
"Khem...!!!" suara deheman nampak menginterupsi ke tiga cewe yang tengah mengobrol.
Disya, Bila, dan Hanum langsung menoleh serempak. Ke tiga cewe tersebut nampak terkesiap melihat seseorang yang tengah menjadi perbincangan berdiri di pintu tenda dengan santainya.
"Oemji, Sya? Mampus lo," bisik Hanum kikuk.
"Hehehe... Pak? Jadi jenguk Disya?" Bila nyengir kuda.
"Kayaknya kalian perlu ngobrol deh, kita mending ke luar dulu," ujar Hanum beranjak dari tempat duduknya.
Disya menahan tangan Hanum dan Bila, gadis itu lantas menggeleng pelan. Saat ini dirinya benar-benar sedang tidak ingin berbicara apapun dengan Sky, terlebih tadi sempat membicarakan pria itu dan sudah pasti Sky mendengarnya, rasanya terlalu canggung dan seperti tertangkap basah atas pengakuan hatinya.
Hanum dan Bila merasa tidak enak terhadap Dosen sekaligus suami dari sahabatnya itu, mereka lantas tetap ke luar dari tenda dan membiarkan pasangan halal itu menyelesaikan masalahnya. Bila dan Hanum bahkan berdiri tepat di depan pintu tenda untuk menghalangi siapa saja yang mau masuk ke dalam, termasuk Rara.
"Kalian ngapain menghalangi jalan? Minggir ah, gue mau masuk!"
"Eits... mau ngapain?" tanya Bila ketika Rara hendak masuk.
"Ish... kalian pada kenapa sih, aneh banget tahu nggak? Minggir!"
"Sorry, tenda sedang kami booking untuk satu jam ke depan, jadi lo bisa kembali lagi kesini setelah satu jam kemudian."
Hanum menyenggol lengan Bila. " Maksud lo apaan satu jam, kita berdiri di sini gitu?" bisiknya lirih.
"Kalian berdua apaan sih, gue mau ambil dompet woi... mau jajan, minggir deh!"
Bila merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan uang lembaran biru, lalu menyodorkan ke hadapan Rara.
"Mau jajan kan? Segitu cukup lah, udah sana pergi."
"Kurang lah... tambahin biru satu lagi," ujarnya seraya menengadahkan tangannya.
"Ish... pemerasan." Bila merogoh saku jaketnya lagi kosong, beralih ke sisi kiri juga kosong. "Han lo ada gocap nggak? Kasih dah..."
Hanum lantas menyusuri saku celana nya namun tidak menemukan sepeserpun penghuni receh di sana. Lalu ia membuka softcase pada ponselnya, nampak lipatan merah terselip di sana.
"Mana tadi yang lima puluh ribu, siniin." Gadis itu mengambil dari tangan Rara dan menukar uang tersebut, jadilah Rara dapat seratus ribu hasil negosiasi yang alot.
"Tekor gue, gini amad berkorban demi teman," keluh nya nyengir.
"Perhitungan amad, nanti minta ganti lah... Hehehe! Yang penting misi aman terkendali," ujar Bila sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Sama aja dong, kalau gitu?"
"Uang jajan gue setengah hari itu, sayang banget di palak."
"Sshhhtt... anggap saja kita sedang sedekah, udah diem."
__ADS_1
"Eh, btw beneran kita jaga di sini sampe satu jam, yang benar saja."
"Sepertinya bakalan lebih lama, mereka kan pasangan halal, jadi...?"
"Eh! Eh, anjirr... otak gue travelling."
"Mikir jorok pasti ya? Nggak mungkin bego... lo denger sendiri kan? Kata Disya, lagi menata hatinya, artinya masih sedikit perasaannya jadi nggak mungkin nglakuin itu apalagi di sini tempat umum, sedang mereka itu backstreet, mau di grebek?"
"Masuk akal, tapi beneran deh gue kepo, mereka di dalam lagi ngapain ya? Ngobrol apa, ngintip, nguping dosa nggak sih?"
"Jahanam lo, kepo nya nggak tahu diri."
"Emang lo nggak?"
"Kepo sich, tapi gue tahan lah, nanti kan bisa suruh doi cerita sendiri, kita ancam kalau nggak mau. Wkwkwk."
" Oke, baiklah. Teman rajaham."
Ke dua sahabat Disya benar-benar menjaga pintu tenda bak satpam. Ke duanya patut di apresiasi, melakukan tersebut atas inisiatif sendiri, bahkan seseorang yang tengah ngobrol di dalam tidak tahu menahu.
"Pokoknya gue mau minta imbalan nilai bagus, nggak mau tahu gue, ini kan dogan yang paling diuntungkan."
"Otak lo jalan juga, bisa dah kita bikin keuntungan. Hahaha."
"Ketawanya nggak usah kenceng-kenceng, entar doi denger di kira kita nggak ikhlas."
"Mau sih, nepotisme itu namanya? Yang ada kita kena cibiran, hukuman tugas double, amit-amit. Yang kemarin aja belum kelar."
"Sumpah lo belum ngerjain, bela-belain ikut kemah. Parah lo sih."
"Bodoamat lah, kalau bisa di kerjakan besok kenapa harus pusing sih, iye kan?"
"Terserah!!!"
***
Satu menit, dua, lima, sepuluh menit kemudian. Ke duanya masih saling diam, suasana pun menjadi semakin aneh dan tidak enak hati. Sky masih menatap Disya lekat sementara gadis itu diam bingung sendiri melihat suaminya hanya diam dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bapak mau ngomong apa?" tanya Disya jengah, Dosennya hanya diam tanpa mau membuka percakapan lebih dulu.
"Mau lihat kondisi kamu aja, sepertinya kamu tidak baik-baik saja setelah bertemu dengan mantan terindah," sindir pria itu sinis.
"Maafin saya, anggap saja Bapak tidak denger apa-apa tadi."
"Mau kamu apa sih Sya? Kamu tahu nggak? Kamu tuh sama sekali nggak lihat keberadaan aku di sisimu, semua kamu anggap aku yang salah, kamu nggak pernah hargain aku sedikitpun apalagi mencoba sedikit mengerti perasaan aku? Dah lah, sekarang terserah kamu saja maunya bagaimana?"
"Bapak maunya gimana?"
__ADS_1
"Coba tanyakan pada hatimu, kamu pasti tahu jawaban aku?"
"Kamu marah?"
"Kamu nggak ada niat buat melangkah lebih serius sama aku."
"Saya udah berusaha, bahkan baru saja mulai. Semua terjadi begitu saja, maaf mungkin selalu mengecewakan kamu, tapi hati aku nggak bisa berbohong."
"Ya, terus saja berbuat sesuka hatimu."
Fiks Sky marah, lebih tepatnya kecewa.
"Semua begitu terasa sulit bagi saya, tolong Bapak bisa ngerti?"
"Kurang ngerti apalagi, sampai kapan kamu akan begini terus?"
Hening
Disya merasa serba salah, harusnya ia bisa menjaga perasaan suaminya, namun hatinya kenapa begitu bimbang.
"Kamu berfikir mau balikan lagi? Tunggu anak kita lahir, lakukan sesuka hatimu. Bebas sesuai dengan apa yang pernah aku ucapkan, yang penting anak itu sepenuhnya menjadi hak asuhku."
Jangan harap aku bakalan nglepasin kamu dengan mudah Sya, itu nggak akan pernah terjadi.
Lain di mulut, lain pula di hati. Ternyata rasa sayang itu sudah tumbuh menjadi rasa cinta yang begitu dalam hingga mungkin tak mampu melepaskan. Ia hanya terlalu kecewa, menyikapi istri labilnya.
Sky lantas hendak berdiri dari tempatnya, namun tangan Disya menahannya. Dalam hati Sky bersorak senang, tapi juga sedih melihat gadis itu menetes air matanya.
"Maaf, seharusnya saya lebih bisa menjaga perasaan Bapak," ucap Disya sendu.
Sky kembali duduk bersila, menatap Disya dalam.
"Jangan menangis, dan jangan di jadikan beban. Itu sama saja kamu ngelakuin ini semua dengan terpaksa, kamu belum ikhlas Sya, menerima kenyataan dan takdir Tuhan." Tangan Sky terulur mengusap buliran bening di pipi Disya.
Cup
Pria itu meninggalkan jejak sayang di keningnya, baru kembali berdiri dan melangkah ke luar.
"Kalian berdua nguping pembicaraan saya?" ketusnya setelah ke luar mendapati ke dua sahabat Disya masih di depan tenda mereka.
"Eh, enggak! Kita lagi bertugas jagain pintu tenda Pak, biar nggak ada yang masuk, kan Bapak sedang ngobrol, biar lancar aman terkendali. Hehehe"
"Ya, makasih," jawab Sky cuek. Lalu pria itu pergi begitu saja dengan santainya.
"Ish... orang bukan sih, dingin banget nggak ada basa-basinya?"
"Jiah...dicuekin dogan baper?"
__ADS_1
"Bukan baper tapi keselll!!"