
PLAK!!
Flora menampar Disya sangat keras. Dia geram, sebelumnya pernah memergoki mereka berdua keluar dari kamar yang sama waktu di rumah. Jadi sangat mungkin hal itu terjadi.
Panas, pipi Disya terasa panas, tapi Disya hanya diam dan menangis.
"Itu hukuman buat lo, karena lo udah berani tidur dengan calon suami kakak!"
"PLAK!! Plak!!"
"Dan itu bonus buat lo, karena lo berani sekali hamil dengan laki-laki yang kakak sukai."
Disya memegang pipinya yang terasa sakit dan terasa pedas, pasti sekarang sudah memerah akibat tamparan Flora bertubi.
"Aku nggak sengaja kak, kami melakukan setengah sadar."
"Nggak sengaja tapi ONS, be goo!! Kalau lo udah nggak tahan, seharusnya lo pake pengaman, jangan cari masalah! Dasar bo doh!!"
"Maafin aku kak, Disya nggak tahu malam itu Disya mabuk, lagian Disya nggak mungkin nglakuin itu tanpa cinta."
"Bulsit! Nggak cinta tapi tetep hamil. Apa maksudnya coba?"
"Kakak nggak usah khawatir, aku tetap nggak terima lamaran Sky."
"Terus, lo bakalan ngelahirin anak itu tanpa bapak?"
"Rayyan sudah berjanji bakalan nikahin aku secepatnya."
Flora terkekeh. "Bagaimana ceritanya, lo bercinta dengan Sky tapi Rayyan yang harus tanggung jawab. Itu konyol namanya Sya?"
"Rayyan tahu lo hamil sama Sky?" tanyanya dengan mata memicing.
"Rayyan tahu aku hamil, tapi dia tidak tahu ayah dari janin ini. Aku tidak peduli yang penting Rayyan tulus mencintai aku kak."
"Be go! Bo doh! Lo pikir Rayyan bakalan ikhlas ngejalanin semua ini, kalaupun dia nerima lo belum tentu dia bisa nerima anak lo, karena setiap kali lihat anak lo maka akan terus terbayang rasa sakit atas pengkhianatan lo, dan satu lagi Tante Wira yang terhormat itu nggak bakalan ngijinin anak semata wayang mereka nikah sama perempuan yang hamil dengan orang lain. Mikir Sya! kalaupun Rayyan tahu dan mau sama lo, apa lo yakin keluarga Rayyan bakalan terima lo? Terutama anak lo nantinya?"
"Sebagai gambaran saja jangankan anak yang terlahir dari hasil penghianatan, sedang gue dan lo aja yang satu rahim selalu di perlakuan berbeda sama Mama sama Papa. Apa kabar nanti anak lo yang memiliki ayah biologis dari sahabatnya sendiri, gue yakin hidup lo nggak akan mudah kalau lo tetap pertahanin anak lo dan juga Rayyan."
Disya terlihat bingung, gadis itu begitu kacau dengan muka yang merah padam. Kak Flora benar, mungkin karena rasa cintanya yang tulus Rayyan mau menerima dirinya saat ini, tapi apa kabar dengan anak ini nantinya?
"Pokoknya kakak nggak mau tahu, lo harus gugurin janin itu."
Deg
__ADS_1
Disya memang tidak mencintai ayah dari bayi yang sedang iya kandung tapi ia tidak berfikir untuk melenyapkannya. Biar bagaimana pun itu akan menambah dosa setelah dosa yang telah dia lakukan.
"Jangan kak! Aku bahkan tidak memberitahukan Sky tentang kehamilanku, aku juga menolak lamaran Sky."
Kalau pada akhirnya hubungan ini akan menyakiti banyak hati, lebih baik Disya merawat anaknya seorang diri.
"Oke, lo bisa pikirin ini semalaman dan sekarang lo istirahat di sini, besok lo ikut gue."
Flora meninggalkan Disya dalam kegalauan yang teramat berat, rasanya kepala Disya terasa mumet. Sepanjang malam gadis itu memikirkan dirinya lebih kepada ingin marah, tapi marah sama siapa, dan lebih tepatnya marah dengan diri sendiri.
Disya terduduk di lantai kamar merenungi akan nasibnya yang teramat pilu. Penyesalan memang di akhir. Omongan Flora begitu meracuni pikirannya.
Gue seorang pendosa, tapi gue tidak tega sampai hati ngegugurin anak ini.
Entah Disya tertidur jam berapa, yang ia tahu saat ini sudah pagi. Seharusnya hari ini Disya ada kuliah tapi rasanya tidak punya semangat untuk hari ini.
Ceklek
Kak Flora memasuki kamar Disya dan mendekati gadis yang masih setia di bawah selimut hangatnya.
"Pagi Bumil?" seloroh Flora santai.
"Aku nggak suka julukan itu," jawab Disya malas.
"Cepat mandi, matahari sudah meninggi. Kita banyak kegiatan hari ini," titah Flora sedikit memaksa.
Terlihat mata gadis itu masih sembab karena terlalu banyak menangis semalam.
"Lo mau kakak seret terus gue mandiin apa dengan suka rela mandi sendiri, ini sudah siang Disya?!" bentak Flora kesal.
"Ck, kakak sudah seperti Mama saja kalau di pagi hari," gerutu Disya kesal.
Setengah malas Disya berjalan menuju kamar mandi. Pagi hari adalah hari yang menyebalkan untuk Disya, karena hampir setiap pagi perut gadis itu sering mual-mual. Morning sickness melanda.
Flora tak menjawab, gadis itu berlalu dari kamar adiknya kemudian Ia terlihat menelfon seseorang sebentar dengan hati lega.
Setelah Disya menyelesaikan ritual mandinya kurang lebih selama lima belas menit. Ia keluar dan segera mengganti bajunya.
"Sya, cepet makan dulu," titah Flora tak sabaran.
"Iya." Disya langsung mengiyakan, perutnya memang terasa sudah lapar sekali pagi ini. Padahal jarum jam masih menunjukan di angka sembilan lewat.
Ting tong
__ADS_1
Bel rumah Flora berbunyi di saat mereka berdua sedang asik mengunyah bubur ayam, menu sarapan untuk pagi ini.
"Ada tamu kak."
"Hmm, biar kakak yang buka. Lo cepet habisin makanannya."
Disya menghabiskan makanannya dengan cepat, sementara Flora tak kunjung kembali menghampiri Disya, sepertinya ia tengah mengobrol dengan tamu tersebut.
"Masuk Nes! tolong make over adek gue. Pastikan hari ini dia terlihat sangat cantik," ucap Flora seraya mempersilahkan temannya tersebut masuk.
"Sya, kenalin ini Ines. Ines adek gue Disya."
"Disya."
"Ines." Mereka saling berjabat tangan.
"Langsung saja Nes, kita sudah di tunggu."
"Siap!" seru Ines semangat.
"Sya, lo ngapain masih otak-atik HP, cepetan lo mau di permak," titah Flora kesal melihat adiknya yang super santai.
"Di permak? Buat apa?" tanya Disya bingung.
"Udah nurut aja."
Disya menurut, Ines segera melancarkan aksinya. Dengan tangan trampilnya hanya mampu mengerjakan dengan sempurna kurang dari satu jam.
"Cantik banget kamu dek," ujar Flora puas.
Disya masih bingung kenapa dirinya di dandanin dengan riasan seperti ini.
"Kak kita mau ke acara nikahan? Kondangan ke tempat siapa?"
"Iya, ih bawel. Temenin kakak hari ini," ucap Flora yang masih sibuk dengan bercermin.
Setelah ke dua gadis cantik itu selesai di make up, ke duanya pun langsung meninggalkan apartemen Flora. Mobil Flora segera membawa mereka pergi.
"Kak, kita mau ke acara nikahan siapa sih?" Disya masih bertanya-tanya.
"Aku kok ngerasa kebaya modern ini terlalu bagus deh," ujar Disya mengamati penampilannya.
"Nanti juga lo tahu sendiri kalau udah sampai, jangan tanya terus kakak lagi fokus menyetir ini."
__ADS_1
Tak selang berapa lama Disya dan Flora sudah sampai di halaman sebuah rumah yang terlihat rame. Mereka turun dari mobil dengan Flora yang langsung menyuruh orang untuk memarkirkan mobil miliknya.
"Ayo Sya, kita sudah di tunggu!" Flora bergegas tak sabaran.