
Disya memilih diam, ingin protes tapi itu percuma, suami mesumnya itu mana mau menggubris. Nyaman? Ah tentu saja tidak, geli dan jujur tubuh Disya meremang, ada desiran aneh di hati Disya saat laki-laki itu terus menatapnya lekat.
Pria itu terlihat sangat menyebalkan di mata Disya, namun bagi Sky, Disya terlihat begitu menggemaskan. Entah terlihat dari mananya?
Tangan kiri Sky masih memeluk pinggang Disya posesif, sementara tangan yang lainya terulur mengambil satu earphones di telinga Disya, lalu dengan sengaja ia pasang di telinganya sendiri.
"Ikut dengerin," ujar pria itu cuek.
Disya berusaha mengambil tangan Sky yang bergerak sedikit nakal. Sumpah, Disya merasakan bus ber AC ini makin panas dan gerah. Sudah barang tentu suasana yang mendominasi.
Sky tahu Disya merasa gelisah karena ulahnya, pria itu pun menarik tangannya demi melihat mata Disya yang menatap lekat dengan tatapan memohon. Belum sempat Disya bernapas lega, kini pria itu kembali menautkan jari tangannya ke jari-jari tangan Disya. Gadis itu pasrah saja, dari pada di pinggang, mendingan tangan.
"Jangan manyun terus, nanti aku cium. Kamu tahu kan, aku orang nya nekat jadi tetaplah menurut supaya semuanya aman terkendali. Sama satu lagi, cincin pernikahan kamu nggak boleh di lepas, awas aja kalau aku sampai lihat di lepas lagi, aku bakalan umumin langsung di sini kalau kamu istri aku," tutur pria itu lirih, hanya bisa di dengar oleh Disya.
Gadis itu begidik ngeri membayangkan semua itu terjadi, nggak bakalan hanya heboh tetapi cukup beresiko menjadi gosip seantero kampus. Semua orang mengenal Disya pacar Rayyan dan tiba-tiba dirinya hamil sama Dosen nya dan menikah. Sungguh itu suatu momok yang buruk, pengakuan yang sangat di takuti Disya.
Disya akan bersikap biasa saja sampai pada hari di mana semua orang tahu dan mereka sudah siap, setidaknya mengulur waktu cukup menyamarkan kenyataan yang ada. Sebab aib memang tidak semestinya di umbar, yang ia bisa saat ini hanyalah diam dan terus memperbaiki diri lagi agar tidak menjadi sumber masalah untuk dirinya ataupun orang lain.
"Lakukan sesuka hatimu atas diriku Mas," jawab Disya pasrah.
"Good girl, love you," tutur pria itu dengan senyum terkembang.
Gadis itu kembali terdiam dan lebih memilih memejamkan matanya sesaat. Menikmati alunan musik yang sedang mendayu mengiringi perjalanan mereka berdua. Seakan bus ini bergerak lambat dan hanya mereka berdua yang ada di dimensi yang berbeda, ke duanya tenggelam saling diam dan memejamkan matanya bersama, dengan tangan mereka yang saling bertautan, di bawah jaket mereka.
Perjalanan kurang lebih memakan waktu dua jam ini akhirnya sampai juga di tempat lokasi. Semua penumpang bersorak senang ketika bus mulai berjalan melambat dan berhenti di pinggir di sebuah lapangan.
Satu persatu penumpang mulai beranjak turun, tetapi tidak untuk Sky dan Disya. Walaupun mereka duduk di paling depan, mereka memilih turun di antrian paling terakhir. Tentu saja karena Sky masih diam duduk tenang dan menghalangi jalan keluar Disya.
__ADS_1
"Sya, ayo turun...? Lo mau nginep di bus? Jangan bilang lo terlalu nyaman duduk di samping Pak Sky terus nggak mau turun." Kalimat tersebut di kirim Bila lewat whatsapp sebab mau mengajak langsung merasa canggung sama dogan yang di sebelah Disya.
[Bentar, Pak Sky menghalangi jalan gue, lagian ada sedikit yang harus didiskusikan antara panitia dan Dosen pendampingan]~ Disya
Tinggalah Disya dan Sky di bus, mereka manusia terakhir yang turun dari si kuda besi tersebut. Namun, ketika tiba-tiba Disya hendak berdiri, ia merasakan perutnya sedikit sakit dan sepertinya kram karena terlalu lama berdiam diri dengan suasana yang tidak kondusif dan melelahkan. Gadis itu meringis sontak membuat Sky langsung panik seketika.
"Sya, kamu kenapa?" tanya pria itu cemas.
"Perut aku tegang banget Pak, kram sepertinya."
"Ssshhh....!" desis Disya menahan sakit.
"Ya udah rileks dulu," ujar Sky seraya mengusap perut Disya pelan.
Ajaib, perlahan, rasa kram itu langsung berangsur menghilang seiring gerakan lembut tangan suaminya.
"Baik-baik di dalam perut Bunda sayang," ucap pria itu lirih. Sentuhan dan kata- kata pria itu membuat hati Disya menghangat. Mata mereka saling menatap lekat hingga tanpa sadar Sky sudah mengecup bibir Disya sekilas, sesaat mereka lupa sedang di mana mereka berada.
"Nggak kok, udah sembuh. Ayo turun, kita sudah tertinggal jauh," jawab Disya tenang. Benar-benar terasa begitu nyaman dan rileks.
"Oke, bisa lanjutkan, lambaikan tangan bila kamu menyerah. Kita akan pulang bersama. Harus langsung hubungi aku kalau ada apa-apa."
"Iya ih, bawel...!" protes Disya sambil berjalan keluar.
"Tas saya Pak?"
"Biar aku yang bawa, kamu cukup membawa diri kamu saja," ujar pria itu cuek.
__ADS_1
"Tapi nanti nggak enak kalau ada orang yang lihat," kata Disya tidak enak hati.
"Sebodo dengan tanggapan orang lain." Sky tidak begitu ambil pusing, terkadang emang terlihat dingin dan kaku.
Disya terdiam sesaat dan mengangguk, gadis itu tidak ingin banyak protes yang akhirnya hanya membuat dirinya lelah dan merasa buang-buang tenaga.
Begitu turun, Sky langsung menuju stand perkemahan yang sedang didirikan tenda. Ia menaruh tas di dekat gadis itu dengan cueknya di bawah pandangan anak-anak yang menatap curiga.
Setelahnya, Sky langsung bergabung dengan Dosen dan panitia lainnya yang tengah berbincang. Rombongan mereka di sambut ramah oleh kepala Desa setempat dan masyarakat sekitar. Mereka sangat antusias menyambut kedatangan mereka semua.
Kegiatan kali ini di laksanakan di sebuah Desa yang ada di kota Bogor. Desa ini seperti dataran tinggi lainnya yang sejuk, hijau dan asri. Benar-benar mendapatkan suasana baru yang terlihat nyata, apalagi untuk yang hidup di tengah ibu kota dengan banyaknya jadwal aktifitas padat, tempat ini bagai persinggahan yang menyejukkan mata.
Mayoritas masyarakat di desa ini adalah orang Jawa, dan salah satu kelebihan desa ini adalah mempunyai lapangan bola yang sedang mereka pijak, dan akan di jadikan tempat perkemahan mahasiswa. Nilai plusnya ada lagi tempat ini dekat dengan mushola. Keren kan gaess...
Mereka bekerjasama mendirikan tenda, sebagian ada yang sibuk menata barang bawaan. Setelahnya isoma dan setelahnya langsung ada kegiatan yang menyusul.
"Sya, jujur sama gue, kok dogan dingin itu bisa sih dengan sukarelawan ngebawain tas lo?" selidik Hanum.
"Kebetulan aja kali, kita duduk bareng terus dia nawarin buat bantuin, ya udah gue iyain," jawabnya songong.
"Gitu ya, gimana rasanya duduk di samping dogan Sya, deg degan nggak?" tanya Bila kepo.
"Biasa aja lah, kaya duduk kalian. Eh tapi ... canggung sih." Akting Disya agar natural.
"Pastinya, udah gue duga. Nggak bebas gerak ya Sya, mati kutu pasti lo."
"Lo sih pada jahat, katanya nge tag kursi buat gue, apaan penuh semua," kata Disya menyayangkan.
__ADS_1
"Udah beb, tapi tetep di serobot, lagian lo sih lama."
"Iya juga sih, kuy lah nggak penting banget bahas yang udah lewat, saatnya ngisi perut."