
Yuki menggamit tangan menantunya, mereka terlihat sangat akrab berjalan beriringan menuju ruang rawat. Disya diam saja, gadis itu terus mengikuti langkah mertuanya. Disya berharap sore ini tidak menemukan masalah yang berarti, dan pulang dengan selamat tanpa siraman rohani dari suaminya.
"Sya, mau tahu nggak? Sahabat Bunda yang mau aku jenguk itu punya anak seumuran kamu lho, dia juga kuliah yang sama di Universitas kalian. Pingin banget ngenalin ke Bintang tapi belum kesampaian," ujar Bunda Yuki bercerita di sepanjang koridor rumah sakit.
"Oh ya Bun... wah... Bunda mau jodohin Bintang ya?" selorohnya tersenyum.
"Kira-kira Bintang mau apa nggak ya, Bunda nya baik banget pasti anaknya juga baik," ujar Bunda yakin.
"Coba di dekatkan dulu aja Bun, biar saling kenal dulu, jangan sampai mereka ngejalanin pernikahan dengan terpaksa," ucapnya bijak, padahal dirinya sendiri mengalami hal tersebut.
"Iya kali ya, Bunda juga nggak mau maksa sih kalau anaknya nggak mau," ujar Bunda seraya mengelus punggung tangan Disya yang membawa parsel buah di tangannya.
Disya tiba-tiba menghentikan langkahnya, gadis itu sekelebatan melihat adik iparnya tengah berbincang sengit dengan seseorang yang ingin segera ia lupakan.
Belakangan Bintang sering pulang terlambat bahkan di luar jam anak sekolah. Alias mangkir dari les juga, gadis itu rupanya sedang berkeliaran di rumah sakit. Praktis semenjak kejadian gigit menggigit, Bintang terpaksa di tuntut membantu Rayyan untuk urusan pribadinya. Terhitung sudah dari hari pertama kenaasan itu terjadi, Bintang harus sukarela menjadi relawan rumah sakit, terkhusus untuk ruangan Rayyan.
"Eh, hobby kamu jajan mulu, kamu tahu tujuanmu ke sini, datang dengan tertib dan membantu membersihkan ruanganku!" bentak Rayyan sengit.
Disya yang melihat itu dari kejauhan cukup di buat terkesiap ketika melihat mereka berdua, jujur ada rasa sedikit aneh pada hati Disya, ia pun lantas hanya menganggap angin lalu saja. Jujur Disya senang dan bersyukur kalau pada akhirnya pria itu sudah move on dan mendapatkan gadis yang baik, setidaknya beban rasa bersalah itu sedikit berkurang. Tetapi tentu saja bukan dengan Bintang.
"Sya, ayo sayang lewat sini," ujar Bunda menginterupsi. Disya tidak memberi tahu perihal apa yang baru saja gadis itu lihat.
"Iya Bun," angguk Disya yang masih terfokus pada pandangan dalam radius lima belas meter.
Bunda Yuki membuka pintu rawat inap, mereka langsung di sambut hangat oleh seseorang yang ada di dalam.
"Hai, Ge. Gimana keadaan kamu, tambah membaik kan?" tanya Bunda. Wanita seumuran Bunda itu tersenyum hangat, ia mengangguk.
"Gea, kenalin. Ini mantu aku, namanya Disya," jelas Bunda Yuki.
Disya maju satu langkah lebih dekat dengan ranjang, perempuan itu mengangguk ramah dengan senyum manis, tangannya terulur menyalami Tante Gea dengan takzim.
"Salam kenal, Tante. Saya Disya, semoga Tante lekas sehat," ucap Disya tulus.
"Makasih nak Disya, senang bertemu denganmu. Kamu manis sekali, Sky pinter cari istri," seloroh Tante Gea.
Ceklek
Pintu kamar mandi ruangan terbuka, seseorang nampak muncul dari balik pintu dengan muka kaget melihat kedatangan mereka berdua, terutama melihat Disya.
"Disyayang? Lo ngapain di sini?" tanya Alan memicingkan matanya.
"Alan? Ya ampun... yang sakit nyokap lo?" Disya nampak tak percaya dunia sempit sekali.
__ADS_1
Bunda Yuki dan Tante Gea saling melirik, dan cukup terusik dengan panggilan yang disematkan untuk Disya, laki-laki itu terlihat sudah sangat akrab dengan menantu kesayangannya.
"Alan, kalian udah saling kenal?" tanya Tante Gea penasaran.
"Kenal banget lah Bun, Disyayang ini teman Alan di kampus," jawab Pria itu sumringah.
Bunda Yuki mrengut sedikit tidak menyukai panggilan sayang kepada menantunya.
"Tante Yuki," salam Alan menyalami Bunda Yuki.
"Iya, Alan. Disya ini istrinya anak Tante, Alan?" ucap Yuki menjelaskan.
"Menantu sama mertua, klop banget sih Sya, keren deh," ucapnya nyengir tanpa dosa.
"Harus dong, iya kan Bun?" Disya mengiyakan.
"Alan, kamu kelihatannya akrab sekali dengan Disya?" selidik Tante Gea.
"Ya iya lah Bun, kan bang Ray suka nitipin dia ke aku kalau ada kegiatan kampus, pas kemarin aja aku nggak ikut, soalnya Bunda sakit," jawab pria itu jujur.
Bunda Yuki semakin di buat penasaran dengan tingkah gaje anak sahabatnya itu, mulai dari manggil menantunya dengan panggilan lebay, Disyayang? juga perihal 'titip' layaknya barang.
Sementara wajah Tante Gea yang awalnya ceria sedikit murung sebab perihal Rayyan, keluarga Alan dan Rayyan itu saudara sepupu jadi mereka sangat dekat, secara otomatis hal yang menimpa Rayyan pun keluarga tahu, sebab Alan wira-wiri di kabari Mamanya Rayyan untuk menemani keterpurukan pria itu, jelas, Alan mencurhatkan semuanya pada Ibunya, cuma Gea tidak menyangka kalau orang itu adalah menantu dari sahabatnya sendiri alias istri Sky.
"Om, udah bersih nih... aku boleh pulang ya? Nanti Bunda marah kalau aku pulang sekolah klayapan mulu," keluh Bintang sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya itu resiko kamu bocah, salah sendiri kanibal," jawabnya cuek.
"Ish... Om ini terlalu lebay, luka ringan juga. Modus!" ucapnya sebal. "Pokoknya besok saya udah nggak mau datang lagi, enak aja cantik-cantik gini jadi pelayan," jelas Bintang semakin kesal.
"Bar-bar, latihan dulu, besok juga bakal ngelayani suami kamu, anggap aja sekarang kamu sedang kursus membersihkan rumah, lalu menyediakan keperluan ku sampai tangan aku yang super sempurna ini sembuh," ujar Pria itu dramatis.
Sudah beberapa hari ini gadis itu Rayyan manfaatkan menjadi pelayan pribadinya, mulai dari siang pulang sekolah sampai menjelang petang. Pria itu kelihatan jahil dan menyebalkan, merasa sangat terhibur dengan munculnya Bintang yang berisik, jadi bawaannya ia ingin mengerjai terus setiap kali bertemu. Cukup bisa mengalihkan dunianya yang tengah patah hati.
"Om! Ish... malah bengong, saya mau pulang!" Bintang ngegas.
"Oh, no no no. Kamu masih ada tugas satu lagi, sebelum pulang kamu beliin makanan dulu buat aku, terus kerjakan seperti biasa. Eits... satu lagi, awas jangan kabur! Aku mau kunjungan pasien dulu," jelas pria itu melangkah ke luar ruangan.
Bintang menirukan nada Rayyan dengan nada menggerutu sambil memainkan mulutnya.
"Awas aja, gue sumpahin, perjaka tua," umpat Bintang kesal.
Rayyan memasuki ruangan Tantenya, bukan jadwal periksa hanya kunjungan saja, terlebih yang di rawat Tantenya sendiri. Pria itu masuk begitu saja, sebab pintu kamar inap tidak tertutup sempurna.
__ADS_1
"Tante...." sapaan Rayyan terhenti melihat seseorang yang berdiri tak jauh dari Ranjang pasien.
"Eh, lagi ada tamu ya?" sambungnya kikuk.
"Rayyan kan? Temannya Sky, kamu apa kabar? Lama banget udah nggak pernah main ke rumah," ucap Bunda terlihat akrab.
"Iya, ya Bun. Terakhir waktu SMA doang, habis itu nggak pernah lagi main," jawabnya sopan. Rayyan melirik Disya yang berdiri tak jauh dari Bunda Yuki, perempuan itu diam, dan menunduk saja, lebih tepatnya pura-pura tidak mengenali dirinya.
Ekhem
Alan menginterupsi dengan deheman, suasana lumayan tidak kondusif dan itu membuat sisi ruangan terasa berbeda. Pas kebetulan ponsel Disya berdering. Gadis itu segera merogoh tasnya, dan terlihat jelas id caller si penelpon terpampang di layar.
Disya segera menggeser tombol hijau agar tersambung. Disya berjalan agak berjarak dari orang-orang untuk menerima panggilan.
"Di mana?"
Suara ngegas dari sebrang sana begitu kentara. Disya berusaha tenang, agar tidak menimbulkan efek khawatir yang berarti pada suaminya, terlebih suaminya itu tipe cowo cemburu dan posesif.
"Rumah sakit," jawab Disya datar.
"Ngapain? Kenapa nggak ngabarin? Sengaja gitu?"
"Disyayang, makasih ya udah jengukin Bunda," tiba-tiba Alan muncul dan berkata demikian di samping Disya yang masih menerima telfon.
Disya mengangguk saja dengan tersenyum sebagai jawaban.
"Sya! Sya, kamu dengerin aku nggak sih?!" Suara bas itu nampak kesal di sebrang sana.
"Mas, nanti aku jelasin ya? Telfonnya udah dulu, soalnya aku mau pamit."
Tut...
Sambungan telefon terputus, Disya kembali berbaur dengan orang-orang di sana, menit berikutnya Bunda berpamitan di ikuti Disya yang menyalami Tante Gea dengan sopan.
"Cepet sembuh Tante," ucapnya sopan.
"Makasih ya, atas kunjungannya," jawab Tante Gea tersenyum. Bunda dan Tante Gea saling berpelukan.
"Lan, pulang dulu, mari kak Ray," ucapnya canggung.
"Hati-hati Sya," ucap Rayyan menatap Disya dengan tatapan berbeda.
Rayyan menyalami Bunda Yuki sebagai sopan santun, kemudian beralih mengulurkan tangannya pada Disya.
__ADS_1