One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 124


__ADS_3

"Bintang?" Rayyan mendekati ranjang, ditatapnya gadis remaja itu dengan tatapan sendu dan rindu.


Semenjak kejadian di kafe itu, sudah seminggu nyaris tak ada kabar dari gadis di depannya. Pria itu merasa sangat kehilangan, namun ia segera sadar, mungkin memang dirinya tak layak untuk di beri kesempatan untuk lebih dekat.


"Kak Ray," Bintang tersenyum.


"Kenapa bisa kaya gini, sakit, tapi nggak mau bilang?"


"Bukankah tidak terlalu penting kabar aku bagimu Kak," jawabnya lirih.


"Tidak penting bagimu, tapi penting bagi aku," ujar pria itu lebih dekat.


Tangan Rayyan terulur meraih tangan Bintang yang terbebas dari selang infus tetapi Bintang segera menariknya. Sudah cukup rasanya dirinya jatuh, tidak ingin jatuh lebih dalam lagi dalam permainannya.


"Bintang ..., aku minta maaf untuk semua ketidak jujuranku, tapi ... aku ingin melanjutkan rencana pernikahan kita," kata pria itu.


"Kak, tolong panggilin kak Disya, tadi dia di sini mana ya?" Bintang malah mengalihkan pembicaraannya.


"Kamu mau apa? Kan ada aku di sini?"


"Mau kamu menjauh dari aku, dan tolong ke luar dari ruangan ini," jawab Bintang membuang muka.


"Segitu bencinya kamu sama aku?" ujarnya sendu, merasa kehadirannya di tolak, Rayyan pun ke luar dengan hati yang di selimuti rasa bersalah.


Sky menatap tajam pria yang baru saja ke luar dari ruangan rawat adiknya. Sangat berbeda dengan Rayyan yang menatap sekilas, lalu berjalan melewatinya begitu saja. Sky langsung masuk dan meneliti adiknya dengan seksama.


"Apa yang kamu rasakan Bin, kenapa bisa sakit? Sebentar lagi bahkan ujian, kenapa nggak jaga kesehatan?" cerocosnya perhatian, namun malah sumpek yang dirasa anak remaja itu.


"Mas ... " Disya menggeleng, memperingatkan untuk tidak banyak bicara hal yang bikin mood adiknya drop.


"Aku mau pulang, bisa tolong kakak urus semua keperluan pulangku," ujar gadis itu spontan.


Disya dan Sky saling melirik adiknya, sedang Bintang wajahnya di tekuk.

__ADS_1


"Kamu masih sakit, jangan ngadi-ngadi, sebentar lagi Bunda dan Ayah sampai," ujar Sky. Baik Sky maupun Disya sepakat membiarkan Bintang istirahat dulu, dua sejoli itu menunggu di sofa seraya menunggu orang tuanya.


"Apa kata Dokter Sya? Kok bisa pingsan gitu?" tanyanya pada istrinya seraya mengambil duduk.


"Asam lambung Mas, mungkin pola makan Bintang yang berantakan, atau bahkan stress. Aku harap kamu tidak terlalu banyak mengekang, aku tahu kamu sayang, tapi kadang caramu bikin orang tidak nyaman dan susah gerak," sindirnya lebih untuk nasihat pada perlakuan untuk dirinya.


"Kamu juga ngerasa gitu ya? Ngomongnya niat banget," ujarnya merasa tersinggung.


Oh ya ampun ... selain posesif, suamiku ternyata pundungan.


"Kenapa jadi aku Mas ..., ini masalah Bintang?" sanggah Disya segera meralat.


"Oke deh, kalau pada maunya nggak dipeduliin, mungkin sekarang aku meski bersikap biasa aja kali ya, perempuan itu sungguh aneh, di perhatikan dan di sayang malah responnya lain."


Disya nampak membuang napas kasar. Ia bergeming dan tidak menanggapi perkataan suaminya yang memicu debat sengit dan pertikaian. Emang susah ngomong sama jiwa laki-laki, pasti tanggapannya lain dan bikin repot.


Tak berselang lama Bunda Yuki dan Ayah datang ke rumah sakit, orang tua itu begitu cemas mendapati putri bungsunya terkapar di atas brangkar.


"Aku nggak pa-pa Bun, Ayah, jangan khawatir," kilah Bintang merasa sok kuat.


"Kamu pasti bandel ya? Padahal Ayah sudah sering ingetin supaya jangan telat makan." Pria itu menyentil hidung Bintang dengan gaya khasnya.


"Maaf Ayah, besok nggak lagi," jawab Bintang tersenyum tipis.


"Sayang, bagaimana kalau Bunda pulang saja istirahat di rumah, biar Bintang, Ayah yang jagain, Sky bisa antar Bunda?" ujar Asher merasa kasihan melihat istrinya yang terlihat begitu capek.


"Ayah aja yang anterin Bunda, sekalian istirahat juga, biar aku sama kaka," saran Bintang.


Ibu dari tiga anak itu terlihat lelah, ia baru saja pulang di temani suaminya untuk merampungkan acara dan malah dikejutkan dengan Bintang masuk rumah sakit.


"Bun, sebaiknya Bunda pulang saja sama Ayah, pasti capek kan, biar aku yang jagain Bintang," Sky ikut mengiyakan.


Sky sendiri sebenarnya juga capek, dan sedang cukup repot untuk urusan pekerjaannya. Namun, demi adik tercintanya itu pasti rela merawatnya.

__ADS_1


"Iya Bun, ada aku juga yang jagain Bintang, Bunda lebih baik istirahat saja, besok gampang ke sini lagi, atau syukur-syukur kalau besok sudah boleh pulang dari dokter."


"Biar Rayyan yang jagain Om, Tante, jangan khawatir." Tiba-tiba suara pria itu menyeru di tengah-tengah keluarga mereka. Rayyan mendekati ranjang Bintang dan langsung memberi salam pada Yuki dan Asher yang berdiri tak jauh dari sana.


Sky tidak begitu suka dengan kehadirannya, tetapi tentu saja ia tidak banyak protes sebab ada orang tuanya.


"Eh, nak Rayyan. Terimakasih Ray, Bunda senang banyak yang sayang sama Bintang." Yuki tersenyum hangat, tidak jelas mengiyakan tapi secara tidak langsung memberi restu.


"Sayang, Bunda pulang dulu nggak pa-pa kan, besok pagi-pagi janji deh Bunda ke sini lagi," pamitnya seraya membelai putrinya.


"Iya Bun, ada kakak kok, jangan khawatir."


Setelah ke dua orang tua mereka pulang, praktis ada mereka berempat di dalam satu ruangan. Cukup longgar dan nyaman untuk ruang tunggunya juga, namun tidak nyaman untuk suasana hati mereka semua.


Sky yang merasa tidak suka pun tidak banyak protes dan lebih memilih bermanja ria pada istrinya. Entah apa motifnya, tetapi laki-laki itu menempel sepanjang malamnya.


Disya juga tidak protes, ia sangat penurut dan merespon dengan hangat perlakuan suaminya. Walaupun suasana mendadak canggung, ia lebih memilih duduk agak menjauh dari jangkauan pria itu. Tidak ingin salah tanggap, di tambah sikap suaminya yang teramat cemburu akan menyulitkan dirinya kalau banyak bertingkah. Cuma ... gadis itu agak sedikit geli dengan tingkah suaminya, katanya mau menjaga adiknya, tapi yang Disya lihat, suaminya itu malah menjaga dirinya.


"Kalian berdua lebih baik pulang saja deh, ngerusak pemandangan dan suasana. Kalau mau mesra-mesraan nggak harus sekarang banget kan?" ucap Rayyan jengah, melihat ke dua sejoli itu yang menempel sepanjang masa.


"Kenapa? Tidak suka, kamu bisa tinggalin ruangan ini biar Bintang gue yang jaga ...!"


"Nggak! Bukan ya, tapi mengganggu pasien saya yang butuh ketenangan," kilahnya mencari alasan.


Rayyan sedikit kesal, namun tidak begitu banyak. Ia bahkan mulai terlihat cuek dan biasa dengan pemandangan yang teramat menggelikan itu. Di mana mantan sahabatnya itu sedang tiduran di paha Disya, persis seperti dirinya kalau lagi pingin di manja. Ia pun menjadi halu, jika itu di lakukan dengan Bintang, walaupun gadis itu masih belasan tetapi saat ini cukup memikat perhatiannya.


"Kakak cemburu?" celetuk Bintang tiba-tiba.


Rayyan menoleh ke sumber suara, menemukan Bintang yang terbangun dari tidurnya.


"Nggak, tapi lebih kepada iri sama mereka, kapan aku dan kamu bisa kaya gitu?" ucap pria itu tenang.


Tidak bisa di pungkiri, masih ada sedikit rasa yang tertinggal, namun bukan untuk di pupuk untuk menjadi tumbuh, sebab ia harus tetap melanjutkan hidup dengan memberi rasa bahagia untuk dirinya. Mungkin saja bukan dengan masa lalunya tapi ia berharap dengan orang baru yang akan menjadi selamanya.

__ADS_1


Rayyan dan Bintang bergeming, mereka saling menatap tanpa suara. Ada perasaan yang entah untuk ke duanya, tapi ada perasaan lain juga yang sulit di definisikan. Mungkin terlalu cepat, tapi bukankah obat paling mujarab untuk patah hati adalah orang yang baru, yang mampu memberi plester sebagai penawar atas lukanya.


Terlalu banyak yang harus di pahami Bintang, tentu saja tidak bisa menerima dengan mudah pria bekas kakak iparnya. Apalagi hubungan mereka yang terlampau jauh, membuat hati itupun ragu untuk membuka hati pada pria itu.


__ADS_2