One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 44


__ADS_3

"Sya, jangan di sini terus.. itu temenin suami lo duduk sendirian," ujar Flora mengingatkan.


"Males, lagian ini juga udah nggak ada tamu yang datang kayaknya. Kakiku pegel, berdiri terus," jawab Disya cuek.


Suasana sudah lengah, para tamu juga sudah berangsur pulang tinggal sanak saudara yang masih ngumpul bersama. Sky tengah duduk sendirian di kursi pelaminan, sesekali ia sibuk memainkan ponselnya sesekali menatap ke arah Disya.


"Nah loh... siapa yang datang, oh ya ampun... lihat Sya, dia kayaknya saudaranya Sky deh, ngeselin banget dia lagi selfie-selfie tuh...!" tunjuk Flora. Sekilas Disya mengalihkan pandangan ke arah Sky dan benar saja, di situ ada cewe yang tengah berakrab ria dengan suaminya.


"Ih... Sya, kok lo diem aja sih, samperin kek atau apa? Emang lo nggak cemburu?" kesal Flora menatap adiknya yang masih berekspresi datar padahal suami barunya itu tengah berbincang-bincang sangat akrab dengan seorang wanita.


Tap


Tap


Mata Disya bertemu dengan mata Sky, pria itu terdiam dengan pandangannya yang lekat, Disya langsung membuang muka ke arah lain. Selalu ada rasa aneh dan tidak nyaman saat mata mereka bertemu terutama pada diri Disya.


Flora melanjutkan obrolan bersama Disya, ke dua kakak adik itu nampak antusias membahas hal apa saja. Sesekali bercengkrama dengan ibu-ibu yang datang ingin bersalaman dengan Disya atau foto bersama.


"Aku masih kesel dan marah lho sama kakak, mana bisa aku lupain Rayyan gitu aja. Kayaknya pernikahan aku nggak bakalan lama deh..." Disya mengutarakan uneg-unegnya.


"Lo nggak boleh gitu Sya, biar bagaimana pun Sky sekarang suami lo dan siap nggak siap mau nggak mau lo harus putusin Rayyan dan hilangin dia dari hati lo, pelan-pelan saja. Gue yakin lo bisa, demi anak lo!"


Huhf


"Aku nggak tahu lah kak, ini terasa begitu berat. Aku cinta banget sama kak Rayyan, bahkan aku sangat bahagia waktu aku jujur dan dia tetap nerima aku apa adanya, kakak malah giniin aku, kecewa aku, sakit banget rasanya."


"Maafin gue Sya, gue cuma bantuin Papa sama Mama, karena sebenarnya Sky sudah ngobrol langsung sama mereka, dan gue yakin banget setelah tahu keadaan lo Papa sama Mama pasti milih Sky dari pada Rayyan buat tanggung jawab, lagian kan emang udah ada ikatan perjodohan sejak kita belum lahir kata Papa."


"Kenapa nggak kakak saja yang nikah sama Sky, mungkin ceritanya akan lebih baik."


"Seharusnya iya, lo sih jahat mainnya langsung keras, pake acara hamil lagi ya mana gue tega lihat adik gue hamil sedang cowonya Sky yang udah jelas sukanya sama lo. Anak lo butuh ayah kandungnya."


"Tapi sayangnya aku nggak cinta, apa iya aku bisa ngejalanin hari-harinya tanpa cinta," ucap Disya sendu.


"Jangan melow gitu dong dek, lihat itu Sky aja bahagia banget. Eh itu kok cewe dari tadi nempel mulu, kayaknya gue musti samperin deh." Flora mulai kesal dengan Sky yang di tempel cewe bergaun putih itu.

__ADS_1


"Biarin aja kak Flo... mau dia ngapain aja aku nggak bakalan peduli," ujar Disya santai lalu bangkit dari duduknya. Mungkin karena tidak ada perasaan apapun terhadap suaminya Disya merasa biasa-biasa saja, namun sejatinya sedari tadi mata Sky tak pernah lepas memandangi ke arah Disya.


Sementara Sky masih sibuk dengan seorang wanita yang baru di ketahui bernama Angel, dia salah satu kerabat Sky. Datang bersama anggota keluarganya untuk mengikuti acara pernikahan mereka.


"Ky, kok lo bisa nikah dadakan gini sih, kecewa tahu dengernya?" Anggel merengek manja. Gadis itu masih kerabat sekaligus teman masa SMA Sky. Sudah sangat akrab bahkan kuliah di London bersama.


"Udah ketemu jodohnya mau gimana lagi," jawab Sky datar.


"Istri kamu juga tuh lihat, malah kemana nggak jelas banget. Bukannya nemenin kamu di sini," ujar Angel sambil melirik Disya, yang di lirik teramat cuek.


"Bentar deh, gue panggilin biar lo kenal. Dia mahasiswi gue di kampus," ujar Sky memberi tahu.


Sky langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Disya yang masih sibuk ngobrol dengan Flora.


"Sya," panggil Sky menghampiri Disya. "Saudara aku mau kenalan kesana yuk," ajak Sky.


Disya mengekor Sky dengan malas, tapi tentu saja Disya harus menampilkan senyum kebahagiaan dalam setiap langkahnya.


"Ini istri gue, Angel kenalin," ujar Sky.


"Terimakasih, salam kenal. Gue Disya," jawab Disya ramah.


"Sayang... Angel ini teman aku kuliah, dia masih kerabat dari Bunda," jelas Sky.


Oh ya ampun... gue geli denger dia panggil sayang.


Disya mengangguk ngerti, lalu mereka berdua mulai terlibat obrolan bersama. Sky duduk di sebelah Disya tanpa terasa tangan Sky merengkuh pundak Disya, membuat si pemilik pundak merasa gemas dan ingin melempar tangannya. Dosennya ini benar-benar menggunakan kesempatan dalam kesempitan.


"Gue kayaknya udah harus pulang deh, soalnya Mami udah siap tuh. Sampai ketemu lagi Ky, sekali lagi selamat ya atas pernikahan kalian." Gadis itu berujar pergi.


Disya langsung melepaskan tangan Sky yang menempel di pundaknya.


"Bapak ngapain sih, social distancing," ujar Disya lalu bergeser agak berjarak.


Sky terdiam, menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

__ADS_1


"Sya? Makan yuk... udah nggak ada tamu kayaknya."


"Bapak kalo lapar duluan aja, saya nggak napsu makan?" jawabnya jutek.


Sabar... ini ujian


Disya berdiri dari duduknya, melirik Sky yang tengah menatapnya dengan redup. Tiba-tiba kepala Disya mendadak pening dan ia pun terasa ingin muntah. Gadis itu terlihat pucat dan hampir limbung bila Sky tidak langsung cekatan menopang nya.


"Kenapa kepala aku sangat pusing," keluh Disya sambil memegang kepalanya sendiri.


"Sya kamu kenapa? Muka kamu pucet," tanya Sky khawatir.


"Mama aku mana ya, ini acaranya sampai jam berapa aku mau pulang," ujar Disya sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.


"Pulang kemana Sya, sekarang ini tempat tinggal mu juga ayo kalau mau istirahat aku antar ke kamar," ujar Sky berusaha mengingatkan bahwa mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.


"Pulang ke rumah Mama lah... nggak mau, saya tetap mau pulang bareng mereka," kukuh nya tanpa mau di bantah.


Sky nampak menghela nafas panjang.


Hari sudah sore dan tibalah saatnya Mama dan Papa serta kak Flora mau pulang, jelas Disya merengek mau ikut tapi langsung di tolak Mama Amy.


"Ma... aku mau ikut pulang, please..." ujar gadis itu memohon. Mama Amy terkekeh.


"Drama queen banget sih Sya? Lihat tuh suami kamu di sebelah nya memang nggak malu kalau masih merengek gini."


"Udah kita pulang dulu, kamu baik-baik di sini?" ujar Mama Amy sendu, lalu memeluk putrinya dengan begitu erat.


"Titip Disya, Sky. Kita pulang dulu," sambungnya menatap Sky lalu memeluk Sky, pria yang sudah sah menjadi menantunya itu. Papa Amar dan juga Flora, kami saling memeluk seperti mau pisah, dan ini membuat Disya benar-benar sedih karena bakal di tinggal di rumah ini sendiri, ia paham betul sekarang sudah menikah jadi mau tidak mau harus mengikuti di manapun suaminya tinggal. Setelah keluarga pamit pulang kini tinggallah Disya sendiri.


"Ayo Sya kalau mau istirahat aku antar ke kamar," ajak Sky.


"Sayang.... istirahat lah di kamar kamu pasti capek," ujar Bunda Yuki.


"Iya Bun, makasih."

__ADS_1


Saat ini Disya dan Sky sudah berada di kamarnya, dan jujur Disya sangat canggung dan bingung.


__ADS_2