
"Pak saya duluan ya?" pamit Disya seraya mengulurkan tangannya.
"Nanti kalau kelas usai tunggu di ruangan aku aja Sya, nggak boleh kluyuran, pokoknya tunggu aku selesai ngajar sampai siang, nanti cek up nya aku antar," ujar Sky panjang lebar.
"Hmm..." Disya hanya menjawab dengan gumaman dan anggukan kepala.
Sky menyambut uluran tangan Disya, lalu seperti biasa meninggalkan jejak sayangnya tapi kali ini bukan di kening, bukan juga di bibir, pria itu mencondongkan tubuhnya dan mengecup leher Disya. Eh, lebih tepatnya menyesap sedikit.
Gadis itu membulatkan matanya, melihat tingkah suaminya yang rada-rada mesum atau memang sangat mesum, entahlah, Disya merasa begitu.
"Mas, jangan ngawur dong, ini area kampus. Lagian nanti membekas kan nggak lucu?" protesnya kesal.
Sky mengulum senyum, menatap penuh damba istri cantiknya.
"Udah sana turun, sebelum aku berubah pikiran." Sky menatap lekat tanpa dosa. Katakanlah pria itu sudah gila, ya gila karena istrinya. Otak cerdasnya mulai menyusun rencana untuk sebuah misi masa depan yang paling sempurna bersama Disya.
Setelah turun dari mobil, Disya langsung menuju gedung Fakultas Ekonomi. Ketika Disya masuk, kelas sudah rame anak-anak yang menunggu Dosen mereka hadir.
"Pagi gaess...!" sapa Disya pada teman-temannya yang tengah bergerombol, ngrumpi pagi.
"Hallo beb, kangen....!" Sinta langsung berhambur memeluknya. Hampir lima hari tidak bertemu dengan gadis itu karena Sinta tidak mengikuti kegiatan kemah kemarin. Gadis itu memilih liburan bersama kekasihnya.
"Ehem... mana oleh-olehnya nih, yang habis liburan sama doi?" seloroh Disya melirik genit.
"Tenang beb, kebagian kok, beres pokoknya."
"Asyik... btw... bukan gantungan kunci kan?" tanyanya penuh selidik.
"Bukanlah... di jamin kalian suka."
"Apaan? Lo udah di kasih Bil, Han?" tanya Disya menunjuk dengan dagunya.
"Surprise, katanya habis kelas bakalan di kasihnya, masih di mobil," ujar Bila mengulang kata Sinta.
"Pokonya habis kelas kita ngafe deh... gue traktir," seloroh Sinta semangat.
"Asyik... siap boskuhhh!!"
Ssshhhttt...!!!
"Ada Dosennya datang!" Sinta menginterupsi.
"Ehem... ehem!!" Bila dan Hanum saling melirik, kemudian menatap Disya dengan menaik turunkan alisnya. Semenjak rahasianya terbongkar oleh ke dua sahabatnya, baik Bila dan Hanum suka meledek.
"Siang semuanya...!!" seru salam menggema di ruangan kelas.
"Siang Pak...!!"
"Oke, melanjutkan materi yang kemarin. Untuk tugas yang berkelompok ada yang belum sampai ke ruangan saya ya, masih saya tunggu deadline sampai akhir minggu ini."
__ADS_1
"Iya Pak..."
45 menit kemudian
Sky baru saja menerangkan materi dan sekarang masuk mengerjakan tugas. Pria itu memberikan tugas mengerjakan modul yang telah di salin dalam lembaran foto kopian.
Thing
Satu pesan masuk terkirim ke ponsel Disya.
[Jangan ngobrol Sya, kerjakan secara mandiri]~ Pluto
Disya dengan gerakan lirih meraih handphone nya kemudian membuka aplikasi WA. Gadis itu hanya membaca pesan dari Sky tanpa membalas, sekilas gadis itu melirik ke arah depan di mana tempat Dosen berada.
"Ish... kemana pluto, perasaan tadi lagi mantengin gue deh," monolog Disya seraya menyapu seluruh pandangan ke ruangan. Gadis itu tidak menyadari kalau saat ini Sky tengah berdiri tepat di belakangnya.
Disya menopang dagunya dengan telapak tangannya, jari-jarinya ia mainkan untuk menepuk pipi, santai dan cukup santai.
"Disya sudah selesai?!" tanya Pak Sky menginterupsi. Pria itu berbicara tepat di belakang tubuh Disya.
"Allahuakbar..." kaget Disya mengusap dadanya dramatis.
"Belum Pak, lagi mikir," jawabnya setenang mungkin.
Sembilan puluh menit usai pelajaran dari Dosen Sky, semua anak langsung mengeluarkan aura senyum begitu langkah sepatu dosen itu meninggalkan kelas.
"Kuy lah... langsung gass... La boheme ya Sin?" pintanya ngarep.
"Oke lah, mumpung gue lagi baik hati."
"Kayaknya ada aura-aura kebahagiaan yang haqiqi," timpal Disya.
"Eh, bentar dong. Gue mau poles-poles cantik dulu," ujar Hanum centil.
"Ya ampun... beb, kebiasaan deh...!" protes Bila demi melihat Hanum mengeluarkan catokan rambut dari dalam tasnya.
"Dandan itu penting, biar tetep cetar. Siapa tahu nanti di kafe ketemu sama cogan, kan jodoh gue nyangkut di lapak tebar pesona."
"Hadeh... riweh deh... mulai rempong," keluh Disya geleng-geleng kepala.
"Percaya deh, yang udah punya Pak Dos---" Disya langsung mendelik ke arah Hanum, suasana kelas sudah lumayan sepi, tapi masih ada beberapa orang yang terlibat obrolan di sisi ruangan pojok.
"Apaan sih, kalian kaya nyimpen rahasia gitu?" kepo Sinta penuh selidik.
"Tuh..." Bila menunjuk dengan dagunya.
"Gue ketinggalan berita nih kayaknya, cepetan Han... ayo ah," seru Sinta.
"Eh, gue pamit doi dulu gaes nanti bisa panjang urusannya," ujar Disya gugup, gadis itu hampir saja lupa mengabari suaminya.
__ADS_1
Disya segera mencari kontak WA suaminya dan melakukan panggilan, hingga tiga kali tidak ada jawaban. Gadis itu pun berujar mengirim pesan yang menyatakan dirinya akan pergi bersama teman-temannya. Sky membalas pesan Disya, namun tidak mengiyakan atau melarang, pria itu menyuruh Disya ke ruangannya.
"Gaes... gue ke ruangan doi bentar ya, bisa panjang nih urusan kalau main pergi-pergi aja," pamit Disya seraya berjalan menjauh dari kelas, teman-temannya tengah sibuk ber make up ria.
Ceklek
Disya langsung membuka pintu ruangan Sky dibarengi dengan ucapan salam. Nampak Sky tengah sibuk dengan laptop di mejanya.
Sky melirik sekilas ke arah pintu, kemudian kembali fokus dengan laptopnya.
"Pak...!" panggil Disya.
"Hmm," gumam pria itu tetap fokus dengan apa yang di depannya.
"Mas...!" Kali ini Disya menyeru dengan nada lebih lembut.
Sky menghentikan tangan lincahnya dari keyboard, netranya beralih menatap Disya dengan penuh tanda tanya.
"Aku... mau jalan sama teman-teman ya? Cuma nongkrong di kafe kok, boleh kan?"
"Katanya mau cek kandungan Sya? Kok main sih, nanti kamunya lupa kalau udah bareng teman-teman kamu itu."
"Nanti, aku udah buat janji sama dokternya, pukul dua siang. Bapak kan ngajar dulu... jadi dari pada aku nunggu nggak ada teman boleh ya? Seenggaknya aku nggak bosen kalau cuma nunggu di sini," ujarnya memohon.
"Ya udah, nanti aku jemput setelah dari kampus."
Yes yes!!
Disya tersenyum senang. "Makasih," ujarnya sambil lalu.
"Sya?" panggilnya menyeru, menghentikan langkah Disya dengan tangan menggantung di handle pintu. Gadis itu berbalik.
"Apa lagi Mas?"
"Main pergi gitu aja, nggak salim?"
"Owh... iya ding, maaf Pak suka lupa," jawabnya seraya mendekat. Gadis itu tidak mengulurkan tangannya melainkan langsung mencondongkan tubuhnya, dan...
Cup
Disya sengaja mencium pipi Sky dengan kilat, gadis itu langsung melesat begitu saja setelah melakukannya. Tanpa menilik kondisi Sky yang tengah terbengong kaget, ekspresi wao... sekali karena saking surprise nya mendapatkan sentuhan sayang dari istrinya.
Baper- baper deh... sekalian, gue juga bisa bikin Bapak spot jantung. Hahaha... Disya ketawa jahat.
"Udah?" tanya Bila begitu mendapati sahabatnya berwajah cerah sudah berada di dekatnya.
"Gass... aman," jawabnya yakin.
Mereka berempat menuju La boheme. Selain enak dan nyaman ada rooftopnya yang keren abis buat swafoto.
__ADS_1