One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 145


__ADS_3

"Kamu mau apa?"


"Aku ingin ... kakak menghapus kisah kita yang pernah ada. Berbahagialah dengan jalanmu kak, aku yakin ada seseorang yang sudah disiapkan Tuhan, yang akan datang pada waktu tepat."


"Bagaimana kalau itu kamu?"


"Aku tahu kak Ray orang yang tepat janji, aku hanya meminta itu. Tidak sulit bukan, Allah tidak pernah salah memberikan takdir, suatu hari nanti kita akan bersyukur, atas apa saja yang Allah tunda, juga pada harapan yang tak menjadi nyata."


"Bisakah kita masih bertemu? Aku sulit menyakinkan hatiku untuk tidak memikirkanmu."


"Aku sudah memutuskan untuk study di London, dan aku harap kak Ray bisa mengukir ceritanya sendiri."


"Berapa lama waktu yang kamu butuh untuk menghindari aku, aku akan tetap menunggu."


"Jangan menungguku yang tak pernah pasti."


"Kenapa? Apakah kamu mencintaiku?"


Bintang bergeming, bohong kalau ia bilang tidak ada perasaan apapun. Dia orang yang terlalu baik untuk diabaikan, tapi memang takdir yang terbaik saat ini begini.


"Kamu diam, aku anggap iya. Kapan kamu berangkat, aku ingin mengantarmu sampai kamu menunju gerbang kesuksesan, dan aku akan menjemputmu kembali."


Aku hanya pamit, bukan berarti aku tak punya rasa, karena cinta itu sudah tumbuh ketika aku merasakan terluka. Aku pergi hanya untuk singgah sementara, bukan karena tak ada lagi cinta, melainkan berlindung dari rasa sesak yang berulang.


"Lusa mungkin aku berangkat." Bintang berusaha untuk biasa-biasa saja di depan Rayyan, gadis itu terlalu lihai menyimpan kesedihan yang hampir tumpah.


"Aku ingin bertemu sekali lagi sebelum kamu benar-benar berangkat, bisa? Tolong buka blokiran whatsapp aku, balas pesan aku, supaya aku tenang melepasmu. Berjanjilah untuk selalu memberi kabar."


Sayangnya aku terlalu takut, menerima apapun tentang kabar darimu. Biarlah jalan ini berjuang lewat lantunan doa, kalaupun pada akhirnya kita dipersatukan, benar-benar pada hati yang bersih, dan ikhlas.


"Bintang? Aku akan menunggumu," ujarnya dengan wajah sendu.

__ADS_1


Bintang menggeleng, "Cukup berjuang sampai di sini, jangan menego waktu yang mungkin tak akan pasti. Cukupkan cintamu untuk orang yang bisa memberi balasan, jangan pernah berjuang sendiri."


"Aku yakin kamu akan memberi kesempatan, ini hanya soal waktu, bisakah kamu memberi semangat sebelum akhirnya kamu benar-benar memutuskan untuk pergi."


"Kak Ray punya cinta yang tulus, hanya saja mungkin waktu yang kurang berkenan menyambangi hatimu, percayalah ... tidak ada yang Allah jauhkan, juga dekatkan melainkan karena ada kebaikan di dalamnya." Mulut itu bisa mengutarakan kata begitu tegar, tapi sungguh hati itu sakit.


Bintang tersenyum tipis, sebelum akhirnya berujar menjauh dari lokasi, tak sanggup rasanya berada dalam ruang yang sama. Rasa yang hampir terkikis, bisa tumbuh kembali dan sulit untuk di nalar. Cinta kenapa serumit ini?


"Bintang ...!" seru Rayyan mengikuti gadis itu sampai belakang. Ia tak diberi kesempatan sedikitpun untuk mengobrol lebih lama.


Kaki Bintang berhenti seiring seruan itu, ia bergeming tidak menoleh namun menanti ungkapan Rayyan selanjutnya.


"Maafkan aku yang terlambat menyadari ini semua, maaf untuk waktu yang mungkin pernah kita lalui walau tak seindah khayalan. Maaf yang telah membuat hati kamu terluka, maaf untuk cinta yang mungkin membuatmu dalam nestapa lara dan kebencian, maaf untuk semua khilaf yang pernah ada," ungkap Rayyan lega.


Andai dua anak adam itu paham, bahwa hati adalah muara pengharapan dan penerimaan, mereka tidak akan pernah saling menyakiti.


Pria itu tidak bisa berharap banyak, karena sejatinya cinta mereka yang ia bangun hanya berkedok fatamorgana yang tanpa sengaja tumbuh menjadi laiknya bunga asmara. Sampai akhirnya dua insan itu menyadari, dirinya telah jatuh dalam pesonanya.


"Mari kita berjuang lewat lantunan doa, seberapa kuat takdir menyatukan kita, jika suatu hari nanti kita ditemukan kembali dan kesempatan itu ada, aku baru percaya pada hati yang seharusnya pulang."


"Semangat kerjanya kak, bahagia selalu dalam setiap langkahnya." Doa Bintang tulus melepas dalam senyuman.


Rayyan membalas senyuman itu dan mengangguk, hatinya sedikit lega. Entah harus menyikapi seperti apa, perpisahan itu membuat hati itu semakin sadar, ia harus rela menjaga hati yang telah ia curi. Menanti dalam kurun waktu yang tak sebentar membuat pria itu terbayang dalam diam, lantas mengingat sekaligus menyisakan dalam kubangan rindu dan air mata duka.


Sky, Bara dan Gerald yang tak sengaja melihat adegan live tersebut merasa tersentuh. Sky mendekat, menepuk-nepuk pundak Rayyan, seraya berkata ...


"Hanya soal waktu, seberapa bisa kamu membuktikan dan mengalahkan nafsu, dan seberapa kuat hatimu bertahan dalam jarak dan waktu. Seberapa sabar kamu meyakinkan dan mengembalikan kepercayaan Bintang seperti dulu. Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian, sebagai sahabat, teman, saudara, dan calon kakak ipar." Sky tersenyum haru, ia menangkap sudut mata pria itu mengembun, ia percaya, bahwa pria yang sempat menjadi rivalnya itu telah jatuh cinta pada adiknya yang bandel.


Ke dua insan yang pernah berseteru itu saling memeluk, menguatkan. Persahabatan yang pernah hancur terbalut keikhlasan. Setelah sekian purnama sempat saling senggol, mengumpat sengit dan adu kekuatan lawan, kini mereka bisa berlapang dada memberi doa. Sebuah perjalan takdir yang mengharu biru diantara manis pahitnya percintaan mereka.


Sky dan Rayyan sama-sama tersenyum, satu masalah telah terpecahkan dengan mengantongi restu calon kakak ipar.

__ADS_1


"Nggak usah cengeng, sejauh apa sih London, uangmu tidak akan habis untuk bolak balik menjenguk," seloroh Gerald.


"Huum, sampai ke ujung dunia pun pasti daku jemput, oh ... adek sayangnya abang," Bara menimpali. Mereka terkekeh bersama.


"Roman-romannya habis ini gue yang mau resepsi," celetuk Bara pada diri sendiri.


"Iye kah ... tragedi kuah rendang berlanjut nih ceritanya?" selorohan Gerald membuat Sky dan Rayyan saling melirik.


"Siapa yang mau sama play boy cap semrawut kaya lo!" tukasnya penuh nada ejekan.


"Hus ... jalan menuju hijrah, karena di setiap langkah kebaikan pasti dimudahkan, hari ini gue niatnya apik, dengan tema menjemput jodoh di resepsi pernikahan sahabat, nah ... berarti kejadian itu benar-benar tanda-tanda."


"Tanda-tanda apa?"


"Hilal gue udah deket, tinggal deketin ke orang tuanya, pepet anaknya dan bilang marry me. Cocok kan?"


"Mana ceweknya, gue mau lihat siapa gerangan yang mau sama lo?" tanya Sky penasaran.


"Adalah pokoknya, tunggu saja undangannya."


"Ngeles dia, belum punya calon ngaku-ngaku anak orang."


"Percaya sama yang Maha Pemberi Hidup saja, bahwa jodoh gue otw, dan otw halalin."


Mereka asyik bercengkrama bersama, acara malam benar-benar bernuansa kekeluargaan. Hampir semua sahabat, teman, saudara, dari yang pagi belum sempat datang mereka mendoakan dan hadir di malam hari. Usai memberi selamat, dan untaian doa mereka mengakrabkan diri bersama rekan sejawat, sahabat seperjuangan dan semua yang bergabung dalam uforia bahagia Disky.


"Sayang, dicariin malah mojok di sini?" rengek Disya menyusul Sky yang tengah bergerombol bersama sahabat karibnya.


"Minggat bentar yank, boleh dong main sebentar sama mereka."


"Cie ... yang bucin, parah ini sih, masih dalam kawasan saja di pantengin," seloroh Flora berbisik.

__ADS_1


"Aku lebay banget sih emang, kok aku bisa kaya gini, kayaknya suami aku pakai pelet deh, seingat aku tuh ya ... aku nggak parah-parah banget kalau jauh, ini mah apa seakan tubuhku ada dorongan ingin ngintilin mulu, ini sih pasti aku kena pelet."


__ADS_2