
Sky dan Rayyan duduk di sofa, hening, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Sky yang sibuk macbook nya dan Rayyan yang sibuk dengan ponselnya. Sesekali mereka melempar tatapan tajam dan sengit.
Setelah beberapa saat cuma ada keheningan, Sky mulai lelah dan mengantuk. Pria itu bahkan belum sempat makan malam. Ia baru tersadar, beberapa menit yang lalu orang suruhan Bunda Yuki datang membawakan pakaian ganti dan juga makanan untuk Sky. Bunda memang paling pengertian.
Sky sebenarnya ingin pergi ke kamar mandi, tapi tak sampai hati meninggalkan istrinya begitu saja, sedang Rayyan masih ada di dalam ruangan. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu, kenapa tidak kunjung keluar, padahal ia sudah selesai memeriksa.
"Kamu tidak pulang? Bukannya ini sudah terlalu larut? Pasien sedang istirahat, dan Anda tidak seharusnya ada di ruangan ini," kata Sky masih mencoba untuk sabar.
Rayyan bergeming, pria itu memendam kebencian pada makhluk yang pernah menjadi sahabatnya itu. Sesaat ia berdiri, menatap tajam ke arah Sky.
"Bisakah tolong kamu kembalikan Disya padaku, bukankah memisahkan dua orang yang saling mencintai itu kejam namanya. Kamu, harusnya tahu itu, dan melepaskan Disya. Asal kamu tahu, sudah tidak ada lagi alasan untuk gadis itu bertahan, dan kamu pertahanin," celetuk Rayyan tiba-tiba.
Sky mengepalkan tangannya, dadanya begitu sesak. Namun, ia harus menahan kesal sebab dirinya berada di ruangan rumah sakit, dan tentu saja Sky tidak ingin membuat keributan, ia harus bisa mengolah emosi dengan baik, saat ini mereka sedang berduka, dan Disya pasti akan bertambah sedih kalau melihat Sky bertengkar.
"Kami punya ikatan yang sah, dan tidak bisa saling memisahkan. Kami juga punya alasan untuk tetap bertahan, karena kami punya... Cinta." Sky berkata penuh dengan keyakinan.
"Oh ya, kita lihat saja nanti. Siapa yang pada akhirnya akan menjadi pemenang yang sesungguhnya, menjadi pendamping hidup Disya?" ujar Rayyan sinis, meninggalkan ruangan Disya dengan langkah angkuh.
Sky membuang napas kasar, dan menjatuhkan bobot tubuhnya ke sofa tunggu. Mencoba mengatur degup jantung yang naik turun, karena sabar itu penuh dengan rintangan. Beberapa menit kemudian, Pria itu mendekati ranjang, mengamati istrinya yang terlelap damai. Tangannya terulur menyentuh pipi Disya
"Apakah kamu bakalan ninggalin aku, sekarang kamu sudah tidak mengandung anakku, apa itu artinya kamu bakalan minta pisah?" gumam Sky lirih, terdengar memilukan. Pria itu berujar sedih, benar-benar takut sekali hal itu terjadi.
Tiba-tiba mata lentik indah itu terbuka, Disya terbangun di tengah malam. Gadis itu membuka matanya, menatap Sky dengan raut bingung dan canggung.
"Apa sayang, mau apa?" tanyanya khawatir.
"Aku... mau... ke kamar mandi?" ucap Disya bingung.
Tanpa berkata apapun, Sky langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawa ke kamar mandi.
"Mas, tolong ambilkan...?" Disya benar-benar malu menyebutkan hal pribadinya. Ini kenapa gadis itu merasa lebih nyaman jika Mama Amy sendiri yang nungguin. Gadis itu pasti tidak secanggung ini untuk perihal pribadinya.
"Apa, sayang? Ambillin apa?" Sky terlihat bingung.
"Aku... butuh pembalut, Mas. Bisa tolong ambilkan di tas aku?" canggung Disya gugup.
"Owh... pembalut? Disya, Disya, mau ngomong gitu aja susah banget." Sky keluar dari kamar mandi dan mengambil pesanan Disya. Pria itu kembali masuk dan menyerahkan ke tangan istrinya.
"Makasih," jawabnya dengan muka merona.
Sky menatapnya gemas, istrinya terlihat malu-malu.
"Mas, kamu keluar dulu ya, aku mau ganti pembalut," ujar gadis itu malu.
"Aku tunggu di sini aja, kamu mau ngapain aja aku nggak bakalan keluar, kamu itu istri aku sayang, jangan sungkan dan merasa malu. Kamu perlu bantuan?" kata pria itu lembut penuh perhatian.
"Mas... please... keluar sebentar, aku mau ganti," rengeknya manja.
__ADS_1
Sky bergeming, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu berjalan keluar. Kaki Disya masih sakit, jadi praktis gadis itu kesulitan berjalan walau hanya dengan jarak dekat.
"Mas..." panggil Disya setelah aktifitas di dalam kamar mandi selesai.
Sky langsung masuk begitu istrinya memanggil. "Udah?" tanyanya, dan kembali menggendong istrinya, membaringkan Disya ke ranjang dengan hati-hati.
"Makasih," ucap gadis itu lega.
"Apa masih terasa nyeri, kram?" tanya Sky prihatin.
Gadis itu menggeleng, seketika Sky menjadi lega.
"Mas, sudah malam, kamu istirahat Mas?" kata Disya memperingatkan suaminya.
"Nggak bisa tidur," jawab pria itu, tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun.
"Kenapa?"
"Mau jagain kamu," jawabnya.
"Makasih Mas, tapi kamu harus istirahat, nanti kalau kamu sakit, siapa yang bakal ngerawat aku?"
"Iya, aku bakalan istirahat habis ini, aku bersih-bersih dulu," ujar Sky. Pria itu ke kamar mandi membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan yang bersih.
Sky keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya yang belum tidur. Ia mendekati ranjang, dan duduk di kursi sebelah ranjang.
Disya tersenyum, hatinya menghangat seketika mendengarkan perkataan suaminya.
"Sudah tidur, jangan ngomong yang aneh-aneh, kepalaku pusing dengernya," kata gadis itu seraya menepuk-nepuk sisi kasur yang sempit.
"Bobok sini mas, di situ pegel," ujar Disya menyarankan.
"Emang boleh?" tanya pria itu memastikan. Disya mengangguk, detik berikutnya Sky langsung naik ke atas ranjang rumah sakit dengan mata berbinar.
"Ini terlalu sempit sayang, apa kamu nyaman? Kamu nggak takut sama aku? Kalau aku tiba-tiba on gimana?" tanya pria itu bak orang bodoh.
"Kalau begitu tidur saja di sofa Mas, itu lebih baik," jawab Disya pada akhirnya.
"Nggak mau, aku mau peluk kamu sepanjang malam, aku kangen Sya? Cepet sembuh, cepet pulih biar kita bisa...." Sky menggantungkan perkataanya, pria itu menatap istrinya lekat.
"Sya," gumam Sky memposisikan kepalanya di ceruk leher Disya, pria itu mendusel, mencari kenyamanan posisi tidurnya.
"Mas, maafin aku. Kamu kenapa nggak marah? Aku siap lho dengerin kamu ngamuk?" ucap Disya pasrah.
"Kita sedang berduka sayang, mana mungkin aku marahin kamu yang sama halnya terluka, berduka dan bahkan merasa sakit pada tubuhnya. Aku akan sangat berdosa bila memarahi calon ibu untuk anak-anakku. Aku hanya merasa kecewa," ucap pria itu sendu.
"Kamu boleh menentukan pilihan Mas, tetap seperti ini atau ada status lain untuk kita," ujar Disya hati-hati.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Sya?" pria itu mendongak, menatap lekat netra Disya. "Kamu mau kita nggak bareng lagi? Kamu mau ninggalin aku?"
Hening untuk beberapa saat
"Aku sudah mengecewakan mu Mas, apa itu adil untuk kamu?"
"Aku tahu kamu menyayanginya, walaupun sempat membenci bahkan menolak kehadirannya. Dia sudah tenang, menjadi bidadari surga."
"Maafkan aku, Sya? Pria brengsek yang membuat satu kesalahan fatal, dan menyebabkan hidupmu menderita dengan perasaannya. Tolong jangan benci aku, tetap bertahan menjadi pendamping hidupku selamanya," mohon Sky sendu. Pria itu menatap lekat wajah Disya, menciumi pipinya dan memeluk Disya begitu erat.
"Sya, tolong cintai aku? Sedikit saja, cukup. Asalkan hanya aku yang bersinggah di hatimu," kata pria itu memohon, terdengar begitu tulus.
"Tidur Mas, jangan ngomong terus, aku ngantuk," jawab Disya.
Mereka tertidur berdua di ranjang rumah sakit sampai pagi.
Keesokan paginya, Pria bernama Ausky itu terjaga lebih dulu. Semalam tidurnya begitu nyenyak, pria itu melakukan kegiatan pagi pada umumnya. Selang beberapa menit Disya terjaga saat Sky sudah bersih.
"Mau ke kamar mandi?" tanyanya yang melihat pergerakan Disya.
Gadis itu mengangguk, lalu dengan hati-hati bangkit dan duduk. Sky dengan sigap langsung menggendongnya. Seperti semalam, Sky menunggu di luar pintu dan kembali menggendong istrinya begitu gadis itu sudah selesai dengan aktifitasnya.
"Kamu nggak masuk?" tanya Disya demi melihat Sky yang masih bersantai di pagi hari.
"Nggak, di kerjakan di sini aja, bisa kok. Nanti aku suruh orang buat nganterin ke sini. Biar bisa jagain kamu, sambil kerja," ujar pria itu tenang.
"Mas, aku mau pulang," pinta Disya mulai tidak nyaman.
"Kenapa? Kan belum pulih, tunggu sehari dua hari lagi, aku tidak mau terjadi apapun denganmu Sya?" cemas pria itu.
Disya merasa tidak nyaman, ia hanya tidak ingin suami dan juga mantanya bertemu dan mereka saling bermusuhan. Biar bagaimana pun mereka dulu bersahabat, dengan kehadirannya, membuat dua sahabat itu hancur. Disya merasa sedih mengingatnya.
"Aku punya permintaan, boleh?" kata Disya lirih.
"Apa Sya? Kalau aku mampu, aku pasti bakalan kasih," jawab Sky tenang.
Asalkan kamu tidak minta pisah dariku Sya, karna itu, aku tidak mungkin sanggup.
.
Bersambung
Mohon maaf buat teman-teman yang kurang nyaman dengan jadwal up date saya, disarankan membaca pagi saja sesudah bangun tidur.
Salam sayang sejagat, buat readers semua...
🙏🙏🙏
__ADS_1