi tidur Disya agar terbaring, menyelimutinya lalu meninggalkan jejak sayang di keningnya.
Sky lantas ikut membaringkan tubuhnya di dekat Disya. Pria itu masih mengamati wajah Disya yang sudah terlelap damai, ketika tiba-tiba Disya merubah posisinya miring menghadap ke arah dirinya dan langsung memeluknya bagai guling. Sky terkesiap, ia cukup terpesona dengan istrinya dalam jarak yang teramat dekat.
Tangan Sky tergerak mengusap pipi Disya dengan lembut. "Kamu manis banget kalau lagi anteng gini, beda kalau bangun, bawaanya jutek terus sama aku, come on dua minggu, aku sudah tidak sabar menanti hal itu. Biar kamu tahu, aku sangat mencintaimu Disya."
Sky kembali mengecup bibir Disya, tak tahan rasanya membiarkan bibir ranum itu menganggur begitu saja. Hanya mengecup, takut si empunya bangun dan terusik. Walaupun dalam durasi yang lama, setidaknya pria itu bisa menyalurkan perasaannya. Sebelum akhirnya ikut terlelap saling memeluk dalam dekapan dan kehangatan yang sama.
Pagi harinya alarm di ponsel Disya memekik, perempuan itu sengaja menyetel lebih pagi karena harus menyiapkan segala sesuatu yang mau di bawa. Disya terbangun dan langsung menganga begitu mendapati dirinya memeluk Sky bagai guling tak bernyawa. Ia sedikit menyesali tindakan tidurnya yang tidak beraturan.
"Ups..." Disya bangkit dari kasur dengan hati-hati. Tangan kirinya langsung menyambar ponsel yang memekik di atas nakas, lalu mematikan alarmnya.
Disya masih duduk di bibir ranjang sambil mengecek beberapa pesan di whatsapp grupnya. Disya hanya membuka saja, tanpa berniat membaca keseluruhan bahkan membalas chat ratusan tersebut. Namun ada satu pesan yang membuat dirinya langsung mengeryit.
__ADS_1
[Pagi poros bumiku, setidaknya senyum menawan itu masih terukir jelas di wajahmu, walaupun itu bukan untukku. Aku bahagia kalau kamu bahagia. Semangat!! Hari ini kamu ada kegiatan baksos kan?]❤😘~
Disya membuka pesan tersebut dengan hati penuh tanya?
"Siapa?" gumam Disya dalam hati.
Kemudian ia menaruh kembali ponselnya di atas nakas.
Pergerakan Disya yang hendak berdiri dari tepi ranjang berhenti ketika tiba-tiba tangan kekar suaminya memeluk dari belakang.
"Pagi sayang...!" suara berat itu mengendus pipi Disya.
"Pagi Mas, sudah bangun?" tangan Disya terulur mengelus rambutnya.
"Aku izin pergi untuk empat hari Mas," ucap Disya tenang. Disya yakin Sky bahkan sudah tahu tentang kegiatannya itu tanpa dirinya memberitahu. Karena semua agenda kampus masuk dalam laporannya.
"Pengennya kamu nggak usah ikut, aku takut kamu bakalan kangen sama aku, dan butuh teman untuk di peluk saat tidur."
Hmm sepertinya Sky tengah menyindir ku.
"Jangan mulai membuat ku kesal, ini masih terlalu pagi untuk berdebat. Empat hari doang juga," ucap Disya enteng.
"Lepasin dulu pelukannya, aku harus mandi," sambung Disya menginterupsi.
Sky melepaskan pelukan itu dengan tidak rela. Ah rasanya pasti akan sangat berbeda tidur tanpa Disya di sampingnya.
.
Bersambung
Hayo siapa yang hobby nya minta double up? Hadiahnya juga double ya... hehehe
__ADS_1
cuma klik like mudah banget kan kan kan? So jangan sampai lupa habis baca klik like, comment, syukur-syukur kasih vote dan hadiahnya. Biar author semangat nulisnya....
Thanks ya... selamat menebak kelanjutan cerita selanjutnya. Besok akan ada kejutan apa ya??? Author cari inspirasi dulu...